Saturday, May 31, 2008

Sekedar kebetulankah?

Minggu, 25 Mei 2008

Bila anda memang benar-benar menghendaki sesuatu dan mengerahkan segala daya upaya untuk mencapainya, niscaya seluruh alam pun akan mendukung anda. Itu kurang lebih pernyataan sang penulis besar Paulo Coelho. Dukungan yang kita peroleh dapat berupa banyak hal. Kesamaan pandangan, dukungan atas apa yang kita yakini, ataupun pengalaman yang mirip. Dukungan bisa berupa pertemuan dengan orang lain yang kebetulan memiliki serangkaian gagasan yang sama. Dukungan pun juga bisa berupa perjumpaan dengan pengalaman melalui berbagai macam komunikasi. Apa yang saya alami dua hari ini menjadi gambaran nyata. Di hari Sabtu, saya mengungkapkan keprihatinan dengan hilangnya sosok yang berkarakter kuat dalam sejumlah orang bereputasi baik. Sehari sesudahnya, saya menjumpai tulisan yang menegaskan pandangan saya … apakah ini sekedar kebetulan? Ataukah memang Coelho benar dalam hal ini? Apa yang saya pikirkan dan yakini mendapat dukungan dari analisis yang menjadi keprihatinan orang lain yang sama sekali tidak saya kenal. Harian Kompas membuat kami bertemu. Dampaknya nyata, saya semakin melihat kebenaran Paulo Coelho … pikirkan hal positif terus-menerus, dan hal-hal lain yang positif akan mendukung pemikiran positif tersebut … awal untuk mengubah dunia, setidaknya dunia dalam dunia mikro kita lebih dulu!

Hari Studi Bersama

“Rupanya, makin besar skala kebocoran UN dari waktu ke waktu. Bagaimana menangani persoalan ini?” Pertanyaan tersebut diajukan dalam acara studi bersama mengenai dua standar pendidikan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Sang penampil tampak kesulitan menjawab pertanyaan itu. Dengan ragu-ragu dia menjawab, “Barangkali perlu diciptakan mekanisme yang lebih baik. pengawas independen dari Perguruan Tinggi sudah dilibatkan. Beberapa dosen dari kita pun juga sudah dilibatkan. Tapi saya juga tetap bingung. Entah benar atau tidak informasi yang saya dengar ini. Kunci jawaban pun sebenarnya dibocorkan dari Dinas Pendidikan sendiri. Kalau itu yang memang terjadi, bagaimana kita bisa menghindari kebocoran itu?”

Dengan agak nakal saya pun menyahut, “Apakah ada yang salah dengan pembocoran/pelanggaran itu?” Sang penampil pun hanya tersenyum. Tidak melanjutkan tanggapan yang saya lontarkan.

Harus saya aku, bahwa pada titik ini saya tiba-tiba terjebak untuk ‘melabeli’ sang penampil sebagai sosok yang tidak berani mengambil resiko dengan mengemukakan posisinya secara jelas. jawaban-jawaban yang disampaikan memang bagus dan benar-benar menunjukkan bahwa penampil orang yang berkompetensi dengan bidang yang ditampilkannya. Bahkan, dua orang penampil itu pun telah memiliki reputasi nasional karena telah tergabung dalam berbagai komisi untuk program pendidikan. Pengalaman dan pemahaman tentang beragam persoalan memang tidak bisa lagi dipersoalkan. Namun, yang menurut saya tetap hilang adalah sikap yang jelas dan tegas: keberanian dalam mengambil sikap terhadap suatu isu yang sangat krusial.

Begitu sampai di rumah saya pun seperti biasanya mengangkat isu tersebut dalam diskusi kecil dengan sang istri. “Begitu banyak orang yang pintar, tetapi kok tampaknya tidak berani tampil transparan secara gamblang tentang sikap politik tertentu yang dia pilih. Mereka tidak mau (atau tidak berani) menampilkan orisinalitas mereka. Kenapa justru ketika ada suatu isu kritis, mereka malah menjawab dengan bahasa yang “sangat standar”? Saya yakin itu bukan karena mereka tidak memiliki analisis mendalam terhadap bidang kajian tertentu. Apakah memang tidak ada sikap tertentu yang layak untuk diperlihatkan?

Kembali ke pertemuan studi bersama itu, pada penghujung acara itu saya mengungkapkan dengan tegas. “Berbagai pelanggaran yang terjadi secara moral tidak salah. Mengapa? Mereka melakukannya atas nama hati nurani. Secara hukum, justru Wapres Jusuf Kalla dan Mendiknas Bambang Sudibyo lah yang keliru. UUSPN sendiri mengamanatkan bahwa ujian untuk mengukur keberhasilan studi adalah hak istimewa guru. Dua tokoh publik itu malah beramai-ramai melanggar UU dengan mengeluarkan PP No. 19 yang selama ini dipakai untuk mengesahkan kebijakan menggunakan UU sebagai penentu kelulusan. Sesuai dengan UU, sebenarnya UN tidak layak dipakai untuk penentu kelulusan, tetapi hanya sebagai alat PEMETAAN. Dalam hal ini, para pelanggar UN dinilai sebagai kriminal yang layak diproses secara hukum. Di sini lah terjadi carut marut persoalan. Sebenarnya, justru dua tokoh ini lah yang mesti diproses secara hukum lebih dulu, wong mereka jelas-jelas menggunakan kekuasaan untuk menggolkan peraturan yang menabrak UUSPN. Para pelanggar yang memfasilitasi kecurangan UN tidak akan melakukan pelanggaran kalau tidak ada kebijakan Wapres dan Mendiknas yang benar-benar melanggar UU tersebut. Kebijakan memakai UN sebagai “alat manjur” untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sangat kompleks telah memunculkan beragam inkonsistensi, dan para pelanggar yang benar-benar sadar melakukan pelanggaran (dengan membocorkan kunci jawaban UN) adalah para pejuang hati nurani. Tapi di sinilah kekuasaan hegemonistis negara menampakkan taringnya. Mereka tidak membutakan diri dari realitas bahwa mereka sendirilah yang menyulut api. Mereka menyalahkan asap yang membuat mata pedih, tetapi gagal melihat bahwa sebenarnya dalam diri merekalah persoalan itu berakar.

Kesimpulan yang mau saya ajukan sederhana saja. Para pelanggar tersebut mempresentasikan civil disobedience yang sebenarnya sah-sah saja. Mereka sudah selayaknya memperjuangkan kebenaran sesuai hati nurani mereka.”

Hari studi bersama tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Mei 2008. Hari berikutnya, kritikan saya terhadap sejumlah tokoh bereputasi baik seakan mendapatkan dukungan. Julius Pour (wartawan dan penulis biografi) membuat resensi buku American Generalship (Jangan sekedar tebar pesona, Kompas, 25/5/08). Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan analisis setajam apapun tidak menjadi jaminan akan keberhasilan dalam kepemimpinan perang. Berbagai unsur, seperti kecerdasan, keterampilan, kemampuan analisis, kecakapan wicara, dan serentetan reputasi di masa lalu, akan sia-sia saja tanpa dilandasi dengan sebuah karakter yang kuat.

Saya temukan diri saya bermakna ketika menulis

Orang pada hakekatnya beragam dalam cara pandang, bentuk fisik, tingkat kesehatan, latar belakang, dan nasib. Itu bukan hal yang perlu dipersoalkan. Namun pertanyaan mengenai apa yang membuat seseorang lebih berhasil dibandingkan dengan orang lain tetap saja menarik untuk diajukan. Ada orang yang memiliki ketenangan luar biasa dalam menjalani hidup, sekalipun dihadapkan dengan berbagai macam tugas dan tanggung jawab. Dengan kepala dingin, hati penuh rasa percaya diri, langkah kaki ringan namun tidak tergesa dia menangani satu-persatu persoalan yang datang silih berganti. Sementara, orang-orang lain sudah kebingungan yang bahkan tidak seberat yang dihadapinya, dia tetap mampu tampil elegan, bahkan dengan ide-ide segar yang mengejutkan.

Harus kita akui, gambaran sosok seperti di atas lebih pantas disebut sebagai sebuah perkecualian. Dia tidak mewakili gambaran dan realitas normatif dalam begitu banyak orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan lebih lanjut tentu saja adalah: apa yang membedakan sosok tenang, kompeten, dan sekaligus strategis ini?

Perkembang-tumbuhan sosok pemimpin yang bisa membawa serta perubahan sangat ditentukan oleh banyak faktor. Tidak sedikit bahwa para pemimpin besar yang berhasil memang telah semenjak kecil dilibat-kenalkan dalam peran-peran kepemimpinan di sekeliling mereka. Dengan melihat peran orang tuanya yang aktif dalam kegiatan di kampung atau kegiatan keagamaan tertentu, anak belajar peran-peran kepemimpinan secara langsung. Anak-anak usia yang lebih tua di sekolah cenderung diberi tanggung jawab sebagai ketua kelas karena kematangan usia dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Ini juga menjadi pengalaman pertama dalam peran-peran kepemimpinan.

Faktor lain yang ikut berperan dalam menentukan perkembangan kepemimpinan juga bisa berangkat dari semangat untuk berprestasi. Memang, dalam masyarakat kita, istilah ‘ambisius’ dimengerti secara terbatas, identik dengan kecenderungan egoisme. Namun, sosok yang memiliki aspirasi besar untuk menjadi pemimpin tidak bisa dipisahkan dari ambisi besar untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang di sekitarnya. Orang-orang dengan ambisi untuk berpengaruh ini sering menjadi magnet bagi orang-orang disekitarnya dan menjadi “penentu arah angin”, bukannya sebagai “bendera” yang patuh pada arah mana angin berhembus.

Studi mengenai kepemimpinan memang bermuara pada pemahaman bahwa kepemimpinan adalah wilayah yang sangat rumit untuk dikaji, karena di dalamnya terlibat beragam macam aspek. Pengalaman dari keluarga di masa kecil, pengalaman menduduki peran-peran kepemimpinan di masa muda, dan cita-cita dasar dari dalam diri seseorang yang menggebu. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah gabungan antara “bakat, seni, dan sekaligus ilmu”. Sosok kepempinan memang menuntut bakat dari dalam diri seseorang, karena sikap dasar orang yang berani mengambil resiko tidak bisa semata-mata dilatihkan. Seseorang harus secara bawaan memiliki ‘bakat untuk berani tampil beda, sekalipun orang-orang di sekelilingnya memandangnya dengan sinisme dan ketidakpedulian.’

Kepemimpinan sebagai ‘seni dan ilmu’ mengacu pada kenyataan bahwa sebenarnya bekal bakat saja tidaklah mencukupi. Perlu adanya ruang gerak dan kesempatan bagi sang calon pemimpin ini untuk berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman nyata. Baik ‘seni dan ilmu’ sama-sama bisa dipelajari. Artinya, seorang calon pemimpin juga harus mendapatkan pelatihan yang memadai. Ada serangkaian ‘rahasia’ yang bisa diajarkan untuk membujuk dan menggerakkan orang. Ada sisi-sisi teknikalitas yang bisa dikuasai dengan lebih cepat dengan diskusi, membaca, dan berdebat yang dihadirkan melalui kelas-kelas mengenai kepempimpinan. Orang yang sama barangkali membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mendapatkannya secara langsung dari pengalaman nyata.

Salah satu aspek yang paling penting dari sosok kepemimpinan barangkali muncul dari cita-cita dasar yang menggerakkannya untuk melakukan banyak hal. Cita-cita dasar yang kuat, yang pada proses pembentukannya selalu mendapatkan berbagai macam hambatan, tantangan dan kesulitan, baru akan menemukan momentum untuk bertumbuh secara subur bila sang pemimpin itu sendiri selalu memiliki energi lebih untuk selalu belajar. Belajar dan belajar dari berbagai macam fenomena dan pengalaman hidup yang dihadapi. Ini sisi spiritualitasnya. Sosok yang mampu belajar secara berkelanjutan memiliki kemampuan untuk mundur satu atau dua langkah, berhenti sejenak untuk memberi makna terhadap berbagai macam pengalaman yang dia alami, dan kemudian membuat lompatan besar ke depan. Tidak heran bahwa sosok macam ini selalu dikenal dengan letupan-letupan (walaupun barangkali tidak terlalu kentara seiring dengan pertambahan usia) emosi dan semangat untuk berbagi. Orang macam ini tidak memiliki rasa lelah untuk berinteraksi dengan orang lain, memiliki antusiasme yang mengagumkan untuk mendengarkan orang-orang di sekelilingnya. Dia selalu mampu menebarkan hawa optimisme bahkan ketika banyak hal terasa tidak mendukung. Di sini, spiritualitas yang mendasarinya membentuk mentalitas untuk tetap mampu menjalani hidup sekalipun tidak ada kejelasan dalam hidup ini.

Menulis adalah salah satu cara jitu untuk berinteraksi dengan diri saya. Menulis adalah kesempatan ketika saya bisa bertemu, berbicara, bernegosiasi, dan bahkan berkonflik dengan diri saya. Echart Tolle menyebut suatu contoh yang unik: “Sering kita bergumam kepada diri kita: kamu bisa kalau kami melakukannya dengan benar.” Kata-kata itu kita ajukan kepada diri kita sendiri seakan-akan kita membuat pemisahan diri kita dalam dua sosok yang berbeda. Hal ini mau menunjukkan bahwa sebenarnya ada aspek ‘ego’ – suatu rangkaian penilaian tidak sadar yang sering menentukan berbagai kecenderungan yang kita miliki – yang sangat kuat dan membuat kita seperti ini adanya. Di samping sosok ‘ego’, dalam diri kita ada ‘true-self’ – diri kita yang sesungguhnya. Keduanya sulit dipisahkan, namun ketika kesadaran kita akan hidup ini mencapai titik kepenuhannya, kita tidak akan kesulitan membedakan apakah suara yang keluar dari diri kita adalah ego atau true-self itu sendiri.

Menulis merupakan wahana bagi diri saya untuk mempertemukan dua sosok tersebut. sejauh ini menulis menjadi teman yang paling setia, menjadi penengah atas kedua sosok tersebut. Terus terang saja, ketika proses menulis telah menjadi bagian tidak terpisahkan, true-self menjadi tampak lebih jelas suaranya. Ini terjadi ketika dihadapkan pada suatu persoalan emosional – misalnya ada seorang mahasiswa yang secara langsung mengkritik saya di depan umum. Saya mau tidak mau harus menentukan sikap. Ego saya akan memberontak, dan tidak menerima pelecehan macam ini. Ego saya pasti akan mendorong saya untuk mengingat-ingat mahasiswa itu. Tidak hanya namanya yang harus diingat, tetapi juga nomor mahasiswanya sekalian. Agar ketika masa penilaian tiba, dengan mudah saya akan menjatuhkan pembalasan dengan tidak meluluskannya. Nilai E atau F adalah bentuk pembalasan yang paling setimpal. Itulah sang ego.

True-self mengajariku untuk berpikir kritis. Marah atas pelecehan tidak salah. Namun, membalas dendam dengan menggunakan kekuasaan adalah hal yang tidak bisa diterima. Itu merupakan kehinaan yang teramat sangat untuk ukuran seorang dosen. Itu suara true-self. Dia mengajari saya untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah runtuh oleh ratap dan tangis berkepanjangan ketika ada kedukaan yang menimpa. Dan true-self juga mengajarkan diri saya untuk tidak menyalahkan soal ujian yang sulit. True-self mengajarkan diri saya untuk menerima kekalahan dengan gentle. Bahkan, ketika nilai hasil akhir dari suatu mata Matakuliah jelekpun, true-self mengajari saya untuk berpikir positif. Menyadari kekonyolan dan kesalahan karena tidak jauh-jauh hari belajar.

Menulis menjadi kekuatan yang luar biasa besar dalam menciptakan suasana nyaman dalam hati, karena dua aspek di dalam diri saya menjadi lebih mudah berdamai bahkan dalam suasana yang tidak menguntungkan sekalipun. Keterampilan menulis memang berperan sebagai sasaran akhir sekaligus sebagai alat untuk mencapai sasaran akhir yang kita cita-citakan. Di situ ada refleksi. Di situ ada kesediaan untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Di situ ada tawa lepas … tawa atas kekonyolan diri sendiri. Dari sanalah muncul api yang menyala-nyala dan menerangi sekeliling saya … menjadi magnet yang menarik gelombang-gelombang kebaikan di antara orang-orang …

Berdamai dengan idealisme

27 Mei 2008, pk. 01.52

Ketika aku membaca kembali apa yang aku tulis para minggu ketiga Maret lalu, aku merasakan menemukan diriku yang berbeda pada akhir Mei ini. Ada beberapa tulisan yang sangat berbau “judgmental” di sekitar bulan Maret lalu. Saya seakan-akan menemukan berbagai kesalahan di dalam diri orang lain, dan dengan ringannya memasangi label atas mereka. Aku adalah sosok idealis yang memang mudah menemukan kesalahan dalam diri orang lain. Dan aku akui, aku cukup malu dengan temuan itu. Ya, aku menulis tentang detachment yang kalau dibaca sangat menghakimi! Aku juga menulis kritik yang sangat tajam tentang ketakutan sejumlah orang untuk berteriak secara lantang ketika ada seorang atasan yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri untuk berjalan-jalan keluar negeri. Aku juga menulis tentang gagalnya sejumlah orang yang telah meraih gelar doktor untuk membawa perubahan yang signifikan bagi program studi. Dan semuanya terasa terlalu tajam, tanpa tedheng aling-aling dan tentu saja bisa saja sangat menyakitkan.

Ada sejumlah pengalaman unik yang aku jumpai dalam beberapa terakhir ini, terutama ketika aku membaca kembali buku dari Parker Palmer yang berjudul To know as we are known dan membaca dengan pelan-pelan buku the Secret karya Rhonda Byrne (dipinjami pak Sarkim). Kedua buku tersebut menjadi alat penegas dari satu rangkaian acara book club oleh Oprah Winfrey yang mengangkat buku A New Earth karya Eckhart Tolle. Sepuluh seri rekaman yang berdurasi selama kurang lebih 90 menitan memang belum selesai aku dengarkan. Namun, dampak yang aku peroleh memang luar biasa. Aku sangat rajin menikmati proses pembelajaran yang mengejutkan sekaligus menampar kesadaran.

Pada hari ini, begitu mulai menyadari dan mengolah makna labeling dan ego serta true self yang dihadirkan dalam diskusi Oprah Winfrey dan Eckhart Tolle, aku mulai merasakan bahwa sebenarnya aku bisa menentukan pilihan-pilihan untuk berpikir kritis, atau katakanlah idealis, tanpa mengorbankan idealisme tersebut. Stuart Yeh pernah menulis apa arti dari seseorang yang berpikir kritis: kemampuan untuk hadir secara seimbang dalam dua pandangan yang saling berseberangan. Paling tidak hari Selasa, 27 Mei 2008, saya mengolah betul makna kekuatan berpikir kritis seperti yang tercermin dalam rethoric studies ini.

Beginilah hasil permenungan yang dapat aku simpulkan dari goresan-goresan tangan sesudah rapat persiapan visitasi.

Argumentasi – kemampuan untuk menunjukkan kemampuan berpikir kritis dinilai sebagai salah satu parameter dan sekaligus teknik pembelajaran yang efektif. Pola pemikiran argumentatif tidak hanya bermanfaat agar kita tetap kritis, tetapi juga menjadi alat untuk menjamin pola hubungan sosial yang lebih fair, adil, dan tentu saja beradab. Mengapa?

Tadi pagi, begitu saya mendengar bahwa salah seorang yang kami kenal di kampung akan mengadakan perhelatan besar-besaran sebagai perayaan sunatan, muncul dalam kepala saya penilaian yang tajam: perhelatan yang sulit diterima akal sehat! Dalam hati kecil, saya berpendapat bahwa keputusan mengadakan perhelatan itu sendiri bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan dalam jaman seperti ini. Mengapa? Pertama, tentu terjadi pemborosan sumber daya tidak perlu. Daripada menghamburkan uang untuk pesta-pesta, kenapa tidak untuk hal-hal lain yang lebih bernilai investasi? Ditabung untuk dana pendidikan, misalnya? Kedua, beban sosial yang ditanggung masyarakat tentu tinggi. Memutuskan mengadakan perhelatan, menurut hemat saya, seakan-akan ‘memaksa orang lain untuk membiayai pemborosan’ karena orang-orang kampung, relasi dan pihak-pihak lain terpaksa harus berkontribusi dengan ‘kondangan’. Menurut pemikiran saya, biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat sebagai akibat keputusan perhelatan macam itu terlalu mahal untuk dibayar.

Sampai pada titik ini, saya mencoba untuk diam sesaat. Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan Eckhart Tolle yang menyatakan bahwa manusia sering terjebak untuk ‘melabeli’ orang-orang, kondisi, lingkungan, atau pengalaman nyata yang mereka jumpai. Meletakkan label pada hal-hal yang dijumpai tentu saja tidak serta merta negatif, namun sering terjadi bahwa kebiasaan label-melabeli ini justru menutup pintu ‘aliveness’ (begitu hidupnya realitas objektif) dari berbagai hal yang kita jumpai. Dengan kebiasan label-melabeli tersebut, kita sudah memasang patokan atau standar yang lebih berfungsi sebagai filter untuk menyaring apapun yang masuk dan kita tangkap melalui indera-indera kita. Sehingga, apa yang kita benar-benar mampu kita tangkap bukannya kepenuhan pengalaman yang sangat hidup dan alamiah serta genuine, tetapi sesuatu yang sudah skewed dan membuat kita tidak mendapatkan gambar orisinal dari realitas yang kita jumpai. Telah terjadi proses otomatisasi yang membuat kita cepat mengambil kesimpulan, dan menerima banyak hal sebagai kebenaran, tanpa benar-benar mempertimbangkan arti sesungguhnya yang bisa kita gali.

Ketika menyadari realitas manusia yang suka label-melabeli ini, saya akhirnya benar-benar mampu melihat secara jernih bahaya yang menunggu dari kebiasaan macam ini. Ketika pemikiran kritis tidak diasah secara sungguh-sungguh dan secara bertanggung jawab, dengan mudah kita terjebak ke dalam pragmatisme berlebihan. Orang yang berpikir kritis adalah orang yang bisa menghadirkan dua sudut pandang yang saling berseberangan. Dalam kondisi seperti ini, sekalipun secara intuitif kita memiliki preferensi tertentu, kita tidak mudah dengan begitu saja mengamini suatu pandangan yang langsung kita setujui. Kita mundur sejenak, dan melihat persoalan dengan lebih kompleks.

Dalam kaitannya dengan hajatan sunatan yang dipestakan, barangkali akan lebih bijaksana kalau saya menjalankan strategi macam ini. Pertama-tama tentu dengan bertanya: mengapa ada mekanisme hajatan yang dipestakan? Dari proses bertanya itu, saya akhirnya menjumpai tiga alasan: (a) pengakuan sosial, (b) simbol dan sarana perekat interaksi sosial, dan (c) ekonomi. Bagaimanapun juga, hajatan yang dirayakan dalam pesta menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan sosial. Merayakan pernikahan di Wisma Kagama tentu membawa dampak pengakuan sosial yang berbeda dengan merayakan pernikahan di Hotel Sheraton. Wisma Kagama bagaimanapun juga kalah kelas dan tentu saja kalah wuah … Pengakuan sosial merupakan salah satu kebutuhan manusia. Di samping itu, pesta memainkan peran sebagai simbol dan sekaligus perekat interaksi sosial. Dalam suasana pesta, berbagai macam orang dari berbagai kalangan bisa saja bertemu dan berinteraksi. Kenalan-kenalan yang tersebar ke dalam berbagai lingkup sosial memiliki kesempatanuntuk saling bertemu, dan bisa jadi akan memperluas interaksi sosial tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah: pesta-pesta selalu merangsang pergerakan uang. Konsumsi makanan pasti akan jauh lebih meningkat. Berbagai pelayanan yang ada di dalam masyarakat akan dimobilisasi. Pemusik, penyanyi, pembawa acara, sound system, event organizer, jasa transportasi, busana, boga, dan tata panggung serta dekorasi pasti akan ‘kecipratan’ rejeki dengan pesta-pesta macam ini.

Itulah perjalanan diri saya untuk selalu belajar. Belajar untuk kritis tanpa harus menghakimi … dan pada waktu yang sama tidak kehilangan idealisme … Perjalanan masih panjang, namun sekarang pola-polanya tampaknya mulai kelihatan menjadi lebih jelas lagi!

Misa akhir semester

(16 Mei 2008)

Cukup unik cara Rm. Paul menggambarkan sejumlah mahasiswa yang memilih untuk tidak mengikuti ujian sisipan atau akhir. Daripada pusing-pusing dan bekerja keras mengerjakan soal, lebih baik berjalan-jalan di luar dan tidak menyiksa diri dengan pemecahan soal yang sudah dipastikan tidak akan mampu diselesaikan dengan baik. Lebih baik gagal dengan tidak merasa sakit, daripada gagal dan sakit.

Bacaan hari ini tentang talenta yang dibagikan ke tiga orang. Orang pertama mendapatkan lima, kedua tiga dan ketiga satu. Dua orang pertama bertanggung jawab penuh, dengan mengembangkan uang tersebut. Orang pertama mendapatkan laba 5 talenta, dan orang kedua mendapatkan 3 talenta. Orang ketiga sebaliknya, malah menyembunyikan uangnya di tanah. Begitu sang Tuan kembali, ketiga orang tersebut dipanggil, dan diminta untuk melaporkan perolehannya.

Yang cukup unik dari cerita perumpaan berusia lebih dari 2000 tahun tersebut adalah sikap dasar dari orang ketiga yang dibekali dengan satu talenta tersebut. Dia bukannya melakukan tugasnya untuk mengembangkan talentanya, tetapi malah menyembunyikannya. Di sinilah letak persoalannya. Dia meyakini bahwa sang Tuan adalah sosok yang tidak adil, yang mengambil sesuatu dari hal yang tidak ditanamnya. Pertama-tama dia menyalahkan sang Tuan yang sebenarnya bermurah hati memberi BEKAL TALENTA. Berikutnya, dia meyakini bahwa tidak ada satu pun hal yang dilakukan, kecuali memendam dan menyembunyikan talenta tersebut.

Rm. Paul dengan cantiknya membuat kaitan antara sosok bertalenta 1 dengan kebiasaan sejumlah mahasiswa yang menyerah kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Mahasiswa tersebut memilih “memendam” talentanya, daripada “mengadu peruntungan” dengan bersusah-sakit-payah mengerjakan soal. Ini adalah dosa utama. Karena mereka sudah meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mampu. Itulah kesalahan terbesar! Merasa tidak memiliki peluang lagi.

Dengan kata lain, sang mahasiswa tersebut sebenarnya gagal mensyukuri apa yang diberikan kepadanya … yang sesungguhnya dikaruniakan kepadanya. Itulah persoalan utamanya. Persoalan ketika tidak ada rasa syukur atas berkat yang diterimanya! Ini lah dosa terbesar, yaitu ketika orang gagal melihat karunia dan justru malah menyalahkan orang lain.

Wednesday, April 16, 2008

Change ...

Perubahan? Gampang-gampang sulit. Mengubah kebiasaan tidak lah mudah bagi banyak orang. Bagi sebagian orang lain tidak terlalu sulit. Namun, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan konsistensi dalam perubahan itu sendiri? Apakah memang benar-benar sikap dan semangat perubahan menjadi bagian integral dalam hidup? Atau hanya menjadi sesuatu yang dilakukan dengan penuh antusiasme pada waktu-waktu pertama, dan sesudah itu hilang tidak berbekas?

Dua minggu berlalu sudah. Aku melibatkan diri dalam sebuah upaya kecil untuk Prodi PBI USD: menulis proposal Hibah INHERENT K-1. Isinya sederhana: mengajukan proposal untuk mendapatkan pendanaan pengembangan modul pembelajaran berbasis digital. Tidak banyak memang untuk ukuran sebuah Hibah. Namun, kalau memang mendapatkan pendanaan, ini akan mengubah berbagai hal yang fundamental di Prodi. Sudah terlalu banyak contoh. Fakultas Farmasi USD sebelumnya mendapat nilai C untuk akreditasi. Setelah mendapatkan Hibah A-1 (kalau tidak salah kurang dari 300 jt), ada perubahan besar di dalamnya. Akreditasi langsung jadi A. Dosen-dosennya terbiasa bekerja keras. Ada skema external accountability yang menjadi parameter untuk peningkatan kinerja seluruh pihak terkait. Hibah A-3 yang mengucurkan dana lebih dari 2 M rupiah untuk prodi itu semakin menegaskan membaiknya kinerja Fakultas Farmasi. Jangan heran, fakultas itu berubah menjadi sebuah institusi yang sangat kuat baik dalam hal sumber daya manusia dan fasilitasnya. Para dosennya cenderung bisa bekerja lebih 'cak-cek'. Coba apa yang terjadi dengan prodi-prodi yang belum pernah mendapatkan hibah?

Tradisi 'ngobrol' sana-sini, kelihatan sibuk dan tidak menghasilkan sesuatu yang produktif menjadi ciri khas utama. Gesekan-gesekan yang terjadi cenderung emosional. Identitas diri masih dicari-cari, karena hati mudah terluka akibat ucapan-ucapan yang ditanggapi dengan sensitivitas yang berlebihan.

Sementara, adanya hibah yang memaksa sejumlah pihak di dalamnya untuk bekerja kolaboratif, mau tidak mau membuat orang untuk berpikir strategis. Mereka terbiasa untuk membuka diri dan bekerja sama. Para dosen di dalamnya tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan serangkaian proyek yang diukur melalui parameter yang pasti. Tidak ada waktu untuk sakit hati kalau ada perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan.

Itulah yang aku impikan. Semoga, Hibah K-1 yang kami ajukan kali ini benar-benar menjadi anugerah untuk meningkatkan kinerja Prodi PBI yang sebenarnya merupakan salah satu prodi paling potensial dalam hal sumber daya dan tradisi yang kuat. Aku tentu saja tidak akan terlalu banyak menikmati perbaikan yang akan muncul karenanya. Karena toh aku akan meninggalkan prodi PBI ini. Sepulang dari studi lanjut nantinya, aku harus bekerja di bidang lain ... Jadi motivasi utama yang mendorongku adalah: sebuah mimpi untuk menanam benih semangat kolaboratif. Semangat yang tidak bisa digantikan oleh apapun ...

Friday, October 26, 2007

Memang, menghakimi lebih mudah daripada memahami

Menurutku, judul skripsi dari salah seorang mahasiswa yang mau maju pendadaran skripsi bulan Oktober ini cukup unik. Aku sendiri lupa dengan formulasi detailnya, namun secara umum seperti ini … developing a set of instructional materials … to teach life values … bla bla bla … Uniknya, bila aku merasa tertantang dengan judul yang “berani dan khas” macam itu, justru wacana komunitas dalam sebuah Ruang Dosen di sebuah Prodi yang “hebat” sebaliknya. “Ini ngapain sih anak … kok gaya-gaya dengan judul yang aneh-aneh. Sok-sokan melulu. Anak-anak sekarang ini aneh-aneh saja.” Intinya, si anak dinilai salah karena ngowahi padatan – menghancurkan tradisi. Kreativitas adalah dosa. Komentar yang miring, dan bahkan ditelingaku sangat miring. Tidak adil. Aku merasakan lidahku terasa kelu. Ludah terasa getir. Dan aku merasa tidak berdaya. Diam. Membisu. Apalagi suara-suara yang lain, dengan nada yang beragam, menimpali. Ada yang sangat menyetujui dengan pendapat yang dilontarkan. Ada yang mencoba menetralisir. Namun, bagiku sama saja.

Bung, dunia memang sudah berubah!
Benar. Perlu kejujuran dan keberanian untuk mengakui bahwa dunia sudah berubah. Anak-anak tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada yang kita duga. Nutrisi yang jauh lebih bermutu membuat pertumbuhan fisik mereka lebih cepat. Siklus menstruasi sudah menyambangi anak-anak perempuan di SD. Juga pola relasi antar manusia. Sekarang ini semangat egalitarian jauh lebih berterima. Relasi bos dan anak buah tidak “saklek” instruktif semata. Ada komunikasi, negosiasi, dan upaya saling memahami. Bukannya mempertahankan posisi bos sebagai sosok tak tersentuh (intangible). Dengan segala keputusan yang tidak bisa salah!

Harus diakui, gerakan dan semangat egalitarian itu sudah menyelinap ke mana-mana. Tidak hanya di tempat kerja. Namun juga di rumah. Di sekolah. Di ruang kelas. Dalam kondisi macam ini, timbul pertanyaan menarik. Seberapa mampu kita menangkap nuansa jaman yang sedang bergerak ini? Akankah kita gagal membaca tanda-tanda jaman yang sudah berubah ini? Kegagalan ditandai dengan ketidakmampuan memaknai perubahan. Kegagalan muncul dalam kebiasaan memandang hal yang ada dari sudut pandang negatif. Kegagalan berkembang pesat ketika seluruh wacana komunitas tidak kritis, hanya sekedar ingin aman dan tidak berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kegagalan akan menjadi nasib buruk bila kita senantiasa memandang bahwa sesuatu yang datang dari orang-orang yang lebih muda harus selalu dikritisi habis-habisan.

Butuh usaha bersama
Dari situative perspective yang muncul dari karya Vygotsky pada tahun 1930-an, diyakini bahwa kemampuan dan kemajuan dalam hal berpikir, memahami persoalan, mencari pemecahan atas persoalan yang dihadapi, dan menyikapi terhadai hasil proses tersebut, sangat ditentukan oleh wacana komunitas. Secara sederhana, bila wacana komunitas lebih menyukai gosip-gosip slapstick gaya tayangan liputan selebritis, pada tingkat itu pula lah kemampuan berpikir kita berkembang. Sebaliknya, bila wacana komunitas lebih menyukai perkembangan dan hal-hal positif lainnya, kemampuan kognisi kita pun juga berorientasi ke sana.

Hidup adalah pilihan. Begitu orang bijak bilang. Tidak salah memang, karena kita memiliki kebebasan untuk bersikap dalam kondisi apapun yang kita hadapi. Seperti apa sikap yang mau kita ambil dalam peningkatan profesionalisme sebagai guru? McLaughlin and Talbert (1994) mengajarkan setidaknya tiga aspek yang mestinya akan berkembang dalam lingkup komunitas profesional. Kita diharapkan mengembangkan ketrampilan technical culture. Itu artinya kita memiliki kemampuan untuk menjalankan hal-hal teknis yang rutin dalam mengajar. Bisa membuat perencanaan yang baik. Bisa menjalankan proses pembelajaran yang memadai. Bisa mengadakan evaluasi belajar yang tepat dan memberikan umpan balik (koreksi) tepat waktu. Hal berikutnya, dan ini yang paling sulit, adalah kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan service ethics. Ada dua aspek yang perlu diangkat di sini, yaitu high expectations dan care. Artinya apa? Dari dalam diri kita, kita sudah meyakini bahwa anak didik kita memiliki potensi dan kemungkinan untuk berkembang. Potensi dan kemungkinan itu baru bisa menemukan titik-titik kepenuhannya bila kita betul-betul care. Memiliki semangat untuk memahami mereka Dengan segala kerendahan hati mendengarkan apapun yang mereka hadapi dan kesulitan yang menghambat mereka. Sejelek apapun mereka, mereka tetap sosok-sosok yang tidak sepantasnya dipandang rendah. Dan ini letak kesulitannya, karena ini mengandaikan perubahan paradigma hidup.

Dampak dari aspek kedua ini jelas. Kita tidak selayaknya membentak-bentak siswa seakan-akan kita adalah dewa yang paling benar sendiri. Kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, mengapa tidak membuka forum komunikasi? Akan jauh lebih bijaksana bila kita bisa menerapkan pola komunikasi interaktif. Tidak mudah, dan banyak dari kita akan dengan segera mengesampingkan rekomendasi ini. Namun, bagiku, tidak ada alasan sedikitpun untuk menolak ide ini. Menghargai harkat dan martabat manusia atau nguwongke orang lain adalah salah satu credo yang membuat alasan bagiku untuk selalu berjuang terus.

Hal ketiga yang ditawarkan oleh McLaughlin dan Talbert (1994) adalah profesional growth. Ini bukan hal yang terlalu sulit, karena kita sudah melakukannya. Makin banyak dosen yang mengadakan penelitian. Dengan difasilitasi dengan laptop dan ketersediaan jaringan teknologi informasi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak meningkatkan kualitas kita sebagai dosen.
Sekali lagi, pilihan mana yang kita mau ambil? Pilihan yang mengedepankan hal-hal positif, bersifat substansial dan menentukan arah perkembangan kita dalam menciptakan masyarakat yang lebih menghargai, menghormati perbedaan, dan mendorong kemajuan? Atau sebaliknya, pilihan yang mengedepankan hal-hal sensasional, yang sekedar menyenangkan hati ini sesaat, yang justru tidak mendorong daya kritis kita berkembang pesat?

Untuk satu hal, aku berseberangan dengan Alm. Riswandha Imawan, seorang profesor progresif dari UGM yang meninggal pada usia muda. Eagles fly alone. Begitu slogannya. Aku tidak setuju. Itu seruan elitis. Diasumsikan bahwa hanya ada sedikit orang yang layak untuk maju dan berkembang. Sebaliknya, kita harus menciptakan lingkup kerja yang dinamis, yang memungkinkan siapapun merasa nyaman untuk maju. Sekalipun yang dibuatnya berbeda, kita toh tetap harus menerima perbedaan sebagai berkat, bukan musibah dan ancaman.

Kejamnya rumah sakit

18 Oktober 2007
Akhirnya satu potong drama dalam kehidupan kami berakhir. Hari Minggu, 15 Oktober 2007 siang – begitu Rio kencing bercampur darah – hati kami terasa tercabik-cabik. Suara Rio yang biasanya ringan penuh canda-tawa-ria, tiba-tiba bergetar penuh kesakitan. Satu dua tetes kencing campur darah masih terlihat. Aku peluk dia penuh rasa sayang. Hatiku teriris oleh tangis kesakitan dan degup jantungnya yang berdetak begitu cepat.
Drama masih berlanjut. Kami membawa Rio ke rumah sakit swasta ternama di kotaku. Harus aku akui, aku buta sama sekali dengan urusan kesehatan. Dan kebutaan tersebut tidak memungkinkan aku tetap kritis dalam memahami persoalan. Oleh karena itu, kehadiran seorang teman yang kebetulan adalah seorang paramedis dari sebuah rumah sakit pemerintah di Semarang sangat membantu. Dia dengan setia menemani kami yang kebingungan.
Pihak RS memberi informasi yang jelas. Anak kami harus diopname. Pada hari kedua Lebaran, tidak ada dokter ahli bedah yang stand by. Yang memberi rekomendasi dokter umum yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Rio kami bawa pulang – dengan resiko apapun yang bisa terjadi. Alasannya jelas, dengan diopname pun, Rio tidak dengan sendirinya sembuh. Artinya, opname pun sekedar bobok manis, tanpa ada tindakan khusus untuk penyembuhan. Dan sekalipun ada, itu tidak lain hanya sekedar mengurangi rasa sakit. Operasinya saja baru bisa hari Selasa jam 2 siang. Itu artinya bahwa kami harus menginap di RS selama dua hari.
Selain itu, alah mak … kami terkesiap dengan prakiraan biaya yang harus ditanggung. Untuk operasi saja diperkirakan sampai mencapai Rp. 6.500.000,- untuk kelas 1 dan utama. Untuk kelas II biaya turun satu juta rupiah. Belum lagi biaya inapnya yang mencapai minimal Rp. 155.000/hari. Untuk kelas I, biayanya pun menjerat leher: Rp. 400.000,-/hari. Masih ditambah lagi biaya perawatan, laborat dan beban psikis yang harus kami tanggung.
Hati kecil ku menjerit. Kenapa begitu mahal? Tapi dengan cepat aku mencoba untuk mencari jawaban. Sekilas, aku teringat beberapa waktu lalu ada buku nakal yang ditulis oleh seorang yang sangat gerah melihat praktek-praktek kesehatan di negeri ini. Kalau tidak salah judulnya Orang Miskin Dilarang Sakit. Barangkali aku memang perlu membaca buku itu.
Pikiranku melayang bebas. Bagaimanapun juga, dengan gaji terpotong sampai 60% untuk cicilan rumah, kami mau tidak mau harus hidup dengan sangat hemat. Semua pengeluaran harus diperhitungkan. Kebutuhan-kebutuhan sosial yang tidak jarang cukup besar memang tidak bisa dihindari. Namun untuk kebutuhan dasar, kami memang mencoba untuk mengencangkan ikat pinggang. Gaji yang aku peroleh hanya cukup untuk tiap bulannya. Itupun dengan hampir tidak ada simpanan sama sekali. Apalagi, mulai bulan September lalu, kami memutuskan untuk mengikuti program asuransi. Jadi, gaji memang menjadi terlalu kecil untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Memang, untuk satu hal, kami sudah cukup aman. Rumah yang kami punyai sudah lebih dari cukup. Dengan luas areal tanah mencapai 300 m2 dan sekitar 140m2 luas bangunannya, kami sudah cukup nyaman. Dan itulah yang membuat kami merasa aman. Bagaimanapun juga, dengan hasil gaji yang kecil, kami sudah tinggal di rumah sendiri. Sekalipun kami harus mencicil pinjaman dari Bank untuk melunasi hutang pembuatan rumah kami, kami pun sudah siap dengan resiko hidup sederhana.
Namun, sakitnya anak tentu tidak masuk skenario. Apalagi setelah membuat kalkulasi singkat bila Rio sampai tiga hari menginap di RS, angka yang muncul memang membuatku terperangah. Minimal Rp. 10 juta. Aku tidak habis pikir. Harus aku akui, aku masih punya uang sejumlah itu. Tabungan khusus yang aku sisihkan secara khusus untuk istri cukup. Bahkan aku masih menyimpan uang US$ 1.400,-. Tapi itu untuk jaga-jaga ketika aku pergi sekolah lagi nantinya. Bukan untuk hal mendadak seperti ini.
Dalam kebingungan tanpa batas, dan juga keprihatinan atas tidak adilnya dunia terutama dalam kaitannya dengan urusan kesehatan macam ini, akhirnya aku mengontak kakak ipar istriku yang bekerja di salah satu RS pemerintah. Terus terang saja, kami sudah merasa was-was bahkan ketika mendengar nama RS itu disebut. Begitu banyak cerita menyeramkan dari sosok RS pemerintah. Entah itu menyangkut dengan kebersihan bangsal, kinerja para dokter mudanya yang belum tentu berpengalaman, pelayanan yang sangat birokratis-rumit-dan tidak ramah. Ada berjibun alasan untuk mengatakan tidak. Namun, angka rupiah yang harus kami tanggung di salah satu RS swasta tersebut membuat kami memberanikan diri untuk mengadu nasib ke RS pemerintah.
Dan memang itulah yang kami lakukan. Apakah hasilnya lebih baik? Tentu terlalu dini untuk menjawab itu semua. Yang jelas, dari perhitungan matematis finansial, hasilnya jauh lebih memuaskan. Kami harus membayar Rp. 2,080.000,- untuk total pengobatan. Angka itu “hanya” 20% dari jumlah keseluruhan yang diasumsikan harus kami bayar di sebuah RS swasta ternama tersebut.
Untuk satu hal kami sudah bisa bernapas lega. Satu urusan selesai. Rio kami bawa pulang begitu dampak anestesinya sudah beranjak pergi darinya . Dengan ditemani Gun dan Lian, kami susuri jalan beraspal pinggir selokan. Rio tampak begitu lemah di pangkuan mamanya. Aku pun tidak punya alasan untuk terburu-buru. Waktunya yang tersedia cukup panjang. Jam 2 siang, hari Rabu, 17 Oktober 2007, kami meninggalkan RS. Sementara aku akan ada kelas jam 4 sore. Masih cukup waktu. Sengaja kami tidak memakai taksi, karena toh jalanan lebih banyak macetnya. Mudik Lebaran masih memadati jalanan. Selain memang tidak ada harga yang murah untuk segala jenis pelayanan, termasuk taksi.
Untuk hal lain, aku masih terbebani. Bayangan keprihatinan seorang penulis Orang Miskin Dilarang Sakit betul-betul aku rasakan. Aku merasa malu. Kenapa aku baru berempati begitu mengalaminya? Aku menyadari kebodohan diriku sebagai manusia yang lebih sering memakai “proximity reasons” untuk menjelaskan berbagai fenomena dalam hidup. Bila terjadi bencana di suatu tempat yang jauh, ada kecenderungan untuk membela diri, “Ah bencananya kan tidak di sini. Kenapa harus begitu peduli.” Dan bila bencananya terjadi di dekat kita, ada kecenderungan untuk berkilah, “Bencana itu kan tidak terjadi pada keluarga kami. Itu kan orang lain.”
Ini lah realitas dalam hidup. Teman paramedis yang dengan setia menunggui kami dalam proses pemeriksaan hari Minggu sore di Instalasi Gawat Darurat itu sempat mengeluarkan pernyataan ironis. “Dokter yang jadi bosku itu,” begitu katanya pada istriku, “mendapat bonus Rp. 25 juta/bulan dari berbagai “deal-deal” seperti resep-resep dan lain-lainya. Bonus itu artinya uang di luar gaji lho.” Dia juga sempat tersenyum pahit menertawakan dirinya karena dia juga bukan seorang malaikat yang selalu bersih. Karena bagaimanapun juga dia ikut “kecipratan” rejeki dengan bekerja di sebuah RS pemerintah di Semarang. Ada sejumlah uang “haram” yang dia peroleh tiap bulannya di luar gajinya. Bagaimanapun juga dia ikut dalam sistem yang tidak bisa ditentangnya. Dia mau tidak mau ikut membesarkan suatu praktek “pemerasan” terhadap orang-orang yang miskin tersebut.
Yah, dalam permenunganku ini, barangkali yang paling tepat untuk menggambarkan hidup kita sebagai manusia adalah seperti ini: kita masuk ke dalam lingkaran permainan. Permainan macam apa yang hendak kita ikuti? Aku sendiri sudah merasa “diplot” untuk ikut permainan di sebuah institusi pendidikan tinggi swasta. Dari kecil aku dididik dengan keras, dan diajari untuk lebih menghargai kerja keras daripada sejumlah uang yang aku peroleh. Selain itu, dengan dibesarkan di daerah pegunungan, pekerjaan fisik pun juga bukan suatu hal yang layak untuk dihindari. Ngepel, nyuci, dan membersihkan rumah sendiri – untuk family welfare – bukanlah hal yang berat untuk dilakukan. Aku belum merasa perlu punya pembantu dan mesin cuci. Kami masih bisa melakukannya sendiri.
Orang lain barangkali “diplot” untuk mengikuti pola kehidupan yang lain. Orang tua yang memiliki ambisi luar biasa. Mendidik anaknya untuk kerja keras. Menilai keberhasilan hidup dari hal-hal yang terukur, entah itu dalam jumlah gaji besar ataupun hal-hal yang bisa terraba (tangible) seperti properti atau kendaraan. Dikirimkan ke sekolah kedokteran dengan biaya yang teramat sangat besar. Pendidikan kedokteran adalah investasi besar. Dan karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga besar. Atau lebih pasti lagi: karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga HARUS lebih besar. Dengan demikian, apapun kenyataannya, hasilnya pun juga HARUS besar. Apakah itu merupakan suatu kebenaran umum? Entahlah. Namun, yang terjadi sekarang ini, pelayanan kesehatan benar-benar mencekik dan tidak bisa diterima dengan akal sehat!
Apakah bidang kesehatan bisa dikatakan sebagai sebuah mafia? Entahlah. Aku sendiri tidak berani melabelinya dengan istilah itu. Namun, realitasnya barangkali memang demikian. Aku sendiri, sebagai orang yang pernah hidup di negeri orang dan mencicipi pendidikan tinggi yang lumayan prestisius, tetaplah orang bodoh ketika harus berurusan dengan masalah kesehatan. Nah, kami-kami yang bodoh ini menjadi sasaran empuk dari sistem yang ada. Alasannya sederhana: kami tidak punya nilai tawar. Kami tidak punya pengetahuan yang memadai untuk membuat posisi kami lebih kuat. Jadi, tidak ada salahnya sebenarnya kalau kami selalu dikadali.
Namun, tentu tidak adil juga menghakimi posisi dokter. Posisi seorang dokter tidaklah terlalu istimewa dalam sistem yang tidak adil ini. Dia hanya satu sekrup dari mekanisme “assembly line” yang ada dalam sistem pengobatan. Dia dipakai sebagai alat yang paling mujarab untuk promosi dan penjualan produk-produk obat dari berjibun pabrik obat yang dengan rakusnya ingin mengeruk keuntungan. Mereka saling bersaing, bahkan barangkali saling sikut-menyikut bila diperlukan. Dokter dimanja dengan berbagai bonus bila mampu memasarkan produk-produk yang mereka hasilkan. Dilihat dari satu sisi ini, dokter tampak justru sebagai korban. Korban sistem yang tidak adil.
Cukup menarik ketika seorang mahasiswa Extension Course berkomentar dengan cerita ku ini. Seorang temannya yang jadi dokter memilih untuk tidak jadi korban dari sistem ini. Setiap kali merekomendasikan obat, dia selalu membuka konsultasi tentang berbagai kemungkinan. Dan dia tidak mau menerima tips secara berlebihan dan tidak adil ini. Dia sangat paham betul tentang politik kadal-kadalan yang dibuat oleh sistem kesehatan ini. Namun, suara hati nurani yang kecil benar-benar dia dengarkan. Suara itu tidak lagi kecil, karena selalu mengingatkan dia untuk memiliki empati dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sakit. Empati yang datang bukan semata-mata karena “proximity reasons”. Tetapi lebih dari kemurnian hati. Dari kesediaan hati untuk mendengarkan orang lain.
Masih adakah hati untuk mendengarkan keluhan orang lain? Tanyakan pada Ebiet G. Ade, dan dia akan menyuruh kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Dan dunia ini tidak cukup memberi makan untuk seluruh umat manusia, karena ada begitu orang yang mengambil lebih dari jatah yang semestinya cukup untuk diri mereka. Begitu Mahatma Gandhi mengingatkan kita. Bersediakah kita mendengarkan?