Wednesday, July 18, 2007

make one's day

In the last two days, I found many interesting things. First, yesterday I came across a young gentleman attending Biology Department of Loyola University Chicago. We got acquainted to each other and spent the whole trip on the bus from Lake Shore Campus to Pearson bus stop sharing our own experiences. It was a good experience for me, because it turned out to be an interesting time for me. The name of the 19-year old gentleman, a sophomore, is Tasso. He was born in the US, but his parents are from Greek. The discussion was triggered by a small incident that I saw. A young black man crossed the street when the traffic light did not allow him to do so. The traffic was not that busy. Seeing the man in front crossed the street, a young women was provoked to do the same thing. I directly came to a quick conclusion: violating law is contagious. When we see a model to follow, it is very likely for us to follow the thing, even when we know very well that the thing is totally wrong. I told him my perspective about the thing and that was a good start for a nice talk. Finally, as I promised I sent Tasso a pie of writing that I wrote pretty long time ago, or last year. The writing is about the death of my father, and how I learned from the funeral time.

I received a quick reply. Tasso acknowledged that he started the day with a bad mood. He only had one thing to do for the day. He did a little chore for a friend, i.e. picking up his/her visa. That was all. He did not have any spirit that day. What surprised me much was his reply: he turned to be more motivated after we exchanged our experience. I remember that it is good to make a day. making a day means doing little things for other people that help them cheer up. Doing this way, we certainly help others improve many things in their lives as well.

Another thing that I learned yesterday was the time of discussion with Mary Theis. I was very grateful to be in her office in the first session. I was expected to spend only twenty minutes, but it turned out to be thirty five minutes. We had a good conversation. The things that I remember most were: first -- I told her that I am now learning how to deal with other people more appropriately. Sometimes, I feel too pushy, asking too much from other people. But, working in the group of twelve, with different characteristics, I certainly learn how to control myself. I learn how to be less pushy and more tolerant. In this way, I reduce my tension. I can be more easily adaptive as well. The second thing that I discussed with her is the idea of miracle. I told her that I wait for a miracle to happen. I will certainly stay longer here. My study requires me to stay longer and work much harder. I told her that the best arrangement for me and my family is to get here, work and gather enough money to pick my family. It is not necessarily something easy to do. IT is totally a tough thing. She replied that she had the authority to manage things to ensure that I work as an adjunct teacher/instructor. This position is not only good for my family and me, in the sense of earning money to live, but more than that, it is more important for me to get experience of working as an adjunct teacher/instructor. Working in a rich context can serve a better future for me. I could earn a meaningful experience that in turn will equip me with professional job later in my life. It means that I will have more opportunity to offer better things for more people.

In addition to two things, I also learned pitiful things in India. As usual, I listened to radio every day. By listening to radio, I obtain much knowledge and my English certainly gets improved much. I was so moved by a documentary report on India's economy and the fact that the country's economy is improving, but poverty is rampant in remote areas. It is very surprising that people suffer from economic suffering. There is an enormous economic gap in India. The report was so shocking, because the reporter went to remote area. Accompanied by a native Indian, he visited poor villages. I was so moved. Once they came across a very poor village. The villagers eat rats to survive. They do not have enough food. The reporter interviewed a woman with six children. The eldest son is ten years old. The youngest is six months old. The husband -- accompanied by the eldest son -- goes to the nearest city to get menial job, coming back once a month. At home, the wife stays with her five kids. Very often however, the kids are often left home, taken care by the second child, that is eight years old. The reason is simple, the mom works in a neighboring farmland, earning 25 pence a day. With that little money, how can the family survive? I could not help crying, I burst into tears when I heard children crying. Hunger is not unusual among them. In this country, food is everywhere. This world is highly unfair.

Thursday, June 28, 2007

io kangen bapak ...

Lukisan hitam putih keluargaku memang belum sempat aku pasang di dinding. Di situ tergambar wajahku yang agak chubby dengan senyum lebar, dan mata sipit. Di sisi kananku istriku sedang menggendong anakku, si Io yang tampak sedang tidak bahagia, sedikit njaprut. Lukisan itu memiliki makna khas. Diberikan sebagai kenang-kenangan oleh seorang mahasiswi yang hampir gagal menyelesaikan skripsi. Malam sebelum keberangkatanku, 19 Juni 2007, dengan menyewa sebuah pick-up, dia datang membawa lukisan berukuran kurang lebih 75 cm x 1,25 m. Terkaget-kaget kami dibuatnya. Tapi itu lah yang dia katakan. Dengan mata berbinar dan sekaligus berkaca-kaca, dia mengatakan betapa hidupnya telah begitu berarti selama satu tahun terakhir ini. Ada banyak yang telah dipelajari selama penulisan skripsi. Aku tersenyum, dan juga bersyukur, bahwa sosok yang keras kepala tersebut telah menjelma menjadi sosok yang siap untuk mendengarkan dan belajar.

Kini, lukisan itu teronggok di kamar tidur utama. Belum terpasang di dinding. Dan sore ini, aku merasakan getaran yang sangat kuat untuk menelpon keluargaku. Apa jawaban yang aku peroleh? Io tidak cukup antusias untuk menjawab telpon. Mungkin dia merasa kurang mantap saja. Setelah dua tiga kali bicara, dia berikan telpon ke mamanya. Dan mamanya kemudian menceritakan hal yang tiba-tiba membuat diriku tercenung sejenak. "Mas, Io lucu sekali," begitu katanya, "Ingat foto yang dicetakkan mas Bambang? Io selipkan fotonya di sisi lukisan. Katanya, Io sangat kangen sama kamu." Aku tersenyum. Getir. Sepercik rasa pedih tertoreh di hati. Ingin rasanya aku peluk dia, bercanda, bermain bola, dan jalan-jalan menyusuri pematang sawah seperti biasanya.

Dalam hati kecil aku menangis. Aku bayangkan betapa sosok anak berusia 32 bulan merindukan sosok seorang ayah yang tampil sebagai seorang pahlawan. Hero. Bisa mengerjakan banyak hal. Bisa memecahkan semua persoalan. Kreatif dalam bermain dan membuat alat-alat mainan. Aku bayangkan sosok Io yang mungil merindukanku. Ya, aku ingat bagaimana dia begitu senang dengan hasil karya baling-baling kertas yang aku buat yang dia bisa pakai untuk mainan. Sederhana. Tapi itu memberi kesan yang dalam. Bagi dia, yang menarik bukannya mainan yang aneh-aneh. Tapi mainan yang sederhana yang dibuatkan oleh ayahnya.

Salah satu persoalan yang mendasar ketika seorang ayah meninggalkan keluarga untuk suatu kepentingan tertentu adalah hilangnya sosok hero dalam keluarga. Bila tidak disikapi dengan positif, dan anak tidak didampingi dengan baik, kehilangan macam itu tentunya akan memberikan dampak serius dalam perkembangan emosional dan psikologis untuk waktu-waktu mendatang. Pandangan macam ini tentu diangkat dari perspektif psikologi perkembangan. Namun, rupanya pandangan ini tidak sepenuhnya cukup untuk menjelaskan fenomena yang sangat rumit dalam kehidupan ini. Ada dimensi spiritual yang rupanya bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena tersebut dengan lebih komprehensif.

Dari sisi spiritual ini, manusia sudah sepantasnya merasakan kehidupan di dunia ini sebagai rangkaian tugas perutusan. Aku dipanggil untuk menjadi seorang ayah, seorang dosen, seorang kepala rumah tangga, dan teman bagi kolega-kolegaku. Tentu tidak mudah menggenapi seluruh tugas perutusan tersebut dengan gilang-gemilang untuk waktu yang bersamaan. Dalam banyak hal, harus ada pengorbanan di sana-sini untuk memastikan bahwa tugas perutusan yang dipasang di pundak ini benar-benar terlaksana dengan optimal. Untuk menjadi dosen yang nantinya bisa memberi kontribusi yang lebih banyak untuk kehidupan, aku memang tidak boleh menutup mata dengan pengorbanan yang harus dibuat. Meninggalkan keluarga, mengesampingkan comfort zone demi sebuah cita-cita, dan berusaha untuk tampil optimal dalam kondisi apapun adalah bentuk-bentuk dari pengorbanan itu.

Aku mencoba untuk meyakini, sekalipun Io tidak tumbuh berdampingan dengan diriku, dia akan tumbuh tegar dan kuat, sekuat dan setegar orang tuanya yang tidak mudah menyerah pada persoalan perasaan. Aku meyakini, bahwa apa yang aku lakukan ini tidak lebih dari sekedar menjalani apa yang telah dirancang oleh Yang Di Atas. Kehendak bebasku lah yang menentukan apakah aku berhasil atau tidak dalam menjalani tugas perutusan ini. Dan ketika tabir kehidupan ditutup, yang akan ditanyakan St. Petrus adalah seberapa besar aku bertanggung jawab dengan kehendak bebasku tersebut. Kehendak bebas yang menentukan bentuk akhir dari sebuah rencana Yang Di Atas.

Menjadi chicagiensis

Satu minggu sudah kami berduabelas tinggal di Chicago. Dengan misi besar yang kami tanggung, kelompok yang disebut sebagai leadership team ini tentu tidak bisa dengan begitu saja mengklaim kesempatan dua bulan tinggal di Chicago ini sebagai masa liburan. Memang tidak mudah untuk beradaptasi, dan kemudian menjalani tugas perutusan yang tidak ringan ini. Masing-masing memiliki persoalan sendiri-sendiri. Pak Prih harus menemui kenyataan bahwa kakak sepupunya meninggal dalam kecelakaan perjalanan ke Jogja dari Sumatera. Keluarga yang telah bertahun-tahun tidak ke Jawa ini akhirnya harus menjumpai pengalaman tragis: sang ayah, ibu, dan anak yang hendak tinggal bersama Pak Prih, dipanggil Tuhan dalam kecelakaan parah sesudah penyeberangan di Merak. Sulit untuk diterima. Bisa dibayangkan, betapa berat tanggungan psikologis yang harus dipanggul. Terutama bila diingat bahwa istri Pak Prih harus menghadapi pengalaman seperti ini sendirian.

Anggota termuda dari team kami, Aris Wahyu Prasetyo, juga tidak lepas dari persoalannya sendiri. Sebagai seorang yang biasa aktif berolahraga, dia tidak cukup menemukan partner yang tepat untuk menemani berolahraga. Akibatnya cukup serius, setelah beberapa hari tanpa mengeluarkan keringat, dia kelihatan sangat loyo, lungrah. Akibatnya, dia tidak bisa mengikuti acara retret di Cenacle Retreat House. Dia memilih tinggal di rumah, dan akhirnya setelah cukup istirahat, dia akhirnya berolah raga dan pergi ke Gymn Center untuk mencari keringat. Beruntung bahwa yang dia cari ketemu. Keringat datang, dan ketika Rm. Justin Daffron membawakan soup khusus untuknya, dia sudah cukup segar untuk melahapnya.

Yang lain tentu tidak terlalu banyak masalah. Rekan-rekan memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar. Ada berbagai pengalaman di sana-sini. Namun, tentu saja itu memperkaya dan menjadikan pengalaman tinggal di negeri Paman Sam ini sebagai sesuatu yang terlalu berharga untuk dikesampingkan. Nah ... kita tunggu saja.

Sunday, June 3, 2007

latihan jujur

Hari ini, lamu lalu lintas sedang tidak bersahabat. Setiap kali aku mulai mendekatinya, lampu menyala merah. It terjadi di semua persimpangan jalan yang aku lalui pagi ini. Pertama, di dekat bandara, kedua di pertigaan Ring Road, ketiga di pertigaan Janti, keempat di pertigaan UIN. Keempat-empatnya ruapnya berkonspirasi untuk mencegahku datang tepat waktu. Tidak heran, aku terlambat enam menit di kelas. Kertas ujian sudah dibagikan. Sebagian besar mahasiswa bahkan sudah mulai mengerjakan soal. Untuk satu hal, aku tidak punya alasan untuk takut dimarahi dosennya. Karena aku bukan lagi mahasiswa di kelas itu. Aku berperan sebagai partner dalam mengawasi ujian. Namun, aku juga tidak selayaknya merasa bebas dari rasa bersalah. Soal lampu lalu lintas yang konspiratif masih bisa aku gunakan sebagai alasan untuk keterlambatanku. Aku masih bisa mengelabui rekanku dengan mengkambinghitamkan lampu lalu lintas. Namun hati kecilku menegur. Tidak jujur kalau hanya mempersoalkan lampu merah. Mestinya aku lebih berani mengakui bahwa tadi pagi aku tidak cepat-cepat mandi. Mestinya aku lebih berani menyalahkan diriku yang terlalu asyik membaca koran yang terlambat datang. Ya ... kejujuran kecil itu barangkali terlalu sederhana untuk menjadi kesadaran publik. Namun, begitu pena ini aku biarkan menari bebas di atas kertas, aku menjadi malu bahwa aku sering menutup mata terhadap gelitik nurani-hati-kecil yang mengajakku untuk jujur.

Thursday, May 24, 2007

Kasus UN: Giliran Nurani Pemerintah yang Diuji

Ke-58 anggota Education Forum yang mengajukan gugatan (citizen lawsuit) terhadap pemerintah sehubungan dengan ketidakadilan yang mereka rasakan sebagai akibat kebijakan Ujian Nasional (UN) boleh berteriak gembira. Gugatan mereka dikabulkan (22 Mei 2007). Dalam putusannya, pengadilan menilai pemerintah telah lalai memenuhi hak asasi anak di bidang penddiikan. Disamping itu juga, sebelum UN digelar, pemerintah wajib meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah, serta meninjau ulang sistem pendidikan nasional saat ini. Namun rupanya, sikap gembira dalam menyikapi kemenangan itu bisa saja berakhir dengan kehampaan. Menanggapi keputusan itu, Mendiknas bersikukuh untuk terus akan mempertahankan UN (the Jakarta Post, 23 Mei 2007).

Korban target politik jangka pendek

Dari tinjauan sosiologis kritis, keputusan mempertahankan UN sebagai alat ukur keberhasilan belajar secara nasional adalah hal wajar. Pemerintah mempunyai alasan untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh, serta apa yang layak dan tidak layak. Persoalan yang sering muncul adalah ketika kebijakan publik cenderung berorientasi pada pencapaian target-target politik jangka pendek. Kita terlalu sering mendengar celotehan “ganti menteri pendidikan, pasti akan ganti kurikulum.” Fenomena macam ini tidak lain adalah manifestasi dari target-target politik jangka pendek dari pemimpin politik yang sedang berkuasa.

Kasus UN pun juga demikian halnya. Keberhasilan belajar dalam angka statistik selalu menakjubkan. Seakan-akan, semakin tinggi standar angka kelulusan, kita diyakinkan untuk percaya bahwa kualitas pendidikan yang begitu kompleks sudah membaik dengan sendirinya. Catatan-catatan numerik statistik sebagai alat propaganda bahwa pemerintah telah berbuat “benar dan baik” menjadi alat pengesah yang ampuh dari pemerintah.

Dilihat dari proses pembelajaran UN memang membawa dua dampak negatif yang sangat serius. Pertama, UN menjauhkan siswa dari pengalaman pembelajaran yang membebaskan (liberatory). Demi mencapai tujuan “angka skor minimal,” berbagai upaya dilakukan, seperti menghafal, dan drill soal-soal ujian di masa lalu. Berbagai pihak di luar murid, seperti orang tua, sekolah, dan bahkan Diknas pun terjebak dalam sindroma seperti ini. Seperti yang sudah didiskusikan di banyak tempat, bahkan banyak sekolah yang menyewa instruktur-instruktur bimbingan belajar untuk melatih para siswanya mengerjakan soal-soal ujian.

Padahal, anak sudah semestinya mengalami pembelajaran yang betul-betul mampu membekali mereka dalam hidup. Hafalan jangka pendek tidak cukup membekali anak untuk memecahkan persoalan hidup yang sangat kompleks. Karena terbiasa distimulasi dengan soal-soal ujian, anak tidak dilatih untuk bereksplorasi, mencari koneksi atas berbagai fenomena, kreatif dan kritis serta adaptif.

Kedua, UN juga menjadi alat yang paling tepat untuk menjauhkan anak didik dari nilai-nilai kejujuran, semangat kerja keras, berani bertanggung jawab, dan ketekunan. Berbagai pelanggaran yang terjadi di sana-sini yang dilakukan baik secara terang-terangan maupun tersembunyi oleh berbagai pihak terkait, jelas-jelas mengajarkan pada siswa tentang tidak perlunya integritas dalam hidup ini.

Singkat kata, dengan dua dampak negatif yang akhirnya justru berakibat pada runtuhnya nilai-nilai yang hendak diperjuangkan oleh pendidikan sendiri, akankah pemerintah berani bertindak “strategis?” Tentu, makna “strategis” di sini harus dimengerti dari kacamata kepentingan siswa, bukan kepentingan propaganda politis semata.

Berperang dari dalam

Bila dicermati lebih lanjut mengenai sikap Depdiknas, yang tampak justru persoalan ruwet penuh kontroversi. Di satu sisi, hal-hal negatif seperti yang sudah disinggung di atas, telah benar-benar dipahami oleh insan-insan yang berada dalam departemen ini. Literatur-literatur utama yang dikeluarkan oleh Depdiknas dalam rangka sosialisasi KBK 2004 menjadi contoh konkrit tentang pemahaman mengenai kesadaran tersebut. Di sana terlihat bahwa belajar dalam arti sesungguhnya ditandai dengan kegiatan yang terfokus pada siswa (student-centered), melibatkan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (contextual teaching and learning), menekankan pada pengembangan kecakapan hidup (broad-based education oriented to life-skills), dan menekankan pada proses (process-based learning). Penekanan pada tingkat proses ini layak digarisbawahi, karena pada dasarnya, model evaluasi yang disarankan oleh Depdiknas sendiri lebih mengacu pada pencapaian tiap individu. Sebagai alat ukurnya, yang disarankan adalah penilaian berbasis portofolio dan kinerja (portfolio and performance based assessments).

Di lain pihak, justru Depdiknas sendiri juga yang melanggar “aturan main” yang dikeluarkannya sendiri. UN yang selama ini diterapkan justru bertentangan dengan idealisme yang dicerminkan dalam literatur-literatur tersebut, dan tentu saja memang selalu mengundang berbagai kontroversi. Pertama, tipe pilihan ganda yang dipakai jarang menyentuh tingkat berpikir yang lebih kompleks. Anak tidak diajak untuk berpikir analitis, sintesis, dan evaluatif (higher-order thinking skills). Anak hanya diajak untuk menyentuh tingkat pengetahuan dasar dan pemahaman minimal. Kedua, timbul pertanyaan mengenai keabsahan UN sebagai alat ukur kelulusan. Bagaimana mungkin proses pembelajaran selama tiga tahun hanya diukur selama 120-an menit, dan ditentukan oleh tiga mata pelajaran? Dalam hal ini, posisi guru yang mestinya memiliki hak prerogatif dalam menentukan lulus-tidaknya siswa – karena merekalah yang paling tahu proses belajar dari hari ke hari – sama sekali tidak diberi ruang gerak. Ketiga, UN diduga memiliki tingkat validitas prediktif yang rendah pula. Artinya, mereka yang mencapai nilai baik di UN bukan berarti dia memiliki peluang lebih baik untuk berhasil. Yang gagal pun tidak berarti bahwa nasib mereka pun juga akan lebih buruk. Ada begitu banyak contoh bahwa yang memiliki potensi untuk berhasil di masa depan, justru gagal dalam UN. Sementara, yang serba minimalis, bisa saja lulus.

Singkat kata, begitu kasus UN masuk wilayah pengadilan, akankah nurani seperti yang tercermin dari literatur-literatur keluaran Depdiknas sendiri akan mengusik kesadaran dari pihak pemerintah. Kita tunggu apakah nurani para pembesar bangsa ini juga terketuk? Kita tunggu saja kebijakan dan komentar-komentar mereka. Akankah kualitas pendidikan yang belum membaik ini justru makin diperparah dengan prinsip mediokritas gaya UN seperti sekarang ini?

Rm. Mangunwijaya: Pembaharuan Pendidikan dan Keberlanjutannya

Rm. Mangunwijaya (1929 – 1999) bagi sebagian besar orang adalah sesosok splendor veritatis – sosok yang penuh dengan warna-warni pelangi sebagai cermin keutamaan kemanusiaan. Pergulatan hidupnya tercermin dalam beragam karya monumental. Novel Burung-burung Manyar (1979) menyabet penghargaan “The South-East Asian Award” (1986). Sentuhan arsitektur yang berbasis masyarakat terpinggirkan di tebing Kali Code telah membuatnya dianugerahi Aga Khan (1990-1992). Kepeduliannya terhadap karya pendidikan telah terwujud dalam Sekolah Dasar Eksperimental Kanisius Mangunan (SDKEM) dan Lembaga Dinamika Edukasi Dasar (DED).

Karya terobosan

Karya dan sumbangan Rm. Mangun dalam bidang pendidikan inilah yang menjadi objek penelitian dari Y. Dedi Pradipto dalam buku Belajar sejati vs. kurikulum nasional: Kontestasi kekuasaan dalam pendidikan dasar (2007). Memakai pisau analisis antropologi sosial, Dedi Pradipto mencoba untuk menghadirkan sosok Rm. Mangun lengkap dengan berbagai terobosan yang beliau coba ajukan untuk membantu persoalan kronis dalam dunia pendidikan.

Kajian penelitian dalam buku ini didasarkan pada fakta bahwa pemerintah menciptakan sistem untuk menjaga “kelangsungan” hidupnya. Dinamika dalam penciptaan kondisi macam ini termanifestasi dalam berbagai aturan main. Kurikulum dan Ujian Akhir Nasional (UAN) adalah dua contoh manifestasi pengaruh pemerintah tersebut. Kurikulum secara luas dapat dimaknai sebagai apa yang boleh dan tidak boleh untuk dikuasai oleh anak didik.

Sementara, UAN lebih merupakan manifestasi dari target politik jangka pendek pemerintah, bukan untuk pemberdayaan anak didik. Yang menjadi korban tentu saja pertama-tama adalah siswa. Karena mereka tidak diberi ruang gerak untuk mengeksplorasi alam, memuaskan rasa ingin tahu mereka, dan mencari apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Pihak-pihak di sekitar anak, entah itu orang tua, guru, dan kepala sekolah, dan bahkan Dinas Pendidikan pun, ramai-ramai “mencekoki” anak dengan pengetahuan dan hafalan jangka pendek. Bagi Rm. Mangun, pembelajaran yang tidak mengedepankan pengalaman “belajar sejati” justru akan menjadikan anak sebagai korban, bukan sebagai pihak yang diberdayakan.

Rm. Mangun mencoba untuk keluar dari lingkaran setan dampak kekuasaan yang termanifestasi melalui kurikulum yang sarat dengan pengetahuan namun miskin dalam pemaknaan itu. Karena itu, dengan memanfaatkan sebuah SD Kanisius Mangunan, Sleman yang hampir mati, pada tahun 1994, Rm. Mangun mengadakan terobosan (groundbreaking) dengan tiga sasaran. Pertama, Rm. Mangun menciptakan kurikulum yang khas. Kepedulian dan kedekatannya dengan wong cilik telah mendorongnya untuk mengangkat kemiskinan kronis sebagai laboratorium eksperimental untuk mengentaskan anak miskin. Kedua, sebagai partner kerja dari SDKEM, Rm. Mangun juga mendirikan Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang berperan sebagai think tank untuk mendukung dari program-program pembelajaran di SDKEM. Di DED inilah berbagai persoalan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar diangkat, didiskusikan, dibagikan, dipahami secara bersama, disikapi secara kritis, dan akhirnya dicarikan solusinya. Ketiga, Rm. Mangun juga tidak enggan untuk menggandeng berbagai rekanan, mengembangkan jaringan, dan menyebarkan temuan-temuan dalam berbagai eksperimen tersebut ke berbagai forum. Hasil-hasil dari praktik baik pembelajaran yang memfasilitasi belajar sejati dibagikan dan diterapkan di berbagai konteks sekolah lain.

Dengan tiga hal yang dilakukan secara konsisten tersebut, usaha-usaha Rm. Mangun akhirnya mulai menuai perhatian. Setidaknya ada tiga kontribusi besar yang dihadirkan dari perjuangan Rm. Mangun selama ini. Pertama, pihak Departemen Pendidikan tergugah untuk mengadopsi kurikulum pendidikan dasar yang telah diujicobakan oleh Rm. Mangun. Kurikulum berorientasi pada tema yang dipakai di SD sekarang ini adalah hasil eksplorasi dan eksperimentasi dari Rm. Mangun dan teman-teman.

Kedua, sejauh ini, baik SDKEM maupun DED menjadi acuan bagi berbagai sekolah di berbagai penjuru di negeri ini dalam hal pengembangan model-model materi pembelajaran dan pendekatannya. Banyak yang sudah datang, belajar, dan mengadopsi model-model pendekatan pembelajaran yang memungkinkan “belajar sejati” dapat terwujud.

Ketiga, SDKEM dan DED berhasil mengubah wajah persekolahan yang serba pesimistis, kekurangan, dan tidak berdaya. Dengan pola interaksi yang sehat antara guru dan siswanya, kebebasan untuk berekspresi dan bereksplorasi, anak didorong untuk menumbuhkembangkan sikap ingin tahu dan saling harga-menghargai. Berbagai pengalaman hidup yang dijumpai dalam hidup keseharian diangkat dan dimaknai dengan penuh empati. Kemiskinan kronis sebagai realitas objektif bagi anak-anak menjadi bagian dari proses pembelajaran. Barang-barang bekas bisa dibawa ke kelas untuk menumbuhkan kesadaran tentang makna kreativitas, perlunya konservasi alam, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi Rm. Mangun, kemiskinan bukan alasan untuk merasa pesimistis, gagal, dan tidak berprestasi.

Catatan kritis

Sulit untuk dipungkiri bahwa sosok Rm. Mangun identik dengan pemikiran yang begitu kompleks, sehingga banyak hal tidak tertangkap bahkan oleh para sahabatnya yang meneruskan karya dan kepeduliannya dalam dunia pendidikan. Hanya 30% yang tertangkap, sementara yang 70% hilang seiring dengan berpulangnya sosok ini ke pangkuan pertiwi. Nasib SDKEM dan DED pun juga kembang-kempis sepeninggal beliau. Mengapa demikian? Sosok Rm. Mangun, sebagai makhluk fana, juga hidup dalam konteks ruang dan waktu, yang menurut logika Niels Mulder (2000) masih mengacu pada masyarakat madani setengah hati. Dengan kata lain, Rm. Mangun muncul sebagai sosok kharismatis di tengah-tengah konteks masyarakat yang belum mampu berpikir secara merdeka dan bertindak secara bebas-bertanggung jawab. Dengan kata lain, Rm. Mangun yang memiliki karisma tunggal, terlalu berat menanggung idealisme, karena masyarakat yang ada di sekitarnya tidak berdiri setara dengan sosok ini. Akibatnya jelas, banyak ide dari sosok Rm. Mangun yang tidak tertangkap.

Gambaran tentang perjuangan dan kepedulian Rm. Mangun dalam mengentaskan masyarakat miskin melalui pendidikan sebenarnya tidaklah terlalu unik. Bahkan untuk negara semaju Amerika Serikat pun, persoalan kesenjangan sosial menjadi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Berbagai kelompok masyarakat dalam lingkup inner cities, yang ditandai dengan penyalahgunaan obat terlarang, drop-out rate yang sangat tinggi, dan kriminalitas yang marak, telah membuat lingkaran setan yang tidak mudah untuk diretas.

Cukup menarik bahwa sekelompok Jesuit telah berhasil meretas persoalan macam ini. Dimulai tahun 1996, di salah satu sudut kota Chicago, mereka mendirikan sebuah SMA Cristo Rey untuk mengangkat anak-anak dari jurang kemiskinan kronis. Data-data selama satu dekade memang menakjubkan. Drop-out rate di sekolah ini hanya 6%, yang melanjutkan kuliah 82%, 11 sekolah lain yang mengadopsi model yang sama telah didirikan, di musim gugur 2007 ini, akan dibuka 7 sekolah lagi. Tahun 2008, akan dibuka lebih banyak lagi. Akhir tahun 2006, Rev. John Foley sebagai ketua Cristo Rey Network tercatat sebagai Man of the Year versy Newsweek untuk bidang pendidikan. Di sini, kita melihat kontrasnya, bagaimana gerakan pembaharuan pendidikan menjadi buntu di negeri kita. Sementara di negara lain, justru berkembang pesat.

Ada dua alasan mendasar. Pertama, bagaimanapun juga, kita belum memiliki karisma bersama (shared charisma) atau yang sering disebut sebagai budaya korporasi (corporate culture). Dalam konteks ini, orang-orang yang terlibat dalam suatu program rata-rata memiliki kemampuan dan ketrampilan yang sama; kesediaan untuk bekerja sama, saling membantu, dan saling menolong. Sikap budaya yang seperti inilah yang mendesak untuk dibangun jika yang mau dicapai adalah keberhasilan.

Kedua, keberhasilan suatu program pembaharuan juga mencerminkan konteks perekonomian yang lebih luas. Anak-anak yang masuk SMA Cristo Rey memang tidak mampu membayar uang sekolah. Namun, mereka akan dilibatkan dalam Corporate Internship Program, di mana mereka akan bekerja satu minggu sekali di sebuah perusahaan. Sebagian besar dari upah yang mereka peroleh akan dipakai untuk bayar uang sekolah. Sekalipun tidak cukup, toh ini sangat membantu untuk kelanjutan dan kelangsungan hidup sekolah tersebut.

Still on National Exams: Do we win the battle, but lose the war?

The life-cycle of the National Final Examination (NFE) is crystal-clear: when it is done, it always ends up with controversy. Many disagree with its use to determine those who pass and don’t. However, no matter how harmful the effects of the exam are and no matter how hard the criticisms are, the government remains unmoved. The national exam ritual annually repeats itself. Ideally, the exam should serve two purposes. Firstly, it provides a comprehensive and accurate portrayal of the quality of education nationwide. Secondly, based on these psychometric test results, appropriate measures are to take. The Education Department certainly could spot the poorest areas to help, and decide what appropriate policies are to take.

Unfortunately, that is not the case. So far, the NFE results are unlikely to be used to help identify the problems in different regions and to determine what help is necessary for each region. They are also not used to determine the rewards awarded to successful schools to allow sustainable development. Instead, they are merely used for a limited purpose, i.e. determining who pass and don’t. This limited use of the National Exams, or generally called as high-stakes, as shown in many incidents all over the country, has at least led to two serious negative impacts on learning process.

In the first place, meaningful learning experiences are more likely to be neglected. With the purpose of merely attaining the passing scores, many schools are forced to teach to the tests rather than make use of the effective learning period to allow students to investigate the subject matters in-depth. Merely engaging in test-taking strategy training apparently does not stimulate critical thinking and creative problem-solving skills among students. Memorizing selected materials that generally appear in the old tests does not equip students with transferrable skills in real life. This is certainly a superficial target. In the short run, it is very possible that we raise the learning “outcome” in numerical terms, but in the long run, it may be a misleading target. In other words, such a condition is best described as winning the battle, but in the same time, losing the war.

In the second place, such a product-oriented learning may develop poor attitudes toward genuine learning among students. When the emphasis in on the product, i.e. scores, many tend to neglect the process since the overemphasis on the results tends to justify the means. No matter how bad or unfair a result is obtained, as far as it is there, it is enough. The focus is merely on the form, not the essence. Furthermore, the issues on honesty, integrity, and life values do not become an integral part of the learning process. Rampant violations in the National Examination, such as a school principal stealing the test material and students collaborating during the exam or even given the answer keys, are an obvious indicator that honesty, hard work, perseverance and commitment to achieving better quality of education are easily neglected.

In brief, when the public policy is determined solely to serve short-term political targets, the outcomes will certainly be more harmful, rather than helpful. It is the students who suffer most, because they are not equipped with genuine learning experiences that lead them to be autonomous individuals. This unintended impact clearly provides a stark contrast with the real objectives of education. In this highly unpredictable world, critical thinking skills, coupled with high commitment, perseverance, and social skills (i.e. skillful team work), and supported by the spirit of honesty and integrity are the major ingredients of success. It is clear that the NFE makes the ideal qualities are getting harder to achieve for each individual.

A growing body of research show that the success of a country is not merely determined by its long standing history or its abundant natural resources. Egypt, for example, is known for its glorious records in the past. But, now, this country does not play a significant role in contemporary civilization. This is true to Indonesia as well. Without highly qualified human resources, Indonesia’s abundant natural resources will not be useful. Again, education for the whole population is one of the urgent needs to address.

Unfortunately, education is one of the most complex fields to measure. Obtaining a comprehensive and representative measurement of the educational achievement is thus always a challenge. However, many rely on product-based parameters, as shown in psychometric testing. This test method, usually employing some sorts of multiple choice types, is preferred thanks to its practicality in terms of its administration and its vast coverage. Despite its practicality, this test type is by no means flawless, since it specifically addresses limited coverage, i.e. merely gauging some amount of knowledge at the lower-order thinking skills. It does not necessarily require high-order thinking skills, such as problem-solving activities that involve inquiry-based processes, analysis, synthesis, and evaluation.

A closer look on what happens within the National Education Department itself turns to reveal a controversy. On the one hand, it supports a groundbreaking change in learning and teaching processes. As shown in the major literature released for the purpose of establishing a theoretical framework for 2004 Competency-based Curriculum, in order to boost learning process, as it claims, a number of changes were introduced. The literature is full with contemporary buzzwords such as contextualized teaching and learning, student-centered learning, broad-based education oriented to life-skills, and performance-based and portfolio-based assessments. At this point, the department seems to successfully grasp the objective reality of educational reform at classroom level that is expected to target the change in materials, methods, and conceptual beliefs (Fullan 2001). Even, in Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, which is broadly translated into school-based curriculum, it is the schools and teachers that are held accountable to determine the learning targets, what learning experiences are, and what learning assessments are. In brief, the department strongly recommends authentic learning experiences to boost the learning process.

On the other hand, it is the Department that eventually violates its own “golden rules.” No matter how meaningful the learning experiences developed by the school, the success of schooling is only determined by a single-shot national exam. This clearly indicates that the government is not really willing to provide ample room for teachers to explore, experiment, and conduct genuine learning with their students. Highly creative teachers who happen to bring groundbreaking learning experiences among students can be considered failing, when his/her students do not pass the single-shot national exam. It is a pity to see that teachers lose their prerogative rights to determine who pass and don’t, despite their being authoritative to do so. When it happens, the best that we can expect is a mediocrity syndrome in our education system, i.e. doing the most effective things to pass the exams through teaching to the tests. Teachers and schools are not wrong, since the government only targets such a short-term, short-sighted, myopic goal.