Thursday, May 24, 2007

PENDIDIKAN ALTERNATIF HOMESCHOOLING: ANCAMAN ATAU POTENSI?

Seorang ibu protes karena jawaban kreatif anaknya yang masih duduk di kelas tiga SD dinilai salah oleh gurunya. Menurut sang ibu yang lulus doktoral di luar negeri itu, anaknya menjadi takut berpendapat, enggan berpartisipasi di kelas, dan tidak bersemangat dalam belajar. Di samping itu, ibu tersebut juga mencatat bahwa ada sejumlah anak yang berperilaku menyimpang. Karena secara fisik lebih kuat dari anak-anak lainnya, mereka suka mengancam dan mengutip “pajak” dari teman-temannya yang lebih lemah, entah itu dalam bentuk uang atau makanan kecil.

Gerakan pendidikan alternatif sekolahrumah (homeschooling) muncul dari berbagai persoalan seperti yang digambarkan dalam ilustrasi di atas. Banyak orang tua – terutama mereka yang berpendidikan, mengeluhkan lemahnya profesionalitas guru. Guru-guru yang lemah dalam keterampilan pedagogis dan penguasaan materi justru sering menumpulkan potensi siswa. Di samping itu, pola relasi di sekolah, yang sering tidak bisa dikontrol dan dimonitor oleh guru maupun sekolah, sering menumbulkan rasa kekhawatiran yang berlebihan.

Dewasa ini, sekolahrumah memang menjadi salah satu pilihan untuk pendidikan alternatif, terutama bagi keluarga yang memiliki modal, waktu, dan energi yang cukup untuk itu. Ada beragam model sekolahrumah, namun secara sederhana, sekolahrumah bisa digambarkan sebagai berikut. Anak dididik langsung oleh orang tuanya di rumah, dan anak tidak terafiliasi di sekolah formal. Peran orang tua sangat sentral, karena mereka bisa memodifikasi kurikulum, mengembangkan materi pembelajaran, memakai berbagai metode penyampaian, dan memanfaatkan berbagai macam penilaian belajar. Seperti di berbagai negara lain, di Indonesia pun ada sejumlah komunitas yang mewadahi kegiatan ini. Dengan berkembangnya teknologi informasi, orang tua dan anak tidak kehabisan materi pembelajaran. Namun demikian, narasumber biasanya didatangkan ke rumah bila memang anak memerlukan informasi lebih.

Namun, seberapa besar kemungkinan pengembangan pendidikan alternatif macam ini? Dampak macam apa yang akan diterima oleh siswa dan orang tua yang bersangkutan, serta sekolah pada umumnya? Seberapa jauh trend sekolahrumah ini bertahan?

Gerakan anti pendidikan massal

Pendidikan massal (mass education) muncul ketika industri manufaktur tumbuh subur. Pada era industrialisasi macam itu, orang-orang dituntut sekedar memiliki ketrampilan baca-tulis yang minim, seperti untuk memahami instruksi dalam menjalankan mesin dan mengisi pembukuan atas transaksi bisnis. Mengingat minimnya pendidikan formal, banyak anak-anak tumbuh dengan ketrampilan melek huruf yang kurang memadai. Hanya kelompok masyarakat elit yang mampu mendatangkan tutor ke rumah mereka. Dalam perkembangannya, pendidikan massal berkembang menjadi tradisi yang kuat. Karena sumber informasi terbatas, ilmu-ilmu masih diajarkan melalui hafalan. Akibatnya pengalaman belajar yang mendorong daya pikir serta pengembangan nalar kritis belum berkembang dalam pendidikan massal ini.

Tantangan dalam era informasi dewasa ini sangat berbeda dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Keberhasilan ditentukan oleh penguasaan, pengolahan, dan pemanfaatan informasi. Globalisasi telah mengubah wajah dunia yang semula terkotak-kotak oleh ruang dan waktu, kini menjadi sebuah desa raksasa. Berbagai kejadian yang terjadi di belahan dunia manapun, dapat diketahui dengan cepat. Teknologi informasi yang tercermin dari telepon seluler, koneksi internet, dan komputer pribadi telah membuat pembelajaran yang mengedepankan hafalan dan ingatan semata-mata tidak cukup membekali siswa untuk memasuki dunia dengan wajah baru ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semakin banyak orang tua murid yang menyadari realitas objektif dari dunia baru ini. Pendidikan formal yang cenderung lamban menanggapi cepatnya perubahan informasi dirasakan tidak cukup. Gerakan sekolahrumah berperan sebagai pendidikan alternatif untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih menarik, mendalam, dan juga bertanggung jawab bagi anak-anak.

Di satu sisi, perkembangan macam ini merupakan hal yang baik. Artinya, orang tua lebih berperan dalam pendidikan anak. Hubungan orang tua dengan anak pun juga menjadi lebih intensif. Anak juga memiliki peluang untuk memuaskan rasa ingin tahu tanpa harus terbatasi oleh aturan-aturan di kelas. Seperti yang diklaim oleh para orang tua yang menjalankan sekolahrumah, anak-anak terhindar dari konflik dengan anak-anak lain yang bisa jadi membahayakan.

Di lain pihak, sekolahrumah ini membawa dampak ikutan yang tidak kalah serius. Sulit dipungkiri bahwa anak bisa jadi tumbuh sebagai sosok yang sulit bersosialisasi. Terbatasnya ruang gerak yang mereka alami juga bisa membuat kepekaan sosial anak tidak terasah. Mereka menjadi “imun” atas isu-isu kemiskinan, sakit, kepedihan, kekurangan, dan realitas negatif lain dalam masyarakat.

Beberapa prasyarat

Melihat plus dan minusnya dari sekolahrumah, model pendidikan alternatif ini rupanya hanya cocok bila beberapa prasyarat berikut ini terpenuhi. Pertama, orang tua harus memiliki modal finansial dan latar belakang pendidikan yang memadai. Model pendidikan alternatif ini tidak murah. Akses internet, penyediaan sumber-sumber belajar, biaya tutorial dari narasumber yang terpilih adalah sejumlah dana yang harus disiapkan. Kedua, orang tua juga harus membangun jaringan dengan berbagai pihak, seperti pelaku sekolahrumah yang lain, untuk berbagi materi dan berinteraksi antara sesama anak sekolahrumah. Interaksi nyata dengan anak-anak seusia yang lain di luar rumah merupakan kebutuhan dasar demi perkembangan sosial anak. Ketiga, Dinas Pendidikan sudah semestinya mewadahi dan memberikan rambu-rambu untuk pelaksanaan rumahsekolah macam ini. Bagaimana nasib peserta sekolahrumah bila mereka akhirnya tidak berhak mendapatkan ijazah?

Berbagai pendidikan alternatif, seperti rumahsekolah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan yang lainnya, tidak akan pernah mampu menggeser keberadaan sekolah formal (mainstream). Namun, model-model tersebut juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Orang tua, guru, sekolah, dan Dinas Pendidikan pun sudah selayaknya belajar dari gerakan-gerakan seperti itu. Kelompok-kelompok seperti itu biasanya dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan kepercayaan diri yang tinggi. Mereka berani membuat berbagai terobosan dalam pembelajaran tanpa harus merasa dibatasi oleh beragam aturan main. Mereka berani menentukan kurikulum sendiri, mengembangkan metode pembelajaran yang kontekstual, dan membuat alat ukur pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Layak dicatat juga, mereka juga tidak segan-segan berbagi pengalaman kepada khalayak umum. Sebagai ilustrasi, dengan mesin pencari google.com, silahkan ketik kata kunci “homeschooling Indonesia” anda akan mendapatkan lebih dari 210.000 links yang menyediakan informasi tentang sekolahrumah ini.

Wednesday, May 2, 2007

Parrots in the classroom

This article was published in the Jakarta Post, Wednesday, May 2nd, 2007

Markus Budiraharjo, Yogyakarta

Rachel Davies, in her article 'Traditional' education not that bad (The Jakarta Post, April 14, 2007), argues that traditional education in Indonesia is not "that bad". In her observation, Asian students, including those from Indonesia, perform very well in Australia. They can compete well in the Australian education system, and even outperform their Australian counterparts.

Rachel's conclusion about the success stories of Indonesian students in their overseas education reminds me of my similar experience when I attended a U.S. university. However, Rachel's conclusion that Indonesian students' success in their education is determined by the "traditional" education they received in Indonesia is difficult to agree with.

Rachel's conclusion oversimplifies the complex nature of education. The students attending overseas colleges and/or universities are only from two categories, i.e. upper-class families and/or scholarship recipients. And they are only a tiny part of the total number of Indonesian students.

Thus, seeing them as representatives of the quality of the Indonesian education system is clearly misleading. They are an exception, not the norm. The wealthy families certainly send their children to attend favorite schools, equip their children with facilities, and very often invite private teachers to tutor them at home. Meanwhile, scholarship recipients are mostly the best graduates who happen to have a greater motivation to learn and better learning skills.

Claiming that their success in their overseas education is determined solely by the existing "traditional" education that they have received is thus hardly acceptable. Such a claim is only based on a series of snapshots taken randomly, and without further reflection on what the multiple realities of education in Indonesia look like.

Adequately comprehending the complex nature of education is essential, since it determines how we see the world of education itself, whether innovations are to be taken, and into what extent the change should take place. It is hard to deny as well that problems in education are very complex.

Like in many Asian countries, rote memorization is a common practice done by teachers. In such a teacher-centered class, students are merely considered a blank piece of paper ready for the teacher to write on. It is hardly deniable that they are taught discipline and a solid knowledge of the basics.

However, at the same time, they are not encouraged to explore their environment, observe the things around them and make connections. What they need to do is learn by heart the prescribed knowledge as described in poorly designed textbooks, with the expectation that this is enough to anticipate the messy world.

Is this "traditional" class really better than those liberal arts classes that allow students to explore and autonomously search for information to satisfy their inherent thirst for knowledge? Is merely parroting necessarily enough to prepare them for this fast growing world? Is teaching creatively, with the purpose of cultivating critical and inquisitive mind, less appropriate in this challenging world?

Based on his vast experiences and knowledge dealing with various people all over the world, Kishore Mahbubani questioned the existing tradition in Asia, especially with regard to the "success" of Asian people in this global world.

In his book Can Asians Think?, Mahbubani claims that Asians cannot think. In his view, the problem does not lie in intellectual capacity, since many Asian students, as shown in various studies, outperform in the hard sciences many students coming from different continents.

It is the culture and tradition that lead to two major implications, namely the role relationship between parents and their children and the high expectation of formal schooling.

In the first place, role relationship between parents and their children strongly influences the role relationship between teachers and their students. This feudalistic role relationship clearly makes the senior figures (i.e. teachers) hold an unquestionable authority over their students. Students are not provided with room to express their voices.

The fact that students come to class with preconceptions about the world is thus denied. Creativity and inquisitiveness are not encouraged. Being creative means questioning who has the power in the class. Being inquisitive is hurtful, since teachers might lose face should the students turn to be much brighter than their teachers.

With this role relationship, it is hard to expect that students are then engaged in various activities that require them to exercise higher-order thinking skills, such as analyzing and synthesizing what they know and the facts and knowledge that they just obtained. They are unlikely to investigate the interdependence of the various phenomena that they encounter in their lives.

Parents also expect too much from schooling and consequently they require too much from their children. It often happens that children are not allowed to enjoy their youth by playing and exploring their environment. Sending young children and exposing them to tough academic requirements can be counterproductive in the long run.

Many college graduates do not find learning exciting. Once they are done with their studies, they are eager to "stop" thinking and find the joy and freedom they have missed in their childhood.

This is clearly shown by the fact that most Nobel Prize winners are not from Asian countries. Why? Asian people cannot think! In the eyes of Mahbubani, even Japan and South Korea, the two Asian countries that are comparable to the U.S. and European countries in terms of technology development and economic progress, also suffer from the similar phenomenon. Despite their success in technology development, both Japan and South Korea fail to nurture basic and groundbreaking research.

If that is the case, how good is "traditional" education in Indonesia?

Markus Budiraharjo is teacher of the English Education Study Program, Sanata Dharma University, Yogyakarta. He earned his masters degree from the School of Education at Boston University, Massachusetts, in 2003. He can be reached at markbudi@staff.usd.ac.id.

Friday, April 13, 2007

My father's legacy

It is the little acts of kindness that are remembered
Published in the Jakarta Post, Sunday, September 17, 2006

For most people, the thought of death fills a person with fear. Not so for my father. Four years before his death early this year, he had made two coffins -- one for himself and the other for my mom. Whenever people came to our house, he would proudly show the coffins to them, telling them that he did not want to trouble his children when death came.

Recounting the last minutes of my father's life, my mom said that he only asked what happened to his head as he felt a little pain. My mom came to help him put away his clothes and after drying his back with a towel, she asked him to lie down. He lay down without assistance.

During the funeral, I was amazed by the huge number of people who came and the patience with which they stayed until the end of the funeral. I wondered why the death of a simple, retired elementary school teacher had drawn so much attention.

But, it was not difficult to find the answer. I heard many comments about my father from people who came to the funeral. A group of Muslims said that my father waved to them about half an hour before his death. They were on their way home after joining a Koran reading. An elderly woman said that my father often offered her food, while a man recalled how my father was willing to attend the funeral of people he barely knew. My sister's colleagues told us that they were so impressed by my father's words. My sister works as a nurse in a hospital and her friends would meet him when my father needed some medication. My father often gave advice to them.

Listening to these little anecdotes during the funeral, we didn't have much time to mourn. We felt there was no need to be sad. Deep in our heart, we knew that the our father had a happy end. My father had left behind good deeds that had become a memorial for us. What we need to do of course is to continue praying as he had taught us. I remember spending evenings circling our house clockwise seven times when I was only six years old. As there was no electricity in the neighborhood, my father taught me not to be afraid of the dark. He also taught me to pray in our local language, stressing that God listens to prayers in any language.

I could not hold back my tears on one occasion. It was during the homily of the Requiem mass. The priest said with full conviction that my father was among the very few people in the world who was not afraid of death. He prepared his own coffin! It was a taboo for many people, but my father was such a extraordinary person. In 1961, for the first time in the area, he introduced the idea of holding death commemorations and other observances without collecting money from neighbors. In his view, people were burdened by such social norms. When a family held a death commemoration of a relative, people in the neighborhood were expected to contribute goods and/or money. The same applied for marriage ceremonies, circumcision ceremonies and the like. At that time, my father said that he expected nothing but prayers from people in the neighborhood.

In 1979, when my eldest brother was circumcised, my father said the same thing. Also when my brother got married in 1989. Many people now follow suit. I cannot imagine how hard it would be for the poor people in Menoreh, some 40 kilometers west of Yogyakarta, to maintain such practices if not for the "revolutionary" ideas of my father.

Materially, we had nothing to be proud of. As an elementary school teacher, my father was only able to send my sister and I to university. The first three children were sent to vocational schools only. And our house? An old-fashioned brick house in a hilly area. My father had no car, just an old motorcycle he bought in 1983. He left behind five heirlooms -- four daggers and a spear -- and one-and-a-half hectares of farmland.

Sure, my father was no angel. His uncontrollable temper and loud voice must have hurt others. But, all of that seemed to have been forgotten when people started talking about his good deeds -- his encouraging words, his fatherly look and welcoming face. Yes, it is the little deeds that are remembered. He is not dead, but is just sleeping somewhere else. At least that is what my mother tells us.

-- Markus Budiraharjo

Thursday, April 12, 2007

How to develop writing skills

Writing skills are clearly inseparable from academic pursuit. How productive are graduate students in the world? Boice (1993) shows surprising data about the failure of academic writing accomplishment: (a) 50% of graduate students fail to write their doctoral dissertations – even if they finally finish their dissertations, they take too much time to do it; (b) 50-80% of the lecturers holding doctoral degrees fail to conduct research and publish their research papers in refereed journals.

How can it happen? There are two major reasons why writing skills are hardly acquired by academicians. Firstly, writing skills are considered as tacit knowledge which is acquired either incidentally or poorly. Many professors – who are also prolific writers – did not start necessarily their career as university lecturers. Many of them started their career as journalists. Thus, their writing skills were not necessarily trained during their tenure as professors, but were developed much earlier for the purpose of doing something else (i.e. writing for publication). Secondly, writing skills are hardly acquired because they require a high degree of hard work, creativity, open-mindedness, and perseverance. When we deal with writing, we are very likely to feel unsure whether what we are writing is acceptable for public. For those asking for direct and prompt feedback, such an unsure experience can be devastating. The writing process, which is commonly dull and tiring, is very likely demotivating for many people.

Personally speaking, writing skills are highly related to our academic pursuit and learning experience. At this point, I set to discuss my personal experience regarding my efforts to improve my writing fluency. I employ three major strategies to do so, namely learning to write from reading passages, being engaged in self-talk, and practicing writing fluency through low-stakes writing. Firstly, writing skills are inseparable from reading skills. Reading activities serve two purposes. On the one hand, reading passages provide much information that trigger my thought to develop. I obtain much information, ideas, and conceptual framework. At this point, through patiently taking notes and seeing the patterns, critically conneting what I have had in my mind to the newly-acquired information and/or concepts, I usually can monitor my comprehension. I do this critical reading as well as taking notes to ensure that I construct the knowledge that is particularly very personal for me. On the other hand, reading activities also allow me to see different discourse repertoires. I finally know well that there are different genres in the writing products. Writing for academic purposes is obviously different from writing for personal purposes. While we can put a combination of recount and personal experience in the writing for personal purposes, we must avoid as much as possible personal reference to write for academic purposes. There are a set of underlying principles that govern each type of writing.

Secondly, in addition to taking notes and identifying the discourse patterns of the passages I read, I also get engaged in what-so-called “self-talk.” This self-talk technique is in fact a way to make things visible, tangible, and highly meaningful for myself. It is also called as thinking aloud. So far, I always do it regularly since I happened to enjoy listening to my sister “thinking aloud” when she was learning. In my childhood, we spent time learning together. But soon, my sister occupied the living room with her voice, reciting facts that I did not know yet. Interestingly enough, much knowledge that I heard through her thinking aloud was still in my mind even until this day. From socio-cultural perspective, the concept of self-talk was introduced by Lev Vygotsky (1896-1934).

Thirdly, in companion to self-talk, I also get engaged in low-stakes writing, such as journal or diary writing. I do it as much as possible, using both computers and hand writing. I myself found that low-stakes writing – writing done with the purpose of expressing ourselves as well as taking notes for our personal uses – are just as powerful as learning from other people. When I get used to writing on a daily basis, I make sure that the writing fluency is strengthened.

Tuesday, April 3, 2007

Berharap saja tidak cukup

Memasuki pergantian hari Kamis ke Jumat bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagiku. Itulah pengalaman pergantian hari yang sangat tidak mengenakkan. Beban dalam hidup begitu terasa berat. Terlalu berat untuk disangga. Sore itu, sepotong SMS masuk. Informasinya jelas. Dibutuhkan konfirmasi mengenai jumlah pendaftar yang hendak mengikuti wawancara untuk hari Sabtu, 3 Maret 2007.

Sepercik rasa bersalah menyusupi relung hati. Adakah aku kurang bekerja keras untuk mengundang para alumni PBI? Satu bulan yang lalu, aku ditelpon oleh Pak Marcel. Lulusan PBI era 1980-an ini membutuhkan 40-an lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Permintaan itu langsung aku komunikasikan kepada Pak Prast dan Bu Frida, sebagai otoritas di PBI. Tidak hanya itu, aku pun dengan cepat mengambil inisiatif untuk membuatkan rancangan kerja. Kapan pengumuman harus dikeluarkan. Kapan acara akan dilaksanakan. Dan rancangan pengumuman macam apa yang harus dipampang. Semuanya aku jalankan dengan cepat. Tidak ada alasan menunda pekerjaan. Draft pengumuman langsung aku print. Aku serahkan ke Pak Prast. Bola sudah aku umpankan ke Kaprodi.

Semuanya seakan berjalan normal. Sekalipun terjadi keterlambatan di sana-sini dalam penempelan pengumuman, tetap saja rancangan awal sudah berhasil dilaksanakan. Pengumuman dipasang. Ukurannya cukup besar. Fotokopi ukuran A3. Ditempatkan di posisi-posisi strategis. Waktu bergulir tanpa terasa. Kesibukan demi kesibukan selalu mengisi hari demi hari. Tanpa terasa, akhir bulan Februari sudah mendekat. Dan terbukti hanya tiga orang yang mendaftarkan diri.

Shock. Kaget. Kecewa. Bingung. Kenapa pengumuman tidak dibaca? Apakah anak-akan PBI memang sudah tidak perlu pekerjaan? Sehingga mereka tidak tertarik merespons pekerjaan yang dipampang dengan meyakinkan di papan pengumuman? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk hebat di kepala ini. Sulit untuk dipungkiri bahwa hal itu lah yang terjadi. Sulit sekali mencari orang yang bisa mengisi pekerjaan.

Akhirnya, Pak Marcel langsung menelpon sore itu. Terbata-bata jawabanku untuk menjelaskan hal yang sangat mengejutkan ini. Ya kalau hanya tiga orang, tidak masuk akal jadinya. Padahal tiket sudah dipesan. Berbagai persiapan sudah dibuat. Skenario sudah dirancang. Kami berempat ke Jogja hanya untuk menemui tiga orang? Kami hanya minta tolong apa jalan yang terbaik. Itu saja.

Sore yang memang sudah muram oleh mendung menggelap di langit terasa makin gelap. Aku adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keadaan seperti ini. Aku sendiri memang belum pernah berhadapan dengan urusan undang-mengundang macam ini. Di satu sisi, aku merasa memiliki hak untuk tidak merasa perlu bersalah. Tapi, hati kecilku langsung berteriak protes. Enggak bisa dong menyalahkan ketidakpengalaman sebagai sumber masalah. Ya … aku memang tidak punya pilihan lain kecuali mengaku belum berjuang cukup untuk bergerilya mencari para alumni.

Akhirnya, dengan berbagai macam cara, aku coba hubungi satu persatu nomor bekas mahasiswa. Suasana ketermendesakan memaksaku untuk lebih asertif. Telpon fleksiku terasa memanas. Waktu air-time tidak aku pedulikan. Penjelasan panjang lebar. Permohonan dengan sangat, lagi hormat untuk menghadiri acara pada hari Sabtu 3 Maret 2007. Intinya, aku memohon kesediaan mereka untuk masih peduli dengan nama PBI sebagai almamater mereka. Jumat siang yang diwarnai dengan hujan lebat membuatku memiliki waktu lebih banyak untuk menelpon. Ada yang sudah di Bali. Ada yang di Jakarta. Ada yang kembali ke kampung halaman di Pekalongan. Ada yang sudah bekerja. Jawaban yang aku dapatkan sangat beragam. Tapi aku sendiri merasa mengalami pembelajaran yang banyak. Mencoba untuk bernegosiasi via telpon. Berusaha untuk authoratitative dengan menembak sisi afektif-emosional yang telah mereka bangun selama mereka ngangsu kawruh di PBI.

Tibalah hari H. Sabtu 3 Maret 2007 ternyata menjadi waktu yang paling membahagiakan. Ada perasaan accomplished yang begitu membanggakan. Dengan berbagai upaya dari Pak Prast, Bu Frida, dan aku, dan tentu saja dengan berbagai bantuan dari berbagai pihak, akhirnya tercatat ada 33 alumnus yang datang. Rasa syukur terasa merayapi hati ini. Bahwa perjuangan selama dua hari ternyata membawa buah manis. Di sana ada harapan. Optimisme. Saling memahami. Saling menguatkan. Aku merasa telah berbuat sesuatu untuk orang lain. Seberapapun kecil ukurannya. Rasa capek karena beban dan juga tanggung jawab untuk mengikuti rapat JETA menjadi terusir dengan sendirinya.

Satu pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pengalaman ini adalah: tidak ada tempatnya bagi kita bila hanya berhenti pada berharap-harap saja. Sebuah pencapaian merepresentasikan serangkaian usaha, komitmen, dan juga konsistensi. Sebuah pencapaian memang tidak bisa dilepaskan dari sisi-sisi seperti itu. Pencapaian pada titik tertentu akan menjadi landasan untuk sebuah kredibilitas. Kredibilitas adalah pengakuan bahwa kita telah memiliki bermacam-ragam alasan yang mengesahkan bahwa kita sesungguhnya layak untuk dipercaya. Dan itu hanya bisa diraih oleh sepotong hati yang bermental rela belajar terus-menerus.

Monday, April 2, 2007

Keluar dari sarang

Malam baru mulai beranjak menua ketika motorku mencapai tempat parkir. Jarum jam masih menunjukkan angka tujuh lebih tiga puluhan menit. Mataku nyalang menjumpai sosok Pak Prast yang sedang siap-siap menyetarter motor. Kenapa harus naik motor? Kenapa tidak jalan kaki? Pertanyaanku berbuah kesepakatan. Kami akan jalan kaki ke Jogja Plaza Hotel. Di tempat itu kami akan makan malam. Kami berdua diundang Pak Marcel, seorang alumnus PBI yang sekarang menjadi Pembantu Rektor IV di Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta. Sosok dari pribadi pak Marcel, dengan tubuh ceking, dengan tinggi sekitar 161 cm, membuat kita tergoda untuk memunculkan satu penilaian tertentu, yang harus diakui memang gampang-gampang sulit. Di lihat dari segi fisiknya, barangkali memang tidak ada yang terlalu istimewa. Namun, segudang pengalaman administratif sebagai pejabat teras di lingkup perguruan tinggi, dan juga pengalaman akademis dari sosok yang hampir jadi professor ini, tentu akan memberi nuansa lain. Mendengar beragam cerita darinya sepertinya mendengarkan seorang sosok yang terbang tinggi di langit ketujuh. Begitu meyakinkan. Begitu penuh perhitungan. Begitu banyak ide. … dan kami … dua sosok kroco dari PBI … tidak ada apa-apanya …

Pertemuan makan malam tersebut dihadiri oleh delapan orang. Dua tamu lain dari UAJ Yogyakarta. Sementara team dari Pak Marcel sendiri terdiri dari empat orang. Sekalipun berdelapan, aktor utama hanya dua. Pak Marcel dan Pak Peter. Mereka berbicara dengan begitu ringan. Celotehan sana-sini yang mencerminkan keragaman pengalaman profesional. Mereka terbiasa dengan hubungan dengan berbagai kedutaan. Diskusi begitu padat dengan berbagai konsep tentang hubungan universitas dengan berbagai sumber-sumber dana. Tidak dipungkiri, 60% dari diskusi serius itu dibumbui dengan berbagai istilah dan isu-isu miring. Terkesan jorok. Seronok.Tapi itu lah manusiawi. Dan hal itu pulalah yang memang dinikmati. Tanya-jawab begitu cepat, dan kami berdua memang tidak punya pilihan lain. Kami hanya bisa ternganga oleh kerumitan dan juga strategi pemecahan masalah yang diambil. Mengapa tidak mencari bantuan tenaga pengajar dari Australia? Mengapa tidak minta bantuan tenaga profesor dari Amerika? Kenapa justru pilihannya ke India, Filipina, Rusia, dan China? Kenapa kok justru mau buka stand Rusia di Atmajaya? Mengapa tidak Chekoslovakia? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Malam betul-betul sudah renta ketika kami keluar Hotel. Namun, dalam temaramnya lampu malam, kami masih cukup waspada untuk menghindari genangan air. Toh, sekalipun fisik merasakan kecapekan luar biasa, pikiran ini terus diganggu oleh berbagai pengalaman yang unik. Makan di restoran hotel, dengan situasi yang sangat berbeda dengan kebiasaan kami makan, memberi kesan tersendiri. Sekalipun aku sendiri mulai merasa tidak terlalu asing dalam situasi seperti ini. Bertemu dengan berbagai macam orang, terutama ketika ikut kunjungan ke San Francisco dan Chicago Desember 2006 lalu, dan menikmati makan di restoran dengan biaya yang tidak terbayangkan untuk kocek seorang dosen USD, memang telah memberi bekas yang sangat nyata bagiku. Di antara langkah-langkah kami menuju parkir motor di dalam area USD, terbersit kesadaran yang mendalam. Kami-kami yang ada di USD adalah sosok-sosok yang kuper … kurang pergaulan. Masih terasa betul kesenjangan antara hakekat di dunia luar dengan kemampuan dan ketrampilan yang kami punyai. Kami adalah bayi-bayi yang masih belum memiliki pengalaman berhubungan dengan berbagai realitas. Kami sadar, bekerja dengan loyalitas yang tinggi dan mengabdikan diri seutuhnya di USD dengan mengikuti dan melestarikan tradisi-tradisi yang sudah mapan tidak lah cukup untuk memastikan bahwa USD akan tetap diperhitungkan di kalayak profesional. USD butuh orang-orang yang mempunyai hati untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Dengan demikian orang ini memiliki kehendak untuk merombak tatanan-tatanan yang justru mengungkung perkembangan.