Saturday, July 12, 2008
2. Start small, think big. Don’t overplan and overmanage
Perubahan yang kompleks (dan mengelola beragam inovasi di sekolah benar-benar menggambarkan kompleksitas macam ini) berarti berhadapan dengan paradoks. Di satu sisi, semakin besar kompleksitas, semakin besar pula kebutuhan untuk menangani implementasi rencana; di lain pihak, semakin besar detail perencanaan implementasi, semakin kompeks proses perubahan tersebut. Harus dicatat bahwa perencanaan yang terlalu berlebihan (overplanning) dan pengelolaan yang terlalu berlebihan (overmanaging) harus dihindari. Sesudah dicapai kesepakatan mengenai tujuan dan prioritas, penting untuk dipahami bahwa kita jangan terjebak ke dalam studi kebutuhan (needs assessment) secara detail, atau diskusi tujuan lagi. Mencoba untuk memahami kompleksitas terlebih dahulu, tanpa segera membuat langkah konkret tertentu justru melahirkan keruwetan daripada kejelasan itu sendiri. Para manager efektif memiliki kapasitas untuk menghentikan diskusi berkepanjangan yang cenderung menghalangi tindakan nyata.
Bukti-bukti baik dalam bidang bisnis dan pendidikan menunjukkan bahwa para pemimpin yang efektif memiliki “bias atau kecondongan untuk segera bertindak.” Mereka memiliki intuisi dan arah yang mendorong mereka melakukan sesuatu, dan mengawali suatu tindakan secepat mungkin, sambil mengumpulkan contoh-contoh berskala kecil, mengadaptasi, memurnikan, memperbaiki kualitas, memperluas, membentuk kembali seiring dengan bergulirnya proses perubahan itu sendiri. Strategi ini bisa diringkas menjadi “mulailah dari yang kecil: berpikirlah mengenai hal-hal besar,” atau dengan kata lain: cara untuk menjalankan perencanaan dengan lebih baik dilakukan melalui tindakan nyata daripada berhenti pada perencanaan semata. Kepemilikan adalah sesuatu yang dikembangkan melalui proses, bukannya muncul di awal. Dalam pengertian ini, inovasi bukanlah hal-hal yang “akan diimplementasikan,” tetapi justru merupakan katalis, titik pijak atau kendaraan untuk meneliti dan menilai sekolah dan untuk mendorong perbaikan. “Siap, tembak, tuju” merupakan metafora yang lebih tepat untuk menangkap dinamika reformasi nonlinier macam ini (Fullan, 1993).
Untuk menangani perubahan-perubahan yang kompleks, bentuk perencanaan dan pengelolaan yang lebih ketat justru akan merugikan karena dua alasan. Pertama, perencanaan dan pengelolaan yang ketat terebut menempatkan kepala sekolah pada posisi yang tergantung, sekalipun bukan itu tujuannya. Kedua, perencanaan dan pengelolaan macam itu justru menghalangi tumbuhnya otonomi di pihak-pihak lain yang terkait. Pengendalian bersama dalam implementasi perencanaan pada tingkat sekolah merupakan hal esensial.
Thursday, July 10, 2008
Ten Guidelines
Proses pengembangan keterampilan dan kompetensi kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari berbagai upaya yang dilandasi dengan kesungguhan hati, konsistensi, dan kesediaan untuk berubah diri. Mulai hari ini, saya akan mencoba membagikan apa yang oleh Fullan (1997) diidentifikasi sebagai tuntunan utama dalam pengembangan pengetahuan, prinsip-prinsip dasar, dan juga semangat untuk kepemimpinan ini. Hari-hari berikutnya akan diikuti dengan tuntunan-tuntunan yang lain. Sumber acuan: Fullan, M. (1997). What's worth fighting for in the principalship, New York: Teacher College Press.
Guideline # 01
Hindari pernyataan "Jika saja ..."
Dalam hampir semua kasus, pernyataan “jika saja” menunjukkan kecenderungan untuk selalu menyalahkan, mencari kambing hitam, dan menghalangi perkembangan dari masing-masing anggota. “Jika saja” para penilik sekolah adalah orang-orang yang mampu memimpin dengan baik; “jika saja” pihak Yayasan berani mengalokasikan lebih banyak sumber dana untuk pengembangan profesionalisme guru; “jika saja” Departemen Pendidikan menghentikan kebiasaan mengeluarkan berbagai macam kebijakan yang sering tidak masuk akal; dan lain-lainnya. Begitu banyak perubahan yang kita kehendaki di sekitar kita, menurut Block, merupakan cerminan atas ketergantungan dan justru menyuburkan perasaan tidak mampu. Block meringkas gagasan ini sebagai berikut, “menunggu petunjuk pelaksanaan yang jelas sebelum melakukan suatu hal adalah hal yang berlawanan dengan semangat kewirausahaan (entrepreneurial spirit)” (hlm. 16). Cara lain untuk mengatakannya adalah sebagai berikut, “Hal penting apa yang saya bisa lakukan terhadap diri saya dan orang-orang di sekitar saya?” Saran utama pertama adalah menekankan pentingnya bergerak secara konkrit ke arah otonomi. Dalam konteks ini, apa yang layak diperjuangkan dalam dunia kita adalah pertempuran dalam diri kita (internal) bukannya pertempuran dengan pihak-pihak lain di luar diri kita.
Friday, July 4, 2008
Character acquisition

How are good behaviors acquired? This is certainly a neverending question across generations. Trying to answer this question, I tried to look back on the way my parents reared me. I remember that my family had a series of DOs and DON’Ts. Even in my thirties now, I still remember them very well, since any failure to comply with the rules set up by my father would certainly end up with some kinds of punishment. Raised in a hilly, rural, remote area (with no electricity and phone lines), my siblings and I were quickly introduced to survival skills since our early age. We were trained to do many physical activities, such as bringing water home using jugs (about half a kilometer away from home), gathering woods to cook our meals, handwashing our cloths, cleaning our house, tending and harvesting clover, gathering grass for our goats, and other household chores. When the evening came, we swarmed around an oil-lamp to study. It was always in the livingroom. My father was so strict that nobody of us could slip away from this study period, no matter how tired and sleepy we were.
For my father, there was no need for extended explanations. He just instructed us to do something, and no question was allowed (let alone questioning!). His words were short and disobedience meant harsh punishment. As an elementary school teacher, he lived a simple and disciplined life: getting to his work earlier than any other teacher, avoiding too much talking with other teachers in the teachers room and getting back to his own classroom when the break had ended, and finishing the class exactly when the bell rang. After lunch, he would spend the whole afternoon in the farm, tending the clover trees, vanilla vines, casava and coconut trees. No much talking, just actions! In a sense, I thought that we were so fortunate to have a communicative mother. She was great at explaining the reasons behind our father’s instructions. Sometimes, she would tell stories to accompany our sleep. Thus, we were certainly brought up in balance. Our father taught us the hard work, our mother taught us the reasoning skills that laid behind the hard work.
When one generation has gone, the next generation replaces. The problems of child-rearing constantly appear to challenge young parents like me. Today’s challenges are certainly more various and require a strong foundation to appropriately respond to. With all facilities available in our modern life, we are tempted to neglect physical hardship! Cell-phones, TV, entertainment, and the Internet are powerful tools to make our life comfortable. But they are like a double-edged sword that can easily distract our attention to the very nature of how a character is shaped.
Human beings are subject to do things the way they experienced something before. Teachers teach the way they were taught. Parents bring up their kids the way they were brought up as a child. And I am like other people. I rear my son the way I was reared by my parents. Anyway, modifications apply. Instead of merely instructing, I discuss the reasons why I ask my kid to do something. I still keep giving real examples: handwashing our cloth, mopping the floor, and doing other household chores. My wife will read him a series of story books.
Skeptics might question whether my approach to developing a character in my son would certainly bring positive and durable results in the future. However, my parents were great at teaching us to see more potentials in many things that we did, rather than any drawbacks that might appear. Thus, I believe that involving our kids to acquire the habit and attitude of positive thinking, hard work, and perseverance since their early age will eventually establish a strong foundation for their character development. It is the strong character that allows them to take the right things when a dilemma appears. I do believe that children need real examples, as Kristen Pelster, assistant principal at Ridgewood Middle School, says: “Kids can’t learn respect and responsibility by someone putting those words on paper or on a wall. Character education is not a program. It is a way of life.”
Wednesday, July 2, 2008
Finding something new from the beaten path

Here we go … the first class appeared to be challenging. Yes, it’s certainly challenging. To some extent, I felt that I got more advantages compared to my colleagues. I earned my masters degree at a US institution earlier. Seven years ago, I took Language, Literacy, and Cultural Studies at Boston University. Now, I’m taking a masters degree in School Leadership. At this point, English is certainly no longer a barrier for me.
In addition to that, the issues on learning theories (such as Piaget, Erikson, Vygotsky and others) are not necessarily brand new to me. Thus, supposedly, it’s much easier for me to enjoy the class: to take a full advantage of familiarity to the issues. But is it really the case for me? I guess the class is challenging not because I know pretty well the path we are going to go through. The class of Psyc. Ed (CIEP 415) is challenging more because my previous knowledge prevents me from enjoying it. My ego keeps telling me: well, the materials are relatively easy, so why do you take too much energy to work hard enough? Sure, I feel now the challenge is real: how could I enjoy something common! It’s like a beaten path for me!
I know too well that I would certainly lose interest to work more fully and get engaged in the class. It is easier to feel less challenged. It is easier to feel I’m already good at many things. But I know too well that I must be critical to my own ego.
When I reflected on this issue, I realize that being happy or unhappy is a matter of choice. Very often, we are in a position that we really don’t like. Unwelcoming outlook from many people around us, misconceptions and prejudice that other people impose on us … those are unhappy situations. Nobody is happy with such a condition. There are sometimes too many things that do not make us happy! But, I also learn that successful people are generally able to change the unfortunate conditions into potentials. How could they do it? Certainly, it is determined more by the way they see the world! It’s their paradigm.
I learn that one of the characteristics of successful leadership is a consitency in perceiving human life as dynamic and changing all the time. Many things come and go, others are enchanting and others are just discouraging. What matters most is certainly the way we respond to unhappy situations. Once we decide to be fluid and flexible in dealing with any kinds of things that happen around us, the more ready we are to anticipate uncertainties.
Having this in my mind, I hope that I can make up my mind: to be more positive and able to translate whatever I find in classes into my future work! I did it! At least, I started to do it: this evening, I spent very little time (less than two minutes) to ask Fr. Mintara about the possible uses of today’s class. As usual, I got surprised with brilliant ideas he had in his mind. He proposed the idea of using the gameframe that we used in Dr. Boyle’s class to initiate a conversation with our trainees. I certainly used some part of his idea and made up my mind too.
My plan is to introduce the opposing concepts of leadership: pyramidal vs. flat model. The strategy is simple: make groups of three or four and ask the groups to accomplish a simple task. I will ask them to choose which leadership model they prefer and put the labels on each box (principal, parents, teachers, students, and other stakeholders). Have them talk about their choice and ask them to defend it.
I suppose that the trainers (i.e. the ISEDP trainers) are to master the X and Y Theories by Douglas McGregor (1960) and the revised version by Thomas Sergiovanni (1992). With these theories in mind, the trainers are well-informed and establish their perspectives on a strong conceptual foundation. Do I need to explain in this blog? I think it’s too early to discuss it here. My point is: I’m trying to negotiate my unhappy feelings with the real challenges in future that I could identify. I want to make myself driven not just by my impulsive feeling, but by goals!
Summer di Chicago yang menggairahkan
Memasuki penghujung bulan Juni ini, kembali ke menjejakkan kaki di Chicago, kota penuh gairah musim panas. Kata gairah barangkali tepat. Udara hangat, yang tentu saja masih relatif dingin bagi kulit tropis kami, telah mengundang kegairahan luar biasa di kota ini. Di sana-sini terlihat orang berlalu lalang dengan pakaian minim (bukan seadanya tentu saja). Seksi, cantik … dan … indah (kalau mau melihatnya demikian tentu saja).
Tahun lalu, kami tinggal di Rockhurst Hall, suatu kompleks apartemen yang tidak bisa dikatakan indah. Namun demikian, ketidakindahan tempat tinggal apartemen itu masih terkompensasi dengan beberapa hal lain. Jalan sepuluh menit dari sana, kami sudah sampai di Simpson Hall yang menyediakan berbagai makanan. Belok ke sebelah kanan, kami sudah berdiri di bibir Danau Michigan biru yang tak terlihat batas seberangnya. Bila bosan makan di Simpson Hall, naik bis 147 selama 5 – 7 menit sudah mengantar kami ke Thai Resto. Rockhurst Hall terletak di kompleks apartemen-apartemen lain yang dimiliki oleh Loyola University Chicago. Secara fisik lebih nyaman untuk musim panas. Alasannya sederhana, kami dipaksa jalan dan naik bis sebelum kuliah. Butuh waktu minimal 45 menit untuk sampai sekolah di downtown.
Tapi itu barangkali tantangan fisik yang dibutuhkan. Aku baru menyadarinya sekarang. Semester ini kondisi berbeda. Kami menempati kompleks apartemen bernama Baumhart Hall yang berlantai 25. Aku sendiri berada di Lantai 24, satu ruangan dengan dua Romo Jesuit yang lain. Barangkali kami belum cukup menikmati tempat yang jauh lebih mewah ini. Bangunannya baru. Sangat baru bahkan. Baru selesai dibangun dan ditinggali tahun lalu. Fasilitas pun lebih dari sekedar lengkap. Masing-masing kamar dilengkapi dengan wireless access point buatan Cisco System. Kecepatannya? Jangan tanya! Ini Amerika bok … 54 mbps. Download file sebesar 20 MB hanya sekedipan mata! Mau chatting? Ngobrol via skype? Just a piece of cake! Coba kalau di negeri kita yang relatif masih terbelakang dalam hal teknologi? Jaringan dengan bandwith 2MB saja dipakai untuk 12,000 di USD. Di sini? Utk 15.000 mahasiswa, jaringan bandwithnya berapa? 200MB lebih … serba wow …
Masing-masing kamar apartemen dilengkapi dengan dapur, dengan tungku listrik, microwave, pemanggang roti, mesin pencuci piring, sink dengan air dingin dan panas yang mengalir dengan derasnya. Masing-masing ruang apartemen ada dua kamar mandi. Khusus untuk fasilitas ini, rupanya kami merasa perlu untuk semakin jarang menggunakannya. Mandi dua kali sehari tampaknya akan menjadi pantangan bagi kami, apalagi ketika hari-hari dingin ke depan semakin dekat. Mandi tidak diperlukan. Alasannya sederhana: bukannya malas karena enggak mau bersih, tetapi malas menderita gatal-gatal! Udara dingin dan kering sering menipu. Bagi orang-orang dari daratan tropis, mencari kehangatan dengan mandi air hangat merupakan pilihan yang menarik. Namun, sebenarnya hal itu merupakan kebodohan yang tidak perlu dibuat. Mengapa? Ketika udara begitu dingin, kelembaban udara cenderung makin berkurang. Kelembaban yang makin berkurang membuat kulit mudah berkerut dan mbesisik. Udara dingin yang kering tidak logis kalau dilawan dengan air hangat, karena hanya akan membuat kulit semakin kering saja. Tanpa disadari, orang-orang tropis yang tidak tahu-menahu logika macam ini akan mandi dengan air hangat, dua kali sehari, dan kemudian akan selalu fidgeting ketika di kelas! Pokoknya seperti monyet yang berhari-hari tidak bertemu temannya untuk saling berbagi kebahagiaan mencari kutu di tubuh mereka.
Kembali ke Baumhart Hall lagi. Apartemen bertinggi 25 lantai ini terletak persis di tengah kota, dekat Water Tower, satu-satunya gedung yang tidak dijarah api ketika terjadi kebakaran hebat di Chicago di tahun 1870. Kebakaran yang konon kabarnya menghabiskan hampir seluruh kota ini begitu mencekamnya, sehingga suara yang paling dominan di kota Chicago ini adalah raungan mobil-mobil pemadam kebakaran. Kalau di Indonesia yang paling dominan suara adzan, di Chicago suara mobil pemadam kebakaran. Lain ladang lain belalang, lain piring lain lauknya.
Berbicara mengenai fasilitas lainnya? Jangan tanya. Ada gymn yang berada di lantai 4. Aku sendiri merasa tidak PD untuk mencobanya. Ketika seorang teman meminta untuk diantar cuci baju di Lantai 4, aku hanya berani masuk ruangan dan tidak menyentuh alat gymn yang ada. Makhlum, usiaku rupanya sudah membunuh naluri coba-coba dari masa kanak-kanakku. Naluri untuk belajar secara alamiah tiba-tiba ngeloyor pergi, apalagi di sebelah kanan tampak cewek bule sedang berlari-lari di papan treadmill.
Itulah tempat tinggal baru kami. Baumhart Hall, yang terletak di 26 E. Pearson Street. Tempat yang sekarang ini belum menghadirkan tantangan fisik yang kami butuhkan, tetapi barangkali akan menjadi tempat yang paling tepat untuk musim dingin nanti.
Sunday, June 1, 2008
Rokok Tali Jagat Raya
Self-talk merupakan strategi yang luar biasa untuk menggali apa saja yang aku kehendaki, cita-citakan, dan juga sekaligus memunculkan rencana-rencana strategis yang harus aku jalankan. Namun bukan berarti bahwa aku sendiri lalu terbenam dalam diriku sendiri semata-mata. Self-talk juga menjadi kesempatan untuk tetap terfokus dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Menyadari konteks di mana kita berada, dan mengambil kesempatan yang tidak akan pernah datang dua atau tiga kali untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun tetap bermakna dalam hidup ini.
Kejadian pagi ini pun menjadi kesempatan untuk berlatih mengambil tindakan dengan cepat ketika dihadapkan pada suatu hal sangat sederhana. Kejadiannya di pertigaan UIN. Seperti biasanya, perjalananku harus terhenti karena lampu merah menyala. Sejumlah mobil sudah berjajar di depan, dan aku jumpai bahwa ada ruang yang cukup di sebelah kanan mobil-mobil itu. Pertama, aku lewati sebuah mobil Innova. Hati-hati, agar spion mobil tidak bergesekan dengan stang bagian kiriku. Di depanku ada mobil Chevrolet tua (melihat ketuaannya, mobil ini mengingatkanku pada mobil-mobil sisa-sisa PD II). Di atas bak yang terbuka, duduk sekitar tujuh orang dengan pakaian kerja. Dari sisi kanan, sebuah bungkus rokok melayang. Tepat di depanku.
Motor aku perlambat. Aku pungut bungkus rokok itu. Sang sopir yang ada di mobil agak terkejut. Aku tersenyum lebar. “Ada tempat sampah untuk bungkus rokok ini, pak.” Bungkus rokok itu aku masih di tanganku. Lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Gas motor aku tarik. Dan aku merasakan sebuah kemenangan. Berbagi pengetahuan kecil.
Aku tidak tahu apakah pesan “pendidikan” yang aku sampaikan melalui bungkus rokok kosong itu benar-benar sampai. Namun, yang pasti, aku belajar banyak hari ini. Aku melakukan aksi tertentu yang konkrit. Aksi yang tidak aku pikirkan lebih dulu. Hanya spontan. Dan aku merasa bangga telah melakukannya. Tanpa ba .. bi .. bu .. aku lakukan sesuatu dengan spontanitas yang sangat khas.
Hal lain yang aku pelajari: bungkus rokok tersebut “berjudul” Tali Jagat Raya. Tahu harganya berapa? Di label bea cukai tertera Rp. 3.975,-. Apa artinya? Murahan. Ya memang itu rokok murahan. Harga rata-rata satu bungkus yang “tidak murahan” tentu saja dua kali lipat harga itu. Rp. 7000-an. Ya, bapak sopir tersebut memilih (atau terpaksa) untuk tidak beli yang mahal. Pertanyaan menariknya adalah: Apakah harga rokok yang murahan juga terkait dengan perilaku tidak peduli lingkungan seperti yang ditunjukkan oleh bapak sopir dalam mobil Chevrolet tua itu? Apakah tidak peduli dengan kebersihan juga identik dengan kemiskinan?
Ternyata tidak. Kepedulian terhadap kebersihan sama halnya dengan kasus skandal seks, atau perselingkuhan, atau love affairs. Kedua hal itu tidak pernah mengenal status sosial. Semakin tinggi pendidikan, tidak ada jaminan bahwa dia akan mampu mengendalikan diri dari godaan perselingkuhan. Semakin tinggi status sosial, tidak ada jaminan bahwa dia juga akan lebih mampu mengendalikan nafsu sufiahnya. Soal kepedulian sosial dan kebersihan lingkungan pun tidak berbeda. Pernah suatu kali aku menjumpai, dari sebuah mobil bagus yang melaju di depanku meluncurlah tissue bekas pakai. Itu terjadi di tengah jalan. Artinya, orang yang menikmati status sosial tinggi (paling tidak dilihat dari berbagai fasilitas yang mereka miliki) tidak dengan sendirinya memiliki kepekaan untuk peduli dengan lingkungannya. Orang miskin pun bukan berarti tidak memiliki kepekaan akan kebersihan lingkungan.
Pertanyaannya: apa yang membuat orang benar-benar tergerak untuk berbuat lebih baik demi kemaslahatan bersama?
Saturday, May 31, 2008
Perjalanan Spritual
Kamis 22 Mei 2008, saya mengatakan kepada bu Wigati (dalam acara pengolahan data interview bersama). “Inti dasar dari proses pendidikan kita [persiapan pendidikan calon kepala sekolah] sebenarnya berkutat pada kedalaman diri kita. Kita mesti bertanya seberapa dalam kita hendak menyelami kedalaman diri kita sampai bisa membawa perubahan yang besar dari dalam diri kita, yang pada gilirannya perubahan yang mendalam dalam diri kita tersebut menjadi kekuatan perubahan yang membawa serta pengaruh yang besar pada orang-orang di sekeliling kita.” Ketika berbicara seperti itu, sebenarnya saya berbicara tentang spiritualitas, suatu aspek yang saya rasa semakin penting dan menjadi dasar dari segala hal yang hendak kita lakukan. Dan sayangnya, aspek yang seperti ini seakan-akan telah terhempas ke dalam kebekuan tradisi masa lalu. Alasannya sederhana, dunia sekarang ini telah terlalu padat oleh arus lalu lintas informasi, dengan segala tetek-bengek teknologi informasi yang membuat kita sendiri tidak bisa berkedip penuh kekaguman atas berbagai kemajuan demi kemajuan yang ada! Padahal, bila perubahan hendak dilakukan, perubahan haruslah bersifat substantif dalam diri sendiri terlebih dulu. Baru kemudian, dampak yang lebih luas, sekalipun langkah-langkah yang bisa terjadi tersebut sangatlah lambat, terbentuk ketika kekuatan pembawa perubahan itu membawa pengaruh dan angin segar dalam pola hubungan dalam suatu lingkup profesional tertentu. Menurut Michael Fullan (2003) ini adalah gambaran nyata dari sebuah konsep correlation. Apa yang kita yakini akhirnya menjadi bagian dari keyakinan orang-orang di sekeliling kita. Dalam berbagai kesempatan, saya menunjukkan contoh yang tidak terlalu jauh: bagaimana Fakultas Farmasi USD telah mengalami pengalaman transformasional ketika memilih untuk bersakit-sakit dengan mengikuti berbagai program hibah. Fakultas Farmasi bukanlah surga: di sana masih ada gesekan-gesekan antar pribadi, di sana masih ada konflik kepentingan, di sana masih ada kecemburuan. Namun, keberanian, komitmen, dan juga rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai sesuatu dengan melalukan berbagai macam hal yang menantang secara bersama-sama (catat ini: SECARA BERSAMA-SAMA) benar-benar telah mengubah sifat dasar negatif manusiawi yang suka nggosip dan lebih memilih mengambil pekerjaan yang ringan-ringan saja … menjadi kekuatan mengagumkan. Gesekan-gesekan yang terjadi tidak lagi bersifat personal, tetapi jauh lebih profesional. Dan kenapa para mahasiswa juga tercatat memiliki tingkat kelulusan yang tinggi? Ya karena mereka melihat secara langsung bagaimana kinerja para dosennya. Dosen-dosennya sibuk mengerjakan proyek, dengan berbagai macam constraints – seperti deadline dan penilaian standar yang ditentukan oleh Dikti! Para mahasiswa melihat secara kasat mata bahwa para dosennya MELAKUKAN PENELITIAN dan mempublikasikan karya ilmiah!
Terbukti bahwa empat tahun sebagai pioner dan sekaligus berjibaku membuka hutan telah menyadarkan sejumlah fakultas lain akan dampak luar biasa dari mendapatkan hibah dari DIKTI ini [perlu dicatat bahwa Fakultas Teknik USD di Paingan pun juga tercatat sebagai fakultas yang getol dengan upaya-upaya mencari dana dari mekanisme Hibah ini, dan memang berhasil!]. Fakultas-fakultas lain yang semula sangat antipati dan bahkan memandang rendah makna sebuah hibah dari DIKTI akhirnya menyerah, dan mereka pun mulai melirik kemungkinan untuk ikut terlibat dalam kegiatan hibah. Itu namanya autocatalysis menurut Michael Fullan (2003). Ilustrasi mengenai apa yang terjadi di Fakultas Farmasi USD dan dampaknya terhadap proses belajar dari fakultas-fakultas lain sebenarnya hanya mau menunjukkan bahwa proses membawa perubahan bukan persoalan yang mudah. Perubahan hanya bisa terjadi bila dilakukan secara bersama-sama, dan melibatkan kerja keras berbagai macam pihak terkait. Perubahan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri secara tertutup, melainkan harus menunjukkan kebersamaan yang tidak bisa diterima begitu saja. Perubahan adalah sebuah usaha keras, yang menuntut konsistensi, dan sekaligus membuka peluang untuk terjadi pertempuran sampai ‘berdarah-darah’. Barangkali ini terdengar terlalu hiperbolistis, namun sebenarnya perubahan secara substansial memang harus mampu mengubah mindset, atau ideologi dasar yang kita yakini.
Manusia pada dasarnya makhluk yang selalu membuat label-label. Kita meletakkan berbagai persoalan dengan frame of reference yang kita miliki. Orang-orang diletakkan dalam kategori tertentu, baik-buruk, cantik-buruk muka, muda-tua dan lain-lain. Kebanyakan orang sangat puas dengan hanya berhenti menikmati frames of reference yang tidak terlalu luas. Artinya mereka cukup puas dengan apa yang mereka miliki dan tidak mudah tertantang dengan ide-ide baru. Bahkan ketika ada hal-hal baru, orang cenderung overcritical, tidak mau melihat potensi dari hal baru tersebut. Barangkali mereka hendak bertindak hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi apapun yang ada di sekeliling mereka. Namun, yang justru sering terjadi adalah bahwa kehati-hatian tersebut lebih untuk menutupi ketidakmauan untuk mengambil resiko. Memakai frames of reference yang baru berarti mencari arti baru, yang juga berarti berada dalam ketidakpastian. Akibatnya jelas, tidak nyaman. Dan orang pada umumnya tidak suka dalam ketidaknyamanan.
Hanya sedikit orang yang senantiasa terbuka untuk selalu memperbaiki frames of reference ini. Mengapa demikian? Orang yang selalu memperbaiki frames of reference-nya adalah orang yang selalu bertanya, mempersoalkan, membaca, dan mengolah apa yang dihadapinya. Dengan kata lain, orang yang selalu berani terbuka, menantang pendapat-pendapat orang lain, mempersoalkan apakah sesuatu benar begitu, dan yang lebih penting lagi, berani mengambil posisi di mana kita berdiri! Mengambil posisi atas suatu isu tertentu yang memang membuat kita menjadi kelihatan di mana kita berada: bahkan sekalipun kita dihadapkan dengan pandangan-pandangan tidak disukai oleh orang lain. Sekalipun sikap yang kita ambil sama sekali tidak populer di mata orang lain.
Pendar-pendar perubahan yang keluar dari api yang menyala-nyala dalam diri kita haruslah tampak terang untuk bisa memberi pengaruh di lingkup kerja kita. Dan inilah inti persoalan dalam kehidupan kita yang sesungguhnya: PERSOALAN SPIRITUALITAS. Apakah yang benar-benar kita kejar dalam hidup kita? Apakah yang membuat kita yakin dengan apa yang kita lakukan? Mengapa kita memiliki keberanian untuk mengambil resiko tidak disukai oleh orang-orang lain yang tidak sepakat dengan apa yang kita yakini? Bagaimana tetap memastikan bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya membawa perubahan yang lebih besar untuk orang lain? Sekalipun ditolak pada awalnya, namun akhirnya orang lain mau tidak mau mengakuinya? Dibutuhkan kekuatan spiritual yang sangat kuat, mantap, terolah dengan baik, dan terrawat dengan seksama.
Itulah tesis dasar yang saya miliki. Bahwa sebenarnya inti dari sebuah perubahan digerakkan dari jati diri kita sebagai manusia yang mencari makna. Dalam mencari makna itu, kita dihadapkan dengan berbagai tantangan yang tidak mudah. Dan karena itu, kita perlu senantiasa terbuka untuk mengolah diri kita, mempertajam frames of reference yang kita yakini dan sekaligus memperkayanya. Ini bukan hal yang mudah, dan memang tidak ada kata MUDAH untuk sebuah prestasi yang tercatat dalam tinta emas sejarah. Bangunan piramid yang telah bertahan lebih dari 4000 tahun dan menimbulkan kekaguman sepanjang masa dibuat dengan cucuran darah dan keringat. Ribuan nyawa melayang untuk membangun dan mengangkat balok-balok batu besar untuk mendirikan bangunan simbol keabadian para raja Mesir tersebut. Teknologi untuk mengangkat batu-batu besar dan masif pun telah berkembang pada masa itu. Pekerjaan yang melibatkan pemikiran para ahli arsitektur, para pemikir dengan daya intelektualitas yang tinggi, dan para artis yang luar biasa kreatif. Dan terlebih: kekuatan militer sebuah kekaisaran yang menjamin stabilitas negara. Hasilnya adalah serangkaian bangunan piramid yang luar biasa besar, indah, dan sampai hari ini pun orang masih tidak bisa berhenti mengaguminya.
Masjid terindah Taj Mahal membutuhkan waktu 22 tahun untuk dibangun … suatu proses yang panjang dan melelahkan. Itu artinya apa? Tidak ada perubahan yang besar dan substansial yang dilakukan tanpa perjuangan yang luar biasa keras. Ya … kerja keras, termasuk menanyai siapa diri anda, ke mana anda akan mengarahkan langkah kaki, begitu kematian anda menjemput, hal-hal apa saja yang hendak anda dengar sebagai pujian atas prestasi-prestasi anda … pertanyaan-pertanyaan yang menyontak kesadaran diri kita. Beranikah kita menjawabnya?
Itu pertanyaan-pertanyaan spiritual. Perjalanan spiritualitas kita lah yang menjelaskan mengapa pula kita tetap yakin bahwa tugas perutusan dalam bidang pendidikan memang tidak boleh jatuh ke tangan-tangan kotor kapitalisme … dan karena itu pula kita harus mempertahankannya mati-matian … demi kelangsungan evolusi antropologis itu sendiri (kata Edgar Morin, filsof Perancis). Buku A New Earth karya Echart Tolle telah menjadi pilihan Oprah Winfrey sebagai bahan Book Club reading. Buku ini belum bisa aku dapatkan, namun aku merasa beruntung dikenalkan dengan i-Tunes oleh seorang Pak Prast yang luar biasa. Dengan itu pulalah aku bisa download sepuluh seri MP3 files dari Oprah Winfrey show, yang beberapa tema pentingnya akan menjadi bagian pencarian di masa-masa yang akan terlalu lama lagi … dan semoga segera muncul di posting berikut-berikutnya …
Sekedar kebetulankah?
Bila anda memang benar-benar menghendaki sesuatu dan mengerahkan segala daya upaya untuk mencapainya, niscaya seluruh alam pun akan mendukung anda. Itu kurang lebih pernyataan sang penulis besar Paulo Coelho. Dukungan yang kita peroleh dapat berupa banyak hal. Kesamaan pandangan, dukungan atas apa yang kita yakini, ataupun pengalaman yang mirip. Dukungan bisa berupa pertemuan dengan orang lain yang kebetulan memiliki serangkaian gagasan yang sama. Dukungan pun juga bisa berupa perjumpaan dengan pengalaman melalui berbagai macam komunikasi. Apa yang saya alami dua hari ini menjadi gambaran nyata. Di hari Sabtu, saya mengungkapkan keprihatinan dengan hilangnya sosok yang berkarakter kuat dalam sejumlah orang bereputasi baik. Sehari sesudahnya, saya menjumpai tulisan yang menegaskan pandangan saya … apakah ini sekedar kebetulan? Ataukah memang Coelho benar dalam hal ini? Apa yang saya pikirkan dan yakini mendapat dukungan dari analisis yang menjadi keprihatinan orang lain yang sama sekali tidak saya kenal. Harian Kompas membuat kami bertemu. Dampaknya nyata, saya semakin melihat kebenaran Paulo Coelho … pikirkan hal positif terus-menerus, dan hal-hal lain yang positif akan mendukung pemikiran positif tersebut … awal untuk mengubah dunia, setidaknya dunia dalam dunia mikro kita lebih dulu!
Hari Studi Bersama
“Rupanya, makin besar skala kebocoran UN dari waktu ke waktu. Bagaimana menangani persoalan ini?” Pertanyaan tersebut diajukan dalam acara studi bersama mengenai dua standar pendidikan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Sang penampil tampak kesulitan menjawab pertanyaan itu. Dengan ragu-ragu dia menjawab, “Barangkali perlu diciptakan mekanisme yang lebih baik. pengawas independen dari Perguruan Tinggi sudah dilibatkan. Beberapa dosen dari kita pun juga sudah dilibatkan. Tapi saya juga tetap bingung. Entah benar atau tidak informasi yang saya dengar ini. Kunci jawaban pun sebenarnya dibocorkan dari Dinas Pendidikan sendiri. Kalau itu yang memang terjadi, bagaimana kita bisa menghindari kebocoran itu?”
Dengan agak nakal saya pun menyahut, “Apakah ada yang salah dengan pembocoran/pelanggaran itu?” Sang penampil pun hanya tersenyum. Tidak melanjutkan tanggapan yang saya lontarkan.
Harus saya aku, bahwa pada titik ini saya tiba-tiba terjebak untuk ‘melabeli’ sang penampil sebagai sosok yang tidak berani mengambil resiko dengan mengemukakan posisinya secara jelas. jawaban-jawaban yang disampaikan memang bagus dan benar-benar menunjukkan bahwa penampil orang yang berkompetensi dengan bidang yang ditampilkannya. Bahkan, dua orang penampil itu pun telah memiliki reputasi nasional karena telah tergabung dalam berbagai komisi untuk program pendidikan. Pengalaman dan pemahaman tentang beragam persoalan memang tidak bisa lagi dipersoalkan. Namun, yang menurut saya tetap hilang adalah sikap yang jelas dan tegas: keberanian dalam mengambil sikap terhadap suatu isu yang sangat krusial.
Begitu sampai di rumah saya pun seperti biasanya mengangkat isu tersebut dalam diskusi kecil dengan sang istri. “Begitu banyak orang yang pintar, tetapi kok tampaknya tidak berani tampil transparan secara gamblang tentang sikap politik tertentu yang dia pilih. Mereka tidak mau (atau tidak berani) menampilkan orisinalitas mereka. Kenapa justru ketika ada suatu isu kritis, mereka malah menjawab dengan bahasa yang “sangat standar”? Saya yakin itu bukan karena mereka tidak memiliki analisis mendalam terhadap bidang kajian tertentu. Apakah memang tidak ada sikap tertentu yang layak untuk diperlihatkan?
Kembali ke pertemuan studi bersama itu, pada penghujung acara itu saya mengungkapkan dengan tegas. “Berbagai pelanggaran yang terjadi secara moral tidak salah. Mengapa? Mereka melakukannya atas nama hati nurani. Secara hukum, justru Wapres Jusuf Kalla dan Mendiknas Bambang Sudibyo lah yang keliru. UUSPN sendiri mengamanatkan bahwa ujian untuk mengukur keberhasilan studi adalah hak istimewa guru. Dua tokoh publik itu malah beramai-ramai melanggar UU dengan mengeluarkan PP No. 19 yang selama ini dipakai untuk mengesahkan kebijakan menggunakan UU sebagai penentu kelulusan. Sesuai dengan UU, sebenarnya UN tidak layak dipakai untuk penentu kelulusan, tetapi hanya sebagai alat PEMETAAN. Dalam hal ini, para pelanggar UN dinilai sebagai kriminal yang layak diproses secara hukum. Di sini lah terjadi carut marut persoalan. Sebenarnya, justru dua tokoh ini lah yang mesti diproses secara hukum lebih dulu, wong mereka jelas-jelas menggunakan kekuasaan untuk menggolkan peraturan yang menabrak UUSPN. Para pelanggar yang memfasilitasi kecurangan UN tidak akan melakukan pelanggaran kalau tidak ada kebijakan Wapres dan Mendiknas yang benar-benar melanggar UU tersebut. Kebijakan memakai UN sebagai “alat manjur” untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sangat kompleks telah memunculkan beragam inkonsistensi, dan para pelanggar yang benar-benar sadar melakukan pelanggaran (dengan membocorkan kunci jawaban UN) adalah para pejuang hati nurani. Tapi di sinilah kekuasaan hegemonistis negara menampakkan taringnya. Mereka tidak membutakan diri dari realitas bahwa mereka sendirilah yang menyulut api. Mereka menyalahkan asap yang membuat mata pedih, tetapi gagal melihat bahwa sebenarnya dalam diri merekalah persoalan itu berakar.
Kesimpulan yang mau saya ajukan sederhana saja. Para pelanggar tersebut mempresentasikan civil disobedience yang sebenarnya sah-sah saja. Mereka sudah selayaknya memperjuangkan kebenaran sesuai hati nurani mereka.”
Hari studi bersama tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Mei 2008. Hari berikutnya, kritikan saya terhadap sejumlah tokoh bereputasi baik seakan mendapatkan dukungan. Julius Pour (wartawan dan penulis biografi) membuat resensi buku American Generalship (Jangan sekedar tebar pesona, Kompas, 25/5/08). Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan analisis setajam apapun tidak menjadi jaminan akan keberhasilan dalam kepemimpinan perang. Berbagai unsur, seperti kecerdasan, keterampilan, kemampuan analisis, kecakapan wicara, dan serentetan reputasi di masa lalu, akan sia-sia saja tanpa dilandasi dengan sebuah karakter yang kuat.
Saya temukan diri saya bermakna ketika menulis
Harus kita akui, gambaran sosok seperti di atas lebih pantas disebut sebagai sebuah perkecualian. Dia tidak mewakili gambaran dan realitas normatif dalam begitu banyak orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan lebih lanjut tentu saja adalah: apa yang membedakan sosok tenang, kompeten, dan sekaligus strategis ini?
Perkembang-tumbuhan sosok pemimpin yang bisa membawa serta perubahan sangat ditentukan oleh banyak faktor. Tidak sedikit bahwa para pemimpin besar yang berhasil memang telah semenjak kecil dilibat-kenalkan dalam peran-peran kepemimpinan di sekeliling mereka. Dengan melihat peran orang tuanya yang aktif dalam kegiatan di kampung atau kegiatan keagamaan tertentu, anak belajar peran-peran kepemimpinan secara langsung. Anak-anak usia yang lebih tua di sekolah cenderung diberi tanggung jawab sebagai ketua kelas karena kematangan usia dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Ini juga menjadi pengalaman pertama dalam peran-peran kepemimpinan.
Faktor lain yang ikut berperan dalam menentukan perkembangan kepemimpinan juga bisa berangkat dari semangat untuk berprestasi. Memang, dalam masyarakat kita, istilah ‘ambisius’ dimengerti secara terbatas, identik dengan kecenderungan egoisme. Namun, sosok yang memiliki aspirasi besar untuk menjadi pemimpin tidak bisa dipisahkan dari ambisi besar untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang di sekitarnya. Orang-orang dengan ambisi untuk berpengaruh ini sering menjadi magnet bagi orang-orang disekitarnya dan menjadi “penentu arah angin”, bukannya sebagai “bendera” yang patuh pada arah mana angin berhembus.
Studi mengenai kepemimpinan memang bermuara pada pemahaman bahwa kepemimpinan adalah wilayah yang sangat rumit untuk dikaji, karena di dalamnya terlibat beragam macam aspek. Pengalaman dari keluarga di masa kecil, pengalaman menduduki peran-peran kepemimpinan di masa muda, dan cita-cita dasar dari dalam diri seseorang yang menggebu. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah gabungan antara “bakat, seni, dan sekaligus ilmu”. Sosok kepempinan memang menuntut bakat dari dalam diri seseorang, karena sikap dasar orang yang berani mengambil resiko tidak bisa semata-mata dilatihkan. Seseorang harus secara bawaan memiliki ‘bakat untuk berani tampil beda, sekalipun orang-orang di sekelilingnya memandangnya dengan sinisme dan ketidakpedulian.’
Kepemimpinan sebagai ‘seni dan ilmu’ mengacu pada kenyataan bahwa sebenarnya bekal bakat saja tidaklah mencukupi. Perlu adanya ruang gerak dan kesempatan bagi sang calon pemimpin ini untuk berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman nyata. Baik ‘seni dan ilmu’ sama-sama bisa dipelajari. Artinya, seorang calon pemimpin juga harus mendapatkan pelatihan yang memadai. Ada serangkaian ‘rahasia’ yang bisa diajarkan untuk membujuk dan menggerakkan orang. Ada sisi-sisi teknikalitas yang bisa dikuasai dengan lebih cepat dengan diskusi, membaca, dan berdebat yang dihadirkan melalui kelas-kelas mengenai kepempimpinan. Orang yang sama barangkali membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mendapatkannya secara langsung dari pengalaman nyata.
Salah satu aspek yang paling penting dari sosok kepemimpinan barangkali muncul dari cita-cita dasar yang menggerakkannya untuk melakukan banyak hal. Cita-cita dasar yang kuat, yang pada proses pembentukannya selalu mendapatkan berbagai macam hambatan, tantangan dan kesulitan, baru akan menemukan momentum untuk bertumbuh secara subur bila sang pemimpin itu sendiri selalu memiliki energi lebih untuk selalu belajar. Belajar dan belajar dari berbagai macam fenomena dan pengalaman hidup yang dihadapi. Ini sisi spiritualitasnya. Sosok yang mampu belajar secara berkelanjutan memiliki kemampuan untuk mundur satu atau dua langkah, berhenti sejenak untuk memberi makna terhadap berbagai macam pengalaman yang dia alami, dan kemudian membuat lompatan besar ke depan. Tidak heran bahwa sosok macam ini selalu dikenal dengan letupan-letupan (walaupun barangkali tidak terlalu kentara seiring dengan pertambahan usia) emosi dan semangat untuk berbagi. Orang macam ini tidak memiliki rasa lelah untuk berinteraksi dengan orang lain, memiliki antusiasme yang mengagumkan untuk mendengarkan orang-orang di sekelilingnya. Dia selalu mampu menebarkan hawa optimisme bahkan ketika banyak hal terasa tidak mendukung. Di sini, spiritualitas yang mendasarinya membentuk mentalitas untuk tetap mampu menjalani hidup sekalipun tidak ada kejelasan dalam hidup ini.
Menulis adalah salah satu cara jitu untuk berinteraksi dengan diri saya. Menulis adalah kesempatan ketika saya bisa bertemu, berbicara, bernegosiasi, dan bahkan berkonflik dengan diri saya. Echart Tolle menyebut suatu contoh yang unik: “Sering kita bergumam kepada diri kita: kamu bisa kalau kami melakukannya dengan benar.” Kata-kata itu kita ajukan kepada diri kita sendiri seakan-akan kita membuat pemisahan diri kita dalam dua sosok yang berbeda. Hal ini mau menunjukkan bahwa sebenarnya ada aspek ‘ego’ – suatu rangkaian penilaian tidak sadar yang sering menentukan berbagai kecenderungan yang kita miliki – yang sangat kuat dan membuat kita seperti ini adanya. Di samping sosok ‘ego’, dalam diri kita ada ‘true-self’ – diri kita yang sesungguhnya. Keduanya sulit dipisahkan, namun ketika kesadaran kita akan hidup ini mencapai titik kepenuhannya, kita tidak akan kesulitan membedakan apakah suara yang keluar dari diri kita adalah ego atau true-self itu sendiri.
Menulis merupakan wahana bagi diri saya untuk mempertemukan dua sosok tersebut. sejauh ini menulis menjadi teman yang paling setia, menjadi penengah atas kedua sosok tersebut. Terus terang saja, ketika proses menulis telah menjadi bagian tidak terpisahkan, true-self menjadi tampak lebih jelas suaranya. Ini terjadi ketika dihadapkan pada suatu persoalan emosional – misalnya ada seorang mahasiswa yang secara langsung mengkritik saya di depan umum. Saya mau tidak mau harus menentukan sikap. Ego saya akan memberontak, dan tidak menerima pelecehan macam ini. Ego saya pasti akan mendorong saya untuk mengingat-ingat mahasiswa itu. Tidak hanya namanya yang harus diingat, tetapi juga nomor mahasiswanya sekalian. Agar ketika masa penilaian tiba, dengan mudah saya akan menjatuhkan pembalasan dengan tidak meluluskannya. Nilai E atau F adalah bentuk pembalasan yang paling setimpal. Itulah sang ego.
True-self mengajariku untuk berpikir kritis. Marah atas pelecehan tidak salah. Namun, membalas dendam dengan menggunakan kekuasaan adalah hal yang tidak bisa diterima. Itu merupakan kehinaan yang teramat sangat untuk ukuran seorang dosen. Itu suara true-self. Dia mengajari saya untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah runtuh oleh ratap dan tangis berkepanjangan ketika ada kedukaan yang menimpa. Dan true-self juga mengajarkan diri saya untuk tidak menyalahkan soal ujian yang sulit. True-self mengajarkan diri saya untuk menerima kekalahan dengan gentle. Bahkan, ketika nilai hasil akhir dari suatu mata Matakuliah jelekpun, true-self mengajari saya untuk berpikir positif. Menyadari kekonyolan dan kesalahan karena tidak jauh-jauh hari belajar.
Menulis menjadi kekuatan yang luar biasa besar dalam menciptakan suasana nyaman dalam hati, karena dua aspek di dalam diri saya menjadi lebih mudah berdamai bahkan dalam suasana yang tidak menguntungkan sekalipun. Keterampilan menulis memang berperan sebagai sasaran akhir sekaligus sebagai alat untuk mencapai sasaran akhir yang kita cita-citakan. Di situ ada refleksi. Di situ ada kesediaan untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Di situ ada tawa lepas … tawa atas kekonyolan diri sendiri. Dari sanalah muncul api yang menyala-nyala dan menerangi sekeliling saya … menjadi magnet yang menarik gelombang-gelombang kebaikan di antara orang-orang …
Berdamai dengan idealisme
27 Mei 2008, pk. 01.52
Ketika aku membaca kembali apa yang aku tulis para minggu ketiga Maret lalu, aku merasakan menemukan diriku yang berbeda pada akhir Mei ini. Ada beberapa tulisan yang sangat berbau “judgmental” di sekitar bulan Maret lalu. Saya seakan-akan menemukan berbagai kesalahan di dalam diri orang lain, dan dengan ringannya memasangi label atas mereka. Aku adalah sosok idealis yang memang mudah menemukan kesalahan dalam diri orang lain. Dan aku akui, aku cukup malu dengan temuan itu. Ya, aku menulis tentang detachment yang kalau dibaca sangat menghakimi! Aku juga menulis kritik yang sangat tajam tentang ketakutan sejumlah orang untuk berteriak secara lantang ketika ada seorang atasan yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri untuk berjalan-jalan keluar negeri. Aku juga menulis tentang gagalnya sejumlah orang yang telah meraih gelar doktor untuk membawa perubahan yang signifikan bagi program studi. Dan semuanya terasa terlalu tajam, tanpa tedheng aling-aling dan tentu saja bisa saja sangat menyakitkan.
Ada sejumlah pengalaman unik yang aku jumpai dalam beberapa terakhir ini, terutama ketika aku membaca kembali buku dari Parker Palmer yang berjudul To know as we are known dan membaca dengan pelan-pelan buku the Secret karya Rhonda Byrne (dipinjami pak Sarkim). Kedua buku tersebut menjadi alat penegas dari satu rangkaian acara book club oleh Oprah Winfrey yang mengangkat buku A New Earth karya Eckhart Tolle. Sepuluh seri rekaman yang berdurasi selama kurang lebih 90 menitan memang belum selesai aku dengarkan. Namun, dampak yang aku peroleh memang luar biasa. Aku sangat rajin menikmati proses pembelajaran yang mengejutkan sekaligus menampar kesadaran.
Pada hari ini, begitu mulai menyadari dan mengolah makna labeling dan ego serta true self yang dihadirkan dalam diskusi Oprah Winfrey dan Eckhart Tolle, aku mulai merasakan bahwa sebenarnya aku bisa menentukan pilihan-pilihan untuk berpikir kritis, atau katakanlah idealis, tanpa mengorbankan idealisme tersebut. Stuart Yeh pernah menulis apa arti dari seseorang yang berpikir kritis: kemampuan untuk hadir secara seimbang dalam dua pandangan yang saling berseberangan. Paling tidak hari Selasa, 27 Mei 2008, saya mengolah betul makna kekuatan berpikir kritis seperti yang tercermin dalam rethoric studies ini.
Beginilah hasil permenungan yang dapat aku simpulkan dari goresan-goresan tangan sesudah rapat persiapan visitasi.
Argumentasi – kemampuan untuk menunjukkan kemampuan berpikir kritis dinilai sebagai salah satu parameter dan sekaligus teknik pembelajaran yang efektif. Pola pemikiran argumentatif tidak hanya bermanfaat agar kita tetap kritis, tetapi juga menjadi alat untuk menjamin pola hubungan sosial yang lebih fair, adil, dan tentu saja beradab. Mengapa?
Tadi pagi, begitu saya mendengar bahwa salah seorang yang kami kenal di kampung akan mengadakan perhelatan besar-besaran sebagai perayaan sunatan, muncul dalam kepala saya penilaian yang tajam: perhelatan yang sulit diterima akal sehat! Dalam hati kecil, saya berpendapat bahwa keputusan mengadakan perhelatan itu sendiri bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan dalam jaman seperti ini. Mengapa? Pertama, tentu terjadi pemborosan sumber daya tidak perlu. Daripada menghamburkan uang untuk pesta-pesta, kenapa tidak untuk hal-hal lain yang lebih bernilai investasi? Ditabung untuk dana pendidikan, misalnya? Kedua, beban sosial yang ditanggung masyarakat tentu tinggi. Memutuskan mengadakan perhelatan, menurut hemat saya, seakan-akan ‘memaksa orang lain untuk membiayai pemborosan’ karena orang-orang kampung, relasi dan pihak-pihak lain terpaksa harus berkontribusi dengan ‘kondangan’. Menurut pemikiran saya, biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat sebagai akibat keputusan perhelatan macam itu terlalu mahal untuk dibayar.
Sampai pada titik ini, saya mencoba untuk diam sesaat. Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan Eckhart Tolle yang menyatakan bahwa manusia sering terjebak untuk ‘melabeli’ orang-orang, kondisi, lingkungan, atau pengalaman nyata yang mereka jumpai. Meletakkan label pada hal-hal yang dijumpai tentu saja tidak serta merta negatif, namun sering terjadi bahwa kebiasaan label-melabeli ini justru menutup pintu ‘aliveness’ (begitu hidupnya realitas objektif) dari berbagai hal yang kita jumpai. Dengan kebiasan label-melabeli tersebut, kita sudah memasang patokan atau standar yang lebih berfungsi sebagai filter untuk menyaring apapun yang masuk dan kita tangkap melalui indera-indera kita. Sehingga, apa yang kita benar-benar mampu kita tangkap bukannya kepenuhan pengalaman yang sangat hidup dan alamiah serta genuine, tetapi sesuatu yang sudah skewed dan membuat kita tidak mendapatkan gambar orisinal dari realitas yang kita jumpai. Telah terjadi proses otomatisasi yang membuat kita cepat mengambil kesimpulan, dan menerima banyak hal sebagai kebenaran, tanpa benar-benar mempertimbangkan arti sesungguhnya yang bisa kita gali.
Ketika menyadari realitas manusia yang suka label-melabeli ini, saya akhirnya benar-benar mampu melihat secara jernih bahaya yang menunggu dari kebiasaan macam ini. Ketika pemikiran kritis tidak diasah secara sungguh-sungguh dan secara bertanggung jawab, dengan mudah kita terjebak ke dalam pragmatisme berlebihan. Orang yang berpikir kritis adalah orang yang bisa menghadirkan dua sudut pandang yang saling berseberangan. Dalam kondisi seperti ini, sekalipun secara intuitif kita memiliki preferensi tertentu, kita tidak mudah dengan begitu saja mengamini suatu pandangan yang langsung kita setujui. Kita mundur sejenak, dan melihat persoalan dengan lebih kompleks.
Dalam kaitannya dengan hajatan sunatan yang dipestakan, barangkali akan lebih bijaksana kalau saya menjalankan strategi macam ini. Pertama-tama tentu dengan bertanya: mengapa ada mekanisme hajatan yang dipestakan? Dari proses bertanya itu, saya akhirnya menjumpai tiga alasan: (a) pengakuan sosial, (b) simbol dan sarana perekat interaksi sosial, dan (c) ekonomi. Bagaimanapun juga, hajatan yang dirayakan dalam pesta menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan sosial. Merayakan pernikahan di Wisma Kagama tentu membawa dampak pengakuan sosial yang berbeda dengan merayakan pernikahan di Hotel Sheraton. Wisma Kagama bagaimanapun juga kalah kelas dan tentu saja kalah wuah … Pengakuan sosial merupakan salah satu kebutuhan manusia. Di samping itu, pesta memainkan peran sebagai simbol dan sekaligus perekat interaksi sosial. Dalam suasana pesta, berbagai macam orang dari berbagai kalangan bisa saja bertemu dan berinteraksi. Kenalan-kenalan yang tersebar ke dalam berbagai lingkup sosial memiliki kesempatanuntuk saling bertemu, dan bisa jadi akan memperluas interaksi sosial tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah: pesta-pesta selalu merangsang pergerakan uang. Konsumsi makanan pasti akan jauh lebih meningkat. Berbagai pelayanan yang ada di dalam masyarakat akan dimobilisasi. Pemusik, penyanyi, pembawa acara, sound system, event organizer, jasa transportasi, busana, boga, dan tata panggung serta dekorasi pasti akan ‘kecipratan’ rejeki dengan pesta-pesta macam ini.
Itulah perjalanan diri saya untuk selalu belajar. Belajar untuk kritis tanpa harus menghakimi … dan pada waktu yang sama tidak kehilangan idealisme … Perjalanan masih panjang, namun sekarang pola-polanya tampaknya mulai kelihatan menjadi lebih jelas lagi!
Misa akhir semester
(16 Mei 2008)
Cukup unik cara Rm. Paul menggambarkan sejumlah mahasiswa yang memilih untuk tidak mengikuti ujian sisipan atau akhir. Daripada pusing-pusing dan bekerja keras mengerjakan soal, lebih baik berjalan-jalan di luar dan tidak menyiksa diri dengan pemecahan soal yang sudah dipastikan tidak akan mampu diselesaikan dengan baik. Lebih baik gagal dengan tidak merasa sakit, daripada gagal dan sakit.
Bacaan hari ini tentang talenta yang dibagikan ke tiga orang. Orang pertama mendapatkan lima, kedua tiga dan ketiga satu. Dua orang pertama bertanggung jawab penuh, dengan mengembangkan uang tersebut. Orang pertama mendapatkan laba 5 talenta, dan orang kedua mendapatkan 3 talenta. Orang ketiga sebaliknya, malah menyembunyikan uangnya di tanah. Begitu sang Tuan kembali, ketiga orang tersebut dipanggil, dan diminta untuk melaporkan perolehannya.
Yang cukup unik dari cerita perumpaan berusia lebih dari 2000 tahun tersebut adalah sikap dasar dari orang ketiga yang dibekali dengan satu talenta tersebut. Dia bukannya melakukan tugasnya untuk mengembangkan talentanya, tetapi malah menyembunyikannya. Di sinilah letak persoalannya. Dia meyakini bahwa sang Tuan adalah sosok yang tidak adil, yang mengambil sesuatu dari hal yang tidak ditanamnya. Pertama-tama dia menyalahkan sang Tuan yang sebenarnya bermurah hati memberi BEKAL TALENTA. Berikutnya, dia meyakini bahwa tidak ada satu pun hal yang dilakukan, kecuali memendam dan menyembunyikan talenta tersebut.
Rm. Paul dengan cantiknya membuat kaitan antara sosok bertalenta 1 dengan kebiasaan sejumlah mahasiswa yang menyerah kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Mahasiswa tersebut memilih “memendam” talentanya, daripada “mengadu peruntungan” dengan bersusah-sakit-payah mengerjakan soal. Ini adalah dosa utama. Karena mereka sudah meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mampu. Itulah kesalahan terbesar! Merasa tidak memiliki peluang lagi.
Dengan kata lain, sang mahasiswa tersebut sebenarnya gagal mensyukuri apa yang diberikan kepadanya … yang sesungguhnya dikaruniakan kepadanya. Itulah persoalan utamanya. Persoalan ketika tidak ada rasa syukur atas berkat yang diterimanya! Ini lah dosa terbesar, yaitu ketika orang gagal melihat karunia dan justru malah menyalahkan orang lain.
Wednesday, April 16, 2008
Change ...
Dua minggu berlalu sudah. Aku melibatkan diri dalam sebuah upaya kecil untuk Prodi PBI USD: menulis proposal Hibah INHERENT K-1. Isinya sederhana: mengajukan proposal untuk mendapatkan pendanaan pengembangan modul pembelajaran berbasis digital. Tidak banyak memang untuk ukuran sebuah Hibah. Namun, kalau memang mendapatkan pendanaan, ini akan mengubah berbagai hal yang fundamental di Prodi. Sudah terlalu banyak contoh. Fakultas Farmasi USD sebelumnya mendapat nilai C untuk akreditasi. Setelah mendapatkan Hibah A-1 (kalau tidak salah kurang dari 300 jt), ada perubahan besar di dalamnya. Akreditasi langsung jadi A. Dosen-dosennya terbiasa bekerja keras. Ada skema external accountability yang menjadi parameter untuk peningkatan kinerja seluruh pihak terkait. Hibah A-3 yang mengucurkan dana lebih dari 2 M rupiah untuk prodi itu semakin menegaskan membaiknya kinerja Fakultas Farmasi. Jangan heran, fakultas itu berubah menjadi sebuah institusi yang sangat kuat baik dalam hal sumber daya manusia dan fasilitasnya. Para dosennya cenderung bisa bekerja lebih 'cak-cek'. Coba apa yang terjadi dengan prodi-prodi yang belum pernah mendapatkan hibah?
Tradisi 'ngobrol' sana-sini, kelihatan sibuk dan tidak menghasilkan sesuatu yang produktif menjadi ciri khas utama. Gesekan-gesekan yang terjadi cenderung emosional. Identitas diri masih dicari-cari, karena hati mudah terluka akibat ucapan-ucapan yang ditanggapi dengan sensitivitas yang berlebihan.
Sementara, adanya hibah yang memaksa sejumlah pihak di dalamnya untuk bekerja kolaboratif, mau tidak mau membuat orang untuk berpikir strategis. Mereka terbiasa untuk membuka diri dan bekerja sama. Para dosen di dalamnya tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan serangkaian proyek yang diukur melalui parameter yang pasti. Tidak ada waktu untuk sakit hati kalau ada perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan.
Itulah yang aku impikan. Semoga, Hibah K-1 yang kami ajukan kali ini benar-benar menjadi anugerah untuk meningkatkan kinerja Prodi PBI yang sebenarnya merupakan salah satu prodi paling potensial dalam hal sumber daya dan tradisi yang kuat. Aku tentu saja tidak akan terlalu banyak menikmati perbaikan yang akan muncul karenanya. Karena toh aku akan meninggalkan prodi PBI ini. Sepulang dari studi lanjut nantinya, aku harus bekerja di bidang lain ... Jadi motivasi utama yang mendorongku adalah: sebuah mimpi untuk menanam benih semangat kolaboratif. Semangat yang tidak bisa digantikan oleh apapun ...
Friday, October 26, 2007
Memang, menghakimi lebih mudah daripada memahami
Bung, dunia memang sudah berubah!
Benar. Perlu kejujuran dan keberanian untuk mengakui bahwa dunia sudah berubah. Anak-anak tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada yang kita duga. Nutrisi yang jauh lebih bermutu membuat pertumbuhan fisik mereka lebih cepat. Siklus menstruasi sudah menyambangi anak-anak perempuan di SD. Juga pola relasi antar manusia. Sekarang ini semangat egalitarian jauh lebih berterima. Relasi bos dan anak buah tidak “saklek” instruktif semata. Ada komunikasi, negosiasi, dan upaya saling memahami. Bukannya mempertahankan posisi bos sebagai sosok tak tersentuh (intangible). Dengan segala keputusan yang tidak bisa salah!
Harus diakui, gerakan dan semangat egalitarian itu sudah menyelinap ke mana-mana. Tidak hanya di tempat kerja. Namun juga di rumah. Di sekolah. Di ruang kelas. Dalam kondisi macam ini, timbul pertanyaan menarik. Seberapa mampu kita menangkap nuansa jaman yang sedang bergerak ini? Akankah kita gagal membaca tanda-tanda jaman yang sudah berubah ini? Kegagalan ditandai dengan ketidakmampuan memaknai perubahan. Kegagalan muncul dalam kebiasaan memandang hal yang ada dari sudut pandang negatif. Kegagalan berkembang pesat ketika seluruh wacana komunitas tidak kritis, hanya sekedar ingin aman dan tidak berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kegagalan akan menjadi nasib buruk bila kita senantiasa memandang bahwa sesuatu yang datang dari orang-orang yang lebih muda harus selalu dikritisi habis-habisan.
Butuh usaha bersama
Dari situative perspective yang muncul dari karya Vygotsky pada tahun 1930-an, diyakini bahwa kemampuan dan kemajuan dalam hal berpikir, memahami persoalan, mencari pemecahan atas persoalan yang dihadapi, dan menyikapi terhadai hasil proses tersebut, sangat ditentukan oleh wacana komunitas. Secara sederhana, bila wacana komunitas lebih menyukai gosip-gosip slapstick gaya tayangan liputan selebritis, pada tingkat itu pula lah kemampuan berpikir kita berkembang. Sebaliknya, bila wacana komunitas lebih menyukai perkembangan dan hal-hal positif lainnya, kemampuan kognisi kita pun juga berorientasi ke sana.
Hidup adalah pilihan. Begitu orang bijak bilang. Tidak salah memang, karena kita memiliki kebebasan untuk bersikap dalam kondisi apapun yang kita hadapi. Seperti apa sikap yang mau kita ambil dalam peningkatan profesionalisme sebagai guru? McLaughlin and Talbert (1994) mengajarkan setidaknya tiga aspek yang mestinya akan berkembang dalam lingkup komunitas profesional. Kita diharapkan mengembangkan ketrampilan technical culture. Itu artinya kita memiliki kemampuan untuk menjalankan hal-hal teknis yang rutin dalam mengajar. Bisa membuat perencanaan yang baik. Bisa menjalankan proses pembelajaran yang memadai. Bisa mengadakan evaluasi belajar yang tepat dan memberikan umpan balik (koreksi) tepat waktu. Hal berikutnya, dan ini yang paling sulit, adalah kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan service ethics. Ada dua aspek yang perlu diangkat di sini, yaitu high expectations dan care. Artinya apa? Dari dalam diri kita, kita sudah meyakini bahwa anak didik kita memiliki potensi dan kemungkinan untuk berkembang. Potensi dan kemungkinan itu baru bisa menemukan titik-titik kepenuhannya bila kita betul-betul care. Memiliki semangat untuk memahami mereka Dengan segala kerendahan hati mendengarkan apapun yang mereka hadapi dan kesulitan yang menghambat mereka. Sejelek apapun mereka, mereka tetap sosok-sosok yang tidak sepantasnya dipandang rendah. Dan ini letak kesulitannya, karena ini mengandaikan perubahan paradigma hidup.
Dampak dari aspek kedua ini jelas. Kita tidak selayaknya membentak-bentak siswa seakan-akan kita adalah dewa yang paling benar sendiri. Kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, mengapa tidak membuka forum komunikasi? Akan jauh lebih bijaksana bila kita bisa menerapkan pola komunikasi interaktif. Tidak mudah, dan banyak dari kita akan dengan segera mengesampingkan rekomendasi ini. Namun, bagiku, tidak ada alasan sedikitpun untuk menolak ide ini. Menghargai harkat dan martabat manusia atau nguwongke orang lain adalah salah satu credo yang membuat alasan bagiku untuk selalu berjuang terus.
Hal ketiga yang ditawarkan oleh McLaughlin dan Talbert (1994) adalah profesional growth. Ini bukan hal yang terlalu sulit, karena kita sudah melakukannya. Makin banyak dosen yang mengadakan penelitian. Dengan difasilitasi dengan laptop dan ketersediaan jaringan teknologi informasi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak meningkatkan kualitas kita sebagai dosen.
Sekali lagi, pilihan mana yang kita mau ambil? Pilihan yang mengedepankan hal-hal positif, bersifat substansial dan menentukan arah perkembangan kita dalam menciptakan masyarakat yang lebih menghargai, menghormati perbedaan, dan mendorong kemajuan? Atau sebaliknya, pilihan yang mengedepankan hal-hal sensasional, yang sekedar menyenangkan hati ini sesaat, yang justru tidak mendorong daya kritis kita berkembang pesat?
Untuk satu hal, aku berseberangan dengan Alm. Riswandha Imawan, seorang profesor progresif dari UGM yang meninggal pada usia muda. Eagles fly alone. Begitu slogannya. Aku tidak setuju. Itu seruan elitis. Diasumsikan bahwa hanya ada sedikit orang yang layak untuk maju dan berkembang. Sebaliknya, kita harus menciptakan lingkup kerja yang dinamis, yang memungkinkan siapapun merasa nyaman untuk maju. Sekalipun yang dibuatnya berbeda, kita toh tetap harus menerima perbedaan sebagai berkat, bukan musibah dan ancaman.
Kejamnya rumah sakit
Akhirnya satu potong drama dalam kehidupan kami berakhir. Hari Minggu, 15 Oktober 2007 siang – begitu Rio kencing bercampur darah – hati kami terasa tercabik-cabik. Suara Rio yang biasanya ringan penuh canda-tawa-ria, tiba-tiba bergetar penuh kesakitan. Satu dua tetes kencing campur darah masih terlihat. Aku peluk dia penuh rasa sayang. Hatiku teriris oleh tangis kesakitan dan degup jantungnya yang berdetak begitu cepat.
Drama masih berlanjut. Kami membawa Rio ke rumah sakit swasta ternama di kotaku. Harus aku akui, aku buta sama sekali dengan urusan kesehatan. Dan kebutaan tersebut tidak memungkinkan aku tetap kritis dalam memahami persoalan. Oleh karena itu, kehadiran seorang teman yang kebetulan adalah seorang paramedis dari sebuah rumah sakit pemerintah di Semarang sangat membantu. Dia dengan setia menemani kami yang kebingungan.
Pihak RS memberi informasi yang jelas. Anak kami harus diopname. Pada hari kedua Lebaran, tidak ada dokter ahli bedah yang stand by. Yang memberi rekomendasi dokter umum yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Rio kami bawa pulang – dengan resiko apapun yang bisa terjadi. Alasannya jelas, dengan diopname pun, Rio tidak dengan sendirinya sembuh. Artinya, opname pun sekedar bobok manis, tanpa ada tindakan khusus untuk penyembuhan. Dan sekalipun ada, itu tidak lain hanya sekedar mengurangi rasa sakit. Operasinya saja baru bisa hari Selasa jam 2 siang. Itu artinya bahwa kami harus menginap di RS selama dua hari.
Selain itu, alah mak … kami terkesiap dengan prakiraan biaya yang harus ditanggung. Untuk operasi saja diperkirakan sampai mencapai Rp. 6.500.000,- untuk kelas 1 dan utama. Untuk kelas II biaya turun satu juta rupiah. Belum lagi biaya inapnya yang mencapai minimal Rp. 155.000/hari. Untuk kelas I, biayanya pun menjerat leher: Rp. 400.000,-/hari. Masih ditambah lagi biaya perawatan, laborat dan beban psikis yang harus kami tanggung.
Hati kecil ku menjerit. Kenapa begitu mahal? Tapi dengan cepat aku mencoba untuk mencari jawaban. Sekilas, aku teringat beberapa waktu lalu ada buku nakal yang ditulis oleh seorang yang sangat gerah melihat praktek-praktek kesehatan di negeri ini. Kalau tidak salah judulnya Orang Miskin Dilarang Sakit. Barangkali aku memang perlu membaca buku itu.
Pikiranku melayang bebas. Bagaimanapun juga, dengan gaji terpotong sampai 60% untuk cicilan rumah, kami mau tidak mau harus hidup dengan sangat hemat. Semua pengeluaran harus diperhitungkan. Kebutuhan-kebutuhan sosial yang tidak jarang cukup besar memang tidak bisa dihindari. Namun untuk kebutuhan dasar, kami memang mencoba untuk mengencangkan ikat pinggang. Gaji yang aku peroleh hanya cukup untuk tiap bulannya. Itupun dengan hampir tidak ada simpanan sama sekali. Apalagi, mulai bulan September lalu, kami memutuskan untuk mengikuti program asuransi. Jadi, gaji memang menjadi terlalu kecil untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Memang, untuk satu hal, kami sudah cukup aman. Rumah yang kami punyai sudah lebih dari cukup. Dengan luas areal tanah mencapai 300 m2 dan sekitar 140m2 luas bangunannya, kami sudah cukup nyaman. Dan itulah yang membuat kami merasa aman. Bagaimanapun juga, dengan hasil gaji yang kecil, kami sudah tinggal di rumah sendiri. Sekalipun kami harus mencicil pinjaman dari Bank untuk melunasi hutang pembuatan rumah kami, kami pun sudah siap dengan resiko hidup sederhana.
Namun, sakitnya anak tentu tidak masuk skenario. Apalagi setelah membuat kalkulasi singkat bila Rio sampai tiga hari menginap di RS, angka yang muncul memang membuatku terperangah. Minimal Rp. 10 juta. Aku tidak habis pikir. Harus aku akui, aku masih punya uang sejumlah itu. Tabungan khusus yang aku sisihkan secara khusus untuk istri cukup. Bahkan aku masih menyimpan uang US$ 1.400,-. Tapi itu untuk jaga-jaga ketika aku pergi sekolah lagi nantinya. Bukan untuk hal mendadak seperti ini.
Dalam kebingungan tanpa batas, dan juga keprihatinan atas tidak adilnya dunia terutama dalam kaitannya dengan urusan kesehatan macam ini, akhirnya aku mengontak kakak ipar istriku yang bekerja di salah satu RS pemerintah. Terus terang saja, kami sudah merasa was-was bahkan ketika mendengar nama RS itu disebut. Begitu banyak cerita menyeramkan dari sosok RS pemerintah. Entah itu menyangkut dengan kebersihan bangsal, kinerja para dokter mudanya yang belum tentu berpengalaman, pelayanan yang sangat birokratis-rumit-dan tidak ramah. Ada berjibun alasan untuk mengatakan tidak. Namun, angka rupiah yang harus kami tanggung di salah satu RS swasta tersebut membuat kami memberanikan diri untuk mengadu nasib ke RS pemerintah.
Dan memang itulah yang kami lakukan. Apakah hasilnya lebih baik? Tentu terlalu dini untuk menjawab itu semua. Yang jelas, dari perhitungan matematis finansial, hasilnya jauh lebih memuaskan. Kami harus membayar Rp. 2,080.000,- untuk total pengobatan. Angka itu “hanya” 20% dari jumlah keseluruhan yang diasumsikan harus kami bayar di sebuah RS swasta ternama tersebut.
Untuk satu hal kami sudah bisa bernapas lega. Satu urusan selesai. Rio kami bawa pulang begitu dampak anestesinya sudah beranjak pergi darinya . Dengan ditemani Gun dan Lian, kami susuri jalan beraspal pinggir selokan. Rio tampak begitu lemah di pangkuan mamanya. Aku pun tidak punya alasan untuk terburu-buru. Waktunya yang tersedia cukup panjang. Jam 2 siang, hari Rabu, 17 Oktober 2007, kami meninggalkan RS. Sementara aku akan ada kelas jam 4 sore. Masih cukup waktu. Sengaja kami tidak memakai taksi, karena toh jalanan lebih banyak macetnya. Mudik Lebaran masih memadati jalanan. Selain memang tidak ada harga yang murah untuk segala jenis pelayanan, termasuk taksi.
Untuk hal lain, aku masih terbebani. Bayangan keprihatinan seorang penulis Orang Miskin Dilarang Sakit betul-betul aku rasakan. Aku merasa malu. Kenapa aku baru berempati begitu mengalaminya? Aku menyadari kebodohan diriku sebagai manusia yang lebih sering memakai “proximity reasons” untuk menjelaskan berbagai fenomena dalam hidup. Bila terjadi bencana di suatu tempat yang jauh, ada kecenderungan untuk membela diri, “Ah bencananya kan tidak di sini. Kenapa harus begitu peduli.” Dan bila bencananya terjadi di dekat kita, ada kecenderungan untuk berkilah, “Bencana itu kan tidak terjadi pada keluarga kami. Itu kan orang lain.”
Ini lah realitas dalam hidup. Teman paramedis yang dengan setia menunggui kami dalam proses pemeriksaan hari Minggu sore di Instalasi Gawat Darurat itu sempat mengeluarkan pernyataan ironis. “Dokter yang jadi bosku itu,” begitu katanya pada istriku, “mendapat bonus Rp. 25 juta/bulan dari berbagai “deal-deal” seperti resep-resep dan lain-lainya. Bonus itu artinya uang di luar gaji lho.” Dia juga sempat tersenyum pahit menertawakan dirinya karena dia juga bukan seorang malaikat yang selalu bersih. Karena bagaimanapun juga dia ikut “kecipratan” rejeki dengan bekerja di sebuah RS pemerintah di Semarang. Ada sejumlah uang “haram” yang dia peroleh tiap bulannya di luar gajinya. Bagaimanapun juga dia ikut dalam sistem yang tidak bisa ditentangnya. Dia mau tidak mau ikut membesarkan suatu praktek “pemerasan” terhadap orang-orang yang miskin tersebut.
Yah, dalam permenunganku ini, barangkali yang paling tepat untuk menggambarkan hidup kita sebagai manusia adalah seperti ini: kita masuk ke dalam lingkaran permainan. Permainan macam apa yang hendak kita ikuti? Aku sendiri sudah merasa “diplot” untuk ikut permainan di sebuah institusi pendidikan tinggi swasta. Dari kecil aku dididik dengan keras, dan diajari untuk lebih menghargai kerja keras daripada sejumlah uang yang aku peroleh. Selain itu, dengan dibesarkan di daerah pegunungan, pekerjaan fisik pun juga bukan suatu hal yang layak untuk dihindari. Ngepel, nyuci, dan membersihkan rumah sendiri – untuk family welfare – bukanlah hal yang berat untuk dilakukan. Aku belum merasa perlu punya pembantu dan mesin cuci. Kami masih bisa melakukannya sendiri.
Orang lain barangkali “diplot” untuk mengikuti pola kehidupan yang lain. Orang tua yang memiliki ambisi luar biasa. Mendidik anaknya untuk kerja keras. Menilai keberhasilan hidup dari hal-hal yang terukur, entah itu dalam jumlah gaji besar ataupun hal-hal yang bisa terraba (tangible) seperti properti atau kendaraan. Dikirimkan ke sekolah kedokteran dengan biaya yang teramat sangat besar. Pendidikan kedokteran adalah investasi besar. Dan karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga besar. Atau lebih pasti lagi: karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga HARUS lebih besar. Dengan demikian, apapun kenyataannya, hasilnya pun juga HARUS besar. Apakah itu merupakan suatu kebenaran umum? Entahlah. Namun, yang terjadi sekarang ini, pelayanan kesehatan benar-benar mencekik dan tidak bisa diterima dengan akal sehat!
Apakah bidang kesehatan bisa dikatakan sebagai sebuah mafia? Entahlah. Aku sendiri tidak berani melabelinya dengan istilah itu. Namun, realitasnya barangkali memang demikian. Aku sendiri, sebagai orang yang pernah hidup di negeri orang dan mencicipi pendidikan tinggi yang lumayan prestisius, tetaplah orang bodoh ketika harus berurusan dengan masalah kesehatan. Nah, kami-kami yang bodoh ini menjadi sasaran empuk dari sistem yang ada. Alasannya sederhana: kami tidak punya nilai tawar. Kami tidak punya pengetahuan yang memadai untuk membuat posisi kami lebih kuat. Jadi, tidak ada salahnya sebenarnya kalau kami selalu dikadali.
Namun, tentu tidak adil juga menghakimi posisi dokter. Posisi seorang dokter tidaklah terlalu istimewa dalam sistem yang tidak adil ini. Dia hanya satu sekrup dari mekanisme “assembly line” yang ada dalam sistem pengobatan. Dia dipakai sebagai alat yang paling mujarab untuk promosi dan penjualan produk-produk obat dari berjibun pabrik obat yang dengan rakusnya ingin mengeruk keuntungan. Mereka saling bersaing, bahkan barangkali saling sikut-menyikut bila diperlukan. Dokter dimanja dengan berbagai bonus bila mampu memasarkan produk-produk yang mereka hasilkan. Dilihat dari satu sisi ini, dokter tampak justru sebagai korban. Korban sistem yang tidak adil.
Cukup menarik ketika seorang mahasiswa Extension Course berkomentar dengan cerita ku ini. Seorang temannya yang jadi dokter memilih untuk tidak jadi korban dari sistem ini. Setiap kali merekomendasikan obat, dia selalu membuka konsultasi tentang berbagai kemungkinan. Dan dia tidak mau menerima tips secara berlebihan dan tidak adil ini. Dia sangat paham betul tentang politik kadal-kadalan yang dibuat oleh sistem kesehatan ini. Namun, suara hati nurani yang kecil benar-benar dia dengarkan. Suara itu tidak lagi kecil, karena selalu mengingatkan dia untuk memiliki empati dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sakit. Empati yang datang bukan semata-mata karena “proximity reasons”. Tetapi lebih dari kemurnian hati. Dari kesediaan hati untuk mendengarkan orang lain.
Masih adakah hati untuk mendengarkan keluhan orang lain? Tanyakan pada Ebiet G. Ade, dan dia akan menyuruh kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Dan dunia ini tidak cukup memberi makan untuk seluruh umat manusia, karena ada begitu orang yang mengambil lebih dari jatah yang semestinya cukup untuk diri mereka. Begitu Mahatma Gandhi mengingatkan kita. Bersediakah kita mendengarkan?
Pergulatan mencari makna hidup
Berbagi dengan suka cita
Beraksi dengan berani
Hidup tidak lebih dari upaya mencari makna dan jati diri (struggle for existence). Apa yang terjadi pada hari ini bukanlah sekedar kebetulan, karena semua hal di dunia memiliki masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Beragam pengalaman hidup yang telah membentuk diri kita telah menciptakan pola pikir, pola bertindak, dan strategi pemecahan persoalan yang kita hadapi. Dampaknya nyata. Pengalaman yang dialami secara bersama-sama bisa bermakna sangat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Tidak lain dan tidak bukan, hal itu disebabkan karena keunikan diri kita yang telah membuat kita memiliki pola yang khas dan unik.
Keterlibatan kita dalam the Indonesia Secondary Education Development Program (ISEDP) pun juga bisa dimaknai dalam perspektif macam ini. Dalam sejarah hidup masing-masing individu yang terlibat dalam program ini, pasti sudah ada potongan-potongan (snapshots) pengalaman yang bila dilihat secara reflektif, akan menampilkan mosaik yang menggambarkan alasan keterlibatan kita dalam program ini.
Tidak mudah memang mereka-reka serpihan demi serpihan pengalaman kecil untuk membentuk satu mosaik yang layak untuk dinikmati. Diperlukan keberanian dan kejujuran – yang kadang terlalu mahal harganya – untuk mengakui kedirian kita apa adanya. Dan dalam tulisan ini, saya mencoba menguraikannya melalui berbagai pengalaman yang saya coba maknai dari perspektif pengalaman pribadi. Apapun nada yang terdengar dari uraian pengalaman personal ini, entah itu sumbang atau tidak terlalu nyaman untuk dinikmati, saya harap itu diterima sebagai realitas faktual. Di sini, saya mencoba untuk jujur pada diri sendiri. Saya tidak memungkiri kemungkinan interpretasi apapun karena pengalaman yang terdengar terlalu personal ini. Namun tidakkah banyak perubahan besar dalam sejarah di dunia justru muncul dan diperkuat dari naratif personal macam ini? Tulisan pribadi yang sangat personal dari seorang budak pelarian Frederick Douglas pada awal Abad XIX di Amerika Serikat telah memfasilitasi gerakan penghapusan perbudakan Kulit Hitam di Amerika Serikat.
***
Tahun 1994, sewaktu kaki ini pertama kali menginjak wilayah Universitas Sanata Dharma (USD), api di dada meletup-letup hebat. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dan satu-satunya yang mendapat kesempatan meraih gelar S1, saya akan belajar bahasa Inggris – di salah satu tempat “terhebat” untuk mengasah keterampilan dan pengetahuan Bahasa Inggris. Untuk apa? Saya tidak berani mengatakan mau menjadi guru, sekalipun saya sendiri sengaja mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Alasannya sederhana, PBI USD merupakan tempat terbaik untuk belajar Bahasa Inggris yang pernah saya dengar. Selain itu, saya tidak yakin apakah profesi mengajar memang sesuai dengan ciri khas, aspirasi, semangat, dan juga cita-cita hidup saya. Tentu, motivasi yang paling besar adalah keinginan untuk menguasai bahasa Inggris. Tidak lebih. Dan setelah itu, mau jadi apa, entahlah. Satu hal lain yang masih tersimpan di lubuk hati dalam-dalam, waktu itu saya sendiri ingin jadi wartawan, yang tulisannya banyak dan bisa membantu membuka mata publik terhadap berbagai persoalan hidup.
Namun, sejarah hidup membuktikan lain. Selama sembilan semester, saya selesaikan studi S1 di PBI. Tidak seideal dengan waktu yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi hal yang sampai sekarang masih saya kenang, waktu itu pencapaian akademis jauh mengatasi apa yang semula saya targetkan di semester satu. Namun demikian, saya bukanlah sesosok kutu buku yang menutup diri dari interaksi dengan orang lain. Selama masa studi itu pula saya telah bergelut dengan berbagai pengalaman mengajar dan berinteraksi dengan orang lain. Pernah saya menjadi salah satu guru ekstrakurikuler di SMA I Teladan Jogja selama satu tahun (Semester 4 dan 5). Pernah juga terlibat dalam kegiatan English Action Days – satu kompetisi Bahasa Inggris tahunan yang diadakan untuk siswa-siswa SMA. Pernah juga menjadi koordinator tata tertib dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru (Semester 6). Pernah mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak SD Kanisius Demangan (Semester 7 dan 8). Pernah juga mengajar Bahasa Indonesia untuk orang-orang asing di sebuah lembaga bahasa di Demangan (Semester 8 dan 9). Di samping itu, sayapun juga sempat menerima terjemahan – suatu pekerjaan yang sangat menyita waktu, berat, dan kadang dengan bayaran jauh di bawah standar. Bahkan pernah seorang kolonel yang sedang kuliah S2 di salah satu universitas ternama di Jogja pergi dengan terjemahan satu bab dengan tidak membayar!
Berbagai pengalaman yang saya alami selama kuliah S1 telah mengajari saya untuk selalu siap untuk berubah dan diubah. Kapanpun, di manapun, dan dengan konsekuensi apapun, kerelaan untuk membantu, keterbukaan terhadap masukan, dan kesediaan untuk berkorban dan mengupayakan yang lebih baik menjadi agenda utama yang selalu menggerakkan saya. Dengan semangat itu pula, saya tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan hidup yang datang silih berganti.
Namun, jalan hidup tidak dengan sendirinya jelas begitu saya menyelesaikan studi. Berbekal beragam pengalaman di sana-sini dan juga cita-cita terpendam untuk menjadi wartawan, saya tidak memiliki rencana pasti ke mana langkah kaki ini hendak saya ayunkan. Sekalipun tawaran untuk menjadi staf pengajar di alma mater datang sebelum studi selesai, saya belum berani membuat keputusan yang pasti. Melihat kebimbangan macam ini, seperti biasanya, kata-kata lugas dari Bapak menampar kesadaran saya, “Tidak ada salahnya menjadi orang penuh syukur. Ketika banyak orang bingung mencari pekerjaan, kamu justru ditawari pekerjaan. Tidakkah itu rahmat yang sudah selayaknya disyukuri?” Pertanyaan retoris yang khas dari Bapak. Dia memang jarang menghendaki jawaban verbal dari anak-anaknya. Dia menghendaki diri saya untuk merenungkan pesannya.
Memang, Bapak selalu menggunakan kata-kata lugas. Apa adanya. Tanpa tedheng aling-aling. Tahun 1999, pengangguran merebak sebagai akibat krisis moneter yang membawa dampak tragis bagi jutaan penduduk Indonesia. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Bahkan banyak dari orang-orang yang sudah cukup mapan harus kehilangan rumah dan tempat usaha mereka karena aksi anarkisme satu tahun sebelumnya. Trauma masih menjadi pengalaman nyata. Begitu banyak orang butuh pekerjaan, tetapi diri saya?
Jadilah saya seorang guru. Cita-cita untuk mengadu nasib menjadi seorang wartawan untuk sementara saya tinggalkan. Namun, menerima posisi guru sebagai profesi bukan berarti bahwa persoalan selesai. Selalu saja ada yang mengganjal. Dan kegalau-cemasan macam ini bukan tanpa alasan. Seperti yang dialami oleh siapapun yang memasuki dunia profesi keguruan, ada waktu-waktu ketidaknyamanan dan ketidakpastian yang saya rasakan. Bahkan, menurut penelitian, rata-rata para guru membutuhkan setidaknya enam tahun untuk menemukan cara terbaik untuk mengajar.
Dua tahun pertama mengajar di alma mater pun juga dipenuhi dengan ketidakpastian, ketidakyakinan, dan juga ketakut-raguan. Dalam kondisi rentan macam ini, tidak salah kalau saya pun sekedar melanjutkan tradisi yang saya lihat dan rasakan. Saya mengajar sesuai dengan cara dosen mengajar saya sebelumnya. Apa yang dikatakan baik dan diterima umum saya jalankan. Apa yang dianggap tidak baik pun saya hindari. Dengan kata lain, saya sendiri tidak lebih dari sekedar memfotokopi apa yang saya terima sebelumnya. Di situ belum ada tinjauan kritis. Hanya sekedar mekanis. Kapan harus membagikan silabus. Kapan ujian tengah semester. Kapan ujian akhir. Kapan nilai harus dikeluarkan. Semuanya serba mekanis. Disiplin keras saya jalankan. Tidak ada kompromi sama sekali. Mahasiswa PBI angkatan 1999 menjadi saksi hidup atas pengalaman mengajar saya pada semester pertama mereka. Mereka merasakan betapa disiplin-nan-kaku saya jalankan tanpa mengenal kompromi. Kelas menjadi tegang. Para mahasiswa tidak cukup menikmati proses pembelajaran.
Di waktu-waktu berikutnya, saya baru menyadari bahwa apa yang saya lakukan tersebut merupakan fenomena alamiah dalam lingkup pendidikan. Di mata para tokoh mazhab teori kritis seperti Foucault dan Bordieu, praktek pengajaran dan pembelajaran tanpa kesadaran dan tinjauan kritis dari pelaku pendidikan tersebut menjadi legitimasi terhadap berlangsungnya fenomena pendidikan sebagai reproduksi kultural. Pendidikan gagal mengemban misi sebagai agen perubahan, namun alat yang canggih untuk mempertahankan status quo.
Pada tataran praktis, saya sendiri tidak merasa nyaman dalam posisi saya sebagai seorang guru yang minim pengalaman. Saya merasa ada yang hilang. Untuk satu hal, dalam hati saya bertanya, “Layakkah seorang lulusan S1 mengajar mahasiswa-mahasiswa S1? Tidakkah itu berarti orang buta menuntun orang buta?” Saya merasa belum cukup bekal. Akhirnya, seperti orang-orang lain, saya pun mulai berjibaku mencari beasiswa untuk studi lanjut. Percobaan pertama tampaknya lancar. Lamaran yang saya ajukan ke Groningen Universiteit di Negeri Belanda langsung diterima. Hati ini berbunga-bunga. Namun, itu terbukti hanya menjadi kegembiraan semu dan terlalu dini. Ada e-mail yang masuk mailbox. Informasinya jelas. “Setelah dicek oleh NUFFIC (semacam lembaga penilai transkrip nilai di Belanda),” begitu penjelasannya, “dengan ini, pihak Universitas Groningen mencabut kembali keputusan penerimaan Anda di bidang Euroculture.” Mengecewakan. Namun saya tidak putus asa.
Tahun berikutnya, saya mencoba mengajukan lamaran beasiswa ke AUSAID – beasiswa yang disediakan oleh Pemerintah Australia. Tidak ada kabar sama sekali. Pada tahun yang sama pula, Rm. Paul Suparno, S.J., yang waktu itu masih menjabat sebagai dekan FKIP USD, mengundang beberapa dosen FKIP untuk mencoba melamar beasiswa dari Boston University. Bersama dua kolega yang lain, akhirnya saya mencobanya. Kali ini, Dewi Fortuna nampaknya sedang baik hati. Beasiswa dari keluarga Stephens tersedia untuk saya. Beasiswa untuk mengenang Kelly Elizabeth Stephens yang meninggal akibat kecelakaan ketika mendaki Gunung Anak Rakata di Selat Sunda itu sebelumnya telah diterima oleh dua senior saya dari USD. Pak Barli dari PBI dan Bu Wanti dari Pendidikan Matematika. Keduanya masih di Boston waktu saya tiba di sana. Tiga minggu sebelum peristiwa yang menggegerkan dunia, 11 September 2001, saya menginjakkan kaki di Boston.
Di sebuah universitas yang didirikan pada tahun 1839 ini, saya mengalami berbagai pengalaman unik yang pada gilirannya akan memoles diri saya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya merasakan seperti apa sesungguhnya sebuah kelas yang benar-benar mendorong perkembangan siswa-siswanya. Seorang profesor yang lebih layak disebut sebagai nenek begitu mudah memuji daripada menemukan kesalahan dari para mahasiswanya. Untuk pertama kalinya, saya merasa “merinding” karena sang profesor tersebut mengakui bahwa saya akan tumbuh menjadi seorang penulis yang baik nantinya. Dan itu dikatakannya di depan kelas! Saya merasa diuwongke.
Pencarian makna tidak pernah berakhir. Pengalaman diuwongke selama kuliah di negeri orang mengubah pandangan saya terhadap pola relasi yang semestinya terjalin antara dosen dan mahasiswanya. Memang, saya masih dikenal dengan tuntutan yang tinggi terhadap usaha dan komitmen mahasiswa dalam belajar. Saya pun tidak pernah menurunkan kualitas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam ujian pendadaran skripsi. Namun, saya berupaya keras untuk tidak menjatuhkan mental mahasiswa yang maju ujian skripsi. Saya belajar untuk menciptakan situasi yang nyaman, sehingga mahasiswa justru merasa bebas untuk berekspresi. Tanpa harus merasa tertekan karena terteror oleh situasi yang tidak nyaman. Saya lebih memilih untuk mendengarkan dan mengapresiasi apapun upaya yang dilakukan oleh mahasiswa. Ini merupakan hal yang tidak mudah, mengingat budaya kita justru mengajarkan kita untuk segera menemukan kekurangan daripada menghargai kebaikan – sekecil apapun bentuk kebaikan yang telah dilakukannya.
Dua tahun selesai studi lanjut, ada bonus pengalaman yang luar biasa. Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar hal yang lain. Menjadi pejabat! Sungguh di luar dugaan. Saya belum pernah menduduki jabatan apapun, namun kemudian melompat untuk menduduki posisi sebagai Pembantu Dekan III di FKIP. Saya merasa beruntung bisa langsung belajar dari sosok Pak Sarkim yang di mata saya sangat komplet. Kemampuan, komitmen, tanggung jawab, dan energi yang seakan tidak ada habisnya berhasil mengubah citra FKIP yang tua menjadi segar, penuh vitalitas, dan juga kepercayaan diri. Kantor dekanat juga menjadi tempat yang nyaman dengan gelak tawa yang segar di sela-sela kesibukan dan berbagai macam tuntutan yang harus segera ditangani. Dua kolega yang lain, yaitu Pak Adimassana sebagai PD I dan Bu Retno Priyani sebagai PD II, adalah dua sosok yang selalu mengedepankan toleransi. Suasana kerja di sekretariat dekanat pun lebih bernuansa segar, bukannya dibatasi oleh sekat-sekat psikologis akibat relasi atasan-bawahan yang kaku.
Saya memang tidak terlalu lama duduk di kursi PD III, karena jabatan itu dihapus dengan diberlakukannya sistem baru. Namun, pengalaman bekerja selama kurang lebih 18 bulan di tingkat dekanat telah meninggalkan bekas yang luar biasa mendalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya berlatih untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas (helicopter view). Harus saya akui, ilmu linguistik terapan dan pengajaran Bahasa Inggris yang telah saya geluti selama ini memang dengan mudah menjebak saya ke dalam hal yang sangat-sangat detail. Tidak salah tentu saja, karena kemampuan dan keterampilan untuk memperhatikan hal-hal yang sangat mendasar itulah yang dibutuhkan untuk penguasaan Bahasa Inggris. Namun, hidup ini terlalu kompleks dan tidak bisa serta merta direduksi ke dalam satu area saja. Oleh karena itu, belajar untuk melihat persoalan secara lebih luas dan komprehensif wajib dilakukan untuk menjamin keseimbangan.
Waktu bergulir tanpa henti. Kehidupan pun mengalir. Pencarian makna hidup pun selalu saja menemukan ruang geraknya. Hampir empat tahun berlalu sesudah saya menyelesaikan program S2. Rupanya, waktu empat tahun mengajar telah memberikan berbagai pengalaman dan kepercayaan diri untuk mencoba peruntungan lain: studi doktoral. Saya sudah cukup meyakini tentang apa yang saya hendak pelajari untuk program doktoral. Di program S2 saya mengambil spesifikasi pengajaran keterampilan menulis. Di program Language, Literacy, and Cultural Studies, School of Education, Boston University, saya tahu bahwa keterampilan membaca (reading skills) telah mulai dipelajari sejak tahun 1890-an. Keterampilan menulis (writing skills) sendiri baru mulai dipelajari pada tahun 1970-an, bersamaan dengan keterampilan wicara (speaking skills). Sementara keterampilan menyimak (listening skills) sendiri merupakan bidang yang paling ketinggalan, karena baru mulai dipelajari pada pertengahan 1980-an. Baru ada sedikit peneliti yang secara khusus mengembangkan ilmu dalam bidang terakhir ini.
Setidaknya saya memiliki beberapa rancangan strategis yang hendak saya jalankan. Pertama, dengan belum berkembangnya penelitian dalam bidang keterampilan menyimak ini, saya memiliki peluang untuk mengeksplorasinya. Saya akan tumbuh menjadi ahli dalam bidang yang satu ini. Kedua, intuisi saya membuat saya percaya bahwa keterampilan menyimak memainkan peranan utama untuk peningkatan kualitas dan kompetensi guru. Ketiga, perkembangan teknologi informasi (TI) telah memungkinkan berbagai persoalan teknis dapat dipecahkan dengan cepat dan sederhana. Saya sudah memiliki koleksi lebih dari 15 gigabytes yang saya unduh dari internet untuk materi menyimak ini. Semuanya gratis! Mengubah audio files untuk disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa juga bukan perkara rumit. Pelatihan keterampilan menyimak pun tidak harus membutuhkan laboratorium bahasa yang lengkap, mahal, dan rumit. Dengan modal satu MP3 player yang harganya terjangkau saja, keterampilan ini sudah bisa dilatihkan. Keempat, konteks penelitian pun sudah saya identifikasi. Kerja sama FKIP USD dengan Pemerintah Kabupaten Belu menjadi jalan masuk. Saya sudah dua kali mendampingi guru-guru Bahasa Inggris di wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara termuda Timor-Timor ini. Strategi sudah mulai saya atur. Saya mulai mengenal wilayah itu. Saya mengenal para gurunya. Saya sempat berdiskusi dengan Bapak Bupati dan Wakil Bupati tentang berbagai kemungkinan pengembangan profesionalisme guru.
Persoalan klasik muncul di sini. Siapakah yang akan membiayai penelitian macam ini? Pihak Yayasan di mana saya bernaung tidak akan pernah memberi dukungan finansial bagi para dosennya untuk studi di luar negeri, kecuali untuk ke negara-negara tetangga yang paling dekat, seperti Malaysia dan Filipina. Oleh karena itu, pilihan yang paling mungkin adalah mencari beasiswa ke Australia. Sejauh ini pihak Australia sangat peduli dengan kawasan Timur Indonesia yang tertinggal jauh. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah itu akan lebih menarik bagi Negeri Kangguru ini. Karenanya, saya mencoba melakukan kontak dengan beberapa universitas di Australia. Proposal sepanjang 10 halaman saya kirimkan. Tanggapan sangat positif datang dari seorang profesor di Deakin University, Victoria. Suatu tanda baik. Tinggal satu hal yang saya butuhkan: hasil TOEFL atau IELTS.
Akhirnya, dalam kondisi kesehatan yang sama sekali tidak bersahabat saya berangkat ke Surabaya untuk mengambil TOEFL. Tanggal 1 September 2006, atau 10 hari sesudah meninggalnya ayah, saya mengikuti Internet-based TOEFL (iBT). Waktu itu saya terserang batuk parah, akibat hampir tiap malam saya bolak-balik Kalasan-Pegunungan Menoreh Kulon Progo, di mana saya dibesarkan. Tanpa persiapan sama sekali, saya datang ke tempat ujian. Satu hal yang layak untuk dicatat, saya menjumpai mukjizat yang luar biasa. Batuk parah membuat saya kehilangan suara. Batuk kering menyerang ketika saya mengerjakan soal-soal reading. Di bagian listening, kondisi tidak lebih baik. Tenggorokan terasa sangat gatal. Batuk rupanya tidak mau berhenti. Namun, semangat tidak pernah meluruh. Memang, hati ini sangat was-was ketika bagian speaking tiba. Mampukah saya berbicara untuk enam jenis persoalan yang diajukan pada bagian ini? Akankah batuk juga menyerang saya dengan membabi buta seperti pada dua bagian sebelumnya? Namun, kekerasan hati untuk tetap berjuang sampai titik darah penghabisan tetap tidak tergoyahkan. Saya mencoba untuk menguatkan diri saya. Sejauh ini saya selalu berupaya untuk memberikan yang baik bagi siapapun yang membutuhkan bantuan. Semenjak kecil, orang tua saya mengajarkan makna ngundhuh wohing pakarti. Itu pula yang saya yakini. Kalau saya berbuat baik terhadap siapapun, saya juga akan menuai hal yang baik. Dan keyakinan tersebut betul-betul menemukan kepenuhannya. Untuk enam soal speaking, batuk yang dengan ganas menyerang sebelumnya, seakan lenyap ditelan bumi. Tenggorokan tidak segatal sebelumnya. Bahkan, yang luar biasa, suara yang sudah dua hari hilang tiba-tiba kembali dalam sekejap. Enam jenis soal yang diajukan bisa saya jawab dengan relatif lancar, sekalipun tidak optimal. Namun itu sudah lebih dari cukup. Saya bernafas lega. Mukjizat itu datang ketika saya sendiri sudah tidak memiliki apa-apa untuk saya banggakan. Saya meyakini Tuhan sendiri yang turun tangan memecahkan persoalan yang saya hadapi. Dan ketika bagian writing datang, batuk itu hadir lagi. Namun, saya sudah tidak menganggap batuk sebagai hambatan yang berarti. Menulis bukan persoalan yang terlalu rumit untuk dikerjakan. Bagaimanapun juga, kegiatan menulis, entah itu dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris, sudah menjadi menu sehari-hari dalam hidup saya.
Akhirnya, terlepas dari pengalaman berjibaku dalam mengerjakan TOEFL, hasilnya toh tidak akan pernah saya gunakan untuk melamar ke AUSAID. Hasil test itu tidak pernah saya kirimkan, baik ke Deakin University maupun ke kantor AUSAID di Jakarta. Alasannya sederhana, jauh-jauh hari sebelum hasil test itu tiba, Rm. Wiryono, Rektor USD, mengundangku dan menanyakan kesediaan untuk bergabung ke dalam ISEDP ini.
Tidak bisa dipungkiri, tawaran untuk bergabung ke dalam team ISEDP merupakan suatu kejutan yang menyenangkan. Ketika sedang mencari peluang studi lanjut, ternyata saya diberi peluang untuk mengembangkan diri melalui program ambisius ini. Namun, tetap saja saya senantiasa bertanya-tanya. Mengapa diri saya? Tidakkah ada yang “lebih” dari diri saya, dalam hal senioritas dan dalam hal kepandaian? Bukankah saya baru memiliki pengalaman sedikit dibandingkan dengan beberapa senior saya? Pertanyaan seperti ini sejauh ini belum secara jelas saya dapatkan jawabannya. Hanya samar-samar. Masih buram. Namun, ini bukan kali pertama saya tidak mendapatkan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang saya ajukan. Sewaktu saya mendapatkan beasiswa Kelly Elizabeth Stephens Memorial (2001 – 2003), saya pun bertanya hal yang sama. Dan jawabannya pun tidak pernah jelas. Oleh karena itu, bagaikan seorang Hamlet yang mencoba mencari makna. Saya pun bersoliloqui: “Merupakan hal yang luar biasa bagi saya untuk mendapat beasiswa. Tidak ada pilihan lain kecuali harus selalu menyukuri terhadap apa yang saya telah dapatkan. Saya meyakini bahwa saya bukan orang yang terbaik. Karena pasti ada yang jauh lebih baik dari pada saya, namun barangkali mereka tidak seberuntung saya. Alangkah bodohnya saya bila tidak memiliki rasa syukur dengan bekerja dan belajar sebaik mungkin.”
Hidup manusia memiliki historisitas. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Soliloqui seperti ini tidak datang dengan sendirinya pada diri saya. Entah sampai berapa puluh kali Bapak saya mengulang-ulang cerita kemalangan, kesakitan, dan perjuangan keras yang dialaminya. Dari cerita yang diulang-ulang itu, saya belajar pasrah-sumarah, namun bukan dalam arti deterministis – pasrah bongkokan begitu saja. Perasaan ringkih (vulnerable) sangat dibutuhkan untuk membaca tanda-tanda jaman. Apa yang kami dapatkan bukan semata-mata karena kemampuan, kehebatan, dan usaha kami semata-mata. Karena kebaikan dari Yang di Atas saja kita bisa melakukan banyak hal. Bapak memang mengajarkan kami untuk betul-betul memaknai apapun yang kami hadapi, entah itu pengalaman baik ataupun buruk, sebagai bagian dari rencana Dia sendiri untuk hidup kami. Tidak terlalu berlebihan bila kebiasaan macam itu telah menjadi bagian tak terpisahkan, dan dari sana saya mampu menimba semangat untuk maju, sekalipun banyak hal yang kadang nampak tidak begitu ramah terhadap diri saya.
Begitu mendapat tawaran untuk bergabung dalam ISEDP ini pun, saya kembali bertanya pada diri saya: “Mau apa saya? Haruskah saya menyia-nyiakan kesempatan ini? Haruskah saya memandang rendah tugas perutusan ini?” Sejarah masa lalu saya mengajarkan untuk selalu berjuang. Sepahit apapun realitas yang harus kami tanggung.
Tantangan pertama tentu saja datang dari keluarga. Berpisah dalam waktu tiga tahun untuk studi lanjut? Secara manusiawi, tentu sangat berat. Bagaimana mungkin kami akan melewati waktu-waktu keterpisahan untuk jangka waktu yang terlalu panjang ini? Entahlah. Kami tidak tahu. Yang pasti, kami pernah melewati masa-masa sulit. Tujuh minggu menikah, dan saya tinggalkan istri sendirian. Bedanya, sekarang sudah ada anak, yang Musim Panas 2007 lalu sempat marah dan tidak mau berbicara setiap waktu saya menelpon rumah. Alasannya sederhana. Saya tidak segera pulang dan menghabiskan waktu untuk bermain dengannya. Waktu itu, dia hanya saya tinggal selama dua bulan. Bagaimana bila periodenya jauh lebih panjang? Semoga, dia bisa diberi pengertian nantinya.
Tantangan lain tentu saja dari kajian bidang studi yang akan saya ambil. Sekalipun masih dalam bidang pendidikan, namun spesifikasi antara studi sebelumnya dan studi yang sekarang jauh jaraknya. Akibatnya, waktu tempuh studi untuk bidang baru akan jauh lebih panjang. Apa yang saya peroleh selama S2 di Boston University tidak diakui sebagai bagian dari program S3 di LUC ini. Karena itu, saya memang harus memulainya dari awal lagi. Sementara, bila program studi sebelumnya sama dengan program sekarang, S2 dianggap sebagai 50% dari apa yang dipelajari dalam program S3. Satu bentuk pengorbanan lain. Juga perlu keberanian untuk keluar dari comfort zone.
Namun, terpisah dari sejumlah pengorbanan yang mau tidak mau harus dibayar tersebut, keterlibatan dalam ISEDP ini sangat menjanjikan. Secara personal, seperti yang telah saya rasakan dalam pengalaman tujuh minggu di Chicago Summer 2007 yang lalu, saya merasakan perubahan yang sangat luar biasa. Bagaikan segerombolan katak yang dimasukkan ke dalam panci dengan air mendidih di dalamnya, kami berontak. Dengan bekal Bahasa Inggris yang masih jauh dari memadai, kami harus mengikuti mata kuliah tingkat pasca sarjana di Loyola University Chicago. Kami benar-benar merasakan besarnya dampak belajar dalam kebersamaan. Kami menjadi kritis terhadap praktek-praktek sosio-kultural yang telah membentuk kami. Dengan harapan, dalam kebersamaan itu kami memiliki referensi lebih banyak untuk menerjemahkan berbagai hal yang kami pelajari di Chicago nantinya. Kembali ke Indonesia untuk berbagi ilmu dengan sesama anak bangsa. Tidak mudah, namun bukan hal yang mustahil.
