<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013</id><updated>2012-02-07T12:55:15.798-08:00</updated><title type='text'>buka-mata-hati</title><subtitle type='html'>a room for personal growth</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5862133404203610374</id><published>2008-07-12T16:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T16:46:31.438-07:00</updated><title type='text'>2. Start small, think big. Don’t overplan and overmanage</title><content type='html'>Guideline # 02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang kompleks (dan mengelola beragam inovasi di sekolah benar-benar menggambarkan kompleksitas macam ini) berarti berhadapan dengan paradoks. Di satu sisi, semakin besar kompleksitas, semakin besar pula kebutuhan untuk menangani implementasi rencana; di lain pihak, semakin besar detail perencanaan implementasi, semakin kompeks proses perubahan tersebut. Harus dicatat bahwa perencanaan yang terlalu berlebihan (overplanning) dan pengelolaan yang terlalu berlebihan (overmanaging) harus dihindari. Sesudah dicapai kesepakatan mengenai tujuan dan prioritas, penting untuk dipahami bahwa kita jangan terjebak ke dalam studi kebutuhan (needs assessment) secara detail, atau diskusi tujuan lagi. Mencoba untuk memahami kompleksitas terlebih dahulu, tanpa segera membuat langkah konkret tertentu justru melahirkan keruwetan daripada kejelasan itu sendiri. Para manager efektif memiliki kapasitas untuk menghentikan diskusi berkepanjangan yang cenderung menghalangi tindakan nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti-bukti baik dalam bidang bisnis dan pendidikan menunjukkan bahwa para pemimpin yang efektif memiliki “bias atau kecondongan untuk segera bertindak.” Mereka memiliki intuisi dan arah yang mendorong mereka melakukan sesuatu, dan mengawali suatu tindakan secepat mungkin, sambil mengumpulkan contoh-contoh berskala kecil, mengadaptasi, memurnikan, memperbaiki kualitas, memperluas, membentuk kembali seiring dengan bergulirnya proses perubahan itu sendiri. Strategi ini bisa diringkas menjadi “mulailah dari yang kecil: berpikirlah mengenai hal-hal besar,” atau dengan kata lain: cara untuk menjalankan perencanaan dengan lebih baik dilakukan melalui tindakan nyata daripada berhenti pada perencanaan semata. Kepemilikan adalah sesuatu yang dikembangkan melalui proses, bukannya muncul di awal. Dalam pengertian ini, inovasi bukanlah hal-hal yang “akan diimplementasikan,” tetapi justru merupakan katalis, titik pijak atau kendaraan untuk meneliti dan menilai sekolah dan untuk mendorong perbaikan. “Siap, tembak, tuju” merupakan metafora yang lebih tepat untuk menangkap dinamika reformasi nonlinier macam ini (Fullan, 1993). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangani perubahan-perubahan yang kompleks, bentuk perencanaan dan pengelolaan yang lebih ketat justru akan merugikan karena dua alasan. Pertama, perencanaan dan pengelolaan yang ketat terebut menempatkan kepala sekolah pada posisi yang tergantung, sekalipun bukan itu tujuannya. Kedua, perencanaan dan pengelolaan macam itu justru menghalangi tumbuhnya otonomi di pihak-pihak lain yang terkait. Pengendalian bersama dalam implementasi perencanaan pada tingkat sekolah merupakan hal esensial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5862133404203610374?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5862133404203610374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5862133404203610374' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5862133404203610374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5862133404203610374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/07/2-start-small-think-big-dont-overplan.html' title='2. Start small, think big. Don’t overplan and overmanage'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-4132556200240101331</id><published>2008-07-10T04:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T16:59:32.725-07:00</updated><title type='text'>Ten Guidelines</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;Introduction &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;Proses pengembangan keterampilan dan kompetensi kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari berbagai upaya yang dilandasi dengan kesungguhan hati, konsistensi, dan kesediaan untuk berubah diri. Mulai hari ini, saya akan mencoba membagikan apa yang oleh Fullan (1997) diidentifikasi sebagai tuntunan utama dalam pengembangan pengetahuan, prinsip-prinsip dasar, dan juga semangat untuk kepemimpinan ini. Hari-hari berikutnya akan diikuti dengan tuntunan-tuntunan yang lain. Sumber acuan: Fullan, M. (1997). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;What's worth fighting for in the principalship, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;New York: Teacher College Press. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;Guideline # 01 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;Hindari pernyataan "Jika  saja ..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 18pt; color: rgb(0, 51, 0); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam hampir semua kasus, pernyataan “jika saja” menunjukkan kecenderungan untuk selalu menyalahkan, mencari kambing hitam, dan menghalangi perkembangan dari masing-masing anggota. “Jika saja” para penilik sekolah adalah orang-orang yang mampu memimpin dengan baik; “jika saja” pihak Yayasan berani mengalokasikan lebih banyak sumber dana untuk pengembangan profesionalisme guru; “jika saja” Departemen Pendidikan menghentikan kebiasaan mengeluarkan berbagai macam kebijakan yang sering tidak masuk akal; dan lain-lainnya. Begitu banyak perubahan yang kita kehendaki di sekitar kita, menurut Block, merupakan cerminan atas ketergantungan dan justru menyuburkan perasaan tidak mampu. Block meringkas gagasan ini sebagai berikut, “menunggu petunjuk pelaksanaan yang jelas sebelum melakukan suatu hal adalah hal yang berlawanan dengan semangat kewirausahaan (entrepreneurial spirit)” (hlm. 16). Cara lain untuk mengatakannya adalah sebagai berikut, “Hal penting apa yang saya bisa lakukan terhadap diri saya dan orang-orang di sekitar saya?” Saran utama pertama adalah menekankan pentingnya bergerak secara konkrit ke arah otonomi. Dalam konteks ini, apa yang layak diperjuangkan dalam dunia kita adalah pertempuran dalam diri kita (internal) bukannya pertempuran dengan pihak-pihak lain di luar diri kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-4132556200240101331?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/4132556200240101331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=4132556200240101331' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4132556200240101331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4132556200240101331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/07/ten-guidelines.html' title='Ten Guidelines'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5968887710162355125</id><published>2008-07-04T07:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-04T07:49:18.204-07:00</updated><title type='text'>Character acquisition</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG44YpY5A0I/AAAAAAAAAAs/IAt4BhUAfpw/s1600-h/Picture+1446.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG44YpY5A0I/AAAAAAAAAAs/IAt4BhUAfpw/s320/Picture+1446.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219171014247252802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;How are good behaviors acquired? This is certainly a neverending question across generations. Trying to answer this question, I tried to look back on the way my parents reared me. I remember that my family had a series of DOs and DON’Ts. Even in my thirties now, I still remember them very well, since any failure to comply with the rules set up by my father would certainly end up with some kinds of punishment. Raised in a hilly, rural, remote area (with no electricity and phone lines), my siblings and I were quickly introduced to survival skills since our early age. We were trained to do many physical activities, such as bringing water home using jugs (about half a kilometer away from home), gathering woods to cook our meals, handwashing our cloths, cleaning our house, tending and harvesting clover, gathering grass for our goats, and other household chores. When the evening came, we swarmed around an oil-lamp to study. It was always in the livingroom. My father was so strict that nobody of us could slip away from this study period, no matter how tired and sleepy we were. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;For my father, there was no need for extended explanations. He just instructed us to do something, and no question was allowed (let alone questioning!). His words were short and disobedience meant harsh punishment. As an elementary school teacher, he lived a simple and disciplined life: getting to his work earlier than any other teacher, avoiding too much talking with other teachers in the teachers room and getting back to his own classroom when the break had ended, and finishing the class exactly when the bell rang. After lunch, he would spend the whole afternoon in the farm, tending the clover trees, vanilla vines, casava and coconut trees. No much talking, just actions! In a sense, I thought that we were so fortunate to have a communicative mother. She was great at explaining the reasons behind our father’s instructions. Sometimes, she would tell stories to accompany our sleep. Thus, we were certainly brought up in balance. Our father taught us the hard work, our mother taught us the reasoning skills that laid behind the hard work. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;When one generation has gone, the next generation replaces. The problems of child-rearing constantly appear to challenge young parents like me. Today’s challenges are certainly more various and require a strong foundation to appropriately respond to. With all facilities available in our modern life, we are tempted to neglect physical hardship! Cell-phones, TV, entertainment, and the Internet are powerful tools to make our life comfortable. But they are like a double-edged sword that can easily distract our attention to the very nature of how a character is shaped. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Human beings are subject to do things the way they experienced something before. Teachers teach the way they were taught. Parents bring up their kids the way they were brought up as a child. And I am like other people. I rear my son the way I was reared by my parents. Anyway, modifications apply. Instead of merely instructing, I discuss the reasons why I ask my kid to do something. I still keep giving real examples: handwashing our cloth, mopping the floor, and doing other household chores. My wife will read him a series of story books. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Skeptics might question whether my approach to developing a character in my son would certainly bring positive and durable results in the future. However, my parents were great at teaching us to see more potentials in many things that we did, rather than any drawbacks that might appear. Thus, I believe that involving our kids to acquire the habit and attitude of positive thinking, hard work, and perseverance since their early age will eventually establish a strong foundation for their character development. It is the strong character that allows them to take the right things when a dilemma appears. I do believe that children need real examples, as Kristen Pelster, assistant principal at Ridgewood Middle School, says: “Kids can’t learn respect and responsibility by someone putting those words on paper or on a wall. Character education is not a program. It is a way of life.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5968887710162355125?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5968887710162355125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5968887710162355125' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5968887710162355125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5968887710162355125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/07/character-acquisition.html' title='Character acquisition'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG44YpY5A0I/AAAAAAAAAAs/IAt4BhUAfpw/s72-c/Picture+1446.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1141902204560587588</id><published>2008-07-02T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-07-04T08:48:45.027-07:00</updated><title type='text'>Finding something new from the beaten path</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG5GVnK6zQI/AAAAAAAAAA0/PBny0IAB1Cs/s1600-h/Picture+721.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG5GVnK6zQI/AAAAAAAAAA0/PBny0IAB1Cs/s320/Picture+721.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219186355274960130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;Here we go … the first class appeared to be challenging. Yes, it’s certainly challenging. To some extent, I felt that I got more advantages compared to my colleagues. I earned my masters degree at a US institution earlier. Seven years ago, I took Language, Literacy, and Cultural Studies at Boston University. Now, I’m taking a masters degree in School Leadership. At this point, English is certainly no longer a barrier for me. &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;In addition to that, the issues on learning theories (such as Piaget, Erikson, Vygotsky and others) are not necessarily brand new to me. Thus, supposedly, it’s much easier for me to enjoy the class: to take a full advantage of familiarity to the issues. But is it really the case for me? I guess the class is challenging not because I know pretty well the path we are going to go through. The class of Psyc. Ed (CIEP 415) is challenging more because my previous knowledge prevents me from enjoying it. My ego keeps telling me: well, the materials are relatively easy, so why do you take too much energy to work hard enough? Sure, I feel now the challenge is real: how could I enjoy something common! It’s like a beaten path for me! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;I know too well that I would certainly lose interest to work more fully and get engaged in the class. It is easier to feel less challenged. It is easier to feel I’m already good at many things. But I know too well that I must be critical to my own ego. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;When I reflected on this issue, I realize that being happy or unhappy is a matter of choice. Very often, we are in a position that we really don’t like. Unwelcoming outlook from many people around us, misconceptions and prejudice that other people impose on us … those are unhappy situations. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Nobody is happy with such a condition. There are sometimes too many things that do not make us happy! But, I also learn that successful people are generally able to change the unfortunate conditions into potentials. How could they do it? Certainly, it is determined more by the way they see the world! It’s their paradigm. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;I learn that one of the characteristics of successful leadership is a consitency in perceiving human life as dynamic and changing all the time. Many things come and go, others are enchanting and others are just discouraging. What matters most is certainly the way we respond to unhappy situations. Once we decide to be fluid and flexible in dealing with any kinds of things that happen around us, the more ready we are to anticipate uncertainties. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Having this in my mind, I hope that I can make up my mind: to be more positive and able to translate whatever I find in classes into my future work! I did it! At least, I started to do it: this evening, I spent very little time (less than two minutes) to ask Fr. Mintara about the possible uses of today’s class. As usual, I got surprised with brilliant ideas he had in his mind. He proposed the idea of using the gameframe that we used in Dr. Boyle’s class to initiate a conversation with our trainees. I certainly used some part of his idea and made up my mind too. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;My plan is to introduce the opposing concepts of leadership: pyramidal vs. flat model. The strategy is simple: make groups of three or four and ask the groups to accomplish a simple task.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;I will ask them to choose which leadership model they prefer and put the labels on each box (principal, parents, teachers, students, and other stakeholders). Have them talk about their choice and ask them to defend it. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153); font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;I suppose that the trainers (i.e. the ISEDP trainers) are to master the X and Y Theories by Douglas McGregor (1960) and the revised version by Thomas Sergiovanni (1992). With these theories in mind, the trainers are well-informed and establish their perspectives on a strong conceptual foundation. Do I need to explain in this blog? I think it’s too early to discuss it here. My point is: I’m trying to negotiate my unhappy feelings with the real challenges in future that I could identify. I want to make myself driven not just by my impulsive feeling, but by goals! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1141902204560587588?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1141902204560587588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1141902204560587588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1141902204560587588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1141902204560587588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/07/finding-something-new-from-beaten-path.html' title='Finding something new from the beaten path'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SG5GVnK6zQI/AAAAAAAAAA0/PBny0IAB1Cs/s72-c/Picture+721.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5866431572523901116</id><published>2008-07-02T14:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-02T14:50:40.856-07:00</updated><title type='text'>Summer di Chicago yang menggairahkan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memasuki penghujung bulan Juni ini, kembali ke menjejakkan kaki di Chicago, kota penuh gairah musim panas. Kata gairah barangkali tepat. Udara hangat, yang tentu saja masih relatif dingin bagi kulit tropis kami, telah mengundang kegairahan luar biasa di kota ini. Di sana-sini terlihat orang berlalu lalang dengan pakaian minim (bukan seadanya tentu saja). Seksi, cantik … dan … indah (kalau mau melihatnya demikian tentu saja).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tahun lalu, kami tinggal di Rockhurst Hall, suatu kompleks apartemen yang tidak bisa dikatakan indah. Namun demikian, ketidakindahan tempat tinggal apartemen itu masih terkompensasi dengan beberapa hal lain. Jalan sepuluh menit dari sana, kami sudah sampai di Simpson Hall yang menyediakan berbagai makanan. Belok ke sebelah kanan, kami sudah berdiri di bibir Danau Michigan biru yang tak terlihat batas seberangnya. Bila bosan makan di Simpson Hall, naik bis 147 selama 5 – 7 menit sudah mengantar kami ke Thai Resto. Rockhurst Hall terletak di kompleks apartemen-apartemen lain yang dimiliki oleh Loyola University Chicago. Secara fisik lebih nyaman untuk musim panas. Alasannya sederhana, kami dipaksa jalan dan naik bis sebelum kuliah. Butuh waktu minimal 45 menit untuk sampai sekolah di &lt;i style=""&gt;downtown. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tapi itu barangkali tantangan fisik yang dibutuhkan. Aku baru menyadarinya sekarang. Semester ini kondisi berbeda. Kami menempati kompleks apartemen bernama Baumhart Hall yang berlantai 25. Aku sendiri berada di Lantai 24, satu ruangan dengan dua Romo Jesuit yang lain. Barangkali kami belum cukup menikmati tempat yang jauh lebih mewah ini. Bangunannya baru. Sangat baru bahkan. Baru selesai dibangun dan ditinggali tahun lalu. Fasilitas pun lebih dari sekedar lengkap. Masing-masing kamar dilengkapi dengan &lt;i style=""&gt;wireless access point &lt;/i&gt;buatan Cisco System. Kecepatannya? Jangan tanya! Ini Amerika bok … 54 mbps. Download file sebesar 20 MB hanya sekedipan mata! Mau chatting? Ngobrol via skype? Just a piece of cake! Coba kalau di negeri kita yang relatif masih terbelakang dalam hal teknologi? Jaringan dengan bandwith 2MB saja dipakai untuk 12,000 di USD. Di sini? Utk 15.000 mahasiswa, jaringan bandwithnya berapa? 200MB lebih … serba wow … &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masing-masing kamar apartemen dilengkapi dengan dapur, dengan tungku listrik, microwave, pemanggang roti, mesin pencuci piring, &lt;i style=""&gt;sink &lt;/i&gt;dengan air dingin dan panas yang mengalir dengan derasnya. Masing-masing ruang apartemen ada dua kamar mandi. Khusus untuk fasilitas ini, rupanya kami merasa perlu untuk semakin jarang menggunakannya. Mandi dua kali sehari tampaknya akan menjadi pantangan bagi kami, apalagi ketika hari-hari dingin ke depan semakin dekat. Mandi tidak diperlukan. Alasannya sederhana: bukannya malas karena enggak mau bersih, tetapi malas menderita gatal-gatal! Udara dingin dan kering sering menipu. Bagi orang-orang dari daratan tropis, mencari kehangatan dengan mandi air hangat merupakan pilihan yang menarik. Namun, sebenarnya hal itu merupakan kebodohan yang tidak perlu dibuat. Mengapa? Ketika udara begitu dingin, kelembaban udara cenderung makin berkurang. Kelembaban yang makin berkurang membuat kulit mudah berkerut dan &lt;i style=""&gt;mbesisik. &lt;/i&gt;Udara dingin yang kering tidak logis kalau dilawan dengan air hangat, karena hanya akan membuat kulit semakin kering saja. Tanpa disadari, orang-orang tropis yang tidak tahu-menahu logika macam ini akan mandi dengan air hangat, dua kali sehari, dan kemudian akan selalu &lt;i style=""&gt;fidgeting &lt;/i&gt;ketika di kelas! Pokoknya seperti monyet yang berhari-hari tidak bertemu temannya untuk saling berbagi kebahagiaan mencari kutu di tubuh mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kembali ke Baumhart Hall lagi. Apartemen bertinggi 25 lantai ini terletak persis di tengah kota, dekat &lt;i style=""&gt;Water Tower, &lt;/i&gt;satu-satunya gedung yang tidak dijarah api ketika terjadi kebakaran hebat di Chicago di tahun 1870. Kebakaran yang konon kabarnya menghabiskan hampir seluruh kota ini begitu mencekamnya, sehingga suara yang paling dominan di kota Chicago ini adalah raungan mobil-mobil pemadam kebakaran. Kalau di Indonesia yang paling dominan suara adzan, di Chicago suara mobil pemadam kebakaran. Lain ladang lain belalang, lain piring lain lauknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Berbicara mengenai fasilitas lainnya? Jangan tanya. Ada gymn yang berada di lantai 4. Aku sendiri merasa tidak PD untuk mencobanya. Ketika seorang teman meminta untuk diantar cuci baju di Lantai 4, aku hanya berani masuk ruangan dan tidak menyentuh alat gymn yang ada. Makhlum, usiaku rupanya sudah membunuh naluri coba-coba dari masa kanak-kanakku. Naluri untuk belajar secara alamiah tiba-tiba &lt;i style=""&gt;ngeloyor pergi&lt;/i&gt;, apalagi di sebelah kanan tampak cewek bule sedang berlari-lari di papan &lt;i style=""&gt;treadmill. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah tempat tinggal baru kami. Baumhart Hall, yang terletak di 26 E. Pearson Street. Tempat yang sekarang ini belum menghadirkan tantangan fisik yang kami butuhkan, tetapi barangkali akan menjadi tempat yang paling tepat untuk musim dingin nanti. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5866431572523901116?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5866431572523901116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5866431572523901116' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5866431572523901116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5866431572523901116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/07/summer-di-chicago-yang-menggairahkan.html' title='Summer di Chicago yang menggairahkan'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5963670334160267509</id><published>2008-06-01T19:17:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T19:18:25.496-07:00</updated><title type='text'>Rokok Tali Jagat Raya</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;Pagi ini, seperti biasanya kepalaku penuh dengan ide. Helm merah dengan kaca gelap menutupi wajahku, dan memberikan perlindungan, tidak hanya saja dari debu atau angin yang menghempas wajahku sewaktu motor aku kebut, tetapi juga dari dari tatapan orang-orang lain. Soliloqui … berbicara pada diri sendiri. Itulah yang aku selalu lakukan. Aku selalu menggunakan waktu 15-menit perjalanan dari rumah sebagai kampus sebagai kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri. Self-talking, itulah yang aku lakukan. &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Self-talk merupakan strategi yang luar biasa untuk menggali apa saja yang aku kehendaki, cita-citakan, dan juga sekaligus memunculkan rencana-rencana strategis yang harus aku jalankan. Namun bukan berarti bahwa aku sendiri lalu terbenam dalam diriku sendiri semata-mata. Self-talk juga menjadi kesempatan untuk tetap terfokus dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Menyadari konteks di mana kita berada, dan mengambil kesempatan yang tidak akan pernah datang dua atau tiga kali untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun tetap bermakna dalam hidup ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kejadian pagi ini pun menjadi kesempatan untuk berlatih mengambil tindakan dengan cepat ketika dihadapkan pada suatu hal sangat sederhana. Kejadiannya di pertigaan UIN. Seperti biasanya, perjalananku harus terhenti karena lampu merah menyala. Sejumlah mobil sudah berjajar di depan, dan aku jumpai bahwa ada ruang yang cukup di sebelah kanan mobil-mobil itu. Pertama, aku lewati sebuah mobil Innova. Hati-hati, agar spion mobil tidak bergesekan dengan stang bagian kiriku. Di depanku ada mobil Chevrolet tua (melihat ketuaannya, mobil ini mengingatkanku pada mobil-mobil sisa-sisa PD II). Di atas bak yang terbuka, duduk sekitar tujuh orang dengan pakaian kerja. Dari sisi kanan, sebuah bungkus rokok melayang. Tepat di depanku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Motor aku perlambat. Aku pungut bungkus rokok itu. Sang sopir yang ada di mobil agak terkejut. Aku tersenyum lebar. “Ada tempat sampah untuk bungkus rokok ini, pak.” Bungkus rokok itu aku masih di tanganku. Lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Gas motor aku tarik. Dan aku merasakan sebuah kemenangan. Berbagi pengetahuan kecil. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Aku tidak tahu apakah pesan “pendidikan” yang aku sampaikan melalui bungkus rokok kosong itu benar-benar sampai. Namun, yang pasti, aku belajar banyak hari ini. Aku melakukan aksi tertentu yang konkrit. Aksi yang tidak aku pikirkan lebih dulu. Hanya spontan. Dan aku merasa bangga telah melakukannya. Tanpa ba .. bi .. bu .. aku lakukan sesuatu dengan spontanitas yang sangat khas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hal lain yang aku pelajari: bungkus rokok tersebut “berjudul” Tali Jagat Raya. Tahu harganya berapa? Di label bea cukai tertera Rp. 3.975,-. Apa artinya? Murahan. Ya memang itu rokok murahan. Harga rata-rata satu bungkus yang “tidak murahan” tentu saja dua kali lipat harga itu. Rp. 7000-an. Ya, bapak sopir tersebut memilih (atau terpaksa) untuk tidak beli yang mahal. Pertanyaan menariknya adalah: Apakah harga rokok yang murahan juga terkait dengan perilaku tidak peduli lingkungan seperti yang ditunjukkan oleh bapak sopir dalam mobil Chevrolet tua itu? Apakah tidak peduli dengan kebersihan juga identik dengan kemiskinan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ternyata tidak. Kepedulian terhadap kebersihan sama halnya dengan kasus skandal seks, atau perselingkuhan, atau love affairs. Kedua hal itu tidak pernah mengenal status sosial. Semakin tinggi pendidikan, tidak ada jaminan bahwa dia akan mampu mengendalikan diri dari godaan perselingkuhan. Semakin tinggi status sosial, tidak ada jaminan bahwa dia juga akan lebih mampu mengendalikan nafsu sufiahnya. Soal kepedulian sosial dan kebersihan lingkungan pun tidak berbeda. Pernah suatu kali aku menjumpai, dari sebuah mobil bagus yang melaju di depanku meluncurlah tissue bekas pakai. Itu terjadi di tengah jalan. Artinya, orang yang menikmati status sosial tinggi (paling tidak dilihat dari berbagai fasilitas yang mereka miliki) tidak dengan sendirinya memiliki kepekaan untuk peduli dengan lingkungannya. Orang miskin pun bukan berarti tidak memiliki kepekaan akan kebersihan lingkungan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; color: rgb(102, 51, 102); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pertanyaannya: apa yang membuat orang benar-benar tergerak untuk berbuat lebih baik demi kemaslahatan bersama? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5963670334160267509?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5963670334160267509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5963670334160267509' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5963670334160267509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5963670334160267509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/06/rokok-tali-jagat-raya.html' title='Rokok Tali Jagat Raya'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-6155254413563983837</id><published>2008-05-31T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T00:28:48.238-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Spritual</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kamis 22 Mei 2008, saya mengatakan kepada bu Wigati (dalam acara pengolahan data interview bersama). “Inti dasar dari proses pendidikan kita [persiapan pendidikan calon kepala sekolah] sebenarnya berkutat pada kedalaman diri kita. Kita mesti bertanya seberapa dalam kita hendak menyelami kedalaman diri kita sampai bisa membawa perubahan yang besar dari dalam diri kita, yang pada gilirannya perubahan yang mendalam dalam diri kita tersebut menjadi kekuatan perubahan yang membawa serta pengaruh yang besar pada orang-orang di sekeliling kita.” Ketika berbicara seperti itu, sebenarnya saya berbicara tentang spiritualitas, suatu aspek yang saya rasa semakin penting dan menjadi dasar dari segala hal yang hendak kita lakukan. Dan sayangnya, aspek yang seperti ini seakan-akan telah terhempas ke dalam kebekuan tradisi masa lalu. Alasannya sederhana, dunia sekarang ini telah terlalu padat oleh arus lalu lintas informasi, dengan segala tetek-bengek teknologi informasi yang membuat kita sendiri tidak bisa berkedip penuh kekaguman atas berbagai kemajuan demi kemajuan yang ada! Padahal, bila perubahan hendak dilakukan, perubahan haruslah bersifat substantif dalam diri sendiri terlebih dulu. Baru kemudian, dampak yang lebih luas, sekalipun langkah-langkah yang bisa terjadi tersebut sangatlah lambat, terbentuk ketika kekuatan pembawa perubahan itu membawa pengaruh dan angin segar dalam pola hubungan dalam suatu lingkup profesional tertentu. Menurut Michael Fullan (2003) ini adalah gambaran nyata dari sebuah konsep &lt;i style=""&gt;correlation&lt;/i&gt;. Apa yang kita yakini akhirnya menjadi bagian dari keyakinan orang-orang di sekeliling kita. Dalam berbagai kesempatan, saya menunjukkan contoh yang tidak terlalu jauh: bagaimana Fakultas Farmasi USD telah mengalami pengalaman transformasional ketika memilih untuk bersakit-sakit dengan mengikuti berbagai program hibah. Fakultas Farmasi bukanlah surga: di sana masih ada gesekan-gesekan antar pribadi, di sana masih ada konflik kepentingan, di sana masih ada kecemburuan. Namun, keberanian, komitmen, dan juga rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai sesuatu dengan melalukan berbagai macam hal yang menantang secara bersama-sama (catat ini: SECARA BERSAMA-SAMA) benar-benar telah mengubah sifat dasar negatif manusiawi yang suka nggosip dan lebih memilih mengambil pekerjaan yang ringan-ringan saja … menjadi kekuatan mengagumkan. Gesekan-gesekan yang terjadi tidak lagi bersifat personal, tetapi jauh lebih profesional. Dan kenapa para mahasiswa juga tercatat memiliki tingkat kelulusan yang tinggi? Ya karena mereka melihat secara langsung bagaimana kinerja para dosennya. Dosen-dosennya sibuk mengerjakan proyek, dengan berbagai macam constraints – seperti deadline dan penilaian standar yang ditentukan oleh Dikti! Para mahasiswa melihat secara kasat mata bahwa para dosennya MELAKUKAN PENELITIAN dan mempublikasikan karya ilmiah! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Terbukti bahwa empat tahun sebagai pioner dan sekaligus berjibaku membuka hutan telah menyadarkan sejumlah fakultas lain akan dampak luar biasa dari mendapatkan hibah dari DIKTI ini [perlu dicatat bahwa Fakultas Teknik USD di Paingan pun juga tercatat sebagai fakultas yang getol dengan upaya-upaya mencari dana dari mekanisme Hibah ini, dan memang berhasil!]. Fakultas-fakultas lain yang semula sangat antipati dan bahkan memandang rendah makna sebuah hibah dari DIKTI akhirnya menyerah, dan mereka pun mulai melirik kemungkinan untuk ikut terlibat dalam kegiatan hibah. Itu namanya &lt;i style=""&gt;autocatalysis&lt;/i&gt; menurut Michael Fullan (2003). Ilustrasi mengenai apa yang terjadi di Fakultas Farmasi USD dan dampaknya terhadap proses belajar dari fakultas-fakultas lain sebenarnya hanya mau menunjukkan bahwa proses membawa perubahan bukan persoalan yang mudah. Perubahan hanya bisa terjadi bila dilakukan secara bersama-sama, dan melibatkan kerja keras berbagai macam pihak terkait. Perubahan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri secara tertutup, melainkan harus menunjukkan kebersamaan yang tidak bisa diterima begitu saja. Perubahan adalah sebuah usaha keras, yang menuntut konsistensi, dan sekaligus membuka peluang untuk terjadi pertempuran sampai ‘berdarah-darah’. Barangkali ini terdengar terlalu hiperbolistis, namun sebenarnya perubahan secara substansial memang harus mampu mengubah mindset, atau ideologi dasar yang kita yakini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Manusia pada dasarnya makhluk yang selalu membuat label-label. Kita meletakkan berbagai persoalan dengan frame of reference yang kita miliki. Orang-orang diletakkan dalam kategori tertentu, baik-buruk, cantik-buruk muka, muda-tua dan lain-lain. Kebanyakan orang sangat puas dengan hanya berhenti menikmati frames of reference yang tidak terlalu luas. Artinya mereka cukup puas dengan apa yang mereka miliki dan tidak mudah tertantang dengan ide-ide baru. Bahkan ketika ada hal-hal baru, orang cenderung overcritical, tidak mau melihat potensi dari hal baru tersebut. Barangkali mereka hendak bertindak hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi apapun yang ada di sekeliling mereka. Namun, yang justru sering terjadi adalah bahwa kehati-hatian tersebut lebih untuk menutupi ketidakmauan untuk mengambil resiko. Memakai frames of reference yang baru berarti mencari arti baru, yang juga berarti berada dalam ketidakpastian. Akibatnya jelas, tidak nyaman. Dan orang pada umumnya tidak suka dalam ketidaknyamanan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hanya sedikit orang yang senantiasa terbuka untuk selalu memperbaiki frames of reference ini. Mengapa demikian? Orang yang selalu memperbaiki frames of reference-nya adalah orang yang selalu bertanya, mempersoalkan, membaca, dan mengolah apa yang dihadapinya. Dengan kata lain, orang yang selalu berani terbuka, menantang pendapat-pendapat orang lain, mempersoalkan apakah sesuatu benar begitu, dan yang lebih penting lagi, berani mengambil posisi di mana kita berdiri! Mengambil posisi atas suatu isu tertentu yang memang membuat kita menjadi kelihatan di mana kita berada: bahkan sekalipun kita dihadapkan dengan pandangan-pandangan tidak disukai oleh orang lain. Sekalipun sikap yang kita ambil sama sekali tidak populer di mata orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendar-pendar perubahan yang keluar dari api yang menyala-nyala dalam diri kita haruslah tampak terang untuk bisa memberi pengaruh di lingkup kerja kita. Dan inilah inti persoalan dalam kehidupan kita yang sesungguhnya: PERSOALAN SPIRITUALITAS. Apakah yang benar-benar kita kejar dalam hidup kita? Apakah yang membuat kita yakin dengan apa yang kita lakukan? Mengapa kita memiliki keberanian untuk mengambil resiko tidak disukai oleh orang-orang lain yang tidak sepakat dengan apa yang kita yakini? Bagaimana tetap memastikan bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya membawa perubahan yang lebih besar untuk orang lain? Sekalipun ditolak pada awalnya, namun akhirnya orang lain mau tidak mau mengakuinya? Dibutuhkan kekuatan spiritual yang sangat kuat, mantap, terolah dengan baik, dan terrawat dengan seksama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah tesis dasar yang saya miliki. Bahwa sebenarnya inti dari sebuah perubahan digerakkan dari jati diri kita sebagai manusia yang mencari makna. Dalam mencari makna itu, kita dihadapkan dengan berbagai tantangan yang tidak mudah. Dan karena itu, kita perlu senantiasa terbuka untuk mengolah diri kita, mempertajam frames of reference yang kita yakini dan sekaligus memperkayanya. Ini bukan hal yang mudah, dan memang tidak ada kata MUDAH untuk sebuah prestasi yang tercatat dalam tinta emas sejarah. Bangunan piramid yang telah bertahan lebih dari 4000 tahun dan menimbulkan kekaguman sepanjang masa dibuat dengan cucuran darah dan keringat. Ribuan nyawa melayang untuk membangun dan mengangkat balok-balok batu besar untuk mendirikan bangunan simbol keabadian para raja Mesir tersebut. Teknologi untuk mengangkat batu-batu besar dan masif pun telah berkembang pada masa itu. Pekerjaan yang melibatkan pemikiran para ahli arsitektur, para pemikir dengan daya intelektualitas yang tinggi, dan para artis yang luar biasa kreatif. Dan terlebih: kekuatan militer sebuah kekaisaran yang menjamin stabilitas negara. Hasilnya adalah serangkaian bangunan piramid yang luar biasa besar, indah, dan sampai hari ini pun orang masih tidak bisa berhenti mengaguminya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masjid terindah Taj Mahal membutuhkan waktu 22 tahun untuk dibangun … suatu proses yang panjang dan melelahkan. Itu artinya apa? Tidak ada perubahan yang besar dan substansial yang dilakukan tanpa perjuangan yang luar biasa keras. Ya … kerja keras, termasuk menanyai siapa diri anda, ke mana anda akan mengarahkan langkah kaki, begitu kematian anda menjemput, hal-hal apa saja yang hendak anda dengar sebagai pujian atas prestasi-prestasi anda … pertanyaan-pertanyaan yang menyontak kesadaran diri kita. Beranikah kita menjawabnya? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itu pertanyaan-pertanyaan spiritual. Perjalanan spiritualitas kita lah yang menjelaskan mengapa pula kita tetap yakin bahwa tugas perutusan dalam bidang pendidikan memang tidak boleh jatuh ke tangan-tangan kotor kapitalisme&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;… dan karena itu pula kita harus mempertahankannya mati-matian … demi kelangsungan evolusi antropologis itu sendiri (kata Edgar Morin, filsof Perancis). Buku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;A New Earth &lt;/i&gt;karya Echart Tolle telah menjadi pilihan Oprah Winfrey sebagai bahan Book Club reading. Buku ini belum bisa aku dapatkan, namun aku merasa beruntung dikenalkan dengan i-Tunes oleh seorang Pak Prast yang luar biasa. Dengan itu pulalah aku bisa download sepuluh seri MP3 files dari Oprah Winfrey show, yang beberapa tema pentingnya akan menjadi bagian pencarian di masa-masa yang akan terlalu lama lagi … dan semoga segera muncul di posting berikut-berikutnya … &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-6155254413563983837?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/6155254413563983837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=6155254413563983837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6155254413563983837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6155254413563983837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/05/perjalanan-spritual.html' title='Perjalanan Spritual'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1135627022283696910</id><published>2008-05-31T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T00:24:12.705-07:00</updated><title type='text'>Sekedar kebetulankah?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Minggu, 25 Mei 2008&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bila anda memang benar-benar menghendaki sesuatu dan mengerahkan segala daya upaya untuk mencapainya, niscaya seluruh alam pun akan mendukung anda. Itu kurang lebih pernyataan sang penulis besar Paulo Coelho. Dukungan yang kita peroleh dapat berupa banyak hal. Kesamaan pandangan, dukungan atas apa yang kita yakini, ataupun pengalaman yang mirip. Dukungan bisa berupa pertemuan dengan orang lain yang kebetulan memiliki serangkaian gagasan yang sama. Dukungan pun juga bisa berupa perjumpaan dengan pengalaman melalui berbagai macam komunikasi. Apa yang saya alami dua hari ini menjadi gambaran nyata. Di hari Sabtu, saya mengungkapkan keprihatinan dengan hilangnya sosok yang berkarakter kuat dalam sejumlah orang bereputasi baik. Sehari sesudahnya, saya menjumpai tulisan yang menegaskan pandangan saya … apakah ini sekedar kebetulan? Ataukah memang Coelho benar dalam hal ini? Apa yang saya pikirkan dan yakini mendapat dukungan dari analisis yang menjadi keprihatinan orang lain yang sama sekali tidak saya kenal. Harian &lt;i style=""&gt;Kompas &lt;/i&gt;membuat kami bertemu. Dampaknya nyata, saya semakin melihat kebenaran Paulo Coelho … pikirkan hal positif terus-menerus, dan hal-hal lain yang positif akan mendukung pemikiran positif tersebut … awal untuk mengubah dunia, setidaknya dunia dalam dunia mikro kita lebih dulu! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hari Studi Bersama &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rupanya, makin besar skala kebocoran UN dari waktu ke waktu. Bagaimana menangani persoalan ini?” Pertanyaan tersebut diajukan dalam acara studi bersama mengenai dua standar pendidikan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Sang penampil tampak kesulitan menjawab pertanyaan itu. Dengan ragu-ragu dia menjawab, “Barangkali perlu diciptakan mekanisme yang lebih baik. pengawas independen dari Perguruan Tinggi sudah dilibatkan. Beberapa dosen dari kita pun juga sudah dilibatkan. Tapi saya juga tetap bingung. Entah benar atau tidak informasi yang saya dengar ini. Kunci jawaban pun sebenarnya dibocorkan dari Dinas Pendidikan sendiri. Kalau itu yang memang terjadi, bagaimana kita bisa menghindari kebocoran itu?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan agak nakal saya pun menyahut, “Apakah ada yang salah dengan pembocoran/pelanggaran itu?” Sang penampil pun hanya tersenyum. Tidak melanjutkan tanggapan yang saya lontarkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Harus saya aku, bahwa pada titik ini saya tiba-tiba terjebak untuk ‘melabeli’ sang penampil sebagai sosok yang tidak berani mengambil resiko dengan mengemukakan posisinya secara jelas. jawaban-jawaban yang disampaikan memang bagus dan benar-benar menunjukkan bahwa penampil orang yang berkompetensi dengan bidang yang ditampilkannya. Bahkan, dua orang penampil itu pun telah memiliki reputasi nasional karena telah tergabung dalam berbagai komisi untuk program pendidikan. Pengalaman dan pemahaman tentang beragam persoalan memang tidak bisa lagi dipersoalkan. Namun, yang menurut saya tetap hilang adalah sikap yang jelas dan tegas: keberanian dalam mengambil sikap terhadap suatu isu yang sangat krusial. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Begitu sampai di rumah saya pun seperti biasanya mengangkat isu tersebut dalam diskusi kecil dengan sang istri. “Begitu banyak orang yang pintar, tetapi kok tampaknya tidak berani tampil transparan secara gamblang tentang sikap politik tertentu yang dia pilih. Mereka tidak mau (atau tidak berani) menampilkan orisinalitas mereka. Kenapa justru ketika ada suatu isu kritis, mereka malah menjawab dengan bahasa yang “sangat standar”? Saya yakin itu bukan karena mereka tidak memiliki analisis mendalam terhadap bidang kajian tertentu. Apakah memang tidak ada sikap tertentu yang layak untuk diperlihatkan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kembali ke pertemuan studi bersama itu, pada penghujung acara itu saya mengungkapkan dengan tegas. “Berbagai pelanggaran yang terjadi secara moral tidak salah. Mengapa? Mereka melakukannya atas nama hati nurani. Secara hukum, justru Wapres Jusuf Kalla dan Mendiknas Bambang Sudibyo lah yang keliru. UUSPN sendiri mengamanatkan bahwa ujian untuk mengukur keberhasilan studi adalah hak istimewa guru. Dua tokoh publik itu malah beramai-ramai melanggar UU dengan mengeluarkan PP No. 19 yang selama ini dipakai untuk mengesahkan kebijakan menggunakan UU sebagai penentu kelulusan. Sesuai dengan UU, sebenarnya UN tidak layak dipakai untuk penentu kelulusan, tetapi hanya sebagai alat PEMETAAN. Dalam hal ini, para pelanggar UN dinilai sebagai kriminal yang layak diproses secara hukum. Di sini lah terjadi carut marut persoalan. Sebenarnya, justru dua tokoh ini lah yang mesti diproses secara hukum lebih dulu, wong mereka jelas-jelas menggunakan kekuasaan untuk menggolkan peraturan yang menabrak UUSPN. Para pelanggar yang memfasilitasi kecurangan UN tidak akan melakukan pelanggaran kalau tidak ada kebijakan Wapres dan Mendiknas yang benar-benar melanggar UU tersebut. Kebijakan memakai UN sebagai “alat manjur” untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sangat kompleks telah memunculkan beragam inkonsistensi, dan para pelanggar yang benar-benar sadar melakukan pelanggaran (dengan membocorkan kunci jawaban UN) adalah para pejuang hati nurani. Tapi di sinilah kekuasaan hegemonistis negara menampakkan taringnya. Mereka tidak membutakan diri dari realitas bahwa mereka sendirilah yang menyulut api. Mereka menyalahkan asap yang membuat mata pedih, tetapi gagal melihat bahwa sebenarnya dalam diri merekalah persoalan itu berakar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kesimpulan yang mau saya ajukan sederhana saja. Para pelanggar tersebut mempresentasikan &lt;i style=""&gt;civil disobedience &lt;/i&gt;yang sebenarnya sah-sah saja. Mereka sudah selayaknya memperjuangkan kebenaran sesuai hati nurani mereka.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hari studi bersama tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Mei 2008. Hari berikutnya, kritikan saya terhadap sejumlah tokoh bereputasi baik seakan mendapatkan dukungan. Julius Pour (wartawan dan penulis biografi) membuat resensi buku American Generalship (&lt;i style=""&gt;Jangan sekedar tebar pesona&lt;/i&gt;, Kompas, 25/5/08). Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan analisis setajam apapun tidak menjadi jaminan akan keberhasilan dalam kepemimpinan perang. Berbagai unsur, seperti kecerdasan, keterampilan, kemampuan analisis, kecakapan wicara, dan serentetan reputasi di masa lalu, akan sia-sia saja tanpa dilandasi dengan sebuah karakter yang kuat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1135627022283696910?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1135627022283696910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1135627022283696910' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1135627022283696910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1135627022283696910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/05/sekedar-kebetulankah.html' title='Sekedar kebetulankah?'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-8743676582760773249</id><published>2008-05-31T00:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T00:18:27.358-07:00</updated><title type='text'>Saya temukan diri saya bermakna ketika menulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;Orang pada hakekatnya beragam dalam cara pandang, bentuk fisik, tingkat kesehatan, latar belakang, dan nasib. Itu bukan hal yang perlu dipersoalkan. Namun pertanyaan mengenai apa yang membuat seseorang lebih berhasil dibandingkan dengan orang lain tetap saja menarik untuk diajukan. Ada orang yang memiliki ketenangan luar biasa dalam menjalani hidup, sekalipun dihadapkan dengan berbagai macam tugas dan tanggung jawab. Dengan kepala dingin, hati penuh rasa percaya diri, langkah kaki ringan namun tidak tergesa dia menangani satu-persatu persoalan yang datang silih berganti. Sementara, orang-orang lain sudah kebingungan yang bahkan tidak seberat yang dihadapinya, dia tetap mampu tampil elegan, bahkan dengan ide-ide segar yang mengejutkan. &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Harus kita akui, gambaran sosok seperti di atas lebih pantas disebut sebagai sebuah perkecualian. Dia tidak mewakili gambaran dan realitas normatif dalam begitu banyak orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan lebih lanjut tentu saja adalah: apa yang membedakan sosok tenang, kompeten, dan sekaligus strategis ini? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perkembang-tumbuhan sosok pemimpin yang bisa membawa serta perubahan sangat ditentukan oleh banyak faktor. Tidak sedikit bahwa para pemimpin besar yang berhasil memang telah semenjak kecil dilibat-kenalkan dalam peran-peran kepemimpinan di sekeliling mereka. Dengan melihat peran orang tuanya yang aktif dalam kegiatan di kampung atau kegiatan keagamaan tertentu, anak belajar peran-peran kepemimpinan secara langsung. Anak-anak usia yang lebih tua di sekolah cenderung diberi tanggung jawab sebagai ketua kelas karena kematangan usia dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Ini juga menjadi pengalaman pertama dalam peran-peran kepemimpinan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Faktor lain yang ikut berperan dalam menentukan perkembangan kepemimpinan juga bisa berangkat dari semangat untuk berprestasi. Memang, dalam masyarakat kita, istilah ‘ambisius’ dimengerti secara terbatas, identik dengan kecenderungan egoisme. Namun, sosok yang memiliki aspirasi besar untuk menjadi pemimpin tidak bisa dipisahkan dari ambisi besar untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang di sekitarnya. Orang-orang dengan ambisi untuk berpengaruh ini sering menjadi magnet bagi orang-orang disekitarnya dan menjadi “penentu arah angin”, bukannya sebagai “bendera” yang patuh pada arah mana angin berhembus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Studi mengenai kepemimpinan memang bermuara pada pemahaman bahwa kepemimpinan adalah wilayah yang sangat rumit untuk dikaji, karena di dalamnya terlibat beragam macam aspek. Pengalaman dari keluarga di masa kecil, pengalaman menduduki peran-peran kepemimpinan di masa muda, dan cita-cita dasar dari dalam diri seseorang yang menggebu. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah gabungan antara “bakat, seni, dan sekaligus ilmu”. Sosok kepempinan memang menuntut bakat dari dalam diri seseorang, karena sikap dasar orang yang berani mengambil resiko tidak bisa semata-mata dilatihkan. Seseorang harus secara bawaan memiliki ‘bakat untuk berani tampil beda, sekalipun orang-orang di sekelilingnya memandangnya dengan sinisme dan ketidakpedulian.’ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepemimpinan sebagai ‘seni dan ilmu’ mengacu pada kenyataan bahwa sebenarnya bekal bakat saja tidaklah mencukupi. Perlu adanya ruang gerak dan kesempatan bagi sang calon pemimpin ini untuk berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baik ‘seni dan ilmu’ sama-sama bisa dipelajari. Artinya, seorang calon pemimpin juga harus mendapatkan pelatihan yang memadai. Ada serangkaian ‘rahasia’ yang bisa diajarkan untuk membujuk dan menggerakkan orang. Ada sisi-sisi teknikalitas yang bisa dikuasai dengan lebih cepat dengan diskusi, membaca, dan berdebat yang dihadirkan melalui kelas-kelas mengenai kepempimpinan. Orang yang sama barangkali membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mendapatkannya secara langsung dari pengalaman nyata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Salah satu aspek yang paling penting dari sosok kepemimpinan barangkali muncul dari cita-cita dasar yang menggerakkannya untuk melakukan banyak hal. Cita-cita dasar yang kuat, yang pada proses pembentukannya selalu mendapatkan berbagai macam hambatan, tantangan dan kesulitan, baru akan menemukan momentum untuk bertumbuh secara subur bila sang pemimpin itu sendiri selalu memiliki energi lebih untuk selalu belajar. Belajar dan belajar dari berbagai macam fenomena dan pengalaman hidup yang dihadapi. Ini sisi spiritualitasnya. Sosok yang mampu belajar secara berkelanjutan memiliki kemampuan untuk mundur satu atau dua langkah, berhenti sejenak untuk memberi makna terhadap berbagai macam pengalaman yang dia alami, dan kemudian membuat lompatan besar ke depan. Tidak heran bahwa sosok macam ini selalu dikenal dengan letupan-letupan (walaupun barangkali tidak terlalu kentara seiring dengan pertambahan usia) emosi dan semangat untuk berbagi. Orang macam ini tidak memiliki rasa lelah untuk berinteraksi dengan orang lain, memiliki antusiasme yang mengagumkan untuk mendengarkan orang-orang di sekelilingnya. Dia selalu mampu menebarkan hawa optimisme bahkan ketika banyak hal terasa tidak mendukung. Di sini, spiritualitas yang mendasarinya membentuk mentalitas untuk tetap mampu menjalani hidup sekalipun tidak ada kejelasan dalam hidup ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menulis adalah salah satu cara jitu untuk berinteraksi dengan diri saya. Menulis adalah kesempatan ketika saya bisa bertemu, berbicara, bernegosiasi, dan bahkan berkonflik dengan diri saya. Echart Tolle menyebut suatu contoh yang unik: “Sering kita bergumam kepada diri kita: kamu bisa kalau kami melakukannya dengan benar.” Kata-kata itu kita ajukan kepada diri kita sendiri seakan-akan kita membuat pemisahan diri kita dalam dua sosok yang berbeda. Hal ini mau menunjukkan bahwa sebenarnya ada aspek ‘ego’ – suatu rangkaian penilaian tidak sadar yang sering menentukan berbagai kecenderungan yang kita miliki – yang sangat kuat dan membuat kita seperti ini adanya. Di samping sosok ‘ego’, dalam diri kita ada ‘true-self’ – diri kita yang sesungguhnya. Keduanya sulit dipisahkan, namun ketika kesadaran kita akan hidup ini mencapai titik kepenuhannya, kita tidak akan kesulitan membedakan apakah suara yang keluar dari diri kita adalah ego atau true-self itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menulis merupakan wahana bagi diri saya untuk mempertemukan dua sosok tersebut. sejauh ini menulis menjadi teman yang paling setia, menjadi penengah atas kedua sosok tersebut. Terus terang saja, ketika proses menulis telah menjadi bagian tidak terpisahkan, true-self menjadi tampak lebih jelas suaranya. Ini terjadi ketika dihadapkan pada suatu persoalan emosional – misalnya ada seorang mahasiswa yang secara langsung mengkritik saya di depan umum. Saya mau tidak mau harus menentukan sikap. Ego saya akan memberontak, dan tidak menerima pelecehan macam ini. Ego saya pasti akan mendorong saya untuk mengingat-ingat mahasiswa itu. Tidak hanya namanya yang harus diingat, tetapi juga nomor mahasiswanya sekalian. Agar ketika masa penilaian tiba, dengan mudah saya akan menjatuhkan pembalasan dengan tidak meluluskannya. Nilai E atau F adalah bentuk pembalasan yang paling setimpal. Itulah sang ego. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;True-self mengajariku untuk berpikir kritis. Marah atas pelecehan tidak salah. Namun, membalas dendam dengan menggunakan kekuasaan adalah hal yang tidak bisa diterima. Itu merupakan kehinaan yang teramat sangat untuk ukuran seorang dosen. Itu suara true-self. Dia mengajari saya untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah runtuh oleh ratap dan tangis berkepanjangan ketika ada kedukaan yang menimpa. Dan true-self juga mengajarkan diri saya untuk tidak menyalahkan soal ujian yang sulit. True-self mengajarkan diri saya untuk menerima kekalahan dengan gentle. Bahkan, ketika nilai hasil akhir dari suatu mata Matakuliah jelekpun, true-self mengajari saya untuk berpikir positif. Menyadari kekonyolan dan kesalahan karena tidak jauh-jauh hari belajar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menulis menjadi kekuatan yang luar biasa besar dalam menciptakan suasana nyaman dalam hati, karena dua aspek di dalam diri saya menjadi lebih mudah berdamai bahkan dalam suasana yang tidak menguntungkan sekalipun. Keterampilan menulis memang berperan sebagai sasaran akhir sekaligus sebagai alat untuk mencapai sasaran akhir yang kita cita-citakan. Di situ ada refleksi. Di situ ada kesediaan untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Di situ ada tawa lepas … tawa atas kekonyolan diri sendiri. Dari sanalah muncul api yang menyala-nyala dan menerangi sekeliling saya … menjadi magnet yang menarik gelombang-gelombang kebaikan di antara orang-orang … &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-8743676582760773249?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/8743676582760773249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=8743676582760773249' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8743676582760773249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8743676582760773249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/05/saya-temukan-diri-saya-bermakna-ketika.html' title='Saya temukan diri saya bermakna ketika menulis'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-292531539237366295</id><published>2008-05-31T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T00:14:06.282-07:00</updated><title type='text'>Berdamai dengan idealisme</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;27 Mei 2008, pk. 01.52&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika aku membaca kembali apa yang aku tulis para minggu ketiga Maret lalu, aku merasakan menemukan diriku yang berbeda pada akhir Mei ini. Ada beberapa tulisan yang sangat berbau “judgmental” di sekitar bulan Maret lalu. Saya seakan-akan menemukan berbagai kesalahan di dalam diri orang lain, dan dengan ringannya memasangi label atas mereka. Aku adalah sosok idealis yang memang mudah menemukan kesalahan dalam diri orang lain. Dan aku akui, aku cukup malu dengan temuan itu. Ya, aku menulis tentang &lt;i style=""&gt;detachment &lt;/i&gt;yang kalau dibaca sangat menghakimi! Aku juga menulis kritik yang sangat tajam tentang ketakutan sejumlah orang untuk berteriak secara lantang ketika ada seorang atasan yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri untuk berjalan-jalan keluar negeri. Aku juga menulis tentang gagalnya sejumlah orang yang telah meraih gelar doktor untuk membawa perubahan yang signifikan bagi program studi. Dan semuanya terasa terlalu tajam, tanpa &lt;i style=""&gt;tedheng aling-aling &lt;/i&gt;dan tentu saja bisa saja sangat menyakitkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ada sejumlah pengalaman unik yang aku jumpai dalam beberapa terakhir ini, terutama ketika aku membaca kembali buku dari Parker Palmer yang berjudul &lt;i style=""&gt;To know as we are known &lt;/i&gt;dan membaca dengan pelan-pelan buku &lt;i style=""&gt;the Secret &lt;/i&gt;karya Rhonda Byrne (dipinjami pak Sarkim). Kedua buku tersebut menjadi alat penegas dari satu rangkaian acara &lt;i style=""&gt;book club &lt;/i&gt;oleh Oprah Winfrey yang mengangkat buku &lt;i style=""&gt;A New Earth &lt;/i&gt;karya Eckhart Tolle. Sepuluh seri rekaman yang berdurasi selama kurang lebih 90 menitan memang belum selesai aku dengarkan. Namun, dampak yang aku peroleh memang luar biasa. Aku sangat rajin menikmati proses pembelajaran yang mengejutkan sekaligus menampar kesadaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada hari ini, begitu mulai menyadari dan mengolah makna &lt;i style=""&gt;labeling &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;ego &lt;/i&gt;serta &lt;i style=""&gt;true self &lt;/i&gt;yang dihadirkan dalam diskusi Oprah Winfrey dan Eckhart Tolle&lt;i style=""&gt;, &lt;/i&gt;aku mulai merasakan bahwa sebenarnya aku bisa menentukan pilihan-pilihan untuk berpikir kritis, atau katakanlah idealis, tanpa mengorbankan idealisme tersebut. Stuart Yeh pernah menulis apa arti dari seseorang yang berpikir kritis: kemampuan untuk hadir secara seimbang dalam dua pandangan yang saling berseberangan. Paling tidak hari Selasa, 27 Mei 2008, saya mengolah betul makna kekuatan berpikir kritis seperti yang tercermin dalam &lt;i style=""&gt;rethoric studies &lt;/i&gt;ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Beginilah hasil permenungan yang dapat aku simpulkan dari goresan-goresan tangan sesudah rapat persiapan visitasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Argumentasi – kemampuan untuk menunjukkan kemampuan berpikir kritis dinilai sebagai salah satu parameter dan sekaligus teknik pembelajaran yang efektif. Pola pemikiran argumentatif tidak hanya bermanfaat agar kita tetap kritis, tetapi juga menjadi alat untuk menjamin pola hubungan sosial yang &lt;i style=""&gt;lebih fair, &lt;/i&gt;adil, dan tentu saja beradab. Mengapa? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tadi pagi, begitu saya mendengar bahwa salah seorang yang kami kenal di kampung akan mengadakan perhelatan besar-besaran sebagai perayaan sunatan, muncul dalam kepala saya penilaian yang tajam: perhelatan yang sulit diterima akal sehat!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam hati kecil, saya berpendapat bahwa keputusan mengadakan perhelatan itu sendiri bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan dalam jaman seperti ini. Mengapa? Pertama, tentu terjadi pemborosan sumber daya tidak perlu. Daripada menghamburkan uang untuk pesta-pesta, kenapa tidak untuk hal-hal lain yang lebih bernilai investasi? Ditabung untuk dana pendidikan, misalnya? Kedua, beban sosial yang ditanggung masyarakat tentu tinggi. Memutuskan mengadakan perhelatan, menurut hemat saya, seakan-akan ‘memaksa orang lain untuk membiayai pemborosan’ karena orang-orang kampung, relasi dan pihak-pihak lain terpaksa harus berkontribusi dengan ‘kondangan’. Menurut pemikiran saya, biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat sebagai akibat keputusan perhelatan macam itu terlalu mahal untuk dibayar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sampai pada titik ini, saya mencoba untuk diam sesaat. Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan Eckhart Tolle yang menyatakan bahwa manusia sering terjebak untuk ‘melabeli’ orang-orang, kondisi, lingkungan, atau pengalaman nyata yang mereka jumpai. Meletakkan label pada hal-hal yang dijumpai tentu saja tidak serta merta negatif, namun sering terjadi bahwa kebiasaan label-melabeli ini justru menutup pintu ‘aliveness’ (begitu hidupnya realitas objektif) dari berbagai hal yang kita jumpai. Dengan kebiasan label-melabeli tersebut, kita sudah memasang patokan atau standar yang lebih berfungsi sebagai filter untuk menyaring apapun yang masuk dan kita tangkap melalui indera-indera kita. Sehingga, apa yang kita benar-benar mampu kita tangkap bukannya kepenuhan pengalaman yang sangat hidup dan alamiah serta genuine, tetapi sesuatu yang sudah &lt;i style=""&gt;skewed &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan membuat kita tidak mendapatkan gambar orisinal dari realitas yang kita jumpai. Telah terjadi proses otomatisasi yang membuat kita cepat mengambil kesimpulan, dan menerima banyak hal sebagai kebenaran, tanpa benar-benar mempertimbangkan arti sesungguhnya yang bisa kita gali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika menyadari realitas manusia yang suka label-melabeli ini, saya akhirnya benar-benar mampu melihat secara jernih bahaya yang menunggu dari kebiasaan macam ini. Ketika pemikiran kritis tidak diasah secara sungguh-sungguh dan secara bertanggung jawab, dengan mudah kita terjebak ke dalam pragmatisme berlebihan. Orang yang berpikir kritis adalah orang yang bisa menghadirkan dua sudut pandang yang saling berseberangan. Dalam kondisi seperti ini, sekalipun secara intuitif kita memiliki preferensi tertentu, kita tidak mudah dengan begitu saja mengamini suatu pandangan yang langsung kita setujui. Kita mundur sejenak, dan melihat persoalan dengan lebih kompleks. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam kaitannya dengan hajatan sunatan yang dipestakan, barangkali akan lebih bijaksana kalau saya menjalankan strategi macam ini. Pertama-tama tentu dengan bertanya: mengapa ada mekanisme hajatan yang dipestakan? Dari proses bertanya itu, saya akhirnya menjumpai tiga alasan: (a) pengakuan sosial, (b) simbol dan sarana perekat interaksi sosial, dan (c) ekonomi. Bagaimanapun juga, hajatan yang dirayakan dalam pesta menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan sosial. Merayakan pernikahan di Wisma Kagama tentu membawa dampak pengakuan sosial yang berbeda dengan merayakan pernikahan di Hotel Sheraton. Wisma Kagama bagaimanapun juga kalah kelas dan tentu saja kalah wuah … Pengakuan sosial merupakan salah satu kebutuhan manusia. Di samping itu, pesta memainkan peran sebagai simbol dan sekaligus perekat interaksi sosial. Dalam suasana pesta, berbagai macam orang dari berbagai kalangan bisa saja bertemu dan berinteraksi. Kenalan-kenalan yang tersebar ke dalam berbagai lingkup sosial memiliki kesempatanuntuk saling bertemu, dan bisa jadi akan memperluas interaksi sosial tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah: pesta-pesta selalu merangsang pergerakan uang. Konsumsi makanan pasti akan jauh lebih meningkat. Berbagai pelayanan yang ada di dalam masyarakat akan dimobilisasi. Pemusik, penyanyi, pembawa acara, sound system, event organizer, jasa transportasi, busana, boga, dan tata panggung serta dekorasi pasti akan ‘kecipratan’ rejeki dengan pesta-pesta macam ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah perjalanan diri saya untuk selalu belajar. Belajar untuk kritis tanpa harus menghakimi … dan pada waktu yang sama tidak kehilangan idealisme … Perjalanan masih panjang, namun sekarang pola-polanya tampaknya mulai kelihatan menjadi lebih jelas lagi! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-292531539237366295?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/292531539237366295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=292531539237366295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/292531539237366295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/292531539237366295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/05/berdamai-dengan-idealisme.html' title='Berdamai dengan idealisme'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-2878341224543579833</id><published>2008-05-31T00:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T00:05:43.402-07:00</updated><title type='text'>Misa akhir semester</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;(16&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mei 2008) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Cukup unik cara Rm. Paul menggambarkan sejumlah mahasiswa yang memilih untuk tidak mengikuti ujian sisipan atau akhir. Daripada pusing-pusing dan bekerja keras mengerjakan soal, lebih baik berjalan-jalan di luar dan tidak menyiksa diri dengan pemecahan soal yang sudah dipastikan tidak akan mampu diselesaikan dengan baik. Lebih baik gagal dengan tidak merasa sakit, daripada gagal dan sakit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Bacaan hari ini tentang talenta yang dibagikan ke tiga orang. Orang pertama mendapatkan lima, kedua tiga dan ketiga satu. Dua orang pertama bertanggung jawab penuh, dengan mengembangkan uang tersebut. Orang pertama mendapatkan laba 5 talenta, dan orang kedua mendapatkan 3 talenta. Orang ketiga sebaliknya, malah menyembunyikan uangnya di tanah. Begitu sang Tuan kembali, ketiga orang tersebut dipanggil, dan diminta untuk melaporkan perolehannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Yang cukup unik dari cerita perumpaan berusia lebih dari 2000 tahun tersebut adalah sikap dasar dari orang ketiga yang dibekali dengan satu talenta tersebut. Dia bukannya melakukan tugasnya untuk mengembangkan talentanya, tetapi malah menyembunyikannya. Di sinilah letak persoalannya. Dia meyakini bahwa sang Tuan adalah sosok yang tidak adil, yang mengambil sesuatu dari hal yang tidak ditanamnya. Pertama-tama dia menyalahkan sang Tuan yang sebenarnya bermurah hati memberi BEKAL TALENTA. Berikutnya, dia meyakini bahwa tidak ada satu pun hal yang dilakukan, kecuali memendam dan menyembunyikan talenta tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Rm. Paul dengan cantiknya membuat kaitan antara sosok bertalenta 1 dengan kebiasaan sejumlah mahasiswa yang menyerah kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Mahasiswa tersebut memilih “memendam” talentanya, daripada “mengadu peruntungan” dengan bersusah-sakit-payah mengerjakan soal. Ini adalah dosa utama. Karena mereka sudah meyakini bahwa mereka &lt;i style=""&gt;tidak akan pernah mampu. &lt;/i&gt;Itulah kesalahan terbesar! Merasa tidak memiliki peluang lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Dengan kata lain, sang mahasiswa tersebut sebenarnya gagal mensyukuri apa yang diberikan kepadanya … yang sesungguhnya dikaruniakan kepadanya. Itulah persoalan utamanya. Persoalan ketika tidak ada rasa syukur atas berkat yang diterimanya! Ini lah dosa terbesar, yaitu ketika orang gagal melihat karunia dan justru malah menyalahkan orang lain. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-2878341224543579833?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/2878341224543579833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=2878341224543579833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/2878341224543579833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/2878341224543579833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/05/misa-akhir-semester.html' title='Misa akhir semester'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-6502486519397392724</id><published>2008-04-16T23:11:00.000-07:00</published><updated>2008-04-16T23:27:12.070-07:00</updated><title type='text'>Change ...</title><content type='html'>Perubahan? Gampang-gampang sulit. Mengubah kebiasaan tidak lah mudah bagi banyak orang. Bagi sebagian orang lain tidak terlalu sulit. Namun, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan konsistensi dalam perubahan itu sendiri? Apakah memang benar-benar sikap dan semangat perubahan menjadi bagian integral dalam hidup? Atau hanya menjadi sesuatu yang dilakukan dengan penuh antusiasme pada waktu-waktu pertama, dan sesudah itu hilang tidak berbekas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu berlalu sudah. Aku melibatkan diri dalam sebuah upaya kecil untuk Prodi PBI USD: menulis proposal Hibah INHERENT K-1. Isinya sederhana: mengajukan proposal untuk mendapatkan pendanaan pengembangan modul pembelajaran berbasis digital. Tidak banyak memang untuk ukuran sebuah Hibah. Namun, kalau memang mendapatkan pendanaan, ini akan mengubah berbagai hal yang fundamental di Prodi. Sudah terlalu banyak contoh. Fakultas Farmasi USD sebelumnya mendapat nilai C untuk akreditasi. Setelah mendapatkan Hibah A-1 (kalau tidak salah kurang dari 300 jt), ada perubahan besar di dalamnya. Akreditasi langsung jadi A. Dosen-dosennya terbiasa bekerja keras. Ada skema external accountability yang menjadi parameter untuk peningkatan kinerja seluruh pihak terkait. Hibah A-3 yang mengucurkan dana lebih dari 2 M rupiah untuk prodi itu semakin menegaskan membaiknya kinerja Fakultas Farmasi. Jangan heran, fakultas itu berubah menjadi sebuah institusi yang sangat kuat baik dalam hal sumber daya manusia dan fasilitasnya. Para dosennya cenderung bisa bekerja lebih 'cak-cek'. Coba apa yang terjadi dengan prodi-prodi yang belum pernah mendapatkan hibah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi 'ngobrol' sana-sini, kelihatan sibuk dan tidak menghasilkan sesuatu yang produktif menjadi ciri khas utama. Gesekan-gesekan yang terjadi cenderung emosional. Identitas diri masih dicari-cari, karena hati mudah terluka akibat ucapan-ucapan yang ditanggapi dengan sensitivitas yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, adanya hibah yang memaksa sejumlah pihak di dalamnya untuk bekerja kolaboratif, mau tidak mau membuat orang untuk berpikir strategis. Mereka terbiasa untuk membuka diri dan bekerja sama. Para dosen di dalamnya tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan serangkaian proyek yang diukur melalui parameter yang pasti. Tidak ada waktu untuk sakit hati kalau ada perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang aku impikan. Semoga, Hibah K-1 yang kami ajukan kali ini benar-benar menjadi anugerah untuk meningkatkan kinerja Prodi PBI yang sebenarnya merupakan salah satu prodi paling potensial dalam hal sumber daya dan tradisi yang kuat. Aku tentu saja tidak akan terlalu banyak menikmati perbaikan yang akan muncul karenanya. Karena toh aku akan meninggalkan prodi PBI ini. Sepulang dari studi lanjut nantinya, aku harus bekerja di bidang lain ... Jadi motivasi utama yang mendorongku adalah: sebuah mimpi untuk menanam benih semangat kolaboratif. Semangat yang tidak bisa digantikan oleh apapun ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-6502486519397392724?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/6502486519397392724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=6502486519397392724' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6502486519397392724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6502486519397392724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2008/04/change.html' title='Change ...'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-7588430087416063655</id><published>2007-10-26T19:51:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T19:53:01.310-07:00</updated><title type='text'>Memang, menghakimi lebih mudah daripada memahami</title><content type='html'>Menurutku, judul skripsi dari salah seorang mahasiswa yang mau maju pendadaran skripsi bulan Oktober ini cukup unik. Aku sendiri lupa dengan formulasi detailnya, namun secara umum seperti ini … developing a set of instructional materials … to teach life values … bla bla bla … Uniknya, bila aku merasa tertantang dengan judul yang “berani dan khas” macam itu, justru wacana komunitas dalam sebuah Ruang Dosen di sebuah Prodi yang “hebat” sebaliknya. “Ini ngapain sih anak … kok gaya-gaya dengan judul yang aneh-aneh. Sok-sokan melulu. Anak-anak sekarang ini aneh-aneh saja.”  Intinya, si anak dinilai salah karena ngowahi padatan – menghancurkan tradisi. Kreativitas adalah dosa. Komentar yang miring, dan bahkan ditelingaku sangat miring. Tidak adil. Aku merasakan lidahku terasa kelu. Ludah terasa getir. Dan aku merasa tidak berdaya. Diam. Membisu. Apalagi suara-suara yang lain, dengan nada yang beragam, menimpali. Ada yang sangat menyetujui dengan pendapat yang dilontarkan. Ada yang mencoba menetralisir. Namun, bagiku sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung, dunia memang sudah berubah!&lt;br /&gt;Benar. Perlu kejujuran dan keberanian untuk mengakui bahwa dunia sudah berubah. Anak-anak tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada yang kita duga. Nutrisi yang jauh lebih bermutu membuat pertumbuhan fisik mereka lebih cepat. Siklus menstruasi sudah menyambangi anak-anak perempuan di SD. Juga pola relasi antar manusia. Sekarang ini semangat egalitarian jauh lebih berterima. Relasi bos dan anak buah tidak “saklek” instruktif semata. Ada komunikasi, negosiasi, dan upaya saling memahami. Bukannya mempertahankan posisi bos sebagai sosok tak tersentuh (intangible). Dengan segala keputusan yang tidak bisa salah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, gerakan dan semangat egalitarian itu sudah menyelinap ke mana-mana. Tidak hanya di tempat kerja. Namun juga di rumah. Di sekolah. Di ruang kelas. Dalam kondisi macam ini, timbul pertanyaan menarik. Seberapa mampu kita menangkap nuansa jaman yang sedang bergerak ini? Akankah kita gagal membaca tanda-tanda jaman yang sudah berubah ini? Kegagalan ditandai dengan ketidakmampuan memaknai perubahan. Kegagalan muncul dalam kebiasaan memandang hal yang ada dari sudut pandang negatif. Kegagalan berkembang pesat ketika seluruh wacana komunitas tidak kritis, hanya sekedar ingin aman dan tidak berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kegagalan akan menjadi nasib buruk bila kita senantiasa memandang bahwa sesuatu yang datang dari orang-orang yang lebih muda harus selalu dikritisi habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh usaha bersama&lt;br /&gt;Dari situative perspective yang muncul dari karya Vygotsky pada tahun 1930-an, diyakini bahwa kemampuan dan kemajuan dalam hal berpikir, memahami persoalan, mencari pemecahan atas persoalan yang dihadapi, dan menyikapi terhadai hasil proses tersebut, sangat ditentukan oleh wacana komunitas. Secara sederhana, bila wacana komunitas lebih menyukai gosip-gosip slapstick gaya tayangan liputan selebritis, pada tingkat itu pula lah kemampuan berpikir kita berkembang. Sebaliknya, bila wacana komunitas lebih menyukai perkembangan dan hal-hal positif lainnya, kemampuan kognisi kita pun juga berorientasi ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah pilihan. Begitu orang bijak bilang. Tidak salah memang, karena kita memiliki kebebasan untuk bersikap dalam kondisi apapun yang kita hadapi. Seperti apa sikap yang mau kita ambil dalam peningkatan profesionalisme sebagai guru? McLaughlin and Talbert (1994) mengajarkan setidaknya tiga aspek yang mestinya akan berkembang dalam lingkup komunitas profesional. Kita diharapkan mengembangkan ketrampilan technical culture. Itu artinya kita memiliki kemampuan untuk menjalankan hal-hal teknis yang rutin dalam mengajar. Bisa membuat perencanaan yang baik. Bisa menjalankan proses pembelajaran yang memadai. Bisa mengadakan evaluasi belajar yang tepat dan memberikan umpan balik (koreksi) tepat waktu. Hal berikutnya, dan ini yang paling sulit, adalah kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan service ethics. Ada dua aspek yang perlu diangkat di sini, yaitu high expectations dan care. Artinya apa? Dari dalam diri kita, kita sudah meyakini bahwa anak didik kita memiliki potensi dan kemungkinan untuk berkembang. Potensi dan kemungkinan itu baru bisa menemukan titik-titik kepenuhannya bila kita betul-betul care. Memiliki semangat untuk memahami mereka Dengan segala kerendahan hati mendengarkan apapun yang mereka hadapi dan kesulitan yang menghambat mereka. Sejelek apapun mereka, mereka tetap sosok-sosok yang tidak sepantasnya dipandang rendah. Dan ini letak kesulitannya, karena ini mengandaikan perubahan paradigma hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari aspek kedua ini jelas. Kita tidak selayaknya membentak-bentak siswa seakan-akan kita adalah dewa yang paling benar sendiri. Kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, mengapa tidak membuka forum komunikasi? Akan jauh lebih bijaksana bila kita bisa menerapkan pola komunikasi interaktif. Tidak mudah, dan banyak dari kita akan dengan segera mengesampingkan rekomendasi ini. Namun, bagiku, tidak ada alasan sedikitpun untuk menolak ide ini. Menghargai harkat dan martabat manusia atau nguwongke orang lain adalah salah satu credo yang membuat alasan bagiku untuk selalu berjuang terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga yang ditawarkan oleh McLaughlin dan Talbert (1994) adalah profesional growth. Ini bukan hal yang terlalu sulit, karena kita sudah melakukannya. Makin banyak dosen yang mengadakan penelitian. Dengan difasilitasi dengan laptop dan ketersediaan jaringan teknologi informasi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak meningkatkan kualitas kita sebagai dosen.&lt;br /&gt;Sekali lagi, pilihan mana yang kita mau ambil? Pilihan yang mengedepankan hal-hal positif, bersifat substansial dan menentukan arah perkembangan kita dalam menciptakan masyarakat yang lebih menghargai, menghormati perbedaan, dan mendorong kemajuan? Atau sebaliknya, pilihan yang mengedepankan hal-hal sensasional, yang sekedar menyenangkan hati ini sesaat, yang justru tidak mendorong daya kritis kita berkembang pesat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk satu hal, aku berseberangan dengan Alm. Riswandha Imawan, seorang profesor progresif dari UGM yang meninggal pada usia muda. Eagles fly alone. Begitu slogannya. Aku tidak setuju. Itu seruan elitis. Diasumsikan bahwa hanya ada sedikit orang yang layak untuk maju dan berkembang. Sebaliknya, kita harus menciptakan lingkup kerja yang dinamis, yang memungkinkan siapapun merasa nyaman untuk maju. Sekalipun yang dibuatnya berbeda, kita toh tetap harus menerima perbedaan sebagai berkat, bukan musibah dan ancaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-7588430087416063655?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/7588430087416063655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=7588430087416063655' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7588430087416063655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7588430087416063655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/10/memang-menghakimi-lebih-mudah-daripada.html' title='Memang, menghakimi lebih mudah daripada memahami'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-7172952614967615989</id><published>2007-10-26T19:49:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T19:50:20.672-07:00</updated><title type='text'>Kejamnya rumah sakit</title><content type='html'>18 Oktober 2007&lt;br /&gt;Akhirnya satu potong drama dalam kehidupan kami berakhir. Hari Minggu, 15 Oktober 2007 siang – begitu Rio kencing bercampur darah – hati kami terasa tercabik-cabik. Suara Rio yang biasanya ringan penuh canda-tawa-ria, tiba-tiba bergetar penuh kesakitan. Satu dua tetes kencing campur darah masih terlihat. Aku peluk dia penuh rasa sayang. Hatiku teriris oleh tangis kesakitan dan degup jantungnya yang berdetak begitu cepat.&lt;br /&gt;Drama masih berlanjut. Kami membawa Rio ke rumah sakit swasta ternama di kotaku. Harus aku akui, aku buta sama sekali dengan urusan kesehatan. Dan kebutaan tersebut tidak memungkinkan aku tetap kritis dalam memahami persoalan. Oleh karena itu, kehadiran seorang teman yang kebetulan adalah seorang paramedis dari sebuah rumah sakit pemerintah di Semarang sangat membantu. Dia dengan setia menemani kami yang kebingungan.&lt;br /&gt;Pihak RS memberi informasi yang jelas. Anak kami harus diopname. Pada hari kedua Lebaran, tidak ada dokter ahli bedah yang stand by. Yang memberi rekomendasi dokter umum yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Rio kami bawa pulang – dengan resiko apapun yang bisa terjadi. Alasannya jelas, dengan diopname pun, Rio tidak dengan sendirinya sembuh. Artinya, opname pun sekedar bobok manis, tanpa ada tindakan khusus untuk penyembuhan. Dan sekalipun ada, itu tidak lain hanya sekedar mengurangi rasa sakit. Operasinya saja baru bisa hari Selasa jam 2 siang. Itu artinya bahwa kami harus menginap di RS selama dua hari.&lt;br /&gt;Selain itu, alah mak … kami terkesiap dengan prakiraan biaya yang harus ditanggung. Untuk operasi saja diperkirakan sampai mencapai Rp. 6.500.000,- untuk kelas 1 dan utama. Untuk kelas II biaya turun satu juta rupiah. Belum lagi biaya inapnya yang mencapai minimal Rp. 155.000/hari. Untuk kelas I, biayanya pun menjerat leher: Rp. 400.000,-/hari. Masih ditambah lagi biaya perawatan, laborat dan beban psikis yang harus kami tanggung.&lt;br /&gt;Hati kecil ku menjerit. Kenapa begitu mahal? Tapi dengan cepat aku mencoba untuk mencari jawaban. Sekilas, aku teringat beberapa waktu lalu ada buku nakal yang ditulis oleh seorang yang sangat gerah melihat praktek-praktek kesehatan di negeri ini. Kalau tidak salah judulnya Orang Miskin Dilarang Sakit. Barangkali aku memang perlu membaca buku itu.&lt;br /&gt;Pikiranku melayang bebas. Bagaimanapun juga, dengan gaji terpotong sampai 60% untuk cicilan rumah, kami mau tidak mau harus hidup dengan sangat hemat. Semua pengeluaran harus diperhitungkan. Kebutuhan-kebutuhan sosial yang tidak jarang cukup besar memang tidak bisa dihindari. Namun untuk kebutuhan dasar, kami memang mencoba untuk mengencangkan ikat pinggang. Gaji yang aku peroleh hanya cukup untuk tiap bulannya. Itupun dengan hampir tidak ada simpanan sama sekali. Apalagi, mulai bulan September lalu, kami memutuskan untuk mengikuti program asuransi. Jadi, gaji memang menjadi terlalu kecil untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;Memang, untuk satu hal, kami sudah cukup aman. Rumah yang kami punyai sudah lebih dari cukup. Dengan luas areal tanah mencapai 300 m2 dan sekitar 140m2 luas bangunannya, kami sudah cukup nyaman. Dan itulah yang membuat kami merasa aman. Bagaimanapun juga, dengan hasil gaji yang kecil, kami sudah tinggal di rumah sendiri. Sekalipun kami harus mencicil pinjaman dari Bank untuk melunasi hutang pembuatan rumah kami, kami pun sudah siap dengan resiko hidup sederhana.&lt;br /&gt;Namun, sakitnya anak tentu tidak masuk skenario. Apalagi setelah membuat kalkulasi singkat bila Rio sampai tiga hari menginap di RS, angka yang muncul memang membuatku terperangah. Minimal Rp. 10 juta. Aku tidak habis pikir. Harus aku akui, aku masih punya uang sejumlah itu. Tabungan khusus yang aku sisihkan secara khusus untuk istri cukup. Bahkan aku masih menyimpan uang US$ 1.400,-. Tapi itu untuk jaga-jaga ketika aku pergi sekolah lagi nantinya. Bukan untuk hal mendadak seperti ini.&lt;br /&gt;Dalam kebingungan tanpa batas, dan juga keprihatinan atas tidak adilnya dunia terutama dalam kaitannya dengan urusan kesehatan macam ini, akhirnya aku mengontak kakak ipar istriku yang bekerja di salah satu RS pemerintah. Terus terang saja, kami sudah merasa was-was bahkan ketika mendengar nama RS itu disebut. Begitu banyak cerita menyeramkan dari sosok RS pemerintah. Entah itu menyangkut dengan kebersihan bangsal, kinerja para dokter mudanya yang belum tentu berpengalaman, pelayanan yang sangat birokratis-rumit-dan tidak ramah. Ada berjibun alasan untuk mengatakan tidak. Namun, angka rupiah yang harus kami tanggung di salah satu RS swasta tersebut membuat kami memberanikan diri untuk mengadu nasib ke RS pemerintah.&lt;br /&gt;Dan memang itulah yang kami lakukan. Apakah hasilnya lebih baik? Tentu terlalu dini untuk menjawab itu semua. Yang jelas, dari perhitungan matematis finansial, hasilnya jauh lebih memuaskan. Kami harus membayar Rp. 2,080.000,- untuk total pengobatan. Angka itu “hanya” 20% dari jumlah keseluruhan yang diasumsikan harus kami bayar di sebuah RS swasta ternama tersebut.&lt;br /&gt;Untuk satu hal kami sudah bisa bernapas lega. Satu urusan selesai. Rio kami bawa pulang begitu dampak anestesinya sudah beranjak pergi darinya . Dengan ditemani Gun dan Lian, kami susuri jalan beraspal pinggir selokan. Rio tampak begitu lemah di pangkuan mamanya. Aku pun tidak punya alasan untuk terburu-buru. Waktunya yang tersedia cukup panjang. Jam 2 siang, hari Rabu, 17 Oktober 2007, kami meninggalkan RS. Sementara aku akan ada kelas jam 4 sore. Masih cukup waktu. Sengaja kami tidak  memakai taksi, karena toh jalanan lebih banyak macetnya. Mudik Lebaran masih memadati jalanan. Selain memang tidak ada harga yang murah untuk segala jenis pelayanan, termasuk taksi.&lt;br /&gt;Untuk hal lain, aku masih terbebani. Bayangan keprihatinan seorang penulis Orang Miskin Dilarang Sakit betul-betul aku rasakan. Aku merasa malu. Kenapa aku baru berempati begitu mengalaminya? Aku menyadari kebodohan diriku sebagai manusia yang lebih sering memakai “proximity reasons” untuk menjelaskan berbagai fenomena dalam hidup. Bila terjadi bencana di suatu tempat yang jauh, ada kecenderungan untuk membela diri, “Ah bencananya kan tidak di sini. Kenapa harus begitu peduli.” Dan bila bencananya terjadi di dekat kita, ada kecenderungan untuk berkilah, “Bencana itu kan tidak terjadi pada keluarga kami. Itu kan orang lain.”&lt;br /&gt;Ini lah realitas dalam hidup. Teman paramedis yang dengan setia menunggui kami dalam proses pemeriksaan hari Minggu sore di Instalasi Gawat Darurat itu sempat mengeluarkan pernyataan ironis. “Dokter yang jadi bosku itu,” begitu katanya pada istriku, “mendapat bonus Rp. 25 juta/bulan dari berbagai “deal-deal” seperti resep-resep dan lain-lainya. Bonus itu artinya uang di luar gaji lho.” Dia juga sempat tersenyum pahit menertawakan dirinya karena dia juga bukan seorang malaikat yang selalu bersih. Karena bagaimanapun juga dia ikut “kecipratan” rejeki dengan bekerja di sebuah RS pemerintah di Semarang. Ada sejumlah uang “haram” yang dia peroleh tiap bulannya di luar gajinya. Bagaimanapun juga dia ikut dalam sistem yang tidak bisa ditentangnya. Dia mau tidak mau ikut membesarkan suatu praktek “pemerasan” terhadap orang-orang yang miskin tersebut. &lt;br /&gt;Yah, dalam permenunganku ini, barangkali yang paling tepat untuk menggambarkan hidup kita sebagai manusia adalah seperti ini: kita masuk ke dalam lingkaran permainan. Permainan macam apa yang hendak kita ikuti? Aku sendiri sudah merasa “diplot” untuk ikut permainan di sebuah institusi pendidikan tinggi swasta. Dari kecil aku dididik dengan keras, dan diajari untuk lebih menghargai kerja keras daripada sejumlah uang yang aku peroleh. Selain itu, dengan dibesarkan di daerah pegunungan, pekerjaan fisik pun juga bukan suatu hal yang layak untuk dihindari. Ngepel, nyuci, dan membersihkan rumah sendiri – untuk family welfare – bukanlah hal yang berat untuk dilakukan. Aku belum merasa perlu punya pembantu dan mesin cuci. Kami masih bisa melakukannya sendiri.&lt;br /&gt;Orang lain barangkali “diplot” untuk mengikuti pola kehidupan yang lain. Orang tua yang memiliki ambisi luar biasa. Mendidik anaknya untuk kerja keras. Menilai keberhasilan hidup dari hal-hal yang terukur, entah itu dalam jumlah gaji besar ataupun hal-hal yang bisa terraba (tangible) seperti properti atau kendaraan. Dikirimkan ke sekolah kedokteran dengan biaya yang teramat sangat besar. Pendidikan kedokteran adalah investasi besar. Dan karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga besar. Atau lebih pasti lagi: karena investasinya besar, oleh karena itu perolehannya pun juga HARUS lebih besar. Dengan demikian, apapun kenyataannya, hasilnya pun juga HARUS besar. Apakah itu merupakan suatu kebenaran umum? Entahlah. Namun, yang terjadi sekarang ini, pelayanan kesehatan benar-benar mencekik dan tidak bisa diterima dengan akal sehat!&lt;br /&gt;Apakah bidang kesehatan bisa dikatakan sebagai sebuah mafia? Entahlah. Aku sendiri tidak berani melabelinya dengan istilah itu. Namun, realitasnya barangkali memang demikian. Aku sendiri, sebagai orang yang pernah hidup di negeri orang dan mencicipi pendidikan tinggi yang lumayan prestisius, tetaplah orang bodoh ketika harus berurusan dengan masalah kesehatan. Nah, kami-kami yang bodoh ini menjadi sasaran empuk dari sistem yang ada. Alasannya sederhana: kami tidak punya nilai tawar. Kami tidak punya pengetahuan yang memadai untuk membuat posisi kami lebih kuat. Jadi, tidak ada salahnya sebenarnya kalau kami selalu dikadali.&lt;br /&gt;Namun, tentu tidak adil juga menghakimi posisi dokter. Posisi seorang dokter tidaklah terlalu istimewa dalam sistem yang tidak adil ini. Dia hanya satu sekrup dari mekanisme “assembly line” yang ada dalam sistem pengobatan. Dia dipakai sebagai alat yang paling mujarab untuk promosi dan penjualan produk-produk obat dari berjibun pabrik obat yang dengan rakusnya ingin mengeruk keuntungan. Mereka saling bersaing, bahkan barangkali saling sikut-menyikut bila diperlukan. Dokter dimanja dengan berbagai bonus bila mampu memasarkan produk-produk yang mereka hasilkan. Dilihat dari satu sisi ini, dokter tampak justru sebagai korban. Korban sistem yang tidak adil.&lt;br /&gt;Cukup menarik ketika seorang mahasiswa Extension Course berkomentar dengan cerita ku ini. Seorang temannya yang jadi dokter memilih untuk tidak jadi korban dari sistem ini. Setiap kali merekomendasikan obat, dia selalu membuka konsultasi tentang berbagai kemungkinan. Dan dia tidak mau menerima tips secara berlebihan dan tidak adil ini. Dia sangat paham betul tentang politik kadal-kadalan yang dibuat oleh sistem kesehatan ini. Namun, suara hati nurani yang kecil benar-benar dia dengarkan. Suara itu tidak lagi kecil, karena selalu mengingatkan dia untuk memiliki empati dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sakit. Empati yang datang bukan semata-mata karena “proximity reasons”. Tetapi lebih dari kemurnian hati. Dari kesediaan hati untuk mendengarkan orang lain.&lt;br /&gt;Masih adakah hati untuk mendengarkan keluhan orang lain? Tanyakan pada Ebiet G. Ade, dan dia akan menyuruh kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Dan dunia ini tidak cukup memberi makan untuk seluruh umat manusia, karena ada begitu orang yang mengambil lebih dari jatah yang semestinya cukup untuk diri mereka. Begitu Mahatma Gandhi mengingatkan kita. Bersediakah kita mendengarkan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-7172952614967615989?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/7172952614967615989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=7172952614967615989' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7172952614967615989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7172952614967615989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/10/kejamnya-rumah-sakit.html' title='Kejamnya rumah sakit'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5732470002596831072</id><published>2007-10-26T19:44:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T19:47:28.849-07:00</updated><title type='text'>Pergulatan mencari makna hidup</title><content type='html'>Belajar dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;Berbagi dengan suka cita&lt;br /&gt;Beraksi dengan berani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tidak lebih dari upaya mencari makna dan jati diri (struggle for existence). Apa yang terjadi pada hari ini bukanlah sekedar kebetulan, karena semua hal di dunia memiliki masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Beragam pengalaman hidup yang telah membentuk diri kita telah menciptakan pola pikir, pola bertindak, dan strategi pemecahan persoalan yang kita hadapi. Dampaknya nyata. Pengalaman yang dialami secara bersama-sama bisa bermakna sangat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Tidak lain dan tidak bukan, hal itu disebabkan karena keunikan diri kita yang telah membuat kita memiliki pola yang khas dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan kita dalam the Indonesia Secondary Education Development Program (ISEDP) pun juga bisa dimaknai dalam perspektif macam ini. Dalam sejarah hidup masing-masing individu yang terlibat dalam program ini, pasti sudah ada potongan-potongan (snapshots) pengalaman yang bila dilihat secara reflektif, akan menampilkan mosaik yang menggambarkan alasan keterlibatan kita dalam program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang mereka-reka serpihan demi serpihan pengalaman kecil untuk membentuk satu mosaik yang layak untuk dinikmati. Diperlukan keberanian dan kejujuran – yang kadang terlalu mahal harganya – untuk mengakui kedirian kita apa adanya. Dan dalam tulisan ini, saya mencoba menguraikannya melalui berbagai pengalaman yang saya coba maknai dari perspektif pengalaman pribadi. Apapun nada yang terdengar dari uraian pengalaman personal ini, entah itu sumbang atau tidak terlalu nyaman untuk dinikmati, saya harap itu diterima sebagai realitas faktual. Di sini, saya mencoba untuk jujur pada diri sendiri. Saya tidak memungkiri kemungkinan interpretasi apapun karena pengalaman yang terdengar terlalu personal ini. Namun tidakkah banyak perubahan besar dalam sejarah di dunia justru muncul dan diperkuat dari naratif personal macam ini? Tulisan pribadi yang sangat personal dari seorang budak pelarian Frederick Douglas pada awal Abad XIX di Amerika Serikat telah memfasilitasi gerakan penghapusan perbudakan Kulit Hitam di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994, sewaktu kaki ini pertama kali menginjak wilayah Universitas Sanata Dharma (USD), api di dada meletup-letup hebat. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dan satu-satunya yang mendapat kesempatan meraih gelar S1, saya akan belajar bahasa Inggris – di salah satu tempat “terhebat” untuk mengasah keterampilan dan pengetahuan Bahasa Inggris. Untuk apa? Saya tidak berani mengatakan mau menjadi guru, sekalipun saya sendiri sengaja mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Alasannya sederhana, PBI USD merupakan tempat terbaik untuk belajar Bahasa Inggris yang pernah saya dengar. Selain itu, saya tidak yakin apakah profesi mengajar memang sesuai dengan ciri khas, aspirasi, semangat, dan juga cita-cita hidup saya.  Tentu, motivasi yang paling besar adalah keinginan untuk menguasai bahasa Inggris. Tidak lebih. Dan setelah itu, mau jadi apa, entahlah. Satu hal lain yang masih tersimpan di lubuk hati dalam-dalam, waktu itu saya sendiri ingin jadi wartawan, yang tulisannya banyak dan bisa membantu membuka mata publik terhadap berbagai persoalan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejarah hidup membuktikan lain. Selama sembilan semester, saya selesaikan studi S1 di PBI. Tidak seideal dengan waktu yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi hal yang sampai sekarang masih saya kenang, waktu itu pencapaian akademis jauh mengatasi apa yang semula saya targetkan di semester satu. Namun demikian, saya bukanlah sesosok kutu buku yang menutup diri dari interaksi dengan orang lain. Selama masa studi itu pula saya telah bergelut dengan berbagai pengalaman mengajar dan berinteraksi dengan orang lain. Pernah saya menjadi salah satu guru ekstrakurikuler di SMA I Teladan Jogja selama satu tahun (Semester 4 dan 5). Pernah juga terlibat dalam kegiatan English Action Days – satu kompetisi Bahasa Inggris tahunan yang diadakan untuk siswa-siswa SMA. Pernah juga menjadi koordinator tata tertib dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru (Semester 6). Pernah mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak SD Kanisius Demangan (Semester 7 dan 8). Pernah juga mengajar Bahasa Indonesia untuk orang-orang asing di sebuah lembaga bahasa di Demangan (Semester 8 dan 9). Di samping itu, sayapun juga sempat menerima terjemahan – suatu pekerjaan yang sangat menyita waktu, berat, dan kadang dengan bayaran jauh di bawah standar. Bahkan pernah seorang kolonel yang sedang kuliah S2 di salah satu universitas ternama di Jogja pergi dengan terjemahan satu bab dengan tidak membayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengalaman yang saya alami selama kuliah S1 telah mengajari saya untuk selalu siap untuk berubah dan diubah. Kapanpun, di manapun, dan dengan konsekuensi apapun, kerelaan untuk membantu, keterbukaan terhadap masukan, dan kesediaan untuk berkorban dan mengupayakan yang lebih baik menjadi agenda utama yang selalu menggerakkan saya. Dengan semangat itu pula, saya tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan hidup yang datang silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jalan hidup tidak dengan sendirinya jelas begitu saya menyelesaikan studi. Berbekal beragam pengalaman di sana-sini dan juga cita-cita terpendam untuk menjadi wartawan, saya tidak memiliki rencana pasti ke mana langkah kaki ini hendak saya ayunkan. Sekalipun tawaran untuk menjadi staf pengajar di alma mater datang sebelum studi selesai, saya belum berani membuat keputusan yang pasti. Melihat kebimbangan macam ini, seperti biasanya, kata-kata lugas dari Bapak menampar kesadaran saya, “Tidak ada salahnya menjadi orang penuh syukur. Ketika banyak orang bingung mencari pekerjaan, kamu justru ditawari pekerjaan. Tidakkah itu rahmat yang sudah selayaknya disyukuri?” Pertanyaan retoris yang khas dari Bapak. Dia memang jarang menghendaki jawaban verbal dari anak-anaknya. Dia menghendaki diri saya untuk merenungkan pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Bapak selalu menggunakan kata-kata lugas. Apa adanya. Tanpa tedheng aling-aling. Tahun 1999, pengangguran merebak sebagai akibat krisis moneter yang membawa dampak tragis bagi jutaan penduduk Indonesia. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Bahkan banyak dari orang-orang yang sudah cukup mapan harus kehilangan rumah dan tempat usaha mereka karena aksi anarkisme satu tahun sebelumnya. Trauma masih menjadi pengalaman nyata. Begitu banyak orang butuh pekerjaan, tetapi diri saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya seorang guru. Cita-cita untuk mengadu nasib menjadi seorang wartawan untuk sementara saya tinggalkan. Namun, menerima posisi guru sebagai profesi bukan berarti bahwa persoalan selesai. Selalu saja ada yang mengganjal. Dan kegalau-cemasan macam ini bukan tanpa alasan. Seperti yang dialami oleh siapapun yang memasuki dunia profesi keguruan, ada waktu-waktu ketidaknyamanan dan ketidakpastian yang saya rasakan. Bahkan, menurut penelitian, rata-rata para guru membutuhkan setidaknya enam tahun untuk menemukan cara terbaik untuk mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pertama mengajar di alma mater pun juga dipenuhi dengan ketidakpastian, ketidakyakinan, dan juga ketakut-raguan. Dalam kondisi rentan macam ini, tidak salah kalau saya pun sekedar melanjutkan tradisi yang saya lihat dan rasakan. Saya mengajar sesuai dengan cara dosen mengajar saya sebelumnya. Apa yang dikatakan baik dan diterima umum saya jalankan. Apa yang dianggap tidak baik pun saya hindari. Dengan kata lain, saya sendiri tidak lebih dari sekedar memfotokopi apa yang saya terima sebelumnya. Di situ belum ada tinjauan kritis. Hanya sekedar mekanis. Kapan harus membagikan silabus. Kapan ujian tengah semester. Kapan ujian akhir. Kapan nilai harus dikeluarkan. Semuanya serba mekanis. Disiplin keras saya jalankan. Tidak ada kompromi sama sekali. Mahasiswa PBI angkatan 1999 menjadi saksi hidup atas pengalaman mengajar saya pada semester pertama mereka. Mereka merasakan betapa disiplin-nan-kaku saya jalankan tanpa mengenal kompromi. Kelas menjadi tegang. Para mahasiswa tidak cukup menikmati proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu-waktu berikutnya, saya baru menyadari bahwa apa yang saya lakukan tersebut merupakan fenomena alamiah dalam lingkup pendidikan. Di mata para tokoh mazhab teori kritis seperti Foucault dan Bordieu, praktek pengajaran dan pembelajaran tanpa kesadaran dan tinjauan kritis dari pelaku pendidikan tersebut menjadi legitimasi terhadap berlangsungnya fenomena pendidikan sebagai reproduksi kultural. Pendidikan gagal mengemban misi sebagai agen perubahan, namun alat yang canggih untuk mempertahankan status quo.&lt;br /&gt;Pada tataran praktis, saya sendiri tidak merasa nyaman dalam posisi saya sebagai seorang guru yang minim pengalaman. Saya merasa ada yang hilang. Untuk satu hal, dalam hati saya bertanya, “Layakkah seorang lulusan S1 mengajar mahasiswa-mahasiswa S1? Tidakkah itu berarti orang buta menuntun orang buta?” Saya merasa belum cukup bekal. Akhirnya, seperti orang-orang lain, saya pun mulai berjibaku mencari beasiswa untuk studi lanjut. Percobaan pertama tampaknya lancar. Lamaran yang saya ajukan ke Groningen Universiteit di Negeri Belanda langsung diterima. Hati ini berbunga-bunga. Namun, itu terbukti hanya menjadi kegembiraan semu dan terlalu dini. Ada e-mail yang masuk mailbox. Informasinya jelas. “Setelah dicek oleh NUFFIC (semacam lembaga penilai transkrip nilai di Belanda),” begitu penjelasannya,  “dengan ini, pihak Universitas Groningen mencabut kembali keputusan penerimaan Anda di bidang Euroculture.” Mengecewakan. Namun saya tidak putus asa.&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, saya mencoba mengajukan lamaran beasiswa ke AUSAID – beasiswa yang disediakan oleh Pemerintah Australia. Tidak ada kabar sama sekali. Pada tahun yang sama pula, Rm. Paul Suparno, S.J., yang waktu itu masih menjabat sebagai dekan FKIP USD, mengundang beberapa dosen FKIP untuk mencoba melamar beasiswa dari Boston University. Bersama dua kolega yang lain, akhirnya saya mencobanya. Kali ini, Dewi Fortuna nampaknya sedang baik hati. Beasiswa dari keluarga Stephens tersedia untuk saya. Beasiswa untuk mengenang Kelly Elizabeth Stephens yang meninggal akibat kecelakaan ketika mendaki Gunung Anak Rakata di Selat Sunda itu sebelumnya telah diterima oleh dua senior saya dari USD. Pak Barli dari PBI dan Bu Wanti dari Pendidikan Matematika. Keduanya masih di Boston waktu saya tiba di sana. Tiga minggu sebelum peristiwa yang menggegerkan dunia, 11 September 2001, saya menginjakkan kaki di Boston.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah universitas yang didirikan pada tahun 1839 ini, saya mengalami berbagai pengalaman unik yang pada gilirannya akan memoles diri saya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya merasakan seperti apa sesungguhnya sebuah kelas yang benar-benar mendorong perkembangan siswa-siswanya. Seorang profesor yang lebih layak disebut sebagai nenek begitu mudah memuji daripada menemukan kesalahan dari para mahasiswanya. Untuk pertama kalinya, saya merasa “merinding” karena sang profesor tersebut mengakui bahwa saya akan tumbuh menjadi seorang penulis yang baik nantinya. Dan itu dikatakannya di depan kelas! Saya merasa diuwongke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian makna tidak pernah berakhir. Pengalaman diuwongke selama kuliah di negeri orang mengubah pandangan saya terhadap pola relasi yang semestinya terjalin antara dosen dan mahasiswanya. Memang, saya masih dikenal dengan tuntutan yang tinggi terhadap usaha dan komitmen mahasiswa dalam belajar. Saya pun tidak pernah menurunkan kualitas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam ujian pendadaran skripsi. Namun, saya berupaya keras untuk tidak menjatuhkan mental mahasiswa yang maju ujian skripsi. Saya belajar untuk menciptakan situasi yang nyaman, sehingga mahasiswa justru merasa bebas untuk berekspresi. Tanpa harus merasa tertekan karena terteror oleh situasi yang tidak nyaman. Saya lebih memilih untuk mendengarkan dan mengapresiasi apapun upaya yang dilakukan oleh mahasiswa. Ini merupakan hal yang tidak mudah, mengingat budaya kita justru mengajarkan kita untuk segera menemukan kekurangan daripada menghargai kebaikan – sekecil apapun bentuk kebaikan yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun selesai studi lanjut, ada bonus pengalaman yang luar biasa. Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar hal yang lain. Menjadi pejabat! Sungguh di luar dugaan. Saya belum pernah menduduki jabatan apapun, namun kemudian melompat untuk menduduki posisi sebagai Pembantu Dekan III di FKIP. Saya merasa beruntung bisa langsung belajar dari sosok Pak Sarkim yang di mata saya sangat komplet. Kemampuan, komitmen, tanggung jawab, dan energi yang seakan tidak ada habisnya berhasil mengubah citra FKIP yang tua menjadi segar, penuh vitalitas, dan juga kepercayaan diri. Kantor dekanat juga menjadi tempat yang nyaman dengan gelak tawa yang segar di sela-sela kesibukan dan berbagai macam tuntutan yang harus segera ditangani. Dua kolega yang lain, yaitu Pak Adimassana sebagai PD I dan Bu Retno Priyani sebagai PD II, adalah dua sosok yang selalu mengedepankan toleransi. Suasana kerja di sekretariat dekanat pun lebih bernuansa segar, bukannya dibatasi oleh sekat-sekat psikologis akibat relasi atasan-bawahan yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak terlalu lama duduk di kursi PD III, karena jabatan itu dihapus dengan diberlakukannya sistem baru. Namun, pengalaman bekerja selama kurang lebih 18 bulan di tingkat dekanat telah meninggalkan bekas yang luar biasa mendalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya berlatih untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas (helicopter view). Harus saya akui, ilmu linguistik terapan dan pengajaran Bahasa Inggris yang telah saya geluti selama ini memang dengan mudah  menjebak saya ke dalam hal yang sangat-sangat detail. Tidak salah tentu saja, karena kemampuan dan keterampilan untuk memperhatikan hal-hal yang sangat mendasar itulah yang dibutuhkan untuk penguasaan Bahasa Inggris. Namun, hidup ini terlalu kompleks dan tidak bisa serta merta direduksi ke dalam satu area saja. Oleh karena itu, belajar untuk melihat persoalan secara lebih luas dan komprehensif wajib dilakukan untuk menjamin keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergulir tanpa henti. Kehidupan pun mengalir. Pencarian makna hidup pun selalu saja menemukan ruang geraknya. Hampir empat tahun berlalu sesudah saya menyelesaikan program S2. Rupanya, waktu empat tahun mengajar telah memberikan berbagai pengalaman dan kepercayaan diri untuk mencoba peruntungan lain: studi doktoral. Saya sudah cukup meyakini tentang apa yang saya hendak pelajari untuk program doktoral. Di program S2 saya mengambil spesifikasi pengajaran keterampilan menulis. Di program Language, Literacy, and Cultural Studies, School of Education, Boston University, saya tahu bahwa keterampilan membaca (reading skills) telah mulai dipelajari sejak tahun 1890-an. Keterampilan menulis (writing skills) sendiri baru mulai dipelajari pada tahun 1970-an, bersamaan dengan keterampilan wicara (speaking skills). Sementara keterampilan menyimak (listening skills) sendiri merupakan bidang yang paling ketinggalan, karena baru mulai dipelajari pada pertengahan 1980-an. Baru ada sedikit peneliti yang secara khusus mengembangkan ilmu dalam bidang terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya saya memiliki beberapa rancangan strategis yang hendak saya jalankan. Pertama, dengan belum berkembangnya penelitian dalam bidang keterampilan menyimak ini, saya memiliki peluang untuk mengeksplorasinya. Saya akan tumbuh menjadi ahli dalam bidang yang satu ini. Kedua, intuisi saya membuat saya percaya bahwa keterampilan menyimak memainkan peranan utama untuk peningkatan kualitas dan kompetensi guru. Ketiga, perkembangan teknologi informasi (TI) telah memungkinkan berbagai persoalan teknis dapat dipecahkan dengan cepat dan sederhana. Saya sudah memiliki koleksi lebih dari 15 gigabytes yang saya unduh dari internet untuk materi menyimak ini. Semuanya gratis! Mengubah audio files untuk disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa juga bukan perkara rumit. Pelatihan keterampilan menyimak pun tidak harus membutuhkan laboratorium bahasa yang lengkap, mahal, dan rumit. Dengan modal satu MP3 player yang harganya terjangkau saja, keterampilan ini sudah bisa dilatihkan. Keempat, konteks penelitian pun sudah saya identifikasi. Kerja sama FKIP USD dengan Pemerintah Kabupaten Belu menjadi jalan masuk. Saya sudah dua kali mendampingi guru-guru Bahasa Inggris di wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara termuda Timor-Timor ini. Strategi sudah mulai saya atur. Saya mulai mengenal wilayah itu. Saya mengenal para gurunya. Saya sempat berdiskusi dengan Bapak Bupati dan Wakil Bupati tentang berbagai kemungkinan pengembangan profesionalisme guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan klasik muncul di sini. Siapakah yang akan membiayai penelitian macam ini? Pihak Yayasan di mana saya bernaung tidak akan pernah memberi dukungan finansial bagi para dosennya untuk studi di luar negeri, kecuali untuk ke negara-negara tetangga yang paling dekat, seperti Malaysia dan Filipina. Oleh karena itu, pilihan yang paling mungkin adalah mencari beasiswa ke Australia. Sejauh ini pihak Australia sangat peduli dengan kawasan Timur Indonesia yang tertinggal jauh. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah itu akan lebih menarik bagi Negeri Kangguru ini. Karenanya, saya mencoba melakukan kontak dengan beberapa universitas di Australia. Proposal sepanjang 10 halaman saya kirimkan. Tanggapan sangat positif datang dari seorang profesor di Deakin University, Victoria. Suatu tanda baik. Tinggal satu hal yang saya butuhkan: hasil TOEFL atau IELTS.&lt;br /&gt;Akhirnya, dalam kondisi kesehatan yang sama sekali tidak bersahabat saya berangkat ke Surabaya untuk mengambil TOEFL. Tanggal 1 September 2006, atau 10 hari sesudah meninggalnya ayah, saya mengikuti Internet-based TOEFL (iBT). Waktu itu saya terserang batuk parah, akibat hampir tiap malam saya bolak-balik Kalasan-Pegunungan Menoreh Kulon Progo, di mana saya dibesarkan. Tanpa persiapan sama sekali, saya datang ke tempat ujian. Satu hal yang layak untuk dicatat, saya menjumpai mukjizat yang luar biasa. Batuk parah membuat saya kehilangan suara. Batuk kering menyerang ketika saya mengerjakan soal-soal reading. Di bagian listening, kondisi tidak lebih baik. Tenggorokan terasa sangat gatal. Batuk rupanya tidak mau berhenti. Namun, semangat tidak pernah meluruh. Memang, hati ini sangat was-was ketika bagian speaking tiba. Mampukah saya berbicara untuk enam jenis persoalan yang diajukan pada bagian ini? Akankah batuk juga menyerang saya dengan membabi buta seperti pada dua bagian sebelumnya? Namun, kekerasan hati untuk tetap berjuang sampai titik darah penghabisan tetap tidak tergoyahkan. Saya mencoba untuk menguatkan diri saya. Sejauh ini saya selalu berupaya untuk memberikan yang baik bagi siapapun yang membutuhkan bantuan. Semenjak kecil, orang tua saya mengajarkan makna ngundhuh wohing pakarti. Itu pula yang saya yakini. Kalau saya berbuat baik terhadap siapapun, saya juga akan menuai hal yang baik. Dan keyakinan tersebut betul-betul menemukan kepenuhannya. Untuk enam soal speaking, batuk yang dengan ganas menyerang sebelumnya, seakan lenyap ditelan bumi. Tenggorokan tidak segatal sebelumnya. Bahkan, yang luar biasa, suara yang sudah dua hari hilang tiba-tiba kembali dalam sekejap. Enam jenis soal yang diajukan bisa saya jawab dengan relatif lancar, sekalipun tidak optimal. Namun itu sudah lebih dari cukup. Saya bernafas lega. Mukjizat itu datang ketika saya sendiri sudah tidak memiliki apa-apa untuk saya banggakan. Saya meyakini Tuhan sendiri yang turun tangan memecahkan persoalan yang saya hadapi. Dan ketika bagian writing datang, batuk itu hadir lagi. Namun, saya sudah tidak menganggap batuk sebagai hambatan yang berarti. Menulis bukan persoalan yang terlalu rumit untuk dikerjakan. Bagaimanapun juga, kegiatan menulis, entah itu dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris, sudah menjadi menu sehari-hari dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, terlepas dari pengalaman berjibaku dalam mengerjakan TOEFL, hasilnya toh tidak akan pernah saya gunakan untuk melamar ke AUSAID. Hasil test itu tidak pernah saya kirimkan, baik ke Deakin University maupun ke kantor AUSAID di Jakarta. Alasannya sederhana, jauh-jauh hari sebelum hasil test itu tiba, Rm. Wiryono, Rektor USD, mengundangku dan menanyakan kesediaan untuk bergabung ke dalam ISEDP ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri, tawaran untuk bergabung ke dalam team ISEDP merupakan suatu kejutan yang menyenangkan. Ketika sedang mencari peluang studi lanjut, ternyata saya diberi peluang untuk mengembangkan diri melalui program ambisius ini. Namun, tetap saja saya senantiasa bertanya-tanya. Mengapa diri saya? Tidakkah ada yang “lebih” dari diri saya, dalam hal senioritas dan dalam hal kepandaian? Bukankah saya baru memiliki pengalaman sedikit dibandingkan dengan beberapa senior saya? Pertanyaan seperti ini sejauh ini belum secara jelas saya dapatkan jawabannya. Hanya samar-samar. Masih buram. Namun, ini bukan kali pertama saya tidak mendapatkan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang saya ajukan. Sewaktu saya mendapatkan beasiswa Kelly Elizabeth Stephens Memorial (2001 – 2003), saya pun bertanya hal yang sama. Dan jawabannya pun tidak pernah jelas. Oleh karena itu, bagaikan seorang Hamlet yang mencoba mencari makna.  Saya pun bersoliloqui: “Merupakan hal yang luar biasa bagi saya untuk mendapat beasiswa. Tidak ada pilihan lain kecuali harus selalu menyukuri terhadap apa yang saya telah dapatkan. Saya meyakini bahwa saya bukan orang yang terbaik. Karena pasti ada yang jauh lebih baik dari pada saya, namun barangkali mereka tidak seberuntung saya. Alangkah bodohnya saya bila tidak memiliki rasa syukur dengan bekerja dan belajar sebaik mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup manusia memiliki historisitas. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Soliloqui seperti ini tidak datang dengan sendirinya pada diri saya. Entah sampai berapa puluh kali Bapak saya mengulang-ulang cerita kemalangan, kesakitan, dan perjuangan keras yang dialaminya. Dari cerita yang diulang-ulang itu, saya belajar pasrah-sumarah, namun bukan dalam arti deterministis – pasrah bongkokan begitu saja. Perasaan ringkih (vulnerable) sangat dibutuhkan untuk membaca tanda-tanda jaman. Apa yang kami dapatkan bukan semata-mata karena kemampuan, kehebatan, dan usaha kami semata-mata. Karena kebaikan dari Yang di Atas saja kita bisa melakukan  banyak hal. Bapak memang mengajarkan kami untuk betul-betul memaknai apapun yang kami hadapi, entah itu pengalaman baik ataupun buruk, sebagai bagian dari rencana Dia sendiri untuk hidup kami. Tidak terlalu berlebihan bila kebiasaan macam itu telah menjadi bagian tak terpisahkan, dan dari sana saya mampu menimba semangat untuk maju, sekalipun banyak hal yang kadang nampak tidak begitu ramah terhadap diri saya.&lt;br /&gt;Begitu mendapat tawaran untuk bergabung dalam ISEDP ini pun, saya kembali bertanya pada diri saya: “Mau apa saya? Haruskah saya menyia-nyiakan kesempatan ini? Haruskah saya memandang rendah tugas perutusan ini?” Sejarah masa lalu saya mengajarkan untuk selalu berjuang. Sepahit apapun realitas yang harus kami tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan pertama tentu saja datang dari keluarga. Berpisah dalam waktu tiga tahun untuk studi lanjut? Secara manusiawi, tentu sangat berat. Bagaimana mungkin kami akan melewati waktu-waktu keterpisahan untuk jangka waktu yang terlalu panjang ini? Entahlah. Kami tidak tahu. Yang pasti, kami pernah melewati masa-masa sulit. Tujuh minggu menikah, dan saya tinggalkan istri sendirian. Bedanya, sekarang sudah ada anak, yang Musim Panas 2007 lalu sempat marah dan tidak mau berbicara setiap waktu saya menelpon rumah. Alasannya sederhana. Saya tidak segera pulang dan menghabiskan waktu untuk bermain dengannya. Waktu itu, dia hanya saya tinggal selama dua bulan. Bagaimana bila periodenya jauh lebih panjang? Semoga, dia bisa diberi pengertian nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan lain tentu saja dari kajian bidang studi yang akan saya ambil. Sekalipun masih dalam bidang pendidikan, namun spesifikasi antara studi sebelumnya dan studi yang sekarang jauh jaraknya. Akibatnya, waktu tempuh studi untuk bidang baru akan jauh lebih panjang. Apa yang saya peroleh selama S2 di Boston University tidak diakui sebagai bagian dari program S3 di LUC ini. Karena itu, saya memang harus memulainya dari awal lagi. Sementara, bila program studi sebelumnya sama dengan program sekarang, S2 dianggap sebagai 50% dari apa yang dipelajari dalam program S3. Satu bentuk pengorbanan lain. Juga perlu keberanian untuk keluar dari comfort zone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terpisah dari sejumlah pengorbanan yang mau tidak mau harus dibayar tersebut, keterlibatan dalam ISEDP ini sangat menjanjikan. Secara personal, seperti yang telah saya rasakan dalam pengalaman tujuh minggu di Chicago Summer 2007 yang lalu, saya merasakan perubahan yang sangat luar biasa. Bagaikan segerombolan katak yang dimasukkan ke dalam panci dengan air mendidih di dalamnya, kami berontak. Dengan bekal Bahasa Inggris yang masih jauh dari memadai, kami harus mengikuti mata kuliah tingkat pasca sarjana di Loyola University Chicago. Kami benar-benar merasakan besarnya dampak belajar dalam kebersamaan. Kami menjadi kritis terhadap praktek-praktek sosio-kultural yang telah membentuk kami. Dengan harapan, dalam kebersamaan itu kami memiliki referensi lebih banyak untuk menerjemahkan berbagai hal yang kami pelajari di Chicago nantinya. Kembali ke Indonesia untuk berbagi ilmu dengan sesama anak bangsa. Tidak mudah, namun bukan hal yang mustahil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5732470002596831072?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5732470002596831072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5732470002596831072' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5732470002596831072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5732470002596831072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/10/pergulatan-mencari-makna-hidup.html' title='Pergulatan mencari makna hidup'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1912511973644723297</id><published>2007-10-26T19:27:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T19:36:41.167-07:00</updated><title type='text'>Losing my camcorder</title><content type='html'>August 18, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severe fatigue can impair your judgment. That’s what we usually hear about the impact of tiredness. I made a very silly mistake when I was physically tired due to a long flight back home to Indonesia. We departed from O’Hare International Airport Chicago on Wednesday, August 15, 2007. The 16-hour flight from O’Hare to Hong Kong was very tiring. It was just too long. We had a three-hour stop at Hong Kong. Using the same aircraft, we continued our flight to Singapore. This four-hour-flight only added boredom. And then we had to wait another 9 hours for the next flight using Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flying with other 11 people in my group made me less alert. I felt so secure. I did not need to pay attention the details about anything. So, when we finally checked in for our domestic flight (i.e. from Jakarta to Yogyakarta), I did not really pay attention to the things around me. And the silly mistake happened here. I carelessly put my hand-carry bag together with my baggage. I didn’t have any key to lock my hand-carry bag. All my money was in that hand-carry bag. My DV camcorder was also in that bag. Without being locked! I put the bag mechanistically into the scale. It was 29.7 kg – a perfect weight for domestic flight that allows me to carry a 30-kg luggage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About two hours later, my mind started to work. I was so struck by my late awareness. Oh gosh … my camcorder … my money?? All my rupiahs and dollars are there! When things are hopeless, the only thing you can expect is to hope that the bad thing would not happen. I felt so tortured by the late departure from Jakarta. I tried to develop hypothesis to rationalize my positive hope. “Well,” I started to talk to myself, “today is very busy. There are just too many passengers today. Fridays are always a peak day for the domestic flight. Moreover, today is August 17, which is a day-off since we celebrate the Independence Day. The best thing to happen is of course: the crews working to ship the luggage must be very busy. I think they do not have any slightest time to find something precious from hundreds of bags they handle.” That was the only rationalization that I made. I started to calm down. I found inner peace. “Well, if I lost my camcorder, I have to accept that. It was my only mistake. I could not blame anybody else. I was the only one to blame, since I’m fully aware that it was me who triggered a bad thing to occur. I let somebody else to do harm on me.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I waited for the good thing to happen, but without neglecting that the worst thing might also happen!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 19, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Exactly, poor health, severe fatigue and tiredness can impair our judgment. The old airplane, MD 82 operated by Lion Airliner, landed safely at Adisutjipto airport. When I got my blue hand-carry bag,  I spot the little black bag on it. I also found my money untouched. They were safe. I felt good to see that the bad thing did not happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At 6.30 p.m. I safely arrived at home. I was overjoyed to see my kid, Rio. He showed his happiness by dancing and hugging me tightly. About 9 pm, I was too tired. So, I went to sleep. About midnight, my wife woke me up, asking the whereabouts of my camcorder. I was struck again. I got up, checking my blue bag. I found nothing. “I have taken everything out of this bag,” my wife told me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My eyes were still heavy. And I could not think clearly yet. And I only said that I was the one to blame for the loss. I could not think of something else when fatigue came. And then after about one hour regretting the bad luck, I went to sleep. The rest of the night was a torture for my wife. She loves the camcorder. She remembered the details of our struggle to get this precious camcorder when we got it in 2003. At that time, we were about to leave home after two years studying at Boston University. We spent US$800 for the camcorder. We waited for the whole day for the delivery service from UPS to ship my order. Since I had to work at 6 pm, I could not wait UPS any longer. It was the landlord of our apartment to receive it. He stored it on the front door my room. We were very happy to see the beautiful camcorder from a venerated technology producer: Sony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dawn broke, I was still in bed. And the conversation was still around the lost camcorder. “Well, the ability to accept both good and bad luck in a moderate manner is the most distinctive characteristic of a mature person.” I started to develop a theory. “We have experienced various kinds, both unhappy and happy things in our life. And we could make the right decision for those things. We did not spend a lot of time mourning of the bad luck though. Or we did not spend time by being too overjoyed when good luck came.  We have been pretty stable. Our experiences have told us to be moderate in whatever situation.” That was my remark on the loss of my camcorder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I think so,” my wife replied. “But, still, it is too difficult for me to accept this. And that made me restless the whole night. I could not sleep well.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, life went on. Our day was filled with a great joy. My son was so happy to see me. He often hugged me. He often touched me. He often kissed me. I cannot deny the big impact of my being away for two months. He missed me so much. When the evening came, we planned to enjoy the favorite meatball. I took my jacket from the closet. And my heart was filled with a greater joy. My little black bag was stored in the closet. I took it and handed it in to my wife. She was so surprised.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The things became clearer. Again, my fatigue inhibited me from thinking reasonably. When I took out the black bag from the blue bag, I directly stored it in the closet. I did not want my son to see the camcorder and play with it. I did it automatically without remembering doing it. So, when my wife asked me the whereabouts of my camcorder the earlier midnight, I could not think of it. I was totally tired and fatigue so I could not figure out the things that I subconsciously did.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1912511973644723297?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1912511973644723297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1912511973644723297' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1912511973644723297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1912511973644723297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/10/losing-my-camcorder.html' title='Losing my camcorder'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-6677983345249434286</id><published>2007-07-18T18:54:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T18:55:10.224-07:00</updated><title type='text'>Too much ... so align yourself then!</title><content type='html'>&lt;div&gt;It is not so surprising that we often find ourselves too overwhelmed with a  lot of things. Many assignments due on the same time. Many readings must be  accomplished in a very short time. It seems like that we don't have enough to  enjoy ourselves. Is it really the case that we certainly do not have enough time  to slow down? Why do few people do a lot of things in their busy times, while  others even do not reach the baseline in their ample time? this is a very good  question. Finding answers for this anser certainly help us shape our way of  seeing this world. &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Time management is a critical issue for everybody. Unfortunately, most  people seem to fail to appropriately realize how important it is to realize how  we make use of our time. Knowing how things should be done is a very good start.  Our group arrived in Chicago four weeks ago. I often noticed how things are done  around me. And how architects build houses and apartments are also one of my  interest. Across the Baumhart Hall in Pearson Ave, a huge apartment is being  built. At the very front of the building, the announcement says: &lt;em&gt;The Future  Home of St. Clare at Water Tower. &lt;/em&gt;I learned that the building is projected  to finish in January. I was amazed. How can people be sure that the building  will be accomplished on a certain day? &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;My imagination goes wild. When  I pass the construction site, I always  imagine that the architects are knowledgeable to the amount to job and technical  things related to the building process. I am sure that in order to precisely  predict the accomplishment of the project, they have also precisely and  accurately counted all the detailed jobs to do. They have set up a rigid  scheduling. They must follow a series of strict procedures. Everybody must  comply with the rules and designated plans. Any single failure is very likely to  cause serious problems. The jobs have been identified, calculated, and  predicted. So, things are predictable. The trucks providing concrete must wait  in line. Late arrival is certainly highly discouraged, because it causes a  number of related problems. I keep imagining, and imagining. And I found  similarities in the concept of leadership. &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Being a leader means seeing what things should be done, and accomplished.  He/she must assess the level of accomplishment. When things go wrong, he/she  must be able to facilitate that improvement to happen. Supervising is certainly  a very good thing to take into account. And leadership does not necessarily mean  "great" thing. It is about our day-to-day life. We have various kinds of choices  to do. We may prefer to do something earlier, and put aside other things and do  them later. If we are not fully aware of this kind of habit, i.e. preferring  doing things and easily tempted to put aside and leave things for the next time,  it is going to be harmful for our life. We often feel overwhelmed. We always  think that time is not always enough for us. &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;What happens with those successful people is not because they have more  time to do things. I believe that it is mostly because they are able to manage  their time. When we are not able to see the purpose of our life, we feel that we  do not have enough challenge to do. We always feel that the assignments are  still far away. We enjoy too much our days by playing around. When there are too  many assignments do, so we do not have enough time to process the information.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-6677983345249434286?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/6677983345249434286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=6677983345249434286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6677983345249434286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/6677983345249434286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/07/too-much-so-align-yourself-then.html' title='Too much ... so align yourself then!'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-4936518906500615047</id><published>2007-07-18T06:56:00.001-07:00</published><updated>2007-07-18T06:57:26.158-07:00</updated><title type='text'>make one's day</title><content type='html'>In the last two days, I found many interesting things. First, yesterday I came across a young gentleman attending Biology Department of Loyola University Chicago. We got acquainted to each other and spent the whole trip on the bus from Lake Shore Campus to Pearson bus stop sharing our own experiences. It was a good experience for me, because it turned out to be an interesting time for me. The name of the 19-year old gentleman, a sophomore, is Tasso. He was born in the US, but his parents are from Greek. The discussion was triggered by a small incident that I saw. A young black man crossed the street when the traffic light did not allow him to do so. The traffic was not that busy. Seeing the man in front  crossed the street, a young women was provoked to do the same thing. I directly came to a quick conclusion: violating law is contagious. When we see a model to follow, it is very likely for us to follow the thing, even when we know very well that the thing is totally wrong. I told him my perspective about the thing and that was a good start for a nice talk. Finally, as I promised I sent Tasso a pie of writing that I wrote pretty long time ago, or last year. The writing is about the death of my father, and how I learned from the funeral time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I received a quick reply. Tasso acknowledged that he started the day with a bad mood. He only had one thing to do for the day. He did a little chore for a friend, i.e. picking up his/her visa. That was all. He did not have any spirit that day. What surprised me much was his reply: he turned to be more motivated after we exchanged our experience. I remember that it is good to make a day. making a day means doing little things for other people that help them cheer up. Doing this way, we certainly help others improve many things in their lives as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another thing that I learned yesterday was the time of discussion with Mary Theis. I was very grateful to be in her office in the first session. I was expected to spend only twenty minutes, but it turned out to be thirty five minutes. We had a good conversation. The things that I remember most were: first -- I told her that I am now learning how to deal with other people more appropriately. Sometimes, I feel too pushy, asking too much from other people. But, working in the group of twelve, with different characteristics, I certainly learn how to control myself. I learn how to be less pushy and more tolerant. In this way, I reduce my tension. I can be more easily adaptive as well. The second thing that I discussed with her is the idea of miracle. I told her that I wait for a miracle to happen. I will certainly stay longer here. My study requires me to stay longer and work much harder. I told her that the best arrangement for me and my family is to get here, work and gather enough money to pick my family. It is not necessarily something easy to do. IT is totally a tough thing. She replied that she had the authority to manage things to ensure that I work as an adjunct teacher/instructor. This position is not only good for my family and me, in the sense of earning money to live, but more than that, it is more important for me to get experience of working as an adjunct teacher/instructor. Working in a rich context can serve a better future for me. I could earn a meaningful experience that in turn will equip me with professional job later in my life. It means that I will have more opportunity to offer better things for more people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to two things, I also learned pitiful things in India. As usual, I listened to radio every day. By listening to radio, I obtain much knowledge and my English certainly gets improved much. I was so moved by a documentary report on India's economy and the fact that the country's economy is improving, but poverty is rampant in remote areas. It is very surprising that people suffer from economic suffering. There is an enormous economic gap in India. The report was so shocking, because the reporter went to remote area. Accompanied by a native Indian, he visited poor villages. I was so moved. Once they came across a very poor village. The villagers eat rats to survive. They do not have enough food. The reporter interviewed a woman with six children. The eldest son is ten years old. The youngest is six months old. The husband -- accompanied by the eldest son -- goes to the nearest city to get menial job, coming back once a month. At home, the wife stays with her five kids. Very often however, the kids are often left home, taken care by the second child, that is eight years old. The reason is simple, the mom works in a neighboring farmland, earning 25 pence a day. With that little money, how can the family survive? I could not help crying, I burst into tears when I heard children crying. Hunger is not unusual among them. In this country, food is everywhere. This world is highly unfair.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-4936518906500615047?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/4936518906500615047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=4936518906500615047' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4936518906500615047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4936518906500615047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/07/make-ones-day.html' title='make one&apos;s day'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-7462632787196974542</id><published>2007-06-28T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-06-28T21:54:31.508-07:00</updated><title type='text'>io kangen bapak ...</title><content type='html'>Lukisan hitam putih keluargaku memang belum sempat aku pasang di dinding. Di situ tergambar wajahku yang agak &lt;em&gt;chubby &lt;/em&gt;dengan senyum lebar, dan mata sipit. Di sisi kananku istriku sedang menggendong anakku, si Io yang tampak sedang tidak bahagia, sedikit &lt;em&gt;njaprut. &lt;/em&gt;Lukisan itu memiliki makna khas. Diberikan sebagai kenang-kenangan oleh seorang mahasiswi yang hampir gagal menyelesaikan skripsi. Malam sebelum keberangkatanku, 19 Juni 2007, dengan menyewa sebuah pick-up, dia datang membawa lukisan berukuran kurang lebih 75 cm x 1,25 m. Terkaget-kaget kami dibuatnya. Tapi itu lah yang dia katakan. Dengan mata berbinar dan sekaligus berkaca-kaca, dia mengatakan betapa hidupnya telah begitu berarti selama satu tahun terakhir ini. Ada banyak yang telah dipelajari selama penulisan skripsi. Aku tersenyum, dan juga bersyukur, bahwa sosok yang keras kepala tersebut telah menjelma menjadi sosok yang siap untuk mendengarkan dan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, lukisan itu teronggok di kamar tidur utama. Belum terpasang di dinding. Dan sore ini, aku merasakan getaran yang sangat kuat untuk menelpon keluargaku. Apa jawaban yang aku peroleh? Io tidak cukup antusias untuk menjawab telpon. Mungkin dia merasa kurang mantap saja. Setelah dua tiga kali bicara, dia berikan telpon ke mamanya. Dan mamanya kemudian menceritakan hal yang tiba-tiba membuat diriku tercenung sejenak. "Mas, Io lucu sekali," begitu katanya, "Ingat foto yang dicetakkan mas Bambang? Io selipkan fotonya di sisi lukisan. Katanya, Io sangat kangen sama kamu." Aku tersenyum. Getir. Sepercik rasa pedih tertoreh di hati. Ingin rasanya aku peluk dia, bercanda, bermain bola, dan jalan-jalan menyusuri pematang sawah seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati kecil aku menangis. Aku bayangkan betapa sosok anak berusia 32 bulan merindukan sosok seorang ayah yang tampil sebagai seorang pahlawan. Hero. Bisa mengerjakan banyak hal. Bisa memecahkan semua persoalan. Kreatif dalam bermain dan membuat alat-alat mainan. Aku bayangkan sosok Io yang mungil merindukanku. Ya, aku ingat bagaimana dia begitu senang dengan hasil karya baling-baling kertas yang aku buat yang dia bisa pakai untuk mainan. Sederhana. Tapi itu memberi kesan yang dalam. Bagi dia, yang menarik bukannya mainan yang aneh-aneh. Tapi mainan yang sederhana yang dibuatkan oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu persoalan yang mendasar ketika seorang ayah meninggalkan keluarga untuk suatu kepentingan tertentu adalah hilangnya sosok hero dalam keluarga. Bila tidak disikapi dengan positif, dan anak tidak didampingi dengan baik, kehilangan macam itu tentunya akan memberikan dampak serius dalam perkembangan emosional dan psikologis untuk waktu-waktu mendatang. Pandangan macam ini tentu diangkat dari perspektif psikologi perkembangan. Namun, rupanya pandangan ini tidak sepenuhnya cukup untuk menjelaskan fenomena yang sangat rumit dalam kehidupan ini. Ada dimensi spiritual yang rupanya bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena tersebut dengan lebih komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi spiritual ini, manusia sudah sepantasnya merasakan kehidupan di dunia ini sebagai rangkaian tugas perutusan. Aku dipanggil untuk menjadi seorang ayah, seorang dosen, seorang kepala rumah tangga, dan teman bagi kolega-kolegaku. Tentu tidak mudah menggenapi seluruh tugas perutusan tersebut dengan gilang-gemilang untuk waktu yang bersamaan. Dalam banyak hal, harus ada pengorbanan di sana-sini untuk memastikan bahwa tugas perutusan yang dipasang di pundak ini benar-benar terlaksana dengan optimal. Untuk menjadi dosen yang nantinya bisa memberi kontribusi yang lebih banyak untuk kehidupan, aku memang tidak boleh menutup mata dengan pengorbanan yang harus dibuat. Meninggalkan keluarga, mengesampingkan comfort zone demi sebuah cita-cita, dan berusaha untuk tampil optimal dalam kondisi apapun adalah bentuk-bentuk dari pengorbanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba untuk meyakini, sekalipun Io tidak tumbuh berdampingan dengan diriku, dia akan tumbuh tegar dan kuat, sekuat dan setegar orang tuanya yang tidak mudah menyerah pada persoalan perasaan. Aku meyakini, bahwa apa yang aku lakukan ini tidak lebih dari sekedar menjalani apa yang telah dirancang oleh Yang Di Atas. Kehendak bebasku lah yang menentukan apakah aku berhasil atau tidak dalam menjalani tugas perutusan ini. Dan ketika tabir kehidupan ditutup, yang akan ditanyakan St. Petrus adalah seberapa besar aku bertanggung jawab dengan kehendak bebasku tersebut. Kehendak bebas yang menentukan bentuk akhir dari sebuah rencana Yang Di Atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-7462632787196974542?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/7462632787196974542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=7462632787196974542' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7462632787196974542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/7462632787196974542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/06/io-kangen-bapak.html' title='io kangen bapak ...'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-4992240703288139525</id><published>2007-06-28T04:31:00.000-07:00</published><updated>2007-06-28T04:46:01.874-07:00</updated><title type='text'>Menjadi chicagiensis</title><content type='html'>Satu minggu sudah kami berduabelas tinggal di Chicago. Dengan misi besar yang kami tanggung, kelompok yang disebut sebagai &lt;em&gt;leadership team &lt;/em&gt;ini tentu tidak bisa dengan begitu saja mengklaim kesempatan dua bulan tinggal di Chicago ini sebagai masa liburan. Memang tidak mudah untuk beradaptasi, dan kemudian menjalani tugas perutusan yang tidak ringan ini. Masing-masing memiliki persoalan sendiri-sendiri. Pak Prih harus menemui kenyataan bahwa kakak sepupunya meninggal dalam kecelakaan perjalanan ke Jogja dari Sumatera. Keluarga yang telah bertahun-tahun tidak ke Jawa ini akhirnya harus menjumpai pengalaman tragis: sang ayah, ibu, dan anak yang hendak tinggal bersama Pak Prih, dipanggil Tuhan dalam kecelakaan parah sesudah penyeberangan di Merak. Sulit untuk diterima. Bisa dibayangkan, betapa berat tanggungan psikologis yang harus dipanggul. Terutama bila diingat bahwa istri Pak Prih harus menghadapi pengalaman seperti ini sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota termuda dari team kami, Aris Wahyu Prasetyo, juga tidak lepas dari persoalannya sendiri. Sebagai seorang yang biasa aktif berolahraga, dia tidak cukup menemukan partner yang tepat untuk menemani berolahraga. Akibatnya cukup serius, setelah beberapa hari tanpa mengeluarkan keringat, dia kelihatan sangat loyo, &lt;em&gt;lungrah. &lt;/em&gt;Akibatnya, dia tidak bisa mengikuti acara retret di Cenacle Retreat House. Dia memilih tinggal di rumah, dan akhirnya setelah cukup istirahat, dia akhirnya berolah raga dan pergi ke Gymn Center untuk mencari keringat. Beruntung bahwa yang dia cari ketemu. Keringat datang, dan ketika Rm. Justin Daffron membawakan soup khusus untuknya, dia sudah cukup segar untuk melahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain tentu tidak terlalu banyak masalah. Rekan-rekan memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar. Ada berbagai pengalaman di sana-sini. Namun, tentu saja itu memperkaya dan menjadikan pengalaman tinggal di negeri Paman Sam ini sebagai sesuatu yang terlalu berharga untuk dikesampingkan. Nah ... kita tunggu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-4992240703288139525?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/4992240703288139525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=4992240703288139525' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4992240703288139525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4992240703288139525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/06/menjadi-chicagiensis.html' title='Menjadi chicagiensis'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-8438249696599279186</id><published>2007-06-03T09:48:00.000-07:00</published><updated>2007-06-03T09:59:23.411-07:00</updated><title type='text'>latihan jujur</title><content type='html'>Hari ini, lamu lalu lintas sedang tidak bersahabat. Setiap kali aku mulai mendekatinya, lampu menyala merah. It terjadi di semua persimpangan jalan yang aku lalui pagi ini. Pertama, di dekat bandara, kedua di pertigaan Ring Road, ketiga di pertigaan Janti, keempat di pertigaan UIN. Keempat-empatnya ruapnya berkonspirasi untuk mencegahku datang tepat waktu. Tidak heran, aku terlambat enam menit di kelas. Kertas ujian sudah dibagikan. Sebagian besar mahasiswa bahkan sudah mulai mengerjakan soal. Untuk satu hal, aku tidak punya alasan untuk takut dimarahi dosennya. Karena aku bukan lagi mahasiswa di kelas itu. Aku berperan sebagai partner dalam mengawasi ujian. Namun, aku juga tidak selayaknya merasa bebas dari rasa bersalah. Soal lampu lalu lintas yang konspiratif masih bisa aku gunakan sebagai alasan untuk keterlambatanku. Aku masih bisa mengelabui rekanku dengan mengkambinghitamkan lampu lalu lintas. Namun hati kecilku menegur. Tidak jujur kalau hanya mempersoalkan lampu merah. Mestinya aku lebih berani mengakui bahwa tadi pagi aku tidak cepat-cepat mandi. Mestinya aku lebih berani menyalahkan diriku yang terlalu asyik membaca koran yang terlambat datang. Ya ... kejujuran kecil itu barangkali terlalu sederhana untuk menjadi kesadaran publik. Namun, begitu pena ini aku biarkan menari bebas di atas kertas, aku menjadi malu bahwa aku sering menutup mata terhadap gelitik nurani-hati-kecil yang mengajakku untuk jujur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-8438249696599279186?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/8438249696599279186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=8438249696599279186' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8438249696599279186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8438249696599279186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/06/latihan-jujur.html' title='latihan jujur'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-8578612556769497692</id><published>2007-05-24T20:11:00.000-07:00</published><updated>2007-05-24T20:12:55.954-07:00</updated><title type='text'>Kasus UN: Giliran Nurani Pemerintah yang Diuji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ke-58 anggota &lt;i style=""&gt;Education Forum&lt;/i&gt; yang mengajukan gugatan (&lt;i style=""&gt;citizen lawsuit&lt;/i&gt;) terhadap pemerintah sehubungan dengan ketidakadilan yang mereka rasakan sebagai akibat kebijakan Ujian Nasional (UN) boleh berteriak gembira. Gugatan mereka dikabulkan (22&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mei 2007). Dalam putusannya, pengadilan menilai pemerintah telah lalai memenuhi hak asasi anak di bidang penddiikan. Disamping itu juga, sebelum UN digelar, pemerintah wajib meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah, serta meninjau ulang sistem pendidikan nasional saat ini. Namun rupanya, sikap gembira dalam menyikapi kemenangan itu bisa saja berakhir dengan kehampaan. Menanggapi keputusan itu, Mendiknas bersikukuh untuk terus akan mempertahankan UN (&lt;i style=""&gt;the Jakarta Post, &lt;/i&gt;23 Mei 2007). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Korban target politik jangka pendek &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari tinjauan sosiologis kritis, keputusan mempertahankan UN sebagai alat ukur keberhasilan belajar secara nasional adalah hal wajar. Pemerintah mempunyai alasan untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh, serta apa yang layak dan tidak layak. Persoalan yang sering muncul adalah ketika kebijakan publik cenderung berorientasi pada pencapaian target-target politik jangka pendek. Kita terlalu sering mendengar celotehan “ganti menteri pendidikan, pasti akan ganti kurikulum.” Fenomena macam ini tidak lain adalah manifestasi dari target-target politik jangka pendek dari pemimpin politik yang sedang berkuasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kasus UN pun juga demikian halnya. Keberhasilan belajar dalam angka statistik selalu menakjubkan. Seakan-akan, semakin tinggi standar angka kelulusan, kita diyakinkan untuk percaya bahwa kualitas pendidikan yang begitu kompleks sudah membaik dengan sendirinya. Catatan-catatan numerik statistik sebagai alat propaganda bahwa pemerintah telah berbuat “benar dan baik” menjadi alat pengesah yang ampuh dari pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dilihat dari proses pembelajaran UN memang membawa dua dampak negatif yang sangat serius. Pertama, UN menjauhkan siswa dari pengalaman pembelajaran yang membebaskan (&lt;i style=""&gt;liberatory&lt;/i&gt;). Demi mencapai tujuan “angka skor minimal,” berbagai upaya dilakukan, seperti menghafal, dan &lt;i style=""&gt;drill &lt;/i&gt;soal-soal ujian di masa lalu. Berbagai pihak di luar murid, seperti orang tua, sekolah, dan bahkan Diknas pun terjebak dalam sindroma seperti ini. Seperti yang sudah didiskusikan di banyak tempat, bahkan banyak sekolah yang menyewa instruktur-instruktur bimbingan belajar untuk melatih para siswanya mengerjakan soal-soal ujian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Padahal, anak sudah semestinya mengalami pembelajaran yang betul-betul mampu membekali mereka dalam hidup. Hafalan jangka pendek tidak cukup membekali anak untuk memecahkan persoalan hidup yang sangat kompleks. Karena terbiasa distimulasi dengan soal-soal ujian, anak tidak dilatih untuk bereksplorasi, mencari koneksi atas berbagai fenomena, kreatif dan kritis serta adaptif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kedua, UN juga menjadi alat yang paling tepat untuk menjauhkan anak didik dari nilai-nilai kejujuran, semangat kerja keras, berani bertanggung jawab, dan ketekunan. Berbagai pelanggaran yang terjadi di sana-sini yang dilakukan baik secara terang-terangan maupun tersembunyi oleh berbagai pihak terkait, jelas-jelas mengajarkan pada siswa tentang tidak perlunya integritas dalam hidup ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Singkat kata, dengan dua dampak negatif yang akhirnya justru berakibat pada runtuhnya nilai-nilai yang hendak diperjuangkan oleh pendidikan sendiri, akankah pemerintah berani bertindak “strategis?” Tentu, makna “strategis” di sini harus dimengerti dari kacamata kepentingan siswa, bukan kepentingan propaganda politis semata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Berperang dari dalam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bila dicermati lebih lanjut mengenai sikap Depdiknas, yang tampak justru persoalan ruwet penuh kontroversi. Di satu sisi, hal-hal negatif seperti yang sudah disinggung di atas, telah benar-benar dipahami oleh insan-insan yang berada dalam departemen ini. Literatur-literatur utama yang dikeluarkan oleh Depdiknas dalam rangka sosialisasi KBK 2004 menjadi contoh konkrit tentang pemahaman mengenai kesadaran tersebut. Di sana terlihat bahwa belajar dalam arti sesungguhnya ditandai dengan kegiatan yang terfokus pada siswa (&lt;i style=""&gt;student-centered&lt;/i&gt;), melibatkan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (&lt;i style=""&gt;contextual teaching and learning&lt;/i&gt;), menekankan pada pengembangan kecakapan hidup (&lt;i style=""&gt;broad-based education oriented to life-skills&lt;/i&gt;), dan menekankan pada proses (&lt;i style=""&gt;process-based learning&lt;/i&gt;). Penekanan pada tingkat proses ini layak digarisbawahi, karena pada dasarnya, model evaluasi yang disarankan oleh Depdiknas sendiri lebih mengacu pada pencapaian tiap individu. Sebagai alat ukurnya, yang disarankan adalah penilaian berbasis portofolio dan kinerja (&lt;i style=""&gt;portfolio and performance based assessments&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di lain pihak, justru Depdiknas sendiri juga yang melanggar “aturan main” yang dikeluarkannya sendiri. UN yang selama ini diterapkan justru bertentangan dengan idealisme yang dicerminkan dalam literatur-literatur tersebut, dan tentu saja memang selalu mengundang berbagai kontroversi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertama, tipe pilihan ganda yang dipakai jarang menyentuh tingkat berpikir yang lebih kompleks. Anak tidak diajak untuk berpikir analitis, sintesis, dan evaluatif (&lt;i style=""&gt;higher-order thinking skills&lt;/i&gt;). Anak hanya diajak untuk menyentuh tingkat pengetahuan dasar dan pemahaman minimal. Kedua, timbul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertanyaan mengenai keabsahan UN sebagai alat ukur kelulusan. Bagaimana mungkin proses pembelajaran selama tiga tahun hanya diukur selama 120-an menit, dan ditentukan oleh tiga mata pelajaran? Dalam hal ini, posisi guru yang mestinya memiliki hak prerogatif dalam menentukan lulus-tidaknya siswa – karena merekalah yang paling tahu proses belajar dari hari ke hari – sama sekali tidak diberi ruang gerak. Ketiga, UN diduga memiliki tingkat validitas prediktif yang rendah pula. Artinya, mereka yang mencapai nilai baik di UN bukan berarti dia memiliki peluang lebih baik untuk berhasil. Yang gagal pun tidak berarti bahwa nasib mereka pun juga akan lebih buruk. Ada begitu banyak contoh bahwa yang memiliki potensi untuk berhasil di masa depan, justru gagal dalam UN. Sementara, yang serba minimalis, bisa saja lulus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Singkat kata, begitu kasus UN masuk wilayah pengadilan, akankah nurani seperti yang tercermin dari literatur-literatur keluaran Depdiknas sendiri akan mengusik kesadaran dari pihak pemerintah. Kita tunggu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apakah nurani para pembesar bangsa ini juga terketuk? Kita tunggu saja kebijakan dan komentar-komentar mereka. Akankah kualitas pendidikan yang belum membaik ini justru makin diperparah dengan prinsip mediokritas gaya UN seperti sekarang ini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-8578612556769497692?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/8578612556769497692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=8578612556769497692' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8578612556769497692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8578612556769497692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/kasus-un-giliran-nurani-pemerintah-yang.html' title='Kasus UN: Giliran Nurani Pemerintah yang Diuji'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-598067978024821089</id><published>2007-05-24T19:36:00.000-07:00</published><updated>2007-05-24T19:37:03.807-07:00</updated><title type='text'>Rm. Mangunwijaya: Pembaharuan Pendidikan dan Keberlanjutannya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle" style="line-height: normal;"&gt;Rm. Mangunwijaya (1929 – 1999) bagi sebagian besar orang adalah sesosok &lt;i&gt;splendor veritatis &lt;/i&gt;– sosok yang penuh dengan warna-warni pelangi sebagai cermin keutamaan kemanusiaan. Pergulatan hidupnya tercermin dalam beragam karya monumental. Novel &lt;i&gt;Burung-burung Manyar &lt;/i&gt;(1979) menyabet penghargaan “The South-East Asian Award” (1986). Sentuhan arsitektur yang berbasis masyarakat terpinggirkan di tebing Kali Code telah membuatnya dianugerahi Aga Khan (1990-1992). Kepeduliannya terhadap karya pendidikan telah terwujud dalam Sekolah Dasar Eksperimental Kanisius Mangunan (SDKEM) dan Lembaga Dinamika Edukasi Dasar (DED).   &lt;/p&gt; &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;Karya terobosan &lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karya dan sumbangan Rm. Mangun dalam bidang pendidikan inilah yang menjadi objek penelitian dari Y. Dedi Pradipto dalam buku &lt;i&gt;Belajar sejati vs. kurikulum nasional: Kontestasi kekuasaan dalam pendidikan dasar &lt;/i&gt;(2007)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memakai pisau analisis antropologi sosial, Dedi Pradipto mencoba untuk menghadirkan sosok Rm. Mangun lengkap dengan berbagai terobosan yang beliau coba ajukan untuk membantu persoalan kronis dalam dunia pendidikan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kajian penelitian dalam buku ini didasarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada fakta bahwa pemerintah menciptakan sistem untuk menjaga “kelangsungan” hidupnya. Dinamika dalam penciptaan kondisi macam ini termanifestasi dalam berbagai aturan main. Kurikulum dan Ujian Akhir Nasional (UAN) adalah dua contoh manifestasi pengaruh pemerintah tersebut. Kurikulum secara luas dapat dimaknai sebagai apa yang boleh dan tidak boleh untuk dikuasai oleh anak didik. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sementara, UAN lebih merupakan manifestasi dari target politik jangka pendek pemerintah, bukan untuk pemberdayaan anak didik. Yang menjadi korban tentu saja pertama-tama adalah siswa. Karena mereka tidak diberi ruang gerak untuk mengeksplorasi alam, memuaskan rasa ingin tahu mereka, dan mencari apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Pihak-pihak di sekitar anak, entah itu orang tua, guru, dan kepala sekolah, dan bahkan Dinas Pendidikan pun, ramai-ramai “mencekoki” anak dengan pengetahuan dan hafalan jangka pendek. Bagi Rm. Mangun, pembelajaran yang tidak mengedepankan pengalaman “belajar sejati” justru akan menjadikan anak sebagai korban, bukan sebagai pihak yang diberdayakan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Rm. Mangun mencoba untuk keluar dari lingkaran setan dampak kekuasaan yang termanifestasi melalui kurikulum yang sarat dengan pengetahuan namun miskin dalam pemaknaan itu. Karena itu, dengan memanfaatkan sebuah SD Kanisius Mangunan, Sleman yang hampir mati, pada tahun 1994, Rm. Mangun mengadakan terobosan (&lt;i&gt;groundbreaking&lt;/i&gt;) dengan tiga sasaran. Pertama, Rm. Mangun menciptakan kurikulum yang khas. Kepedulian dan kedekatannya dengan &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;telah mendorongnya untuk mengangkat kemiskinan kronis sebagai laboratorium eksperimental untuk mengentaskan anak miskin. Kedua, sebagai partner kerja dari SDKEM, Rm. Mangun juga mendirikan Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang berperan sebagai &lt;i&gt;think tank &lt;/i&gt;untuk mendukung dari program-program pembelajaran di SDKEM. Di DED inilah berbagai persoalan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar diangkat, didiskusikan, dibagikan, dipahami secara bersama, disikapi secara kritis, dan akhirnya dicarikan solusinya. Ketiga, Rm. Mangun juga tidak enggan untuk menggandeng berbagai rekanan, mengembangkan jaringan, dan menyebarkan temuan-temuan dalam berbagai eksperimen tersebut ke berbagai forum. Hasil-hasil dari praktik baik pembelajaran yang memfasilitasi belajar sejati dibagikan dan diterapkan di berbagai konteks sekolah lain. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan tiga hal yang dilakukan secara konsisten tersebut, usaha-usaha Rm. Mangun akhirnya mulai menuai perhatian. Setidaknya ada tiga kontribusi besar yang dihadirkan dari perjuangan Rm. Mangun selama ini. Pertama, pihak Departemen Pendidikan tergugah untuk mengadopsi kurikulum pendidikan dasar yang telah diujicobakan oleh Rm. Mangun. Kurikulum berorientasi pada tema yang dipakai di SD sekarang ini adalah hasil eksplorasi dan eksperimentasi dari Rm. Mangun dan teman-teman. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kedua, sejauh ini, baik SDKEM maupun DED menjadi acuan bagi berbagai sekolah di berbagai penjuru di negeri ini dalam hal pengembangan model-model materi pembelajaran dan pendekatannya. Banyak yang sudah datang, belajar, dan mengadopsi model-model pendekatan pembelajaran yang memungkinkan “belajar sejati” dapat terwujud. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ketiga, SDKEM dan DED berhasil mengubah wajah persekolahan yang serba pesimistis, kekurangan, dan tidak berdaya. Dengan pola interaksi yang sehat antara guru dan siswanya, kebebasan untuk berekspresi dan bereksplorasi, anak didorong untuk menumbuhkembangkan sikap ingin tahu dan saling harga-menghargai. Berbagai pengalaman hidup yang dijumpai dalam hidup keseharian diangkat dan dimaknai dengan penuh empati. Kemiskinan kronis sebagai realitas objektif bagi anak-anak menjadi bagian dari proses pembelajaran. Barang-barang bekas bisa dibawa ke kelas untuk menumbuhkan kesadaran tentang makna kreativitas, perlunya konservasi alam, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi Rm. Mangun, kemiskinan bukan alasan untuk merasa pesimistis, gagal, dan tidak berprestasi. &lt;/p&gt;   &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;Catatan kritis &lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sulit untuk dipungkiri bahwa sosok Rm. Mangun identik dengan pemikiran yang begitu kompleks, sehingga banyak hal tidak tertangkap bahkan oleh para sahabatnya yang meneruskan karya dan kepeduliannya dalam dunia pendidikan. Hanya 30% yang tertangkap, sementara yang 70% hilang seiring dengan berpulangnya sosok ini ke pangkuan pertiwi. Nasib SDKEM dan DED pun juga kembang-kempis sepeninggal beliau. Mengapa demikian? Sosok Rm. Mangun, sebagai makhluk fana, juga hidup dalam konteks ruang dan waktu, yang menurut logika Niels Mulder (2000) masih mengacu pada masyarakat madani setengah hati. Dengan kata lain, Rm. Mangun muncul sebagai sosok kharismatis di tengah-tengah konteks masyarakat yang belum mampu berpikir secara merdeka dan bertindak secara bebas-bertanggung jawab. Dengan kata lain, Rm. Mangun yang memiliki karisma tunggal, terlalu berat menanggung idealisme, karena masyarakat yang ada di sekitarnya tidak berdiri setara dengan sosok ini. Akibatnya jelas, banyak ide dari sosok Rm. Mangun yang tidak tertangkap. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Gambaran tentang perjuangan dan kepedulian Rm. Mangun dalam mengentaskan masyarakat miskin melalui pendidikan sebenarnya tidaklah terlalu unik. Bahkan untuk negara semaju Amerika Serikat pun, persoalan kesenjangan sosial menjadi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Berbagai kelompok masyarakat dalam lingkup &lt;i&gt;inner cities&lt;/i&gt;, yang ditandai dengan penyalahgunaan obat terlarang, &lt;i&gt;drop-out rate&lt;/i&gt; yang sangat tinggi, dan kriminalitas yang marak, telah membuat lingkaran setan yang tidak mudah untuk diretas. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;Cukup menarik bahwa sekelompok Jesuit telah berhasil meretas persoalan macam ini. Dimulai tahun 1996, di salah satu sudut kota Chicago, mereka mendirikan sebuah SMA Cristo Rey&lt;i&gt; &lt;/i&gt;untuk mengangkat anak-anak dari jurang kemiskinan kronis. Data-data selama satu dekade memang menakjubkan. &lt;i style=""&gt;Drop-out rate&lt;/i&gt; di sekolah ini hanya 6%, yang melanjutkan kuliah 82%, 11 sekolah lain yang mengadopsi model yang sama telah didirikan, di musim gugur 2007 ini, akan dibuka 7 sekolah lagi. Tahun 2008, akan dibuka lebih banyak lagi. Akhir tahun 2006, Rev. John Foley sebagai ketua Cristo Rey Network tercatat sebagai &lt;i style=""&gt;Man of the Year &lt;/i&gt;versy &lt;i style=""&gt;Newsweek &lt;/i&gt;untuk bidang pendidikan. Di sini, kita melihat kontrasnya, bagaimana gerakan pembaharuan pendidikan menjadi buntu di negeri kita. Sementara di negara lain, justru berkembang pesat. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ada dua alasan mendasar. Pertama, bagaimanapun juga, kita belum memiliki karisma bersama (&lt;i&gt;shared charisma&lt;/i&gt;) atau yang sering disebut sebagai budaya korporasi (&lt;i&gt;corporate culture&lt;/i&gt;). Dalam konteks ini, orang-orang yang terlibat dalam suatu program rata-rata memiliki kemampuan dan ketrampilan yang sama; kesediaan untuk bekerja sama, saling membantu, dan saling menolong. Sikap budaya yang seperti inilah yang mendesak untuk dibangun jika yang mau dicapai adalah keberhasilan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kedua, keberhasilan suatu program pembaharuan juga mencerminkan konteks perekonomian yang lebih luas. Anak-anak yang masuk SMA Cristo Rey memang tidak mampu membayar uang sekolah. Namun, mereka akan dilibatkan dalam &lt;i&gt;Corporate Internship Program&lt;/i&gt;, di mana mereka akan bekerja satu minggu sekali di sebuah perusahaan. Sebagian besar dari upah yang mereka peroleh akan dipakai untuk bayar uang sekolah. Sekalipun tidak cukup, toh ini sangat membantu untuk kelanjutan dan kelangsungan hidup sekolah tersebut. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-598067978024821089?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/598067978024821089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=598067978024821089' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/598067978024821089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/598067978024821089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/rm-mangunwijaya-pembaharuan-pendidikan.html' title='Rm. Mangunwijaya: Pembaharuan Pendidikan dan Keberlanjutannya'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-4536260865508092874</id><published>2007-05-24T19:27:00.000-07:00</published><updated>2007-05-24T19:34:14.631-07:00</updated><title type='text'>Still on National Exams: Do we win the battle, but lose the war?</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The life-cycle of the National Final Examination (NFE) is crystal-clear: when it is done, it always ends up with controversy. Many disagree with its use to determine those who pass and don’t. However, no matter how harmful the effects of the exam are and no matter how hard the criticisms are, the government remains unmoved. The national exam ritual annually repeats itself. Ideally, the exam should serve two purposes. Firstly, it provides a comprehensive and accurate portrayal of the quality of education nationwide. Secondly, based on these psychometric test results, appropriate measures are to take. The Education Department certainly could spot the poorest areas to help, and decide what appropriate policies are to take. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Unfortunately, that is not the case. So far, the NFE results are unlikely to be used to help identify the problems in different regions and to determine what help is necessary for each region.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;They are also not used to determine the rewards awarded to successful schools to allow sustainable development. Instead, they are merely used for a limited purpose, i.e. determining who pass and don’t. This limited use of the National Exams, or generally called as high-stakes, as shown in many incidents all over the country, has at least led to two serious negative impacts on learning process. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;In the first place, meaningful learning experiences are more likely to be neglected. With the purpose of merely attaining the passing scores, many schools are forced to teach to the tests rather than make use of the effective learning period to allow students to investigate the subject matters in-depth. Merely engaging in test-taking strategy training apparently does not stimulate critical thinking and creative problem-solving skills among students. Memorizing selected materials that generally appear in the old tests does not equip students with transferrable skills in real life. This is certainly a superficial target. In the short run, it is very possible that we raise the learning “outcome” in numerical terms, but in the long run, it may be a misleading target. In other words, such a condition is best described as winning the battle, but in the same time, losing the war. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;In the second place, such a product-oriented learning may develop poor attitudes toward genuine learning among students. When the emphasis in on the product, i.e. scores, many tend to neglect the process since the overemphasis on the results tends to justify the means. No matter how bad or unfair a result is obtained, as far as it is there, it is enough. The focus is merely on the form, not the essence. Furthermore, the issues on honesty, integrity, and life values do not become an integral part of the learning process. Rampant violations in the National Examination, such as a school principal stealing the test material and students collaborating during the exam or even given the answer keys, are an obvious indicator that honesty, hard work, perseverance and commitment to achieving better quality of education are easily neglected. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;In brief, when the public policy is determined solely to serve short-term political targets, the outcomes will certainly be more harmful, rather than helpful. It is the students who suffer most, because they are not equipped with genuine learning experiences that lead them to be autonomous individuals. This unintended impact clearly provides a stark contrast with the real objectives of education. In this highly unpredictable world, critical thinking skills, coupled with high commitment, perseverance, and social skills (i.e. skillful team work), and supported by the spirit of honesty and integrity are the major ingredients of success. It is clear that the NFE makes the ideal qualities are getting harder to achieve for each individual. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;A growing body of research show that the success of a country is not merely determined by its long standing history or its abundant natural resources. Egypt, for example, is known for its glorious records in the past. But, now, this country does not play a significant role in contemporary civilization. This is true to Indonesia as well. Without highly qualified human resources, Indonesia’s abundant natural resources will not be useful. Again, education for the whole population is one of the urgent needs to address. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Unfortunately, education is one of the most complex fields to measure. Obtaining a comprehensive and representative measurement of the educational achievement is thus always a challenge. However, many rely on product-based parameters, as shown in psychometric testing. This test method, usually employing some sorts of multiple choice types, is preferred thanks to its practicality in terms of its administration and its vast coverage. Despite its practicality, this test type is by no means flawless, since it specifically addresses limited coverage, i.e. merely gauging some amount of knowledge at the lower-order thinking skills. It does not necessarily require high-order thinking skills, such as problem-solving activities that involve inquiry-based processes, analysis, synthesis, and evaluation. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;A closer look on what happens within the National Education Department itself turns to reveal a controversy. On the one hand, it supports a groundbreaking change in learning and teaching processes. As shown in the major literature released for the purpose of establishing a theoretical framework for 2004 Competency-based Curriculum, in order to boost learning process, as it claims, a number of changes were introduced. The literature is full with contemporary buzzwords such as contextualized teaching and learning, student-centered learning, broad-based education oriented to life-skills, and performance-based and portfolio-based assessments. At this point, the department seems to successfully grasp the objective reality of educational reform at classroom level that is expected to target the change in materials, methods, and conceptual beliefs (Fullan 2001). Even, in &lt;i style=""&gt;Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan &lt;/i&gt;2006, which is broadly translated into school-based curriculum, it is the schools and teachers that are held accountable to determine the learning targets, what learning experiences are, and what learning assessments are. In brief, the department strongly recommends authentic learning experiences to boost the learning process. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;On the other hand, it is the Department that eventually violates its own “golden rules.” No matter how meaningful the learning experiences developed by the school, the success of schooling is only determined by a single-shot national exam. This clearly indicates that the government is not really willing to provide ample room for teachers to explore, experiment, and conduct genuine learning with their students. Highly creative teachers who happen to bring groundbreaking learning experiences among students can be considered failing, when his/her students do not pass the single-shot national exam. It is a pity to see that teachers lose their prerogative rights to determine who pass and don’t, despite their being authoritative to do so. When it happens, the best that we can expect is a mediocrity syndrome in our education system, i.e. doing the most effective things to pass the exams through teaching to the tests. Teachers and schools are not wrong, since the government only targets such a short-term, short-sighted, myopic goal.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-4536260865508092874?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/4536260865508092874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=4536260865508092874' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4536260865508092874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4536260865508092874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/still-on-national-exams-do-we-win.html' title='Still on National Exams: Do we win the battle, but lose the war?'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-4803337022059742446</id><published>2007-05-24T19:15:00.001-07:00</published><updated>2007-05-24T19:26:18.133-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN ALTERNATIF  HOMESCHOOLING: ANCAMAN ATAU POTENSI?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang ibu protes karena jawaban kreatif anaknya yang masih duduk di kelas tiga SD dinilai salah oleh gurunya. Menurut sang ibu yang lulus doktoral di luar negeri itu, anaknya menjadi takut berpendapat, enggan berpartisipasi di kelas, dan tidak bersemangat dalam belajar. Di samping itu, ibu tersebut juga mencatat bahwa ada sejumlah anak yang berperilaku menyimpang. Karena secara fisik lebih kuat dari anak-anak lainnya, mereka suka mengancam dan mengutip “pajak” dari teman-temannya yang lebih lemah, entah itu dalam bentuk uang atau makanan kecil. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gerakan pendidikan alternatif sekolahrumah (&lt;i style=""&gt;homeschooling&lt;/i&gt;) muncul dari berbagai persoalan seperti yang digambarkan dalam ilustrasi di atas. Banyak orang tua – terutama mereka yang berpendidikan, mengeluhkan lemahnya profesionalitas guru. Guru-guru yang lemah dalam keterampilan pedagogis dan penguasaan materi justru sering menumpulkan potensi siswa. Di samping itu, pola relasi di sekolah, yang sering tidak bisa dikontrol dan dimonitor oleh guru maupun sekolah, sering menumbulkan rasa kekhawatiran yang berlebihan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dewasa ini, sekolahrumah memang menjadi salah satu pilihan untuk pendidikan alternatif, terutama bagi keluarga yang memiliki modal, waktu, dan energi yang cukup untuk itu. Ada beragam model sekolahrumah, namun secara sederhana, sekolahrumah bisa digambarkan sebagai berikut. Anak dididik langsung oleh orang tuanya di rumah, dan anak tidak terafiliasi di sekolah formal. Peran orang tua sangat sentral, karena mereka bisa memodifikasi kurikulum, mengembangkan materi pembelajaran, memakai berbagai metode penyampaian, dan memanfaatkan berbagai macam penilaian belajar.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti di berbagai negara lain, di Indonesia pun ada sejumlah komunitas yang mewadahi kegiatan ini. Dengan berkembangnya teknologi informasi, orang tua dan anak tidak kehabisan materi pembelajaran. Namun demikian, narasumber biasanya didatangkan ke rumah bila memang anak memerlukan informasi lebih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun, seberapa besar kemungkinan pengembangan pendidikan alternatif macam ini? Dampak macam apa yang akan diterima oleh siswa dan orang tua yang bersangkutan, serta sekolah pada umumnya? Seberapa jauh trend sekolahrumah ini bertahan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Gerakan anti pendidikan massal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pendidikan massal (&lt;i style=""&gt;mass education&lt;/i&gt;) muncul ketika industri manufaktur tumbuh subur. Pada era industrialisasi macam itu, orang-orang dituntut sekedar memiliki ketrampilan baca-tulis yang minim, seperti untuk memahami instruksi dalam menjalankan mesin dan mengisi pembukuan atas transaksi bisnis.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengingat minimnya pendidikan formal, banyak anak-anak tumbuh dengan ketrampilan melek huruf yang kurang memadai. Hanya kelompok masyarakat elit yang mampu mendatangkan tutor ke rumah mereka. Dalam perkembangannya, pendidikan massal berkembang menjadi tradisi yang kuat. Karena sumber informasi terbatas, ilmu-ilmu masih diajarkan melalui hafalan. Akibatnya pengalaman belajar yang mendorong daya pikir serta pengembangan nalar kritis belum berkembang dalam pendidikan massal ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:fuchsia;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tantangan dalam era informasi dewasa ini sangat berbeda dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Keberhasilan ditentukan oleh penguasaan, pengolahan, dan pemanfaatan informasi. Globalisasi telah mengubah wajah dunia yang semula terkotak-kotak oleh ruang dan waktu, kini menjadi sebuah desa raksasa. Berbagai kejadian yang terjadi di belahan dunia manapun, dapat diketahui dengan cepat. Teknologi informasi yang tercermin dari telepon seluler, koneksi internet, dan komputer pribadi telah membuat pembelajaran yang mengedepankan hafalan dan ingatan semata-mata tidak cukup membekali siswa untuk memasuki dunia dengan wajah baru ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa semakin banyak orang tua murid yang menyadari realitas objektif dari dunia baru ini. Pendidikan formal yang cenderung lamban menanggapi cepatnya perubahan informasi dirasakan tidak cukup. Gerakan sekolahrumah berperan sebagai pendidikan alternatif untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih menarik, mendalam, dan juga bertanggung jawab bagi anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di satu sisi, perkembangan macam ini merupakan hal yang baik. Artinya, orang tua lebih berperan dalam pendidikan anak. Hubungan orang tua dengan anak pun juga menjadi lebih intensif. Anak juga memiliki peluang untuk memuaskan rasa ingin tahu tanpa harus terbatasi oleh aturan-aturan di kelas. Seperti yang diklaim oleh para orang tua yang menjalankan sekolahrumah, anak-anak terhindar dari konflik dengan anak-anak lain yang bisa jadi membahayakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di lain pihak, sekolahrumah ini membawa dampak ikutan yang tidak kalah serius. Sulit dipungkiri bahwa anak bisa jadi tumbuh sebagai sosok yang sulit bersosialisasi. Terbatasnya ruang gerak yang mereka alami juga bisa membuat kepekaan sosial anak tidak terasah. Mereka menjadi “imun” atas isu-isu kemiskinan, sakit, kepedihan, kekurangan, dan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;realitas negatif lain dalam masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1  style="text-align: justify; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa prasyarat&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Melihat plus dan minusnya dari sekolahrumah, model pendidikan alternatif ini rupanya hanya cocok bila beberapa prasyarat berikut ini terpenuhi. Pertama, orang tua harus memiliki modal finansial dan latar belakang pendidikan yang memadai. Model pendidikan alternatif ini tidak murah. Akses internet, penyediaan sumber-sumber belajar, biaya tutorial dari narasumber yang terpilih adalah sejumlah dana yang harus disiapkan. Kedua, orang tua juga harus membangun jaringan dengan berbagai pihak, seperti pelaku sekolahrumah yang lain, untuk berbagi materi dan berinteraksi antara sesama anak sekolahrumah. Interaksi nyata dengan anak-anak seusia yang lain di luar rumah merupakan kebutuhan dasar demi perkembangan sosial anak. Ketiga, Dinas Pendidikan sudah semestinya mewadahi dan memberikan rambu-rambu untuk pelaksanaan rumahsekolah macam ini. Bagaimana nasib peserta sekolahrumah bila mereka akhirnya tidak berhak mendapatkan ijazah?&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Berbagai pendidikan alternatif, seperti rumahsekolah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan yang lainnya, tidak akan pernah mampu menggeser keberadaan sekolah formal (&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: arial;"&gt;mainstream&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;). Namun, model-model tersebut juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Orang tua, guru, sekolah, dan Dinas Pendidikan pun sudah selayaknya belajar dari gerakan-gerakan seperti itu. Kelompok-kelompok seperti itu biasanya dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan kepercayaan diri yang tinggi. Mereka berani membuat berbagai terobosan dalam pembelajaran tanpa harus merasa dibatasi oleh beragam aturan main. Mereka berani menentukan kurikulum sendiri, mengembangkan metode pembelajaran yang kontekstual, dan membuat alat ukur pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Layak dicatat juga, mereka juga tidak segan-segan berbagi pengalaman kepada khalayak umum. Sebagai ilustrasi, dengan mesin pencari google.com, silahkan ketik kata kunci “homeschooling Indonesia” anda akan mendapatkan lebih dari 210.000 &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: arial;"&gt;links&lt;/i&gt; yang menyediakan informasi tentang sekolahrumah ini. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-4803337022059742446?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/4803337022059742446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=4803337022059742446' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4803337022059742446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/4803337022059742446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/pendidikan-alternatif-homeschooling.html' title='PENDIDIKAN ALTERNATIF  HOMESCHOOLING: ANCAMAN ATAU POTENSI?'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5240466102672335353</id><published>2007-05-24T19:15:00.000-07:00</published><updated>2007-05-24T19:20:06.896-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5240466102672335353?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5240466102672335353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5240466102672335353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5240466102672335353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5240466102672335353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/blog-post.html' title=''/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1123182479566232474</id><published>2007-05-02T01:00:00.000-07:00</published><updated>2007-05-02T01:22:27.231-07:00</updated><title type='text'>Parrots in the classroom</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;This article was published in the Jakarta Post, Wednesday, May 2nd, 2007&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;Markus Budiraharjo&lt;/b&gt;, Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;Rachel Davies, in her article &lt;i&gt;'Traditional' education not that bad&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;The Jakarta Post&lt;/i&gt;, April 14, 2007), argues that traditional education in Indonesia is not "that bad". In her observation, Asian students, including those from Indonesia, perform very well in Australia. They can compete well in the Australian education system, and even outperform their Australian counterparts.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Rachel's conclusion about the success stories of Indonesian students in their overseas education reminds me of my similar experience when I attended a U.S. university. However, Rachel's conclusion that Indonesian students' success in their education is determined by the "traditional" education they received in Indonesia is difficult to agree with. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Rachel's conclusion oversimplifies the complex nature of education. The students attending overseas colleges and/or universities are only from two categories, i.e. upper-class families and/or scholarship recipients. And they are only a tiny part of the total number of Indonesian students. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Thus, seeing them as representatives of the quality of the Indonesian education system is clearly misleading. They are an exception, not the norm. The wealthy families certainly send their children to attend favorite schools, equip their children with facilities, and very often invite private teachers to tutor them at home. Meanwhile, scholarship recipients are mostly the best graduates who happen to have a greater motivation to learn and better learning skills. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Claiming that their success in their overseas education is determined solely by the existing "traditional" education that they have received is thus hardly acceptable. Such a claim is only based on a series of snapshots taken randomly, and without further reflection on what the multiple realities of education in Indonesia look like. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Adequately comprehending the complex nature of education is essential, since it determines how we see the world of education itself, whether innovations are to be taken, and into what extent the change should take place. It is hard to deny as well that problems in education are very complex. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Like in many Asian countries, rote memorization is a common practice done by teachers. In such a teacher-centered class, students are merely considered a blank piece of paper ready for the teacher to write on. It is hardly deniable that they are taught discipline and a solid knowledge of the basics. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; However, at the same time, they are not encouraged to explore their environment, observe the things around them and make connections. What they need to do is learn by heart the prescribed knowledge as described in poorly designed textbooks, with the expectation that this is enough to anticipate the messy world. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Is this "traditional" class really better than those liberal arts classes that allow students to explore and autonomously search for information to satisfy their inherent thirst for knowledge? Is merely parroting necessarily enough to prepare them for this fast growing world? Is teaching creatively, with the purpose of cultivating critical and inquisitive mind, less appropriate in this challenging world? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Based on his vast experiences and knowledge dealing with various people all over the world, Kishore Mahbubani questioned the existing tradition in Asia, especially with regard to the "success" of Asian people in this global world. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;   In his book &lt;i&gt;Can Asians Think?&lt;/i&gt;, Mahbubani claims that Asians cannot think. In his view, the problem does not lie in intellectual capacity, since many Asian students, as shown in various studies, outperform in the hard sciences many students coming from different continents. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; It is the culture and tradition that lead to two major implications, namely the role relationship between parents and their children and the high expectation of formal schooling. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; In the first place, role relationship between parents and their children strongly influences the role relationship between teachers and their students. This feudalistic role relationship clearly makes the senior figures (i.e. teachers) hold an unquestionable authority over their students. Students are not provided with room to express their voices. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; The fact that students come to class with preconceptions about the world is thus denied. Creativity and inquisitiveness are not encouraged. Being creative means questioning who has the power in the class. Being inquisitive is hurtful, since teachers might lose face should the students turn to be much brighter than their teachers. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; With this role relationship, it is hard to expect that students are then engaged in various activities that require them to exercise higher-order thinking skills, such as analyzing and synthesizing what they know and the facts and knowledge that they just obtained. They are unlikely to investigate the interdependence of the various phenomena that they encounter in their lives. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Parents also expect too much from schooling and consequently they require too much from their children. It often happens that children are not allowed to enjoy their youth by playing and exploring their environment. Sending young children and exposing them to tough academic requirements can be counterproductive in the long run. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; Many college graduates do not find learning exciting. Once they are done with their studies, they are eager to "stop" thinking and find the joy and freedom they have missed in their childhood. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt; This is clearly shown by the fact that most Nobel Prize winners are not from Asian countries. Why? Asian people cannot think! In the eyes of Mahbubani, even Japan and South Korea, the two Asian countries that are comparable to the U.S. and European countries in terms of technology development and economic progress, also suffer from the similar phenomenon. Despite their success in technology development, both Japan and South Korea fail to nurture basic and groundbreaking research. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;   If that is the case, how good is "traditional" education in Indonesia?  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;   &lt;i&gt;Markus Budiraharjo is teacher of the English Education Study Program, Sanata Dharma University, Yogyakarta. He earned his masters degree from the School of Education at Boston University, Massachusetts, in 2003. He can be reached at &lt;/i&gt;markbudi@staff.usd.ac.id.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1123182479566232474?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1123182479566232474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1123182479566232474' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1123182479566232474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1123182479566232474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/05/parrots-in-classroom.html' title='Parrots in the classroom'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1752140463358880441</id><published>2007-04-13T19:13:00.000-07:00</published><updated>2007-04-13T19:18:30.912-07:00</updated><title type='text'>My father's legacy</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Helvetica,Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;It is the little acts of kindness that are remembered                                               &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;              &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial,Helvetica;font-size:85%;"  &gt;Published in the Jakarta Post, Sunday, September 17, 2006&lt;/span&gt;                &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt;For most people, the thought of death fills a person with fear. Not so for my father. Four years before his death early this year, he had made two coffins -- one for himself and the other for my mom. Whenever people came to our house, he would proudly show the coffins to them, telling them that he did not want to trouble his children when death came.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; Recounting the last minutes of my father's life, my mom said that he only asked what happened to his head as he felt a little pain. My mom came to help him put away his clothes and after drying his back with a towel, she asked him to lie down. He lay down without assistance. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; During the funeral, I was amazed by the huge number of people who came and the patience with which they stayed until the end of the funeral. I wondered why the death of a simple, retired elementary school teacher had drawn so much attention. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; But, it was not difficult to find the answer. I heard many comments about my father from people who came to the funeral. A group of Muslims said that my father waved to them about half an hour before his death. They were on their way home after joining a Koran reading. An elderly woman said that my father often offered her food, while a man recalled how my father was willing to attend the funeral of people he barely knew. My sister's colleagues told us that they were so impressed by my father's words. My sister works as a nurse in a hospital and her friends would meet him when my father needed some medication. My father often gave advice to them. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; Listening to these little anecdotes during the funeral, we didn't have much time to mourn. We felt there was no need to be sad. Deep in our heart, we knew that the our father had a happy end. My father had left behind good deeds that had become a memorial for us. What we need to do of course is to continue praying as he had taught us. I remember spending evenings circling our house clockwise seven times when I was only six years old. As there was no electricity in the neighborhood, my father taught me not to be afraid of the dark. He also taught me to pray in our local language, stressing that God listens to prayers in any language. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; I could not hold back my tears on one occasion. It was during the homily of the Requiem mass. The priest said with full conviction that my father was among the very few people in the world who was not afraid of death. He prepared his own coffin! It was a taboo for many people, but my father was such a extraordinary person. In 1961, for the first time in the area, he introduced the idea of holding death commemorations and other observances without collecting money from neighbors. In his view, people were burdened by such social norms. When a family held a death commemoration of a relative, people in the neighborhood were expected to contribute goods and/or money. The same applied for marriage ceremonies, circumcision ceremonies and the like. At that time, my father said that he expected nothing but prayers from people in the neighborhood. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; In 1979, when my eldest brother was circumcised, my father said the same thing. Also when my brother got married in 1989. Many people now follow suit. I cannot imagine how hard it would be for the poor people in Menoreh, some 40 kilometers west of Yogyakarta, to maintain such practices if not for the "revolutionary" ideas of my father. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; Materially, we had nothing to be proud of. As an elementary school teacher, my father was only able to send my sister and I to university. The first three children were sent to vocational schools only. And our house? An old-fashioned brick house in a hilly area. My father had no car, just an old motorcycle he bought in 1983. He left behind five heirlooms -- four daggers and a spear -- and one-and-a-half hectares of farmland. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt; Sure, my father was no angel. His uncontrollable temper and loud voice must have hurt others. But, all of that seemed to have been forgotten when people started talking about his good deeds -- his encouraging words, his fatherly look and welcoming face. Yes, it is the little deeds that are remembered. He is not dead, but is just sleeping somewhere else. At least that is what my mother tells us. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman,Ms Serif;font-size:100%;"  &gt;   &lt;b&gt;&lt;i&gt;-- Markus Budiraharjo&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1752140463358880441?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1752140463358880441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1752140463358880441' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1752140463358880441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1752140463358880441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/04/my-fathers-legacy.html' title='My father&apos;s legacy'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-5475935285536767193</id><published>2007-04-12T21:15:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T21:16:57.288-07:00</updated><title type='text'>How to develop writing skills</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Writing skills are clearly inseparable from academic pursuit. How productive are graduate students in the world? Boice (1993) shows surprising data about the failure of academic writing accomplishment: (a) 50% of graduate students fail to write their doctoral dissertations – even if they finally finish their dissertations, they take too much time to do it; (b) 50-80% of the lecturers holding doctoral degrees fail to conduct research and publish their research papers in refereed journals. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;How can it happen? There are two major reasons why writing skills are hardly acquired by academicians. Firstly, writing skills are considered as tacit knowledge which is acquired either incidentally or poorly. Many professors – who are also prolific writers – did not start necessarily their career as university lecturers. Many of them started their career as journalists. Thus, their writing skills were not necessarily trained during their tenure as professors, but were developed much earlier for the purpose of doing something else (i.e. writing for publication). Secondly, writing skills are hardly acquired because they require a high degree of hard work, creativity, open-mindedness, and perseverance. When we deal with writing, we are very likely to feel unsure whether what we are writing is acceptable for public. For those asking for direct and prompt feedback, such an unsure experience can be devastating. The writing process, which is commonly dull and tiring, is very likely demotivating for many people. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Personally speaking, writing skills are highly related to our academic pursuit and learning experience. At this point, I set to discuss my personal experience regarding my efforts to improve my writing fluency. I employ three major strategies to do so, namely learning to write from reading passages, being engaged in self-talk, and practicing writing fluency through low-stakes writing. Firstly, writing skills are inseparable from reading skills. Reading activities serve two purposes. On the one hand, reading passages provide much information that trigger my thought to develop. I obtain much information, ideas, and conceptual framework. At this point, through patiently taking notes and seeing the patterns, critically conneting what I have had in my mind to the newly-acquired information and/or concepts, I usually can monitor my comprehension. I do this critical reading as well as taking notes to ensure that I construct the knowledge that is particularly very personal for me. On the other hand, reading activities also allow me to see different &lt;i style=""&gt;discourse repertoires. &lt;/i&gt;I finally know well that there are different &lt;i style=""&gt;genres &lt;/i&gt;in the writing products. Writing for academic purposes is obviously different from writing for personal purposes. While we can put a combination of recount and personal experience in the writing for personal purposes, we must avoid as much as possible personal reference to write for academic purposes. There are a set of underlying principles that govern each type of writing. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Secondly, in addition to taking notes and identifying the discourse patterns of the passages I read, I also get engaged in what-so-called “self-talk.” This self-talk technique is in fact a way to make things visible, tangible, and highly meaningful for myself. It is also called as thinking aloud. So far, I always do it regularly since I happened to enjoy listening to my sister “thinking aloud” when she was learning. In my childhood, we spent time learning together. But soon, my sister occupied the living room with her voice, reciting facts that I did not know yet. Interestingly enough, much knowledge that I heard through her thinking aloud was still in my mind even until this day. From socio-cultural perspective, the concept of self-talk was introduced by Lev Vygotsky (1896-1934). &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Thirdly, in companion to self-talk, I also get engaged in low-stakes writing, such as journal or diary writing. I do it as much as possible, using both computers and hand writing. I myself found that low-stakes writing – writing done with the purpose of expressing ourselves as well as taking notes for our personal uses – are just as powerful as learning from other people. When I get used to writing on a daily basis, I make sure that the writing fluency is strengthened. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-5475935285536767193?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/5475935285536767193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=5475935285536767193' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5475935285536767193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/5475935285536767193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/04/how-to-develop-writing-skills.html' title='How to develop writing skills'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-3352355544488868410</id><published>2007-04-03T17:59:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T18:00:45.253-07:00</updated><title type='text'>Berharap saja tidak cukup</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Memasuki pergantian hari Kamis ke Jumat bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagiku. Itulah pengalaman pergantian hari yang sangat tidak mengenakkan. Beban dalam hidup begitu terasa berat. Terlalu berat untuk disangga. Sore itu, sepotong SMS masuk. Informasinya jelas. Dibutuhkan konfirmasi mengenai jumlah pendaftar yang hendak mengikuti wawancara untuk hari Sabtu, 3 Maret 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Sepercik rasa bersalah menyusupi relung hati. Adakah aku kurang bekerja keras untuk mengundang para alumni PBI? Satu bulan yang lalu, aku ditelpon oleh Pak Marcel. Lulusan PBI era 1980-an ini membutuhkan 40-an lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Permintaan itu langsung aku komunikasikan kepada Pak Prast dan Bu Frida, sebagai otoritas di PBI. Tidak hanya itu, aku pun dengan cepat mengambil inisiatif untuk membuatkan rancangan kerja. Kapan pengumuman harus dikeluarkan. Kapan acara akan dilaksanakan. Dan rancangan pengumuman macam apa yang harus dipampang. Semuanya aku jalankan dengan cepat. Tidak ada alasan menunda pekerjaan. Draft pengumuman langsung aku print. Aku serahkan ke Pak Prast. Bola sudah aku umpankan ke Kaprodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Semuanya seakan berjalan normal. Sekalipun terjadi keterlambatan di sana-sini dalam penempelan pengumuman, tetap saja rancangan awal sudah berhasil dilaksanakan. Pengumuman dipasang. Ukurannya cukup besar. Fotokopi ukuran A3. Ditempatkan di posisi-posisi strategis. Waktu bergulir tanpa terasa. Kesibukan demi kesibukan selalu mengisi hari demi hari. Tanpa terasa, akhir bulan Februari sudah mendekat. Dan terbukti hanya tiga orang yang mendaftarkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Shock. Kaget. Kecewa. Bingung. Kenapa pengumuman tidak dibaca? Apakah anak-akan PBI memang sudah tidak perlu pekerjaan? Sehingga mereka tidak tertarik merespons pekerjaan yang dipampang dengan meyakinkan di papan pengumuman? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk hebat di kepala ini. Sulit untuk dipungkiri bahwa hal itu lah yang terjadi. Sulit sekali mencari orang yang bisa mengisi pekerjaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Akhirnya, Pak Marcel langsung menelpon sore itu. Terbata-bata jawabanku untuk menjelaskan hal yang sangat mengejutkan ini. Ya kalau hanya tiga orang, tidak masuk akal jadinya. Padahal tiket sudah dipesan. Berbagai persiapan sudah dibuat. Skenario sudah dirancang. Kami berempat ke Jogja hanya untuk menemui tiga orang? Kami hanya minta tolong apa jalan yang terbaik. Itu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Sore yang memang sudah muram oleh mendung menggelap di langit terasa makin gelap. Aku adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keadaan seperti ini. Aku sendiri memang belum pernah berhadapan dengan urusan undang-mengundang macam ini. Di satu sisi, aku merasa memiliki hak untuk tidak merasa perlu bersalah. Tapi, hati kecilku langsung berteriak protes. Enggak bisa dong menyalahkan ketidakpengalaman sebagai sumber masalah. Ya … aku memang tidak punya pilihan lain kecuali mengaku belum berjuang cukup untuk bergerilya mencari para alumni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Akhirnya, dengan berbagai macam cara, aku coba hubungi satu persatu nomor bekas mahasiswa. Suasana ketermendesakan memaksaku untuk lebih asertif. Telpon fleksiku terasa memanas. Waktu air-time tidak aku pedulikan. Penjelasan panjang lebar. Permohonan dengan sangat, lagi hormat untuk menghadiri acara pada hari Sabtu 3 Maret 2007. Intinya, aku memohon kesediaan mereka untuk masih peduli dengan nama PBI sebagai almamater mereka. Jumat siang yang diwarnai dengan hujan lebat membuatku memiliki waktu lebih banyak untuk menelpon. Ada yang sudah di Bali. Ada yang di Jakarta. Ada yang kembali ke kampung halaman di Pekalongan. Ada yang sudah bekerja. Jawaban yang aku dapatkan sangat beragam. Tapi aku sendiri merasa mengalami pembelajaran yang banyak. Mencoba untuk bernegosiasi via telpon. Berusaha untuk &lt;i style=""&gt;authoratitative &lt;/i&gt;dengan menembak sisi afektif-emosional yang telah mereka bangun selama mereka &lt;i style=""&gt;ngangsu kawruh &lt;/i&gt;di PBI. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Tibalah hari H. Sabtu 3 Maret 2007 ternyata menjadi waktu yang paling membahagiakan. Ada perasaan &lt;i style=""&gt;accomplished &lt;/i&gt;yang begitu membanggakan. Dengan berbagai upaya dari Pak Prast, Bu Frida, dan aku, dan tentu saja dengan berbagai bantuan dari berbagai pihak, akhirnya tercatat ada 33 alumnus yang datang. Rasa syukur terasa merayapi hati ini. Bahwa perjuangan selama dua hari ternyata membawa buah manis. Di sana ada harapan. Optimisme. Saling memahami. Saling menguatkan. Aku merasa telah berbuat sesuatu untuk orang lain. Seberapapun kecil ukurannya. Rasa capek karena beban dan juga tanggung jawab untuk mengikuti rapat JETA menjadi terusir dengan sendirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Satu pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pengalaman ini adalah: tidak ada tempatnya bagi kita bila hanya berhenti pada berharap-harap saja. Sebuah pencapaian merepresentasikan serangkaian usaha, komitmen, dan juga konsistensi. Sebuah pencapaian memang tidak bisa dilepaskan dari sisi-sisi seperti itu. Pencapaian pada titik tertentu akan menjadi landasan untuk sebuah kredibilitas. Kredibilitas adalah pengakuan bahwa kita telah memiliki bermacam-ragam alasan yang mengesahkan bahwa kita sesungguhnya layak untuk dipercaya. Dan itu hanya bisa diraih oleh sepotong hati yang bermental rela belajar terus-menerus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-3352355544488868410?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/3352355544488868410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=3352355544488868410' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/3352355544488868410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/3352355544488868410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/04/berharap-saja-tidak-cukup.html' title='Berharap saja tidak cukup'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-8622444654705171586</id><published>2007-04-02T23:29:00.000-07:00</published><updated>2007-04-02T23:34:41.841-07:00</updated><title type='text'>Keluar dari sarang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Malam baru mulai beranjak menua ketika motorku mencapai tempat parkir. Jarum jam masih menunjukkan angka tujuh lebih tiga puluhan menit. Mataku nyalang menjumpai sosok Pak Prast yang sedang siap-siap menyetarter motor. Kenapa harus naik motor? Kenapa tidak jalan kaki? Pertanyaanku berbuah kesepakatan. Kami akan jalan kaki ke Jogja Plaza Hotel. Di tempat itu kami akan makan malam. Kami berdua diundang Pak Marcel, seorang alumnus PBI yang sekarang menjadi Pembantu Rektor IV di Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta. Sosok dari pribadi pak Marcel, dengan tubuh ceking, dengan tinggi sekitar 161 cm, membuat kita tergoda untuk memunculkan satu penilaian tertentu, yang harus diakui memang gampang-gampang sulit. Di lihat dari segi fisiknya, barangkali memang tidak ada yang terlalu istimewa. Namun, segudang pengalaman administratif sebagai pejabat teras di lingkup perguruan tinggi, dan juga pengalaman akademis dari sosok yang hampir jadi professor ini, tentu akan memberi nuansa lain. Mendengar beragam cerita darinya sepertinya mendengarkan seorang sosok yang terbang tinggi di langit ketujuh. Begitu meyakinkan. Begitu penuh perhitungan. Begitu banyak ide. … dan kami … dua sosok &lt;i style=""&gt;kroco &lt;/i&gt;dari PBI … tidak ada apa-apanya … &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Pertemuan makan malam tersebut dihadiri oleh delapan orang. Dua tamu lain dari UAJ Yogyakarta. Sementara team dari Pak Marcel sendiri terdiri dari empat orang. Sekalipun berdelapan, aktor utama hanya dua. Pak Marcel dan Pak Peter. Mereka berbicara dengan begitu ringan. Celotehan sana-sini yang mencerminkan keragaman pengalaman profesional. Mereka terbiasa dengan hubungan dengan berbagai kedutaan. Diskusi begitu padat dengan berbagai konsep tentang hubungan universitas dengan berbagai sumber-sumber dana. Tidak dipungkiri, 60% dari diskusi serius itu dibumbui dengan berbagai istilah dan isu-isu miring. Terkesan jorok. Seronok.Tapi itu lah manusiawi. Dan hal itu pulalah yang memang dinikmati. Tanya-jawab begitu cepat, dan kami berdua memang tidak punya pilihan lain. Kami hanya bisa ternganga oleh kerumitan dan juga strategi pemecahan masalah yang diambil. Mengapa tidak mencari bantuan tenaga pengajar dari Australia? Mengapa tidak minta bantuan tenaga profesor dari Amerika? Kenapa justru pilihannya ke India, Filipina, Rusia, dan China? Kenapa kok justru mau buka stand Rusia di Atmajaya? Mengapa tidak Chekoslovakia? Dan seterusnya, dan seterusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Malam betul-betul sudah renta ketika kami keluar Hotel. Namun, dalam temaramnya lampu malam, kami masih cukup waspada untuk menghindari genangan air. Toh, sekalipun fisik merasakan kecapekan luar biasa, pikiran ini terus diganggu oleh berbagai pengalaman yang unik. Makan di restoran hotel, dengan situasi yang sangat berbeda dengan kebiasaan kami makan, memberi kesan tersendiri. Sekalipun aku sendiri mulai merasa tidak terlalu asing dalam situasi seperti ini. Bertemu dengan berbagai macam orang, terutama ketika ikut kunjungan ke San Francisco dan Chicago Desember 2006 lalu, dan menikmati makan di restoran dengan biaya yang tidak terbayangkan untuk kocek seorang dosen USD, memang telah memberi bekas yang sangat nyata bagiku. Di antara langkah-langkah kami menuju parkir motor di dalam area USD, terbersit kesadaran yang mendalam. Kami-kami yang ada di USD adalah sosok-sosok yang kuper … kurang pergaulan. Masih terasa betul kesenjangan antara hakekat di dunia luar dengan kemampuan dan ketrampilan yang kami punyai. Kami adalah bayi-bayi yang masih belum memiliki pengalaman berhubungan dengan berbagai realitas. Kami sadar, bekerja dengan loyalitas yang tinggi dan mengabdikan diri seutuhnya di USD dengan mengikuti dan melestarikan tradisi-tradisi yang sudah mapan tidak lah cukup untuk memastikan bahwa USD akan tetap diperhitungkan di kalayak profesional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;USD butuh orang-orang yang mempunyai hati untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Dengan demikian orang ini memiliki kehendak untuk merombak tatanan-tatanan yang justru mengungkung perkembangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-8622444654705171586?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/8622444654705171586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=8622444654705171586' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8622444654705171586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/8622444654705171586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/04/keluar-dari-sarang.html' title='Keluar dari sarang'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3653778633030408013.post-1838874686635005865</id><published>2007-03-28T20:39:00.000-07:00</published><updated>2007-03-28T21:15:00.081-07:00</updated><title type='text'>A pure concidence</title><content type='html'>I happened to come across the term "blogging" last year. One of my students introduced me to this term. But, I never thought about its potentials. The reason is very simple: I no longer use the Internet as much as when I attended my masters degree program in 2001 to 2003. When I finished my study at Boston University, Massachussets, and I was back again to teach in my almamater, i.e. Sanata Dharma University, I found that the Internet connection was very slow. I didn't have enough patience to access the Internet. Having a personal Internet connection at home is also not a good choice. The pay is too much for me. That's the typical conditions among developing countries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I woke up 4.45 this morning. I read my students' papers for about one hour and as usual, I spent a few minutes to read &lt;span style="font-style: italic;"&gt;KOMPAS &lt;/span&gt;daily newspaper. I was surprised to see a very familiar figure, with a broad smile in her face, on the third page. Ibu Maria ... the one that I knew when I was still in Boston. In 2002, she was having a post-doctoral program. In 2003, my wife and I spent the night in her house in Radio Dalam area (Jakarta) before we headed to Jogja.  The news told me that Ibu Maria was finally granted full professorship in Universitas Indonesia. I could imagine how tough and difficult it is for her (of minority group) to be honored with such a prestigious title. That motivated me to send her e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The idea of blogging didn't come from my e-mail to her though. After I finished writing the e-mail, I was distracted by e-mail from a colleague, Jaha Nababan. He wrote an interesting piece of writing that was published in the Jakarta Post -- and national English Newspaper. Even, I was more interested to see that he is a blogger. I was so surprised that he started blogging in 2004. I felt like I was left behind so much with IT development. I know very little about the Internet after some time not using it on a regular basis. Writing for bigger audience is of course fascinating. Writing has been my concern for a long time. And I found this blogging exciting. I finally found a room to practice writing and sending ideas to other people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, this is the first posting. I hope I develop myself through this blogging.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3653778633030408013-1838874686635005865?l=buka-mata-hati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/feeds/1838874686635005865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3653778633030408013&amp;postID=1838874686635005865' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1838874686635005865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3653778633030408013/posts/default/1838874686635005865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buka-mata-hati.blogspot.com/2007/03/pure-concidence.html' title='A pure concidence'/><author><name>markbudi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04621690093806570081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_vxH8WmY83IU/SEjsS2u17WI/AAAAAAAAAAU/7MrQ-fhL60E/S220/Picture+1367.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
